KRONOLOGIS PENGHANCURAN BANGUNAN VILA KEMBAR DI JALAN DIPONEGORO TAHUN 2009

KRONOLOGIS PENGHANCURAN BANGUNAN VILA KEMBAR DI JALAN DIPONEGORO

  1. Pemberitaan Kompas tanggal 24 Oktober 2009 “Vila Kembar Dihancurkan” bangunan didirikan pada awal abad XX. Yang isi beritanya satu dari empat vila kembar yang ada di Jalan Diponogoro, Medan, hancur . rencananya satu bangunan lain akan dihancurkan utuk pembangunan hotel. Pada tahun 1999, vila kembar ini pernah diusulkan oleh Badan Warisan Sumatera (BWS)  masuk dalam benda cagar Budaya
  2. Tanggal 25 Oktober 2009 terjadi  insiden penolakan di jalan Diponegoro oleh bebarapa kalangan yang peduli akan nasib villa kembar  yang dipelopori oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), B adan Warisan Sumatera Utara (BWS), PUSSIS-Unimeda, seniman dan bebrapa kalangan pers yang meliput. Ditambah lagi kedatangan anggaota DPD RI Bapak  Parlidungan Purba ikut terlibat dalam aksi ini.
  3. Tanggal 26 Oktober 2009 kompromi tentang masalah izin bangunan di lokasi ini dan mendiskusikan solusi yang tepat dalam memecahkan masalah penghancuran villa kembar di salah satu ruangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Ikhrimah Hamidi. Dan dilanjutkan dengan acar kompromi bersama Walikota Medan tentang Villa kembar dan menuntut agar Perda Nomor 6 tahun 1988 tentang Pelestarian bangunan dan Lingkungan yang bernilai Sejarah Arsitektur Keperbakalaan direvisi dan menuntut penghentian penghancuran villa kembar Namur sayangnya itu tidak terjadi malahan sekarang sudah  rata dan tidak bersisa.
  4. Tanggal 27 Oktober 2009, Audiensi dengan Penjabat Walikota Medan, Bapak Rahudman Harahap yang dihadiri oleh Pussis-Unimed, BWS, Jurusan Arsitektur USU Medan, IAI. Tapi audiensi itu tidak menghentikan langkah peruntuhan Vila Kembar.
  5. Tanggal 29 Oktober 2009 mengadakan kunjungan ke gedung Komite Nasional yang merupakan salah satu bentuk gerakan penyelamatan  bangunan-bangunan sejarah yang juga akan digantikan fungsinya. Disini BWS, IAI dan PUSSIS-UNIMED memberitahukan akan mengambil langkah hukum  berupa gugatan perwakilan kelompok.
  6. Tanggal 1 bulan November 2009 para seniman jalan melakukan aksi jalanan untuk memprotes penghancuran gedung bersejarah yakni villa kembar di jalan diponogoro yang juga terlibat sejumlah kalangan dari Balai Arkeologi Medan, Dosen USU, BWS, IAI, anggota DPD dan sejumlah masyarakat umum serta  mahasiswa. Dari hasil teatrikal ini kemudian dilanjutkan
  7. Tanggal 3 November 2009 dialog interaktrif tentang Save Our Cultural Heritage di kantor DPD di Medan. Dalam diskusi ini hadir berbagai kalangan legeslatif, akademisi dan mahasiswa. Keempat pembicaranya yakni Tavip Kurniadi Mustafa (Ketua IAI), Parlaungan Purba dari DPD, Ichwan Azhari (PUSSIS-UNIMED), Ikrimah Hamidi (DPRD), Rika Susanto (BWS) dan Pak Lendi (Dosen USU). Dari kegiatan ini dihasilkan membentuk suatu forum perlawanan  untuk menintaklanjutu pembongkarabn villa kembar dan bangunan sejarah yang lainnya berupa gerakan melawan penghancuran gedung bersejarah.
  8. Tanggal 8 November 2009 tepatnya jam setengah sembilan mengadakan aksi demo dan hunting foto tentang villa kembar dari berbagai golongan mahasiswa, fotografer dan mahasiswa arsitektur dari USU dan paling menariknya gerombolan sepeda ontel mengikuti kegiatan ini. Mulai dari depan bank mandiri lapangan merdeka, balai kota, kantor walikota, kantor DPRD dan diakhiri di Villa Kenbar dengan diikuti musikal anak jalanan, teatrikal dan ziarah ramai-ramai di gedung Villa Kembar.
  9. Tanggal 10 November 2009 meresmikan nama Sahabat Kota Medan di salah satu rumah yang unik Rector ISTP Rudolf Sitorus yang misi kedepannya yakni melakukan gerakan-gerakan penyelamatan gedung bersejarah di Kota Medan dan menjadikan Kota Medan menjadi Ikon peninggalan sejarah yang menarik di Asia Tenggara.
  10. Tanggal 12-15 bulan November 2009 Sahabat Kota Medan mengadakan pameran yang dihasilkan melalui Hunting Photo di Gema Pariwisata Kota Sumut dan memamerkan hasil Hunting Photo tentang Villa Kembar.
  11. Tanggal 15 bulan November 2009 Photo Bareng Sahabat Kota Medan dalam rangka penutupan acara Gempar.

Dari kesepuluh gerakan baik dari pertarungan wacana, sampai gerakan insiden penolakan berupa aksi teatrikal bahkan sudah sampai ke tahap meja DPRD serta berbagai aksi yang lainnya tetapi penghancuran tidak dihentikan. Melalui gerakan tersebut menghasilkan suatu Perda baru tentang bangunan sejarah. Dari Perda tersebut diharapkan bangunan sejarah tidak mengalami hal serupa dengan villa kembar. Nasi telah menjadi bubur pepatah mengatakan demikian juga Villa kembar dan menjadi ”In memoriam Villa Kembar”.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
2010

