KEDINASTIAN TIONGKOK DENGAN ARTIFAK DI PANTAI TIMUR SUMATRA

KEDINASTIAN TIONGKOK DENGAN ARTIFAK DI

PANTAI TIMUR SUMATRA

(dikumpulkan dari berbagai artikel lepas di internet dan literatur)

A. Kedinastian dan Tinggalan Artifak di Pantai Timur Sumatra

1. Dinasti Song (960 – 1268)

a. Sistem Pemerintah

Dinasti Song adalah salah satu dinasti yang memerintah di Cina antara tahun 960 sampai dengan tahun 1279 sebelum Cina diinvasi oleh bangsa Mongol. Dinasti ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara dan setelah kejatuhannya digantikan oleh Dinasti Yuan. Dinasti ini merupakan pemerintahan pertama di dunia yang mencetak uang kertas dan merupakan dinasti Cina pertama yang mendirikan angkatan laut. Dalam periode pemerintahan dinasti ini pula, untuk pertama kalinya bubuk mesiu digunakan dalam peperangan dan kompas digunakan untuk menentukan arah utara.

Dinasti Song dibagi ke dalam dua periode berbeda, Song Utara dan Song Selatan.  Song Utara ibukota Song terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol kebanyakan daerah Cina dalam (daerah suku Han) yang di pimpin oleh Kaisar Song Taizu.  Song Selatan (1127–1279) merujuk pada periode setelah dinasti Song kehilangan kontrol atas Cina Utara yang direbut oleh Dinasti Jin. Pada masa periode ini, pemerintahan Song mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota di Lin’an (sekarang Hangzhou). Walaupun Dinasti Song telah kehilangan kontrol atas daerah asal kelahiran kebudayaan Cina yang berpusat di sekitar Sungai Kuning, ekonomi Dinasti Song tidaklah jatuh karena 60 persen populasi Cina berada di daerah kekuasaan Song Selatan dan mayoritas daerah kekuasaannya merupakan tanah pertanian yang produktif. Dinasti Song Selatan meningkatkan kekuatan angkatan lautnya untuk mempertahankan daerah maritim dinasti Song. Untuk mendesak Jin dan bangsa Mongol, dinasti Song mengembangkan teknologi militer yang menggunakan bubuk mesiu.

Pada tahun 1234, Dinasti Jin ditaklukkan oleh bangsa Mongol. Möngke Khan, Khan ke-empat kekaisaran Mongol, meninggal pada tahun 1259 dalam penyerangan ke sebuah kota di Chongqing. Saudara lelakinya, Kublai Khan kemudian dinyatakan sebagai Khan yang baru, walaupun klaim ini hanya diakui oleh sebagian bangsa Mongol di bagian Barat. Pada tahun 1271, Kubilai Khan dinyatakan sebagai Kaisar Cina. Setelah peperangan sporadis selama dua dasawarsa, tentara Kubilai Khan berhasil menaklukkan dinasti Song pada tahun 1279. Cina kemudian disatukan kembali di bawah Dinasti Yuan (1271–1368).

Populasi Cina meningkat dua kali lipat semasa abad ke-10 dan ke-11. Pertumbuhan ini didukung oleh perluasan kultivasi padi di Cina tengah dan selatan, penggunaan bibit beras cepat panen dari Asia selatan dan tenggara, dan surplus produksi bahan pangan. Sensus Dinasti Song Utara mencatat populasi sekitar 50 juta. Angka ini menyamai populasi Cina pada saat Dinasti Han dan Dinasti Tang. Data ini diperoleh dari sumber catatan Dua Puluh Empat Sejarah (Namun, diperkirakan bahwa Dinasti Song Utara berpopulasi sekitar 100 juta jiwa. Pertumbuhan populasi yang dramatis ini memacu revolusi ekonomi Cina pramodern. Populasi yang meningkat ini merupakan salah satu penyebab lepasnya secara perlahan peranan pemerintah pusat dalam mengatur ekonomi pasar. Populasi yang besar ini juga meningkatkan pentingnya peranan para bangsawan rendah dalam menjalankan administrasi pemerintahan tingkat bawah.

Ilmu navigasi dan pembuatan kapal segera mencapai puncaknya dan kapal Tiongkok menjadi yang paling maju pada saat itu. Kapasitasnya berkisar antara 200-600 ton. Salah satu kapal Dinasti Song yang ditemukan kembali, panjangnya mencapai 40m dan lebarnya mencapai 10m. Benar-benar suatu prestasi yang luar biasa.  Sementara itu di utara Bangsa Mongol telah menjadi semakin kuat. Pada mulanya Bangsa Mongol adalah taklukan dari Kerajaan Jin, namun pada akhirnya mereka berhasil mengalahkan Jin dan mendirikan kerajaan sendiri, di bawah Genghis Khan. Bangsa Mongol segera menjadi ancaman baru bagi Dinasti Song Selatan.

Pada tahun 1279, serangan pasukan Mongol memaksa keluarga kerajaan untuk melarikan diri ke laut, namun akhirnya Mongol berhasil mengepung mereka kembali. Ketika melihat tidak ada harapan lagi, salah seorang menteri yang setia pada Dinasti Song bernama Lo Shiufa, memeluk Bingdi dan bersama-sama menceburkan diri ke laut. Peristiwa ini menandai berakhirnya Dinasti Song.

b. Keramik dari Dinasti Song

Selama pemerintahan Sung pembuatan porselin semakin menguat. Barang porselin dikirim keluar negeri untuk dijual. Barang-barang porselin dibuat dari tanah liat yang putih dan halus seklai dengan dicampuri serbuk padas dan pasir. Bahan-bahan itu ditumbuk halus dan dijadikan semacam adonan. Dengan bahan itu dapat dibentuk sesuka hati seperti mangkuk, jambang dan lain sebagainya. Sesduah itu diberi glasir lalu dibakar.

Barang porselin dapat menahan panas api yang lebih besar dari pada barang yang dibuat dari tanah liat biasa. Barang porselin harus dibakar bebrapa hari lamanya dalam api yang cukup besar, lai didinginkan selama dua tiga hari sebelumnya diambil dari tempat pemabakaran. Panas api harus diamati dan harus sama pada waktu siang maupun malam, sebab jika tidak dan panas menjadi jelek.

Jika sudah selesai warna porselin seluruhnya putih bersih, sedangkan barang tanah liat selalu sedikit merah atau kemerah-merahan. Cahaya dapat menembus porselin dan jika porselin dipukul perlahan-lahan dengan benda keras porselin berbunyi nyaring. Porselin dapat dibuat lebih tipis dari pada barang tanah liat biasa, dan dapat diberi warna yang lebih indah dan glasir yang lebih bagus. Pembuatan porselin dari glasir mereka kembangakan dari pembuatan batu giok yang pembuatan batu bahan giok adalah galasir. Mereka selanjutnya membuat porselin dari warna giok: hijau tua, hijau muda, atau hijau yang berkilauan bagaikan rumput terkena sinar matahari. Ada glasir yang berwarna kuning, merah dan ungu. Sebelumnya barang-barang tadi dibakar, dibuatlah terlebih dahulu gambar-gambar diatasnya. Gambra-gambar bubga, lukisan naga atau ikan dan sebaganya. Lalu diberi gelasir dan gambar-gambar itu dapat menembus gelazur itu.

Mula-mula warna itu tak dipakai bercampur, tetapi sebuah barang porselin hanya diberi gelasir dengan sebuah warna saja. Hasil pekerjaan itu sederhana, tetapi indah. Warna yang sangat digemari adalah warna hijau, mulai dengan hijau muda kebiru-biruan, sebagai warna kulit telur itik, sampai hijau tua serupa hijau daun bayam muda. Porselin itu disebut celedon dan kini sangat mahal. Kadang-kadang terjadi hal-hal yang aneh ditempat pemabakaran itu. Kerab terjadi barang yang keluardari tempat pembakaran itu berlainan sekali dari pada yang diaharapkan, sehingga tukang-tukang mengira pai sendirihlah yang membuat perubahan tadi. Gambar-gambar yang dibuat nampak gelasir, seakan-akan apilah yang membuat. Ada juga seseorang yang membeli sebuah mangkuk besar untuk mencuci tangannya. Pada suatu hari diwaktu musim dingin, sesudah mencuci tanganya, air dalam mangkuk tersebut beku. Tetapi lihatlah! Air membeku dan nampak padanya sebuah gambar bunga buah persik. Ia ,elihat peristiwa ini dengan kagum dan amat girang. Lain waktu lagi tetapi sekarang air menjadi beku dengan ruopa setangkai bunga mawar yang mekar sekali.

Sejak waktu itu, jika hendak memperlihatkan pada teman-temanya hal-hal yang indah, diambillah olehnya mangkuk ajaib itu dan dibiarkan air disitu membeku. Lalu dilihatlah gambar-gambar yang timbul diatas es tipis itu: sepert rumpun pohon bambu, atau sebuah dusun, gunung dan tiap kali pemanadangan berlainan. Banyak sair ditulis tentang porselin. Mereka menganggap porselin adalah bagaikan bulan terang diukir dengan keahlian dan diputihkan dengan air mata. Ia bagaikan cawan indah-bagus dare s yang setipis-tipisnya dan penuh dengan awan hijau. Porselin bagaikan daun bunga teratai yang halus dan penuh tetes embun yang dibawa oleh arus air sungai. Seorang kaisar memesan bebrpa buah barang porselin untuk istananya. Katanya” warnanya harus sebagai warna biru langit sesudah air hujan turun, dan awan tebal sudah tercerai berai.”

Pedagang arab dan Persia yang datang ke Tiongkok sangat gembira melihatnya. Di Tiongkok orang mempunyai tanah liat yang bagus sekali ”kata mereka”, jika pulang dinegerinya, dengan tanah liat itu dibuatnya jambang yang tipis dan jernih seperti gelas. Kami dapat melihat air didalamnya. Mereka mebelinya dan memperdagangkannya sampai di negeri-negeri selatan dan bangsa Tionghoa sendiri membawanya juga ke India, Arab, dan kepulauan Jawa, Sumatra dan Borneo. Mereka membawa barang-barang porselin ke pelabuhan-pelabuhan di sebelah Barat dan Selatan. Dan banyak sekali kapal luar negeri berlabuh dipelabuhan Tiongkok untuk membeli pirng porselin untuk rajanya dan semua orang yang dapat membayar dengan harga yang tinggi. Jalur pelayaranpun semakin ramai. Perdagangan pun semakin diminati berbagai negara. Terutama negeri Tiongkok. Dengan berkembangnaya aktivitas perdagangan perkembanagan agamapun melejit. Para pedagang dengan membawa para bhiksu (pendeta Budha dengan misi ekonomi dan dibarengi dengan agama) melakukan perjalanan mencari dunia baru.

Di Situs Kota Cina pun tedapat porselin atau pecahan keramik yang berasal dari dinasti Song. Aktivitas arkeologi menunjukkan bahwa pecahan keramik yang telah diidentifikasi menunjukkan peninggalan dinasti Song yakni porselin putih dan glasir bening. Keramik yang di temukan di situs Kota Cina kebanyakan berasal dari keramik Song Selatan pada abad ke-10-12 m.

2. Dinasti Yuan

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Yuan (1271 – 1368) adalah satu dari dua dinasti asing di Cina. Dinasti ini didirikan oleh Kublai Khan, cucu dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Walaupun Kublai Khan secara de-facto adalah pendiri Dinasti Yuan, namun ia menempatkan kakeknya, Jenghiz Khan sebagai kaisar pertama Dinasti Yuan. Ibu kota Dadu (sekarang Beijing), Shangdu. Bahasa Mongol mandarin. Agama Buddhisme (Cina dan Tibet), Taoisme, Konfusianisme, Kepercayaan tradisional Cina. Pemerintahan adalah Monarki dengan hak pilih terbatas. Kaisar : i)  1260–1294 Kublai Khan, ii) 1333–1370 dan iii) Ukhaatu Khan

Era bersejarah adalah Abad pertengahan, pendirian       18 Desember 1271, penaklukan Dinasti Song Selatan tangaal 19 Maret 1276,  Jatuhnya Dadu tanggal 14 September 1368. Luas yakni Sekitar tahun 1310= 14.000.000 km² (5.405.430 sq mi) .Populasi perkiraan 1293 sekitar 62.818.128.  Mata uang Mayoritas uang kertas, dengan uang koin dalam jumlah kecil.

Pada Dinasti Yuan ( 1206-1368 ), utusan pedagang yang timbal balik antara Timur dan Barat lebih banyak dari pada masa sebelumnya. Dinasti Yuan kerap berhubungan dengan Jepang dan berbagai negara Asia Tenggara. Pada tahun 1275, anak pedagang Venezia, Marco Polo mengikuti ayahnya berkunjung ke Tiongkok dan menetap selama 17 tahun. Marco Polo meninggalkan karyanya “ Perjalanan ”, salah satu dokumen penting bagi orang Barat untuk mengenal Tiongkok dan Asia.

Pada tahun 1333, pemberontakan kaum tani dengan agama dan persekutuan rahasia sebagai ikatan menyebar luas ke seluruh negeri. Pada tahun 1351, kaum tani buruh yang membenahi Sungai Kuning memicu pemberontakan dengan “ kain merah ” sebagai tandanya. Pada tahun 1341, Kepala Tentara “ Kain Merah ” Zhu Yuanzhang berhasil menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan Dinasti Ming.

b. Keramik dari Dinasti Yuan

Dengan permintaan pasar baru yang dihasilkan dari penyatuan kembali utara dan selatan, serta baru Mongol selera dan permintaan untuk ekspor ke Timur Dekat, Jepang, dan Korea, Yuan masa inovasi dalam produksi keramik. Sumber untuk motif dekoratif baru dan bentuk kapal berasal dari logam Timur Dekat, fitur dinasti Tang bertahan pada keramik Dinasti Jin, dan perunggu Cina kuno dan jades.