Iklan

Kronologis Penghancuran Gedung Mega Eltra Tahun 2002

Kronologis Penghancuran Gedung Mega Eltra


  1. Tanggal 10 September 1999 : Badan Warisan Sumatra (BWS) mengajukan permohonan dan masukan tertulis dilengkapi data agar gedung Mega Eltra dilindungi oeh Perda No. 6 Tahun 1988 tentang Perlindungan Bangunan Tua. Namun yang terjadi hingga penghancuran gedung usulan tidak ditanggapi, bahkan dikabaran dokumen yang diserahkan BWS kepada Pemko dan DPRD Kota Medan tersebut telah hilang, bahkan bekasnya pun tidak kelihatan, dengan arti kata lain dokumen usulan BWS tersebut lenyap tanpa bekas di Arsip Negara Pemko dan DPRD Kota Medan.
  2. Tanggal 27 Juli 2001 : Kembali BWS menulis surat kepada Walikota Medan, Dinas-dinas terkait dan PT. Mega Eltra mengenai eprihatinan BWS karena gedung Lindetevis Stokvis yang digunakan Mega Eltra tidak terpelihara dengan baik dan BWS menawarkan bantuan berupa masukan agar pemanfaatan gedung Mega Eltra untuk fungsi yang baru tidak harus menghancuran bangunan yang lama karena di bagian beakang gedung masih ada halaman kosong yang reatif luas. Usulan tersebut tidak mendapat tanggapan.
  3. Tanggal 15 Mei 2002 : Penghancuran gedung Mega Eltra dimulai dengan pembongkaran atap bangunan yang dilakukan oleh para prajurit Yon Zipur I/BB. EWS mencari data mengenai penghancuran gedung Mega Eltra kepada berbagai pihak melalui telepon, kunjungan dan kontak-kontak intensif lainnya.
  4. Tanggal 16 Mei 2002 : Ditempat yang lain, Yayasan Komunitas Indonesia Baru (Kibar) dan Konsorsium LSM-NGOSs Sumatera Utara mengadakan diskusi khusus dan dihadiri beberapa rekan wartawan dari media terbitan kota Medan, antara lain Harian Umum Perjuangan, Medan Pos, dan Portibi DNP. Acara diskusi di secretariat Konsorsium LSM-NGOs Sumatera Utara, jalan Teratai No. 26 Medan membicarakan penghancuran gedung Mega Eltra.
  5. Tanggal 17 Mei 2002 : Harian Umum Perjuangan memberitakan penghancuran Gedung Mega Eltra.
  6. Tanggal 18 Mei 2002 : Kembali Harian Perjuangan dan Portibi DNP memberitakan penghancuran Gedung Mega Eltra hasil dari Diskusi. Dan rekan-rekan dari Yayasan Kibar serta Konsorsium LSM-NGOs Sumatera Utara mencoba mencari data-data tentang gedung Mega Eltra kepada rekan-rekan LSM/NGO lainnya seperti FKP-61, Yayasan Citra Keadilan dan Yayasan Pemberdayaan Ekonomi Lingkungan Rakyat (Pekat). Hasil yang diperoleh adalah saran untuk menghubungi rean-rekan di Badan Warisan Sumatra (BWS) yang secara khusus menangani Bangunan Bersejarah dan Bangunan Cagar Budaya. Yayasan Kibar menghubungi BWS melalui telepon dan di sepakati untu melakukan pertemuan lanjutan.
  7. Tanggal 20 Mei 2002 : Bertemunya rean-rekan LSM di Konsorsium LSM-NGOs Sumatera Utara, dan disepaati untuk melakukan penekanan public ke Pemko dan DPRD Medan tentang Gedung Mega Eltra.
  8. Tangga 21 Mei 2002 : BWS mengeluarkan pernyataan sikap mengenai penghancuran gedung Mega Eltra. Dan mulai menerma banyak telepon dan email dari warga ota Medan maupun kota-kota lain di Indonesia yang menyatakan keprihatinan terhadap penghancuran gedung Mega Eltra.
  9. Tanggal 22 Mei 2002 : Kembali Harian Waspada memberitakan penghancuran gedung Mega Eltra dan Pemko Medan berbicara melalui Bagian Humas. Drs. H. Arlan Nasution, mengatakan bangunan Mega Eltra tersebut tidak tercantum dalam daftar bangunan yang dilindungi. Seluruh bangunan yang bernilai sejarah Arsitetur keperbukalaan, itu memang jelas dilindungi. Tetapi jika tidak masuk dalam daftar bangunan bernilai sejarah, boleh-boleh saja diaihkan kepada pihak ketiga misalnya, Pemko Medan tidak mencampuri terlalu jauh. Demikian siaran pers Pemko Medan.
  10. Tanggal 23 Mei 2002 ; Kembali Portibi DNP mengeluarkan berita tentang penghancuran gedung Mega Eltra.
  11. Tanggal 24 Mei 2002 : Harian ompas terbitan Jakarta memberitakan penghancuran gedung Mega Etra. Tanggal 27 Mei 2002 : BWS mengirim surat kepada Gubernur Sumatera Utara dan Walikota Medan mengenai penghancuran gedung Mega Eltra. Dan melakukan hubungan telepon untuk membuat janji bertemu dengan pihak pemilik baru gedung Mega Eltra yang telah dijual PT. Mega Eltra kepada Suwandi Wijaya dan Edy Johan (Lim Lie Tju) dari PT. Sewangi Surya Permai di Medan, namun ditolak. Kemudian BWS minta bantuan Perhimpunan Indonesia Tiongha (INTI) Sumatera Utara untuk menjadi mediator membicarakan masalah penghancuran gedung Mega Eltra dengan pihak pemilik. BWS membuat petisi dengan mengumpulan tanda tangan dari warga kota Medan yang menolak penghancuran Gedung Mega Eltra. Dan harian Portibi DNP memberitakan penghancuran gedung Mega Eltra.
  12. Tanggal 28 Mei 2002 : BWS mengirim surat kepada harian Anilisa dan Medan Bisnis mengenai penghancuran gedung Mega Eltra.
  13. Tanggal 29 Mei 2002 : Direktur Eksekutif BWS bertemu dengan Pemimpin perushaan harian Medan Bisnis mengenai penghancuran gedung Mega Eltra.
  14. Tanggal 30 Mei 2002 : Kembali BWS bertemu dengan Pemimpin Redaksi Harian Analisa. Dan Direktur Eksekutif BWS diwawancarai oleh Reporter Kiss FM mengenai penghancuran gedung Mega Eltra.
  15. Tanggal 31 Mei 2002 : BWS kembali mengirim surat kepada pihak pemilik meminta agar pemilik menyelamatkan Fasade atau bagian depan gedung Mega Eltra. Dan Direktur Eksekutif BWS kembali di wawancarai oleh Reporter Radio Prapanca FM, serta BWS bertemu dengan rekan-rekan di Yayasan Kibar dan Konsorsium LSM-NGOs Sumatera Utara di Jalan Teratai No. 26 Medan.
  16. Tanggal 2 Juni 2002 : BWS diwawancarai Radio Sonya FM mengenai gedung Mega Eltra. Dan dikantor BWS telah hadir rekan-rekan LSM, antara ain Habitat Seni Lak-lak, Yayasan Kibar, Yayasan Citra Keadilan, Jurusan Arsitektur USU, dan IAI Sumut. Hasil rapat ini menegaskan untuk segera menggelar aksi jalanan yang damai, tetapi sebelumnya telah disepakati untuk menggelar konfrensi pers. Oleh Direktur Eksekutif BWS menghubungi via telepon Bang Arbain (Koordinator Harian Kompas di Medan) untuk memperoleh fasilitas pertemuan, dan oleh Bang Arbain di izinkan untuk menggelar konfrensi pers di kantor Harian Kompas Medan, jalan K.H. Wahid Hasyim Medan. Akhirnya konfrensi pers dapat dilaksanakan dari jam 16.00 s.d. 17.30 WIB dan dihadiri oleh para jurnalis harian terbitan Medan dan Jakarta, serta Reporter dan kameramen televise dan radio di Medan dan Jakarta. Dalam acara tersebut, terjadi juga dialog antara jurnalis dan LSM yang hadir tentang tindak lanjut penyelamatan gedung Mega Eltra secepat dan sesegera mungkin. Dan disepakati besok untuk Aksi Damai ke DPRD Medan serta Long March ke Gedung Mega Eltra jalan Brigjend Katamso No. 52-54 Medan. Terpilihah Manajemen Aksi Damai besok, sebagai Koordinator Aklsi Efrizal Adil (Yayasan Kibar), Koordinator-Koordinator lapangan masing-masing satu orang dari lembaga/Ornop yang bergabung dalam aksi, untuk logistic ditangani oleh Azhari Yamani, Muhammad Darmawan, dan Era Purike (BWS), Kronologis Aksi ditangani oleh Syofyan (Yayasan Pekat), Kurir Aksi dipercayakan kepada Muslim (Yayasan Pekat), sedangkan Tim Delegasi adalah Hasti Tarekat, Azhari Yamani, Muhammad Darmawan (BWS), Efrizal Adil dan Zukifli Pelly (Yayasan Kibar), Marjoko (Yayasan Citra Keadian), dan satu orang dari utusan Mahasiswa Arsitektur USU, serta dua orang dari utusan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan. Perlengkapan aksi yang tersedia berupa spanduk, news letter, poster, toa, dan lainnya. Dan pada hari ini juga kelompok LSM, Ornop dan Mahasiswa ini menamaan dirinya “Masyarakat Peduli Bangunan Bersejarah” atau disingkat dengan “MPBB”.
  17. Tanggal 3 Juni 2002 : Aksi Damai dan Long March di mulai dari Gedung DPRD Medan tepat pada jam 10.00 WIB. Aksi demonstrasi ini mendapat tanggapan secara spontanitas dari DPRD Medan dan tim delegasi di terima langsung oleh Ketua DPRD Medan H. Tom Adlin Hajar, Wakil Ketua H. Syahdansyah Putra, Ketua Fraksi PDI-P DPRD Medan O.K. Azhari, Sekretaris Dewan dan Ketua Komisi D DPRD Medan. Pada pertemuan tersebut Ketua DPRD Medan melalui Hand Phone menghubungi Suwandi Wijaya, Dinas Tata Kota dan Bangunan, Dinas Penertiban dan beberapa pejabat Pemko Medan. Diakhir pertemuan Ketua Dewan berjanji akan memanggil pemilik gedung baru Mega Eltra, serta Pemko Medan untuk dengar pendapat serta menghentikan penghancuran Gedung Mega Eltra. Pada hari ini Walikota Medan sedang berada di Bali, Wakil Waikota Medan di Jepang dan Sekretaris Daerah Pemko Medan juga diluar kota. Dan atas desakan tim delegasi untuk mengajak Ketua dan anggota dewan terhormat untuk aksi long march ke Gedung Mega Eltra pada hari ini, namun Ketua DPRD Medan menegaskan bahwa besok akan turun ke lokasi penghancuran gedung Mega Eltra bersama komisi D dan komisi A DPRD Medan. Dan terungkap juga berkas pengajuan revisi Perda No. 6/1988 dari BWS kepada DPRD Medan (diserahkan pada tahun 1999 yang lalu) tidak ada, bahkan Sekwan DPRD Medan berdalih dalam pembelaan dirinya. Aksi dilanjutan dengan Long March dari DPRD Medan menuju Gedung Mega Eltran (lebih kurang 10 Km). Sepanjang perjalanan peserta aksi membagi-bagikan news letter. Sesampai di Lokasi Gedung Mega Eltra para pekerja (Yonif I/BB) menghentikan aktivitas mereka dan membiarkan peserta aksi memasuki gedung yang mulai dihancurkan, keutuhan gedung tingga 70%.