Pada periode ini, pusat produksi keramik bergeser ke selatan, di mana rute perdagangan luar negeri menyebabkan pasar jauh seperti Jepang, India, dan Afrika. Pada kompleks Jingdezhen dari kiln di provinsi Jiangxi, yingqing atau porselen qingbai menunjukkan nada-kebiruan glasir terus diproduksi bersama dengan tipe baru dicat dengan desain porselen tembaga-merah dan biru colbalt glasir. Celadons dengan warna hijau zaitun lebih daripada rekan Song mereka terus diproduksi di tanur Longquan di provinsi Zhejiang. Beberapa teknik yang paling inovatif dikembangkan untuk batuan yang diproduksi di daerah Cizhou, provinsi Shanxi. Memiliki tubuh tanah liat gelap, barang-barang tersebut dihiasi dengan berbagai cara. Beberapa memiliki tanah slip putih dicat dengan pigmen hitam-besi glasir dan kadang-kadang gores desain, sementara yang lain menggunakan proses yang rinci sgraffito, overglazes, warni, dan berbagai teknik lainnya.

Periode Yuan juga menghasilkan barang keramik atau porselin. Hasil produksi dari dinasti Song Selatan diteruskan oleh Dinasti Yuan. Keramik yang terkenal pada saat itu adalah celadon yang di produksi Longquan. Tembikar ini diciptakan dan ditingkatkan seladon glazur teknik. Workshop Longquan secara khusus terkenal secara internasional. jumlah besar seladon Longquan diekspor seluruh Asia Timur, Asia Tenggara dan Timur Tengah pada abad ke-13-15. piring besar seladon disambut di negara-negara Islam.

Ciri-ciri keramik yang berasal dari Dinasti Yuan adalah terutama dari pertengahan seterusnya dicirikan oleh pembuluh yang lebih tebal pot dan cahaya kebiruan Glaze menjadi lebih buram. Nada warna kemudian menjadi lebih putih susu atau putih telur dalam nada dan umumnya disebut sebagai shufu dagangannya. Melengkung / menorehkan motif yang lebih samar dan luka dalam. Sebagai perbandingan, mereka masih terkesan motif rumit dan padat dihiasi di kapal.

Pada awal 2000-an, sejumlah besar barang celadon diselamatkan dari setidaknya dua bangkai kapal di perairan Indonesia oleh nelayan dan salvagers teridentifikasi. Banyak kebingungan dan informasi kontradiktif beredar, sebagian mengklaim bahwa mereka memang benar-benar kapal karam barang sementara yang lain menduga bahwa mereka adalah salinan modern tenggelam di laut untuk mengelabui calon pembeli. Penyebab utama dari masalah adalah bahwa hanya sedikit yang mampu mengidentifikasi celadon pembakaran barang-barang yang berasal dari. Bagi beberapa orang yang akrab dengan ekspor barang-barang kuno, mereka berspekulasi bahwa barang-barang tersebut berasal dari wilayah Fujian atau Guangdong.

Kemudian Dinasti Yuan (1271-1368) adalah periode kunci bagi pengembangan teknik penembakan Blue dan White Porcelain di Cina. karakteristik yang unik didasarkan pada teknik dinasti mantan. Blue dan White Porcelain telah menjadi produk utama porselen Cina oleh Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1368-1911). Blue dan White Porcelain dari Dinasti Yuan besar dalam ukuran, dengan membuat secara kasar tebal. Umumnya terdapat botol besar, panci besar, mangkuk besar dan piring besar, dengan bumbu tradisional Tang (618-907) dan Song (960-1279) dinasti. Karena teknik terbelakang, ada dua antarmuka pada tubuh dan beberapa urat dalam tubuh. yg dibuat secara kasar ini tidak semulus yang dari Dinasti Ming dan Qing, sedangkan lapisan es dari Biru dan Putih Porcelain dari Dinasti Yuan lebih tebal daripada Dinasti Ming dan Qing, karena besi lebih dalam bahan baku glasir .

Ada baris seperti bambu di kaki porselen tersebut. Tubuh terhubung dengan kaki ketika glasir belum dilapisi. Tubuh yang dihiasi dengan baris teratai, awan dan banyak bunga. Dekorasi padat tidak hanya diterapkan pada porselin biru dan putih tetapi juga untuk gambar tenun dan ukiran batu, mencerminkan karakteristik unik waktu itu. Produsen utama Blue dan White Porcelain dalam wasJingdezhen Dinasti Yuan. Selain itu, ada tungku untuk produksi porselen biru dan putih di Zhejiang timur Provinsi Yunnan Cina, barat daya Cina.

3. Dinasti Ming

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Ming (1368 – 1644) adalah dinasti satu dari dua dinasti yang didirikan oleh pemberontakan petani sepanjang sejarah Cina. Dinasti ini adalah dinasti bangsa Han yang terakhir memerintah setelah Dinasti Song. Pada tahun 1368 Zhu Yuanzhang berhasil mengusir bangsa Mongol kembali ke utara dan menghancurkan Dinasti Yuan yang mereka dirikan. Ia mendirikan dinasti Ming, dengan ibukotanya di Yingtian (sekarang Nanjing) sebelum putranya, Zhu Di, yang menjadi kaisar ke-3 memindahkan ibukota ke Shuntian (sekarang Beijing). Yingtian kemudian berganti nama menjadi Nanjing (ibukota selatan). Luas kekuasaan 1450 6.500.000 km² (2.509.664 sq mi).

Awal Dinasti Ming ditandai dengan masa-masa ketenangan dan kemakmuran di bawah Kaisar Hongwu, Zhu Yuanzhang. Kaisar Hongwu melakukan reformasi pada sistem pemerintahan dan birokrasi dengan membentuk organ birokrasi baru yang saling mengimbangi untuk mencegah munculnya lembaga pemerintah yang mempunyai wewenang terlalu besar. Ia juga melalukan pembangunan ekonomi, menghentikan segala ekspedisi militer untuk memberi rakyat waktu dan ketenangan untuk melakukan tanggung jawab mereka di bidang masing-masing. Kebijakan ini berhasil ditandai dengan peningkatan jumlah populasi sampai dengan 10.650.000 kepala keluarga atau 65.000.000 jiwa pada tahun 1393.

Di penghujung Dinasti Ming, pemberontakan marak di seluruh negara dan pada puncaknya, Beijing jatuh ke tangan pemberontak yang dipimpin oleh Li Zicheng. Kekalahan ini menyebabkan Chongzhen menggantung diri di bukit di belakang Kota Terlarang. Li yang bersengketa dengan Wu Sangui menangkapi keluarganya di Beijing menyebabkan Wu memutuskan untuk menyerah kepada suku Manchu yang kemudian menaklukkan Li Zicheng dan menguasai Beijing pada tahun 1644.

Setelah Beijing dikuasai oleh suku Manchu, mereke kemudian mendirikan Dinasti Qing yang menandai runtuhnya Dinasti Ming. Sisa-sisa kekuatan yang setia kepada Dinasti Ming kemudian mengungsi ke selatan Cina dan meneruskan perlawanan secara terpisah. Dalam sejarah, kekuatan ini dikenal sebagai Ming Selatan. Ming Selatan kemudian berhasil dihancurkan oleh Kaisar Kangxi pada tahun 1683.Dinasti Ming (1368 – 1644).  Setelah berhasil mengusir Bangsa Mongol, Zhu Yuanzhang menobatkan dirinya sebagai kaisar dengan gelar Ming Daizhu (1368 – 1398). Tahun pemerintahannya disebut dengan Hongwu, sehingga Beliau juga dikenal dengan sebutan Kaisar Hongwu. Dinasti barunya tersebut diberi nama Ming.

Pelayaran samudera merupakan salah satu hal yang patut dibanggakan pada masa Dinasti Ming. Kaisar Yongle (1403 – 1424) telah memerintahkan Admiral Zheng He untuk mengadakan pelayaran ke selatan menuju negeri-negeri yang jauh. Ia berhasil berlayar sejauh Afrika (Mogadishu dan Malindi), jauh sebelum Bangsa Barat berhasil mencapai tempat tersebut serta mencapai Kalkuta dan Kolombo beberapa ratus tahun sebelum Vasco Da Gama. Zheng He berangkat pada tahun 1405, membawa 63 kapal yang memuat 27.870 orang (jauh lebih banyak dibandingkan dengan pelayaran Kolombus). Hal terpuji yang patut kita teladani di sini adalah: meskipun membawa kekuatan besar tetapi Zheng He tidaklah berusaha menaklukkan atau menjajah negeri-negeri yang dikunjunginya. Hal ini beda dengan bangsa Barat, dimana penjelajahan selalu diakhiri dengan penjajahan. Pelayaran samudera ini beberapa ratus tahun lebih tua dibandingkan dengan Kolombus, sehingga dapat dikatakan bahwa pelopor penjelajahan samudera yang sebenarnya adalah Zheng He.

Yongle digantikan oleh putera tertuanya Hongxi (1425), yang hanya memerintah setahun, namun ia memiliki rasa ketertarikan pada astronomi. Ia telah berhasil mengenali bintik matahari, jauh sebelum bangsa Barat mengenalnya. Kaisar Dinasti Ming yang terkenal berikutnya adalah Wanli (1573 – 1620). Pada masa kekuasaannya transformasi Tiongkok menuju negara modernpun diawali. Hasil pertanian dari Amerika, seperti misalnya jagung, kentang manis, dan kacang meningkatkan produksi pangan dan jumlah penduduk meningkat hingga menjadi lebih dari 100 juta jiwa atau bertambah dua kali lipat dibandingkan awal Dinasti Ming. Dinasti Ming terkenal pula dengan keramiknya yang diekspor ke seantero penjuru dunia. Pada beberapa bagian belahan bumi ini, kita dapat menjumpai sisa-sisa keramik dari jaman dinasti ini. Sementara itu menjelang akhir Dinasti Ming, Bangsa Manchu di utara menjadi bertambah kuat. Pemimpin mereka Nurhachi beserta puteranya Aberhai pada awal abad ketujuh belas berhasil merebut Liaoning dari tangan Dinasti Ming. Setelah merasa kuat mereka mendirikan dinasti sendiri yang diberi nama Qing (1626).

Kaisar Dinasti Ming terakhir adalah Chongzhen (1628 – 1644), pada jamannya terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Li Zicheng. Ia berhasil merebut Beijing, ibukota Dinasti Ming pada Bulan April 1644, menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dinasti Xun. Kaisar Chongzhen bunuh diri dengan cara menggantung diri dan pada saat yang sama dengan kematiannya, berakhir pulalah Dinasti Ming. Jenderal Wu Sangui yang ditugaskan menjaga perbatasan masih setia pada Dinasti Ming, maka ia meminta tolong Bangsa Manchu yang saat itu dipimpin Shunzhi (1644 – 1661) untuk mengusir Li Zicheng. Tetapi ternyata setelah Li berhasil diusir, Bangsa Manchu tidak bersedia meninggalkan Tiongkok, sehingga dengan demikian berawalah kekuasaan Dinasti Qing di Tiongkok.

B. Keramik Ming

Porselin Ming merupakan keramik yang kualitas tinggi. Fungsi porselen Cina termasuk di antara hadiah dipertukarkan dalam hubungan luar negeri selama Dinasti Ming. Di antara jumlah besar dan berbagai keramik Cina yang ditemukan di Thailand dan lebih besar Asia Tenggara adalah berbagai yang mirip Ming ware resmi dalam penggunaannya naga dan phoenix motif dan bahan berkualitas tinggi dengan pengerjaan. Sarjana Liu Liangyou dalam sebuah artikel berjudul “Cina Keramik tergali di Thailand” pada edisi 49 dari National Palace Museum Seni Bulanan Cina, menyatakan bahwa keramik halus dieksekusi tersebut hanya bisa menjadi produk dari sebuah bengkel resmi dan bagian dari sistem hadiah tempat untuk hubungan Ming Dinasti asing. Liang mengutip Sejarah Dinasti Ming (Mingshi) 339 bab untuk Champa dan Kamboja (Zhancheng Zhenla zhuan) untuk tahun 1383. Pengadilan Ming disajikan Siam (Thailand) 19.000 item barang keramik. Tiga tahun kemudian juga mencatat bahwa pengadilan Kamboja disajikan dengan jumlah yang tidak ditentukan barang keramik. Kita dapat mengasumsikan bahwa jumlah item yang signifikan juga dan jangka waktu tersebut ditukar terus setidaknya selama periode awal dinasti Ming. Phoenix piring biru-putih direproduksi di sini, dan menemukan di Asia Tenggara, identik dengan contoh di Boston Museum of Fine Arts, tanggal pertengahan abad ke-15.