  18. Tanggal 4 Juni 2002 : Kembali Harian Analisa, Detik.com, Komatkamit.com, SIB, Waspada, Mediator, dan liputan di Radio Prapanca FM, Kiss FM, Sonya FM, serta berita di Metro TV dan TPI tentang penghancuran Gedung.
  19. Tanggal 5 Juni 2002 : Akhirnya DPRD Medan yang diwakili oleh Komisi A, dan Komisi D; disertai jajaran Pemko Medan (Dinas Tata Kota & Bangunan, Penertiban, dan Bappeda) langsung turun kelokasi. Tim MPBB telah hadir lebih dahuu dilokasi (Hasti Tarekat dan Muhammad Darmawan). Bapak Letkol B.N. Tanjung dari Fraksi TNI/Polri meminta kepada Komandan Lapangan Triyanto untuk menhentikan penghancuran, namun dilapangan pekerjaan penghancuran terus berlanjut (disaksikan oleh anggota Dewan). Jawaban Komandan Lapangan adalah ‘penghentian penghancuran akan di laksanakan apabila ada surat dari Pemko Medan. Oleh anggota Dewan ditanyakan surat izin pembongkaran gedung atau surat-surat izin lain yang berkenaan dengan penghancuran gedung Mega Eltra. Oleh Komandan lapangan dan Petugas dari PT. Sewangi Surya Permai tidak dapat dilihatkan atau tidak memiiki selebar surat apa pun untuk pembongkaran dan penghancuran gedung Mega Eltra. Jawaban mereka adalah “Kami disini atas perintah Komandan”. Selepas kunjungan langsung Tim MPBB melakukan aksi duduk di lokasi gedung Mega Eltra (Hasti Tarekat, R. Hendy Handoyoko, Efrizal Adil, Alfarobbi, Irwansyah Putra, Muhammad Darmawan, dan Azhari Yamani), dan aksi ini membuahkan hasil yang baik, terbukti para pekerja dan prajurit tidak melakukan aktivitas penghancuran gedung Mega Eltra. Pada saat kunjungan anggota dewan dihalaman gedung terihat alat-alat berat berupa Scopel dan beko milik Yon Zipur I/BB. Diluar gedung banyak para wartawan, reporter dan aktivis LSM/NGO yang hadir di lokasi Mega Eltra untuk memberi dukungan moral kepada Tim MPBB dalam aksi duduk.
  20. Tanggal 6 Juni 2002 : Aksi duduk terus dilanjutkan (Hasti Tarekat, Muhammad Darmawan, dan lima orang mahasiswa Arsitektur ITM Medan) terutama niat dan tekad yang kuat dari Hasti Tarekat yang secara psikologis dilakukan tindakan-tindaan terror dari pekerja seperti dengan sengaja meletakkan sisa pecahan batu bata gedung di depan Hasti Tarekat dan kawan-kawan sedang duduk, serta sorak dan tepuk tangan dari para pekerja apabila berhasil merubuhkan bangunan dengan bantuan scopel dan beko Yon Zipur I/BB. Tangis , khawatir akan jiwa, waspada akan terror, dan kesal saling berkecamuk di dalam hati Tim MPBB saat itu. Dan pagi ini juga sebagian tim MPBB melakukan penekanan kepada DPRD Medan dan diterima oleh Wakil Ketua DPRD Medan H. Syahdansyah Putra beserta Sekwan, C.P. Nainggolan, dan Komisi A di ruang kerja Wakil Ketua. Tim MPBB (Efrizal Adil, Abdul Manan M. Lubis, Syofyan, dan Muslim) meminta kejelasan Surat Penghentian Pembongkaran Gedung Mega Eltra seperti janji Ketua Dewan akan meminta Pemko Medan mengeluarkan Surat Penghentian pembongkaran. Menurut Sekwan DPRD Medan telah meayangan surat pemanggilan kepada Suwandi Wijaya dkk, dan oleh pihak Suwandi Wijaya telah dibalas surat pemanggilan tersebut melalui Kuasa Hukumnya ‘Refman Basri, SH, MBA., yang isi suratnya menyatakan bahwa Suwandi Wijaya tidak berada di Medan dan tidak dapat memenuhi panggian DPRD Medan. Kemudian Tim MPBB menelusuri surat penghentian tersebut sampai ke Kantor Walikota Medan, dan hasilnya tetap saja tidak ada.
  21. Tanggal 7 Juni 2002 : Tim MPBB (Hasti Tarekat, M. Darmawan, Azhari Yamani, Zulkifli Pelly, Era Purike, Efrizal Adil, Syofyan, Muslim, Herry Abdianto, dan dua orang rekan dari LBH Medan serta tiga orang mahasiswa Arsitektur ITM) kembai pagi ini menemui Wakil Ketua DPRD Medan H. Syahdansyah Putra. Dari pembicaraan tersebut arahnya kembali ke Pemko Medan. Maka Tim MPBB melangkahkan kaki menuju kantor Walikota Medan. Diterima oleh Staff Humas Pemko Medan, serta diperoleh informasi bahwa surat penghentian dimaksud sudah siap sejak hari Kamis (6/6). Dan terjadi dialog antara staff Humas dengan Bapak Yusar (Kadis Penertiban Pemko Medan) yang disaksikan Tim MPBB, tetapi diketahui bahwa surat tersebut masih di tangan Sekretaris Daerah pemko Medan. Sedangkan Pihak Dinas Penertiban belum memperoleh surat tersebut sehingga belum dapat diserahan kepada Pemilik gedung Mega Eltra. Akhirnya, tepat jam 17.00 WIB Kadis Penertiban drs. Yusar yang dihubungi melalui Handphone oleh Hasti Tarekat menyatakan bahwa surat penghentian pembongkaran gedung Mega Eltra sudah beliau terima dan saat ini staff Dinas Penertiban sedang menuju ke Lokasi Gedung Mega Eltra, apabila pihak MPBB berkeinginan menyaksikan silahkan langsung lihat penyerahan surat tersebut. Lebih kurang 30 menit staff Dinas Penertiban dan Tim MPBB (Hasti Tarekat, M. Darmawan, Efrizal Adil, Alfarrobi, dan Zulfi Anhar) menunggu kehadiran pemilik gedung baru Mega Eltra, dan sebelumnya Staff Dinas Penertiban ingin masuk ke lokasi gedung namun pintu tidak dibuka sama sekali oleh pegawai PT. Sewangi Surya Permai. Dan tidak lama kemudian hadir kuasa hukum PT.
  22. Apabila penghancuran Mega Eltra itu tetap berlangsung, dikhawatirkan akan mengancam keberadaan gedung-gedung tua bersejarah lainnya yang masih berdiri. Akan timbul sikap permisif dari masyarakat untuk tetap membiarkan penghancuran-penghancuran bangunan tua lainnya itu. Oleh karena itu, aliansi lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dimotori oleh BWS berusaha membendung gelombang penghancuran terhadap gedung-gedung tua tersebut dengan melakukan aksi damai di Kantor DPRD Kota Medan. Aksi itu merupakan langkah lanjut dari upaya diplomasi yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengirim surat kepada Wali Kota Medan dan pemilik gedung itu sendiri. Akan tetapi, upaya diplomasi saja tidak cukup sebab ternyata tidak mendapatkan perhatian yang semestinya.“Kami mendukung usaha pemanfaatan bangunan lama untuk fungsi baru, tapi tanpa menghancurkan atau mengubah bangunan itu. Apalagi bangunan itu memiliki nilai historis dan estetis yang tinggi,” ujar Hasti.
  23. Hasti menegaskan, intensitas penghancuran gedung-gedung bersejarah tersebut dalam beberapa waktu terakhir ini makin tinggi. Setiap tahun, selalu saja ada bangunan tua yang dihancurkan sehingga pembongkaran bangunan Mega Eltra itu sendiri bukan yang pertama.
  24. “Jika penghancuran itu kita biarkan, maka akan menjadi suatu kecenderungan yang buruk di masa depan. Akan ada sikap yang membenarkan terhadap penghancuran bangunan-bangunan bersejarah tersebut,” ujar Hasti. Upaya yang dilakukan pihaknya adalah memberikan masukan-masukan kepada Pemerintah Kota Medan mengenai visi mereka terhadap bangunan-bangunan tua tersebut. Selanjutnya adalah menyelamatkan bagian-bagian yang masih bisa diselamatkan dari bangunan Mega Eltra. “Kita bisa membuatnya sebagai monumen bagi Kota Medan tentang warisan sejarah maupun untuk kepentingan pendidikan. Langkah ketiga adalah meningkatkan edukasi masyarakat agar warga Kota Medan mempunyai kesadaran serta mengerti arti penting pelestarian warisan sejarah tersebut,” kata Hasti
  25. Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumut Taviv Kurniadi Mustafa. Dia mengatakan, pada dasarnya setiap bangunan itu merupakan warisan dari para arsitek dulu. Selain itu, keberadaan bangunan tua juga memberikan sumbangan yang besar terhadap kebudayaan kota tempat bangunan tersebut berdiri. Atas dasar tersebut, maka setiap arsitek yang profesional harus selalu memperhatikan kondisi bangunan yang akan mereka rancang.
  26. “Seperti Mega Eltra, misalnya, ia termasuk bangunan tua yang megah dan mewakili keberadaan kota lama Medan, terutama sebagai pusat perdagangan. Arsitek seharusnya mampu memberikan masukan kepada pemilik bangunan bahwa keberadaan bangunan tua tersebut merupakan sebuah aset bukan sesuatu yang mengganggu sehingga harus dimusnahkan,” ujar Taviv.
  27. Taviv mengatakan, meskipun tidak bisa dipertahankan hingga 100 persen, setidaknya harus disisakan beberapa bagian aslinya yang mewakili gaya arsitektur bangunan itu untuk dipertahankan. Jika memang akan dibangun bangunan yang baru, biarkan bagian yang lama itu diintegrasikan dengan bangunan baru tersebut. “Itu bukan semata-mata untuk mempertahankan nilai sejarahnya saja, akan tetapi akan mampu membentuk nilai estetika yang baru. Dengan demikian, kepentingan sejarah dan estetika tidak akan mengganggu kepentingan pemilik bangunan yang ingin membuat bangunan tersebut menghasilkan secara ekonomi. Dengan demikian, masyarakat umum pun tidak perlu merasa kehilangan dengan bangunan bersejarah mereka, (Kompas, Rabu, 10 Juli 2002). Semua gerakan yang dilakukan oleh BWS dan LSM itu hanya wacana biasa saja. Tidak mengubah kondisi yang ada. Sekarang mega eltra menjadi monument di ingatan kolektif masyarakat Medan.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
2010