Selama Dinasti Ming (1368-1644), yuqichang atau kiln resmi didirikan dan ware biru-putih menjadi lebih halus. Tanah liat untuk porselin putih terpilih pada hati-hati, warna biru kobalt cemerlang dan motif yang halus, memproduksi barang dari keanggunan abadi. Dari periode seterusnya Xuande (1426), tanda pemerintahan mulai muncul di kekaisaran wares. Pada periode Chenghua (1466-1487), biru-putih mencapai titik puncaknya, dan sejumlah karya yang rumit sama berharganya seperti perhiasan yang diproduksi. bekerja Overglaze email doucai disebut juga dikembangkan selama periode ini. Pada periode Jiajing (1522-1566), biru-putih mulai menunjukkan penurunan negaranya dan digantikan oleh karya overglaze polikrom enamel. Boros potongan termasuk wucai dan kinrande diproduksi pada kedua kekaisaran dan swasta kiln. Pada periode Wanli (1573-1620), seorang ware Wanli-gaya khas dengan lukisan polikrom overglaze enamel diproduksi, meskipun tungku kekaisaran dinasti Ming tertarik untuk mengakhiri selama periode ini.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina juga terdapat keramik dinasti Ming tahun 14-17 M. Ciri dari keramik Ming yakni Longquan barang-barang terus diproduksi selama melalui Late Ming Dinasti Qing. Selama periode Ming awal, ada banyak juga membuat piring besar diproduksi dengan padat diisi melengkung / dibentuk motif bunga di pedalaman. Beberapa potongan yang lebih baik memiliki Glaze glossy tebal yang merupakan hasil dari Glaze multi layer aplikasi. Dibandingkan dengan sebelumnya khas dinding plat dangkal. Potongan Ming memiliki glassier dan lebih transparan glasir yang cenderung untuk mengembangkan krasing. Volume produksi menurun tajam dan kualitas relatif lebih miskin. Kebanyakan kiln menghentikan produksinya dengan hanya beberapa yang terus berproduksi dalam periode Qing.

B. Artifak China di Pantai Timur Sumatra

1. Latar belakang historis

Berdasarkan hasil penelitian terhadap situs Kota Cina setidaknya ditemukan lokasi yang mengandung tinggalan arkeologi, diantaranya ditemukan berbagai sisa bangunan keagamaan yang berisi arca Budhis, dan arca yang bersifat Hindu, sisa pertukangan logam, sisa tempat tinggal di sekitar sampah kerang dan berbagai artefak lain berupa manik-manik, pecahan gelas, mata uang logam, sisa papan perahu, tembikar dan keramik (baik yang masih utuh maupun pecahan). Berdasarkan banyaknya temuan arkeologis tersebut membuktikan bahwa pada masa lalu Kota Cina berperan sebagai ”Pelabuhan” jalur perdangangan atau sisa aktifitas kemaritiman pada masa lau di pesisir timur Sumatera (Koestoro dkk, 2004:31).

Salah satu penyebab kenapa dinasti Cina datang ke Situs Kota Cina adalah terbukanya jalur pelayaran melalui selat malaka. Selat ini semakin ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing-kapal asing yang berasal dari belahan bumi barat. Kedatangan kapal-kapal ini selain berlayar sebagaian ada yang singgah dan berdagang di sekitar Selat Malaka. Pada masa itu daerah Kota Cina merupakan salah satu pelabuhan penting di daerah Selat Malaka sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang sangat terkenal di dunia perdagangaan internasonal.

Beberapa asumsi diajukan oleh peneliti bahwa penghunian dan kegiatan/aktifitas di Kota Cina berlangsung pada sekkitar abad ke 12-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai. Asumsi ini berlangsung oleh penggalan carbondatting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Cina yang diketahui pembuatannya dari abad ke 12-13 (Wibisono, 1982). Asumsi juga dikuatkan dengan analisa terhadap temuan arca Budha, dilihat dari segi ikonografi menunjukkan kesamaan dengan gaya India Selatan (Tanjore) yang berasal abad ke 12-13 M (Suleiman, 1981). Analisa terhadap temuan keramik menunjukkan bahwa sebagian bersar keramik yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari abad ke 12-14 M. Jenis keramik yang paling banyak ditemukan di situs Kota Cina adalah jenis Celadon (green-glazed) yakni jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware.

Puncak masa keemasan celadon adalah pada masa dinasti Sung abad ke 11-12 M, diproduksi masal untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan eksport. (Ambary, 1984:66). Jenis keramik lainya keramik Chingpai ,(white glaze wares) yang merupakan jenis keramik yang bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silica yang kadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar abad 12 hingga akhir abad ke 14. Di situs Kota Cina juga terdapat keramik Te Hua wares yakni jenis keramik yang mirip dengan keramik Chingpai, perbedaannya pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik ini banyak diproduksi pada dinasti Yuan sekitar abad 14. (Ambary, 1984: 69). Jenis lainnya adalah Coarse stone wares, adalah jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberi kesan kasar bada bagian badan wadah.

Aktivitas Arkeologis berupa penelitian arkeologis dan geomorfologis  dimulai sejak tahun 1972 hingga tahun 1989 yang dilakukan oleh arkeolog seperti Mc. Kinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989).

Temuan arkeologis situs Kota Cina membuktikan bahwa masa lalu sudah berlangsung lama. Dahulu daerah ini difungsikan sebagai salah satu pusat niaga di pesisir timur Pulau Sumatera. Kontak pelayaran dan perdagangan mempertemukan masyarakat pedalaman–yang menghasilkan berbagai komoditas yang diperlukan pendatang dari berbagai penjuru dunia–dengan kelompok masyarakat pedagang dari luar Sumatera. Berbagai kebutuhan masyarakat setempat juga dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang datang membawa berbagai barang. Sisa dari sebagian aktivitas itulah yang ditemukan dalam kegiatan arkeologis yang dilakukan di sana dan kelak menjadi sarana penggalian informasi.

Aktifitas hubungan dagang melalui jalur laut secara khusus serta aktivitas maritim secara umum di pesisir timur Pulau Sumatera, tidak dapat dipisahkan dari letak strategis lokasi situs yang menghadap ke selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dalam rentang waktu yang panjang (mulai abad permulaan masehi hingga abad ke-19). Perdagangan melalui laut memanfaatkan kemajuan teknologi pelauaran melalui penggunaan perahu-perahu  dagang beretonase besar dengan memanfaatkan navigasi angin muson. Selat Malaka merupakan jalur sutera laut yang pada awalnya merupakan jalur perdagangan alternatif setelah jalur sutera darat yang menghubungkan Cina dengan daerah India. Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan teknologi pelayaran, Selat Malaka menjadi jalur perdagangan utama menuju daerah penghasil rempah-rempah, kapur barus, emas, kayu cendana, maupun barang niaga lainnya di wilayah Nusantara.

Kebanyakan temuan di Situs Kota cina adalah keramik kuno. Keramik kuno merupakan salah satu jenis benda yang diproduksi oleh manusia masa lalu untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka di dalam hidupnya. Pada prinsipnya pengertian keramik adalah setiap benda yang dibuat dari tanah liat, dan yang kemudian dibakar untuk memenuhi fungsinya. Pengertian dari istilah tersebut mancakup tiga macam benda yang dalam kepustakaan arkeologi dikenal sebagai: (1) “porselin” (porcelain), (2) “bahan-batuan” (stoneware), dan (3) “tembikar” (earthenware) (Ayat rohaedi et al. 1978:83; McKinnon et al. 1991). Porselin dan bahan-batuan dapat dibedakan secara tegas dengan tembikar karena kedua jenis benda keramik yang disebut terdahulu pada umumnya mempunyai beberapa ciri utama yaitu: benda tersebut dibuat dari bahan dasar tanah liat berwarna relatif putih yang dicampur dengan bahan-batuan tertentu (petuntze); permukaannya dilapisi dengan lapisan glasir; dan dibakar dengan suhu tinggi antara 1150 hingga 1350 C. Sementara tembikar memiliki beberapa ciri utama yang berbeda yaitu: benda dibuat dari bahan dasar tanah liat (biasa) yang dicampur dengan pasir, atau pecahan kerang, atau sekam pada permukaannya tidak dilapisi dengan lapisan glasir, dan dibakar dengan suhu rendah sekitar 900 C.

Oleh sebagian orang di Indonesia keramik berglasir sering disebut sebagai “keramik asing” (Ridho 1977, 1980, 1984; Hadimuljono 1980, 1985), sebaliknya tembikar disebut sebagai “keramik lokal”. Kedua istilah tersebut untuk pertama kalinya muncul dalam penelitian yang dipimpin oleh Teguh Asmar dan B. Bronson di Rembang (Asmar et al. 1975). Dalam rangka kegiatan penelitian situs-kota oleh Indonesian Field School of Archaeology (IFSA) di Trowulan yang dipimpin oleh Mundardjito dan J. Miksic diputuskan bahwa istilah keramik mencakup pengertian dari ketiga macam benda seperti tersebut di atas (Mundardjito et al. 1992).

Bagi para peneliti masa prasejarah Indonesia, istilah keramik lokal sering disebut sebagai “gerabah” (Soegondho 1993, 1995) atau juga sering disebut “kereweng” jika ditemukan dalam bentuk pecahan seperti dalam penelitian di Ratubaka (Asmar dan Bronson 1973). Namun beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa tidak semua benda tembikar atau gerabah adalah keramik lokal yang dibuat di Indonesia. Ada di antara himpunan benda tembikar itu merupakan barang impor atau yang dibuat di luar Indonesia (Miksic dan Tack 1988, 1992). Pengertian keramik dalam tesis ini mencakupi “keramik berglasir” dan “keramik tidak berglasir” yang keduanya dapat dipastikan berasal dari luar Indonesia dan merupakan barang impor.

Berdasarkan ciri-ciri fisik yang tampak pada keramik-keramik tersebut dapat diindentifikasi asal daerah pembuatannnya dan pertarikhannya. Keramik-keramik impor yang ditemukan di Indonesia berasal dari berbagai negara seperti: Cina, Asia Tenggara (antara lain Thailand, Vietnam, dan Khmer), Timur Tengah, Jepang, dan Eropa (seperti Belanda, dan Jarman). Di antara negara-negara penghasil keramik tersebut, keramik dari Cina merupakan temuan yang paling banyak (de Flines 1969; Ridho 1993/94:20). Sementara itu cara memberi pertarikhan (dating) atas benda keramik ditemukan oleh masa pemerintahan dinasti-dinasti Cina, yang tahun awal dan akhir kekuasaannya dapat diketahui. Tarikh tertua dari keramik yang pernah ditemukan di Indonesia diketahui dari masa dinasti Han yang berkuasa di Cina tahun 202 SM hingga 202 M (Ridho 1977). Namun yang banyak ditemukan di Indonesia terutama keramik-keramik yang dibuat dari masa sesudahnya, yaitu dari masa dinasti Tang (abad VII-X), Lima dinasti (abad X), dinasti Song (abad X-XIII), dinasti Yuan (abad XIII-XIV), dinasti Ming (abad XIV-XVII), dan terakhir dinasti Ching.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina sangat banyak. Berdasarkan data arkeologi pecahan keramik ini dulunya merupakann bahan perdagangan yang akan ditukarkan dengan rempah-rempah di situs Kota Cina. Tetapi sayang keramik yang didapat umumnya pecahan keramik.

2. Sejarah keramik cina

Keramik Cina (Chinese ware) adalah  bahan yang telah berkembang sejak masa dinasti. Cina kaya akan bahan baku yang dibutuhkan untuk pembuatan keramik. Jenis keramik pertama dibuat sekitar 11.000 tahun yang lalu, selama era Palaeolithic. Keramik Cina mulai dari bahan bangunan seperti batu bata dan genteng, untuk kapal tembikar tangan-dibangun dibakar dalam api unggun atau pembakaran, dengan barang-barang porselen canggih dibuat untuk istana.

Porcelain adalah istilah kolektif yang terdiri dari seluruh piranti keramik yang putih dan transparan, tidak peduli apa bahan yang digunakan untuk membuat atau untuk apa menggunakannya diletakkan. Keramik Cina juga dapat diklasifikasikan yang berasal dari utara atau selatan. Cina terdiri dari dua daratan yang terpisah dan berbeda secara geologis, dibawa bersama-sama dengan aksi pergeseran benua dan membentuk sebuah persimpangan yang terletak di antara sungai Kuning dan sungai Yangtze. Geologi kontras dari utara dan selatan menyebabkan perbedaan dalam bahan baku yang tersedia untuk pembuatan keramik.Porselen Cina sebagian besar dibuat oleh kombinasi bahan-bahan berikut: Kaolin – sebagian besar terdiri dari mineral lempung kaolinit. Tembikar batu – batu yang terurai dr mika atau feldspar, historis juga dikenal sebagai petunse.

Dalam konteks keramik porselen Cina tidak memiliki istilah yang diterima secara universal. Hal ini pada gilirannya telah menyebabkan kebingungan tentang kapan porselen Cina yang pertama dilakukan. Meneurut pendapat keramik yang pertama dibuat berasal dari periode akhir Han Timur (100 sampai 200 M.), periode Tiga Kerajaan Wei , Shu, and Wu (220-280 AD), periode Enam Dinasti (220-589 M), dan Dinasti Tang (618-906 M).  Dinasti Han, 202 SM-220 AD : Beberapa ahli percaya bahwa porselin yang pertama dibuat di provinsi Zhejiang selama periode Han Timur. ahli Cina menekankan adanya proporsi yan g signifikan dari mineral porselen-bangunan (tanah liat cina, batu porselin atau kombinasi dari keduanya) sebagai faktor penting dalam mendefinisikan porselen. Pecahan dari situs arkeologi Han Timur (kiln) diperkirakan suhu pembakaran berkisar antara 1260-1300 ° C . Sejauh 1000 SM, yang disebut “barang Porcelaneous” atau “proto-barang porselin” dibuat dengan menggunakan paling tidak beberapa kaolin dibakar pada suhu tinggi.