Bangunan yang telah dihancurkan

Bangunan yang telah dihancurkan di Kota Medan


Kita ketahui banyak bangunan sejarah yang telah dihancurkan seperti kita lihat Gedung Kerapatan Deli, Mega Eltra  (gedung Lindeteves  Stokvis tahun 1923) di Jl. Katomso di hancurkan tahun 2002 oleh Developer dan digantikan Oleh bangunan Palm Plaza. Bekas SMP 1 (bangunan tahun 1912) tepatnya di depan Hotel Tiara di hancurkan tahun 2002 oleh Developer, Kompleks Perkantoran PT. Tolan Tiga letaknya di sudut Jl. S. Parman dan Jl. Zainul Arifin dihancurkan Oktober 2004 oleh Developer, digantikan Bangunan Combridge Condominium, dan Balai Kota Medan digadaikan ke swasta (Aston) tahun 2004. dari keterangan diatas kami akan menjelaskan bangunan-bangunan yang telah dihancurkan.

Proses penghancuran berlangsung dari tahun ketahun dan hanya meninggalkan kenangan saja. Umumnya penghancuran tersebut disebabkan proyek-proyek pembangunan yang mementingkan aspek ekonomi. Bangunan sejarah yang telah dihancurkan yakni :

  1. Gedung Mega Eltra di Jalan Katamso yang dahulunya adalah kantor dagang perusahaan Belanda bernama Lindeteves-Stokvis dihancurkan pada tahun 2002 untuk pembangunan Palm Plaza.  Gedung yang berdiri sejak masa kolonial Belanda itu terletak di Jalan Brigjen Katamso, Medan, atau beberapa puluh meter saja dari Istana Maimoon peninggalan Kerajaan Deli dulu. Secara historis, nilai bangunan Mega Eltra tersebut sungguh tidak tergantikan. Hal itu dimungkinkan sebab bangunan ini merupakan sebuah bukti kejayaan Kota Medan pada masa lalu dalam bidang perdagangan internasional. Menurut catatan Dirk A Buiskool dan Tjeerd Koudenburg dalam Tour Through Historical Medan and Its Surrounding,pada tahun 1912 perusahaan Lindetevis Stovkis yang bergerak di bidang perdagangan internasional membuka cabangnya di Medan. Sebelumnya, perusahaan milik Van Der Linde dan Teves dan berpusat di Keizersgarcht, Amsterdam, itu telah membuka beberapa perwakilannya di kota-kota besar Indonesia lainnya, yakni Batavia (DKI Jakarta), Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan Tegal. Sementara di Sumatera, selain di Medan, mereka juga telah membuka perwakilannya di Pematang Siantar sebagai konsekuensi usaha mereka yang semakin maju. Sementara secara estetis, bangunan Mega Eltra tergolong unik sebab dibangun dengan memadukan arsitektur Eropa dan Tropis yang sangat dipengaruhi oleh gaya Art Deco tahun 1930-an. Kaca-kaca patrinya sangat indah dan sudah menjadi langka. Tidak hanya itu seluruh ornamen interior dan eksterior gedung tersebut seperti kap lampu di bagian luar masih asli. Pembongkaran dimulai awal Mei tahun 2002, pada masa wali kota Abdillah dan Ramli. Terjadi juga pergerakan penyelamatan yang dilakukan Hasti Tarekat, Direktur Eksekutif Badan Warisan Sumatra (BWS):  ”Kami sudah meminta untuk tetap mempertahankan bagian fasade atau bagian muka gedung itu, karena jika ada sedikit saja bagian lama yang tersisa, setidaknya masih ada bagian-bagian peninggalan tua yang masih bisa dilihat”. Sebagai sebuah gedung bersejarah dan berusia ratusan tahun, bangunan Mega Eltra tersebut mempunyai semua persyaratan untuk masuk ke dalam Daftar Bangunan Bersejarah yang dilindungi di Kota Medan. Atau secara yuridisnya, bangunan ini memang layak untuk tetap berdiri sebab memenuhi semua hal yang disyaratkan oleh Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 1988 mengenai Perlindungan Bangunan di Kota Medan serta Undang-Undang Cagar Budaya No 5/1992. Dalam UU No 5/1992 secara eksplisit dikemukakan bahwa syarat sebuah Benda Cagar Budaya adalah baik secara keseluruhan maupun pada bagian-bagian yang tersisanya telah berumur minimal 50 tahun. Tidak hanya itu, apabila gaya yang dimiliki oleh benda itu ternyata khas dan langka serta bernilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, maka benda itu juga dikategorikan sebagai Benda Cagar Budaya yang wajib dilindungi. Akan tetapi akibat kelalaian pihak Pemerintah Kota Medan pada saat penyusunan Perda No 6/1988, bangunan Mega Eltra tersebut tidak masuk ke dalamnya. Padahal, sudah jelas, semua syarat yang tertera dalam aturan-aturan hukum tersebut dapat dipenuhi oleh bangunan tersebut. Sebagai sebuah bangunan tua yang memiliki nilai historis dan estetis yang tinggi dan tengah menghadapi penghancuran total, bangunan Mega Eltra dianggap mewakili puluhan bangunan tua lainnya di kawasan Medan yang juga tidak dilindungi karena belum masuk ke Perda No 6/1988 itu. Menurut catatan BWS, hingga kini masih terdapat 40 bangunan tua individu serta 15 bangunan tua berkelompok yang belum terlindungi karena belum masuk ke dalam Daftar Bangunan Bersejarah yang dilindungi di Kota Medan. Selain itu, bangunan-bangunan tua yang berdiri di tiga kawasan lainnya yang juga belum terlindungi, yakni bangunan-bangunan di Kawasan Polonia, Kota Lama Labuhan Deli, serta Kawasan Perumahan dan Pergudangan di Pulo Brayan.
  2. Kompleks perkaantoran perusahaan perkebunan Sipef atau PT. Tolan Tiga di sudut antara S. Parman dan Jl. Zainul Arifin diratakan pada oktober 2004  pada masa jabatan Abillah.
  3. Gedung South East Bank di Jalan Pemuda, gedung tersebut dihancurkan pada tahun 2004 masa jabatan wali kota Abdillah. Penghancuran ini sama nasibnya dengan Mega Eltra. Bangunan ini termasuk bangunan yang dilindungi oleh Peraturan daerah No. 6/1988 tentang pelestarian Bangunan dan lingkungan yang bernilai sejarah Arsitektur kepurbakalaan di Kota Medan.
  4. Kantor Bupati Deli Serdang di Jalan Katamso juga dihancurkan pada tahun 2004 masa jabatan wali kota Abdillah. Bangunan ini termasuk bangunan yang dilindungi oleh Peraturan daerah No. 6/1988 tentang pelestarian Bangunan dan lingkungan yang bernilai sejarah Arsitektur kepurbakalaan di Kota Medan.
  5. Kantor PU Medan di Jalan Listrik juga dihancurkan pada tahun 2004 masa jabatan wali kota Abdillah.
  6. Eks Gedung Kerapatan Adat Deli pada tahun 1989 pada masa Agus Salim Rangkuti. Sekarang bangunan ini menjadi lahan kosong dan masih ada sisa satu bangunan yang berdiri.
  7. Bangunan SMPN I Medan tepatnya berada di depan Hotel Tiara. Bangunan ini dibangun pada tahun 1912 akan tetapi bangunan tersebut dihancurkan pada tahun 2002 semasa Abdillah.
  8. Penghancuran sembilan rumah panggung di Jalan Timur. Bangunan ini dihancurkan pada masa Abdillah.