Sui dan dinasti Tang, 581-907 : Selama periode Sui dan Tang (581-907) berbagai keramik, rendah dan tinggi, di produksi. Tang terkenal dengan bahan  kaca (tiga warna) barang-barang, penembakan-tinggi, barang seladon kapur-kaca Yue dan produk rendah dibakar dari Changsha. Di Cina utara, pembakarannya tinggi, porselen tembus dibuat di tanur di propinsi Henan dan Hebei. Sebuah bentuk hidangan berglasir dari akhir 7 atau abad ke-8 awal, Dinasti Tang (618-907). Salah satu yang pertama menyebutkan dari porselen oleh asing dibuat oleh seorang musafir Arab masa Dinasti Tang yang mencatat bahwa: “” Mereka telah di Cina tanah lempung yang sangat baik dengan yang mereka membuat vas yang setransparan kaca; air terlihat melalui mereka. Para vas terbuat dari tanah liat . “Orang-orang Arab sadar bahan yang diperlukan untuk menciptakan kerami kaca, bukanlah bahan kaca biasa.

Song dan dinasti Yuan, 960-1368 : keramik ini diterukkan oleh dinasti Song Pada tahun 1004 dikawasan Jingde. Jingde dijadikan sebagai kota pusat produksi utama untuk porselen Imperial. Selama dinasti Song dan Yuan, porselen yang dibuat di kota dan lainnya selatan Cina kiln . Dinasti Ming, 1368-1644 : Dinasti Ming melihat suatu periode yang luar biasa inovasi dalam pembuatan keramik. Pembakaran diselidiki teknik baru dalam desain dan bentuk, menunjukkan kecenderungan untuk warna dan desain dicat, dan keterbukaan terhadap bentuk-bentuk asing. Kaisar Yongle (1402-1424) terutama ingin tahu tentang negara lain (yang dibuktikan dengan dukungan dari kasim Zheng He eksplorasi yang diperpanjang Samudra Hindia), dan menikmati bentuk yang tidak biasa, banyak terinspirasi oleh logam Islam. Selama pemerintahan Xuande (1425-1435), penyempitan teknis diperkenalkan dalam penyusunan kobalt yang digunakan untuk dekorasi glasir biru. Sebelumnya kobalt telah cemerlang dalam warna, namun dengan kecenderungan untuk  menambaw warna darah dan mangan warna kusam, tapi rak baris. Xuande porselin sekarang dianggap salah satu yang terbaik dari semua output Ming.  Dekorasi berenamel keramik disempurnakan di bawah Kaisar Chenghua (1464-1487), dan sangat dihargai oleh para kolektor kemudian. Bahkan menurut akhir abad keenam belas, Chenghua dan era Xuande bekerja (terutama anggur cangkir telah tumbuh begitu banyak dalam popularitas, bahwa harga mereka hampir cocok barang antik asli Song atau bahkan lebih tua. Ini harga untuk keramik yang relatif baru.  Banyak sarjana sasrawan senang  (seperti Wen Zhenheng, Tu Long, dan Lian Gao).]

Selain inovasi ini, periode akhir Ming mengalami pergeseran yang dramatis terhadap ekonomi pasar, porselen diekspor ke seluruh dunia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi selain dari porselin dipasok untuk keperluan rumah tangga, tempat pembakaran di Jingdezhen menjadi pusat produksi utama untuk ekspor porselen skala besar ke Eropa dimulai dengan masa pemerintahan Kaisar Wanli (1572-1620). Dengan ini kaolin waktu dan batu keramik yang dicampur dalam proporsi yang hampir sama. Kaolin menghasilkan barang dari kekuatan besar ketika ditambahkan ke paste, tetapi juga meningkatkan warna putih – suatu warna yang banyak dicari properti, khususnya ketika bentuk barang biru-putih tumbuh dan menjadi popularitas. Tembikar batu bisa dibakar pada suhu yang lebih rendah (1250 ° C) dari pasta dicampur dengan kaolin, yang dibutuhkan 1350 ° C. Variasi semacam ini sangat penting untuk diingat karena kiln(tempat pembakaran) berbentuk telur besar selatan sangat bervariasi suhu. Dekat perapian itu terpanas; dekat cerobong asap, di ujung tungku pembakaran, itu lebih dingin.

Yang terakhir adalah Dinasti Qing, 1644-1911 : sumber bahan primer porselen Dinasti Qing tersedia dari kedua warga asing dan penulis dalam negeri. Dua surat yang ditulis oleh Xavier Francois Père d’Entrecolles, mata-mata Yesuit misionaris dan industri yang tinggal dan bekerja di Jingdezhen pada awal abad kedelapan belas, dijelaskan dalam manufaktur detail porselen di kota itu. Dalam surat pertama kencan 1712, d ‘Entrecolles menggambarkan cara di mana batu tembikar hancur, halus dan dibentuk menjadi batu bata putih kecil, dikenal di Cina sebagai petuntse. Dia kemudian melanjutkan untuk menggambarkan pemurnian kaolin tanah liat cina bersama dengan tahap-tahap perkembangan dari kaca dan menembak. Dia menjelaskan motif-motifnya: “Tidak ada tapi rasa ingin tahuku yang bisa mendorong saya untuk penelitian tersebut, tetapi tampaknya saya bahwa deskripsi menit dari semua yang menyangkut pekerjaan semacam ini mungkin, akan berguna di Eropa. Pada 1743, selama pemerintahan Kaisar Qianlong, Tang Ying, pengawas kekaisaran di kota ini menghasilkan sebuah memoar berjudul “Dua puluh ilustrasi pembuatan porselen. Jenis barang porselen Cina

Tang Sancai penguburan barang-barang : Sancai berarti tiga warna. Namun, warna glasir digunakan untuk menghias barang-barang dari dinasti Tang tidak terbatas pada tiga nomor. Di Barat, barang-barang Tang sancai kadang-kadang disebut sebagai telur b ayam dan-oleh dealer untuk penggunaan hijau, kuning dan putih. Meskipun terakhir dari dua warna mungkin lebih tepat digambarkan sebagai off-kuning dan putih / krim. Barang-barang dagangannya utara Sancai itu dibuat dengan menggunakan putih dan buff-menembak kaolins sekunder dan tanah liat api . Di situs kiln terletak di Tongchuan, county Neiqui di Hebei dan Gongxian di Henan , yang tanah liat yang digunakan untuk barang-barang penguburan itu sama dengan yang digunakan oleh Tang tembikar. Penguburan barang dagangan dibakar pada suhu yang lebih rendah dari whiteware kontemporer. barang Burial, seperti representasi terkenal berbentuk unta dan kuda, yang dilemparkan di bagian, dalam cetakan dengan bagian luted bersama menggunakan slip tanah liat. Dalam beberapa kasus, tingkat individualitas yang diberikan kepada patung-patung dirakit oleh tangan-ukiran.