  9. Puluhan bangunan bersejarah di Jalan Kesuma. Bangunan ini juga dihancurkan pada masa Abdillah.
  10. Di Jalan Suka Mulia, eks Kantor Badan Kepegawaian Daerah Sumatera Utara juga sudah rata dengan tanah. Sekarang di bekas lokasi gedung tua ini akan dibangun apartemen mewah.
  11. Eks Bank Modern di kawasan Kesawan, Jalan Ahmad Yani. Bangunan yang bercorak art deco itu pernah menjadi Kantor Perwakilan Stork, perusahaan Belanda yang memproduksi dan menjual mesin- mesin industri perkebunan. Namun kini bangunan yang berusia 75 tahun itu bagian atap dan seluruh dinding dalam bangunan telah dihancurkan sehingga hanya menyisakan tampak muka dan samping gedung. Pembongkaran sebagian bangunan eks Bank Modern itu kian menambah daftar perusakan bangunan tua di kawasan Kesawan. Padahal, keindahan gedung-gedung tua yang berjajar di kawasan Kesawan itulah yang menyebabkan Medan juga digelari sebagai Parijs van Sumatera. Tanggal 14 April 20004 gedung ini dihancurkan untuk pendirian satu unit ruko. Penghancurabn ini lagi-lagi pada masa Abdillah.
  12. Balai Kota Medan digadaikan ke swasta (Aston) tahun 2004 pada masa jabatan Abdillah. Gedung eks Balai Kota Medan dibangun CM Boon, seorang arsitek Belanda, tahun 1908. setahun kemudian gedung dipakai sebagai Kantor Wali Kota Medan sebelum pindah di kantor baru di Jalan Maulana Lubis, Medan. Gedung ini semakin tenggelam diantara bangunan disekitarnya. Di belakang gedung berdiri Hotel Aston City. Kini bangunan ini tidak bisa diakses oleh publik. Sekali lagi warga kehilangan jati diri bangsanya dan kehilangan tempat obyek pembelajaran sejarah. Padahal bangunan ini merupakan icon kota sejarah Kota Medan.
  13. Diakhir tahun 2009 penghancuran telah terjadi yakni Villa Kembar di Jl. Diponogoro (depan Gedung BCA) yang telah di hancurkan oleh ketidakpahaman sejarah penguasa. Villa kembar merupakan suatu peninggalan bangunan bekas kota perkebuanan pada  masa kolonialisme awal abad XX. Yang dibangun tepat dijantung kota dan diperuntungkan sebagai kediaman orang-orang Belanda atau pejabat pemerintahan Hindia Belanda yang berarsitektur  Melayu, yang terlihat dalam bentuk atap bertingkat dua dan pintu masuk empat pilar dari bangunan tersebut (Kompas, 24 Oktober 2009). Keunikan bangunan tersebut dapat dilihat dari gentengnya yang dibuat asli oleh Deli Klei. Dan berbagai kayu yang Amat kokoh serta tegel yang masih asli dari hasil perkebunan. Keempat villa tersebut merupakan bangunan yang sama bentuk dan jenis arsitekturnya, makanya disebut villa kembar. Namun, dapat kita lihat sekarang ketiga villa tersebut telah hancur dan 2 dari bangunan tersebut masih utuh yang ditempati sekarang oleh Bank Commonwealth dan satu lagi masih tersisa. Kedua villa tersebut telah rata dengan tanah dan rencananya akan dibangun hotel oleh developer yang tidak tahu kepemilikannya. Penghancuran villa tersebut membawa suatu proses ketidaksetujuan dan protes oleh berbagai pihak baik dari kalangan sejarawan, media, mahasiswa, akademisi, seniman bahkan pejabat pemerintahan daerah ikut terlibat sehingga menimbulkan suatu gerakan yang membawa dampak bagi pelindungan Benda Cagar Budaya (BCB). Penghancuran tersebut telah melanggar Undang-Undang No. 5 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi keberadaannya. Kita ketahui obyek wisata Kota Medan cenderung minim, itu diakibatkan sector pariwisata khususnya bagian sejarah tidak dioptimalkan sesegera mungkin, kalau saja daerah Kesawan Square dan sisa bangunan-bangunan kolonialisme dijadikan suatu kawasan World Heritage dan obyek wisata di kota Medan tentunya Medan akan sangat terkenal di dunia dan menjadi icon nya pulau Sumatera yang pernah disebut-sebut sebagai Van Paris Sumatera.
  14. Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) Lagi-lagi dan tidak henti-hentinya pemerintah kota Medan lebih mementingkan azas ekonomi dibanding warisan sejarah. Kaum modalis tetap menang dibanding kepentingan identitas kota Medan. Penghancuran bangunan sejarah masih terus berlangsung sampai sekarang ini. Belum lagi hilang memorial tentang villa kembar dibenak masyarakat kota Medan dan kini nasib bangunan lain menyusul menjadi ingatan kolektif sebagian orang saja. Bulldozer kapitalis masuk dan menghancurkan bangunan sejarah kota Medan. Terbukti akhir bulan Mei 2010 terjadi penghancuran bangunan sejarah yakni bekas bangunan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) di perempatan jalan Timur dengan Jalan Perintis Kemerdekaan kondisinya sudah memperhatikan. Keberadaan bangunan sejarah itu sudah jatuh ketangan swasta dan saat ini bangunan sejarah sudah rata oleh tanah kata Ichwan sejarawan Unimed dan sekaligus Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (PUSSIS-UNIMED). Menurut Ichwan bangunan tersebut merupakan bangunan yang wajib dilindungi dan termasuk Benda Cagar Budaya (BCB). Bangunan ini dibangun pada tahun 1915 merupakan bekas Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) milik PT. Kerta Api. Banguna ini juga merupakan kelanjutan bangunan kereta api yang dibangun oleh JT. Cremer pada tahun 1883 yang pada awalnya menghubungkan kota Medan sampai Belawan. Berbagai kecaman yang datang baik dari instansi maupun sejarawan. Gerakan penyelamatan berlangsung baik dari media maupun aksi yang lainnya. PUSSIS-UNIMED meminta Pemko mempertahankan satu gedung lagi yang belum dirubuhkan. Meski satu bangunan tua, katanya developer bias menata dan memfungsikannya sebagai kantor.” Ini semua tergantung Pemko”. Menurut Ichwan Pemko bisa mempertahankan bangunan satu gedung berlantai dua tersebut. Dengan mempertahankan satu gedung telah menyelamatkan warisan sejarah seperti yang dilakukan pada gedung Balai Kota lama yang dibelakangnya terdapat hotel megah. Ichwan menyesali bangunan sejarah Bangunan ini belum masuk dalam daftar 44 bangunan tua yang bernilai sejarah dan dilindungi Pemko Medan.
  15. Bangunan yang terakhir di bulan ini (Mei 2010) ini yang dihancurkan adalah bangunan ruko yang berada di Jalan Gwangju-Ahmad Yani atau kesawan square. bangunan ini merupakan bangunan yang dilindungi sesuai Perda No.6 tahun 1988. bangunan ini nantinga didirikan bangunan usaha salah satu media.
  16. Ratusan bangunan dan kawasan bersejarah lain di kota Medan sedang dalam proses pembiaran, sengaja dibiarkan terlantar dan pada akhirnya akan dirubuhkan.

Penghancuran bangunan ini banyak dikecam oleh instansi dan kalangan sejarawan. Bangunan ini dihancurkan bersamaan dengan bangunan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Pengahncuran ini membawa pergerakan penyelamatan yakni membentuk lembaga Dewan Kota Masyarakat Sipil melalui dialog interaktif di Balai Rahmat International Wildlife Gallery sabtu 29/05/2010. Pembentukan lembaga tersebut merupakan buntut keprihatinan atas perusakan gedung-gedung bersejarah. Lembaga ini terdiri atas elemen masyarakat yakni Badan Warisan Sumatera (BWS), PUSSIS-UNIMED, Inside Sumatera, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan mahasiswa jurusan sejarah USU dan Unimed. Dewan ini akan menyiapkan gugatan terhadap pihak-pihak yang membongkar bangunan sejarah. Setelah acara selesai, semua peserta dialog melakukan aksi damai di bangunan ruko yang berada di Jalan Gwangju-Ahmad Yani atau kesawan square dengan membawa secarik kertas yang berisikan Save Medan Sebelum Edan yang maknanya lindungi medan dari kehancuran bangunan sejarah sebelum Kota Medan menjadi edan alias kehilangan identitas sejarah dan budayanya.

Penghancuran bangunan sejarah (historical building) kota medan telah banyak terjadi terbukti 15 diantara bangunan sejarah tinggal kenangan saja. Berbagai aksi dan gerakan penyelamatan tetap terjadi namun semua itu adalah kegiatan yang tak penting dianggap pemerintah kota Medan. Karena semua dilandasi oleh kekuatan uang. Lama-lama identitas Kota Medan hilang dan menjadi Kota tanpa sejarahnya. Ibarat bangunan yang tdak ada roh. Penghancuran bangunan sejarah Kota Medan diakibatkan oleh beberapa Faktor :

  1. Pemerintah kurang peduli terhadap Bangunan sejarah diakibatkan oleh biaya yang besar, yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaat ekonomis yang pragmatis kepentingan bisnis terhadap lokasi Benda Cagar Budaya lebih kuat dibanding upaya pelestarian. Penyebab ketidak pedulian tersebut adalah kurangnya pemahaman tentang arti penting bangunan sejarah.
  2. Kepedulian masyarakat Kota Medan kurang optimal dalam pengaksesan bangunan sejarah akibat pembelajaran sejarah yang setralistik sehingga masyarakt banyak tidak mengetahui sejarah Kota Medan.
  3. 3. Penegakan hukum di Kota Medan hanya dipandang sebelah mata saja. Berbagai peraturan hukum kalah akan kekauatan uang. Semua bisa diatur dengan uang dalam bahasa bataknya ”hepeng na mangatur negaroan”

Dari keterangan penghancuran bangunan sejarah Kota Medan diharapkan pihak pemerintah, developer,  masyarakat dan stakeholder lainnya membuka matanya dan berhenti menghancurkan bangunan sejarah. Marilah kita melestarikan bangunan sejarah supaya nilai eksotis, keindahan sejarah Kota Medan memiliki jiwa serta karakter Kota Medan  lebih menguntungkan secara komersial tanpa harus menghancurkannya. Kita harus rapatkan barisan dan kerjasama supaya penghancuran bangunan sejarah tidak ada lagi.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
2010

Bangunan dan Kawasan Bersejarah Yang Mesti Dilindungi di Medan

Bangunan sejarah dan kawasan yang harus dilindungi


1. Bangunan yang dilindungi oleh peraturan Daerah No. 6/1988 tentang Pelestarian Bangunan dan lingkungan yang bernilai sejarah arsitektur keperbakalaan di Kota Medan.

  1. Mesjid Raya Medan, Jl. Sisingamangaraja di sudut Jl. Mesjid.
  2. Mesjid raya labuhan, Jl. Yos Sudarso.
  3. Gereja Roma Katolik, Jl. Pemuda.
  4. Gereja HKBP, Jl. Jenderal Sudirman sudut jalan ke Polonia.
  5. Gereja Kristen Indonesia, jl. Zainul Arifin sudut Jl. Teuku Umar.
  6. Toapekong, Jl. Hang Tuah dalam dekat Sei Babura.
  7. Toapekong Tjong A Fie, Jln. Ahmad Yani No. 105.
  8. RS Elizabeth, Jl. Jenderal Sudirman sudut jalan ke Polonia.
  9. RS Pirngadi, JLn. Prof. HM Yani.
  10. RS Perusahaan Negara Perkebunan, Jl. Putri Hijau.
  11. Rumah ekolah Taman Kanak-Kanak Roma Katolik, Jl. Pemuda.
  12. Rumah Sekolah Immanuel, Jl. Sudirman.
  13. Toko, Kantor bank, kanan-kirinya tidak diperbolehkan dirubah bentuk mukanya Jl. Ahmad Yani antara Jalan Palang Merah dan Jl. Raden Saleh.
  14. Kantor Walikotamadya, Jl. Balai Kota.
  15. Kantor Pos Giro, Jl. Balai Kota.
  16. Kantor Bank Unit I, Jl. Balaikota.
  17. Hotel Natour Darma Deli, Jl. Balai Kota.
  18. Kantor Dep. Tenaga Kerja, Jl. Perdana sudut Jl. Hindu.
  19. Bank Duta samping Perisai Plaza, Jl. Pemuda.
  20. Kantor Bupati Deli Serdang di samping Kantor Badan Pertanahan Tingkat I Sumatera Utara, Jl. Pemuda (sudah dihancurkan).
  21. Bank South East Asia, Jl. Pemuda (sudah dihancurkan).
  22. Kantor Sospol Tk II Medan, Jl. Pemuda.
  23. Istana Maimoon, Jl. Pemuda.\
  24. Kantor PU Tk. I Sumut, Jl. Kol. Sugiono atau jl. Wazir.
  25. Bank Bukopin, Jl. Kol Sugiono.
  26. Bank Koperasi, Jl. Kol Sugiono.
  27. Bangunan Palang Merah Indonesia, Jl. Palang Merah.
  28. Bangunan Lama di samping Hotel Danau Toba, Jl. Palang Merah.
  29. Bangunan Sejarah Mueum Kodam I Bukit Barisan, Jl. Zainul Arifin.
  30. Kantor PU Kodati II Medan, Jl. Listrik.
  31. Penerangan Kodam I Bukit Barisan, Jl.Listrik.
  32. Kantor Gubsu tingkat I Sumut, Jl. Diponogoro.
  33. Kantor Pengadilan Tk. I Sumut, Jl. Diponogoro.
  34. Rumah Dinas Walikota Tk. II Medan, jl. Sudirman.
  35. Rumah Dinas Gubsu Tk. I Sumut, Jl. Sudirman.
  36. Bekas Kantor Permina (Kapolda), Jl. Sudirman.
  37. Bekas Kantor Perkebunan HVA, Jl. Sudirman.
  38. RISVA Perkebunan, Jl. Brigjen Katamso.
  39. Kantor Telkom, Jl. Prof. HM Yamin.
  40. Kantor PJKA, Jl. Prof. HM Yamin.
  41. Laboratorium USU simpang Kantor PJKA. Jl. Prof. HM Yamin.
  42. Bangunan toko-toko yang ada di pusat pasar tidak diperbolehkan penambahan tingkat bila direhabilitasi tetap bentuk semula kecuali ada izin tertulis dari kepala daerah.

2.   Bangunan Individu, Kelompok Dan Kawasan Yang Wajib Dilindungi Dikota Medan Bangunan Individu

No Nama Lokasi
1 Asia Jaya Jl Pemuda
2 Asrama Pastor Jl Slamet Riyadi No 10
3 Bekas konsulat Amerika Jl Imam Bonjol No 13
4 Eks perguruan YPK Medan Jl Pandan No 6
5 Gedung asuransi Jiwasraya Jl Palang Merah No 1
6 Gedung eks Biro kepegawaian Tk I Sumut Jl Sukamulia
7 Gedung Eks Dinas perindustrian Jl Irian Barat No 121
8 Gedung eks PPIA Jl Dipenogoro No 23
9 Gedung Inspektorat wilayah Tk I Sumut Jl Sukamulia No 13
10 Gedung Mega eltra Jl Brigjen Katamso No 52
11 Gedung PLN Jl Listrik
12 Gedung PT Wahid Jl Brigjen KatamsoNo 19 A
13 Gereja Katolik Kristus Raja Jl M.T Haryono No 98
`14 Gereja Kristen Immanuel Jl Dipenogoro No 25-27
15 Gereja Methodist Jl Hang Tuah No 2
16 Gudang Perumka Jl Putri Merak jingga No 2
17 Jembatan Suka Mulya Medan Jl Palang Merah
18 Jembatan Zainul Arifin Jl Zainul Arifin
19 Kantor BKS-PS Jl Pemuda No 23
20 Kantor dinas pariwisata kodya Meda Jl HM Yamin No 40
21 Kantor PTPN IX Jl Tembakau Deli No 4
22 Kolam renang paradise Jl SM raja No 16
23 Kuil Hindu Sri Mariamman Jl Teuku Umar No 18
24 Kuil Hindu Sri subramaniam Jl Kebun Bunga
25 Markas polisi Militer Jl Sena
26 Medan Club Jl kartini
27 Mejid Petisah Ilir Jl Sri Deli
28 Menara air PDAM Antara jln pandu dan jl SM raja
29 Mesjid bengkok Jl Mesjid
30 Perum garam Jl Irian Barat No 125
31 Rumah eks bangsawan Deli Jl Martimbang No 4A 4B
32 Rumah eks bangsawan Deli Jl Mahkamah No 77
33 Rumah Zainul Arifin Jl zainul arifin no 199
34 Salon Davidy Jl Brigjen Katamso
35 Sekolah Khalsa Jl Teuku Umar
36 SLTP SMU Kristen I Medan Jl S Parman No 18
37 Taman Tengku Chadijah (taman Sri Deli) Depan Mesjid Raya Al Mahsun
38 Titi Gantung Jl Kereta Api
39 TK Santo Yoseph Jl Palang Merah
40 Viana Oil Jl Brig Katamso No 30


3. Bangunan Kelompok

NO NAMA LOKASI
1 Bangunan di jalan Hindu Jl Hindu No 2,4,6
2 Deretan Gudang dan Ruko Jl Sutoyo No 36 s.d 64
3 Eks Perumahan karyawan DSM Jl Jawa No 6,8,10,12,14,16,18
4 Kantor perkebunan CIPEF Jl S Parman 318,320
5 Ruko-ruko gaya  Malaka Jl Irian Barat & Jl Perniagaan
6 Ruko-ruko Renaissance Gg Mantri No 13,15,16,18,22,24
7 Ruko-ruko sudut Jl Bogor, Jl Bandung
8 Rumah Jl Maulana Lubis Jl Maulana Lubis No 10,12,13,15,17
9 Rumah-rumah dijalan listrik Jl Listrik No 1, 1A,3,5,11
10 Rumah-rumah jl babura lama Jl Babura Lama No 3,4,7,11
11 Rumah-rumah Jl Imam Bonjol Jl Imam Bonjol No 8A, 8B, 25,27
12 Rumah-rumah Melayu Gg Mantri Jl Brigjen Katamso
13 Rumah-rumah Panggung Melayu Jl Timor No 1,3,5,7,9,11,13,15,17
14 Villa di jalan sena Jl Sena No 1 s.d 10
15 Villa kembar Jl dipenogoro No 6,8,10,12

4. Kawasan

NO NAMA LOKASI
1 Kawasan Polonia – Jl Sudirman No 37,35,40

– Jl Multatuli No 2A

– Jl Imam Bonjol No 8A,8B,25,27

– Jl. Ir.H. Juanda No 1,3,5,6

– Jl S Parman No 16,18,50,60,62

– Jl Tumapel No 1, 11

– Jl Airlangga No 2,4

– Jl Walikota No 2

– Jl Mangkubumi No 9

2 Kawasan Kota Lama Labuhan Deli

  1. Toapekong Labuhan
  2. Rumah-rumah Toapekong
  3. Rumah-rumah Melayu
  4. Bangunan Eks beacukai
  5. Stasiun Kereta api Belawan
– Jl Yos Sudarso No 54 km 92 dan No 09
3 Kawasan perumahan dan pergudangan eks DSM di pulo Brayan

  1. jalan bundar No 5,6,7,8,9,13,16,17,18 dan satu rumah tanpa nomor
  2. Menara air
  3. Gudang persediaan perumka
  4. Station kereta api pulau braya
– Jl Lampu

– Jl Lampu No 1

– Jl Statiun Lingkungan XII

Selain bangunan diatas masih banyak lagi yang harus di lestarikan dan harus diatur dalam Peraturan Daerah yakni sekitar ± 500 bangunan. Sumber dari badan Warisan Sumatera menyebutkan terdapat 550 bangunan  tua bersejarah Kota Medan terancam punah.


5. Situs Sejarah

Situs Yang mesti dilindungi di Kota Medan adalah Situs Kota Cina yang Terdapat di Desa Paya Pasir Kecamtan Medan Marelan Kota Medan yang berdiri sejak abad 12-14 Masehi.

diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
2010

Kota Medan dan Bangunan Bersejarah

Sejarah Kota Medan (The History of Medan Town)


Keunikan suatu bangunan bersejarah di Kota Medan adalah  replika bangunan Eropa pada abad XIX. Medan dahulu disebut sebagai Paris van of Sumatra karena bangunannya merupakan replika peradaban Eropa yang bergaya Prancis. Ditambah lagi pusat kota yang dibangun dengan sengaja oleh bangsa kolonial yang hampir mirip dengan peradaban kota-kota di Eropa. Di pusat kota terdapat ruang terbuka (esplanade) yang ditanami pohon Trembesi (Samanea saman) yang dibawa dengan sengaja oleh Belanda dari Amerika Latin.

Tanaman Trembesi (Samanea saman) merupakan pohon penyejuk yang biasanya terdapat di pinggir jalan atau gedung-gedung tua peninggalan Belanda. Jenis tanaman itu dibawa oleh Belanda pada akhir abad ke-19 dengan tujuan meneduhkan suasana kota. Belanda tampaknya masih sangat terpengaruh dengan replika kota-kota tua di Eropa yang sarat dengan tanaman Trembesi. Disamping Esplanade itu, berbagai fasilitas lainnya dibangun oleh Belanda seperti Kantor Pos (1913), Balai Kota (1906), Kereta Api (1905), Hotel De Boer (1909), dan lain-lain  dan kompleks pertokoan kelas menengah yakni Kesawan.  Dari serangkaian jejak rekam peninggalan sejarah yang ada di kota Medan, maka keberadaan kota ini dapat disebut sebagai “Kota yang terlengkap dan unik. Medan adalah Kota yang mempunyai peradaban dan multikultural. Medan mempunyai history yang lengkap dan hidup”.

Diatas adalah sepenggal sepenggal konteks makna yang terungkap. Dalam perkembangan sejarah kota Medan, dapat dikatakan bahwa terbentuknya Kota Medan tidak terlepas dari pemahaman tentang munculnya kolonialisme Eropa terutama Belanda. Munculnya penjajahan membawa dampak yang signifikan bagi sejarah perkembangan kota Medan.

Pada abad ke XX terbentuklah sistem perkebunan yang pertama kali dibuka oleh pionir penanaman tembakau di Deli pada tahun 1863 oleh J. Nienhuys. Ia membawa negeri ini menjadi salah satu kawasan perkebunan tembakau yang terbesar dan berkualitas internasional dengan hasil pada tahun pertama (1964) mencapai 27.550.000 Gulden (Mahadai, 1978). Ketika itu penamaan Kota Medan masih disebut Deli sebelum Kotapraja  Medan dibentuk pada tanggal 1 April 1909.

Hasil konsesi antara Sultan Deli dengan Nienhuys dibukalah suatu Perseroan Terbatas ”Deli Maatschapij” yang membutuhkan tenaga kuli kontrak Tionghoa dan Jawa sehingga dari sistem perkebunan ini terjadi multikultural yang dibagi tiga lapisan sosial yakni yang lapisan pertama Orang Eropa, yang kedua orang Cina dan Timur Asing dan yang ketiga Orang Pribumi.

Dari hasil perkebunan tembakau Deli ini perkembangan peradaban dimulai. Dibangunnya fasilitas-fasilitas bangunan, perkantoran, perumahan, jalan dan transportasi untuk mempermudah produksi perkebunan tembakau yang termasyur  di dunia dan dibiayai oleh perusahaan perkebunan. Jumlah perkebunan meningkat dari 13 pada tahun 1873 menjadi 23 dan seterusnya menjadi 40 perkebunan yang beroperasi (Breman:1997). Konsolidasi perkebunan besar memberikan dorongan penting bagi dikembangkan infrastruktur Kota Medan ini. Medan ini dipilih sebagai pusat pemerintahan yang dinyatakan “Medan adalah kota baru dengan gedung-gedung segar berwarna putih di tengah petak-petak rumput yang hijau segar”. Kota itu muncul terutama berkat kehidupan perkebunan disekelilingnya yang luar biasa sibuknya. Kita takkan menemukan kota lain yang sama dengannya, baik di Sumatera maupun Jawa. Wittw Societait (Sositet Putih)- nama yang sangat tepat-Kantor Pos, Gedung Kota Praja dan Javasche Bank, Hotel de Boer dan Hotel Medan, kantor berbagai perusahaan yang mengesankan seperti Harrison and Crossfield, Deli Maatschappij, Deli-Proefstation, Deli-Spoorweg-Maatscahapij, Firma Van Nie en Co. Kesemuanya berdiri di tengah kehijauan pohon Palma, Ara dan Cemara yang bersih terguyur hujan serta mencerminkan kemakmuran dan kerja yang sukses, mencerminkan usaha Barat yang patut di kagumi (Couperus 1924:33).  Dari ungkapan tersebut kita bisa rasakan sisa peradaban yang masih tertinggal di pusat kota Medan (titik nol Kota Medan sekarang).

Insfrastruktur yang pertama kali didirikan adalah Deli Spoorweg-Maatschappij (Perusahaan Kereta Api Deli ) oleh Cremer  pada tahun 1886. Kemudian ditambah fasilitas yang lainnya meliputi : Perusahaan Air Bersih September  1905,  Perusahaan Listrik tahun 1898,  Rumah sakit Deli Mij (Jalan Puteri Hijau Sekarang),  Hotel De Boer tahun 1909,  Kantor Pos tahun 1911 serta fasilitas yang lain yang dapat mendukung perkebunan tembakau Deli baik berupa perumahan-perumahan kontrolir Belanda (villa-villa) maupun sarana-prasarana.

Namun sisa peradaban itu telah hilang dan dihancurkan oleh Developer. Bangunan bersejarah di Medan telah dihancurkan 40% dan sisanya tinggal menunggu penghancuran atau sebaliknya. Berbagai penghancuran telah dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada bangunan sejarah (historical building). Pemerintah lebih mengutamakan kepentingan modal dibanding sejarah bangsanya. Mereka hanya menganggap bangunan itu hanya sekedar bangunan tua yang tidak menguntungkan dibanding dengan bangunan baru yang megah dan elit. Padahal kalau saja bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai obyek wisata mungkin bisa mengalahkan bangunan modern tersebut. Seperti halnya Malaysia dan Singapura yang berhasil dalam menunjukan pariwisata dengan memanfaatkan bangunan sejarah. Singapura telah melakukan 44 kegiatan konservasi sejak tahun 1980-an terhadap 5.000 bangunan kolonial hingga tahun 2003, demikian juga upaya preservasi terhadap 42 monumen yang kebanyakan merupakan tinggalan kolonial yang diperkenalkan sebagai tengaran-tengaran bersejarah (historical landmark) dan sebagai bukti penting sejarah Singapura. Banyak gedung bersejarah dialihfungsikan menjadi museum dan fungsi-fungsi adaptif lainnya.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
2010

Penegasan Undang-undang Benda Cagar Budaya (BCB)

Undang-undang Benda Cagar Budaya (BCB)

Beranjak dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tentang BCB disebutkan bahwa benda cagar budaya adalah:

”Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagain-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya adalah benda bukan kekayaan alam yang mempunyai nilai ekonomi tinggi yang terpendam di bawah permukaan tanah dan di bawah perairan di wilayah RI. Sedangkan situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung BCB termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya”.

Dari keseluruhan bangunan tua yang ada di Medan merupakan benda cagar budaya yang harus dilindungi didasarkan kepada:

  1. Undan-undang RI Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
  2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintah di Daerah
  3. Undang-undang Nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan
  4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan Pokok pengelolahan Lingkungan Hidup
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksana Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992
  6. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor Pem. 65/1/7 tanggal 5 Februari 1960 tentang penyelamatan peninggalan Benda-benda sejarah dan Purbakala (Monumen-monumen)
  7. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Medan Nomor 6 Tahun 1988 tentang Pelestarian bangunan dan lingkungan yang bernilai sejarah arsitektur keperbakalaan serta penghijauan dalam daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Medan
  8. Surat Keputusan Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II Medan Nomor. 1883.342/382/SK/1989 Pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Medan No. 6 Tahun 1988 tentang Pelestarian bangunan dan lingkungan yang bernilai sejarah arsitektur keperbakalaan serta penghijauan dalam daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Medan.

Undang-undang tetaplah undang-undang, peraturan tetaplah peraturan yang hanya dituliskan dalam secarik kercas tidak mampu untuk melindungu bangunan bersejarah yang dihancurkan. Berbagai peraturan dan undang-undang diciptakan namun kesemuanya hanyalah dongen dan data saja tidak mampu menggulingkan kaum kapaitalis. Hukum sekali lagi diputarbalikkan menjadi keuntungan sepihak tanpa memperddulikan kepentingan budaya dan sejarah. Negeri ini memang edan. Sikap dan mental telah dihancurkan oleh kepentingan semata.

Diupload Oleh:

Erond L. Damanik

Pussis-Unimed

  • Kalender

    • September 2017
      S S R K J S M
      « Jul    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Cari