  1. Teh Jian :  blackwares Jian, terutama terdiri dari barang-barang teh, dibuat di tanur terletak di propinsi Fujian Jianyang. Mereka mencapai puncak popularitas mereka pada masa Dinasti Song. Barang dagangan dibuat menggunakan lokal-won, tanah liat yang kaya besi dan menembak dalam suasana pengoksidasi pada temperatur di wilayah 1300 ° C. Glasir dibuat dengan menggunakan tanah liat yang sama dengan yang digunakan untuk membentuk tubuh, kecuali fluxed dengan kayu-abu. Pada temperatur tinggi cair glasir terpisah untuk menghasilkan pola yang disebut bulu kelinci itu. Ketika barang Jian dipasang miring untuk menembak, menetes berlari menuruni samping, menciptakan bukti glasir cair pooling. Bulu kelinci’s Jian nama keramik ini diilustrasikan dalam mangkuk teh di Metropolitan Museum of Art di New York dibuat pada masa Dinasti Song (960-1279 M). keramik itu berpola dalam glasir mangkuk ini berasal dari pengaruh acak fase pemisahan selama pendinginan awal di kiln dan unik ke dalam mangkuk ini. Pemisahan fase ini dalam glasir besi-kaya blackwares Cina juga digunakan untuk menghasilkan minyak yang terkenal-spot, teadust dan bulu ayam hutan-efek glasir. Tidak ada dua mangkuk memiliki pola yang sama. mangkuk juga memiliki besi kaki coklat gelap yang khas gaya ini. Pasti dibakar, mungkin dengan beberapa ribu keping lainnya, masing-masing saggar stackable sendiri, dalam sebuah tembak-tunggal dalam tungku naga besar. Satu kiln tersebut, dibangun pada sisi bukit yang curam, hampir 150 meter panjang, meskipun pembakaran naga yang paling Jian lebih sedikit dari 100 meter panjangnya.Keramik ini digunakan pada aba Abad ke-11 pleh penduduk Fujian :”Teh adalah warna cahaya dan terlihat terbaik dalam cangkir hitam. Cangkir dibuat di Jianyang yang kebiruan dengan warna hitam, ditandai seperti bulu kelinci. Menjadi kain agak tebal mereka menahan panas, sehingga ketika begitu hangat melalui mereka dingin sangat lambat, dan mereka tambahan dinilai pada account ini. Tak satu pun dari cangkir dihasilkan di tempat lain bisa menyaingi ini. Cangkir putih biru dan tidak digunakan oleh orang-orang yang memberikan teh-pihak mencicipi. Pada saat itu, teh disiapkan oleh whisking daun bubuk yang telah ditekan menjadi kue kering bersama dengan air panas, (agak mirip dengan matcha dalam Upacara teh Jepang). Air ditambahkan ke bubuk ini menghasilkan buih putih yang akan menonjol lebih baik terhadap mangkuk gelap. Selera dalam persiapan berubah selama dinasti Ming, Kaisar Hongwu daun sendiri lebih suka kue bubuk, dan teh hanya akan diterima upeti dari daun sebagai daerah penghasil teh. Daun teh, berbeda dengan teh bubuk, disiapkan oleh seluruh daun seduhan dalam air mendidih – teko berikutnya Yixing barang atas mangkuk teh gelap sangat populer. Barang teh Jian dari dinasti Song juga sangat dihargai dan disalin di Jepang, di mana mereka dikenal sebagai barang dagangan tenmoku.ware Ding : Ding (Wade-Giles: Ting) barang ini telah diproduksi di Ding Xian (modern Chu-yang), Propinsi Hebei, sedikit barat daya Beijing. Sudah di produksi ketika para kaisar Song berkuasa di 940, Ding ware adalah porselin terbaik diproduksi di Cina utara pada waktu itu, dan adalah yang pertama untuk masuk istana kekaisaran untuk penggunaan resmi. pasta adalah putih, umumnya ditutupi dengan hampir transparan glasir yang menetes dan dikumpulkan dalam “air mata,” (meskipun beberapa ware Ding berlapis hitam atau coklat monokrom, putih adalah jenis jauh lebih umum). Secara keseluruhan, estetika Ding lebih mengandalkan pada bentuk yang elegan dari dekorasi mewah, desain yang understated, baik gores atau dicap dalam tanah liat sebelum glazur. Karena cara piring ditumpuk dalam tungku pembakaran, yang rata tanpa glasir tetap, dan harus berbingkai dalam logam seperti emas atau perak bila digunakan sebagai perangkat makan. Beberapa ratus tahun kemudian, seorang Song Selatan era penulis berkomentar bahwa ini cacat yang menyebabkan kematian sebagai kekaisaran ware disukai.  Karena pengadilan Song kehilangan akses ke tanur utara saat mereka melarikan diri ke selatan, telah berpendapat bahwa Qingbai ware dipandang sebagai pengganti Ding.
  2. Ru ware : Seperti ware Ding, Ru (Wade-Giles: ju) diproduksi di Cina Utara untuk digunakan kekaisaran. Tempat pembakaran Ru itu dekat ibukota Song Utara di Kaifeng. Dalam cara yang sama dengan celadons Longquan, potongan Ru memiliki sejumlah kecil besi dalam mereka glasir yang mengoksidasi dan mengubah kehijauan ket ika menembak dalam suasana mengurangi. Ru wares rentang dalam warna-dari hampir putih ke dalam robin’s telur-dan seringkali ditutupi dengan crackles cokelat kemerahan. The crackles, atau “krasing,” disebabkan ketika glasir mendingin dan kontrak lebih cepat dari tubuh, sehingga harus meregangkan dan akhirnya untuk membagi, (seperti yang terlihat di detail di sebelah kanan, lihat juga [8]). Sejarawan seni James Watt komentar bahwa dinasti Song adalah periode pertama yang dilihat krasing sebagai prestasi bukan cacat. Selain itu, sebagai waktu, tubuh mendapat lebih tipis dan lebih tipis, sementara glasir harus lebih tebal, sampai dengan akhir Song Selatan yang ‘hijau-glasir’ lebih tebal daripada tubuh, sehingga sangat gemuk dan bukan kurus, ‘untuk menggunakan analogi tradisional. Terlalu, glasir cenderung menitik dan kolam sedikit, meninggalkannya lebih tipis di bagian atas, di mana tanah liat mengintip melalui.
  3. Ware Juni : Juni (Wade-Giles: Chun) ware adalah gaya sepertiga dari porselen digunakan di pengadilan Song Utara. Dicirikan oleh tubuh lebih tebal dari Ding atau ware Ru, Juni ditutupi de ngan pirus dan ungu glasir, begitu tebal dan kental melihat bahwa hampir tampaknya mencair dari tubuh besar yang coklat keemasan. Tidak hanya kapal lebih tebal Juni pot, bentuknya jauh lebih kuat daripada potongan Juni baik-baik saja, namun kedua jenis itu dihargai di istana Kaisar Huizong. Juni produksi berpusat pada Juni-tai di county Yüxian, Provinsi Hunan.
  4. Guan ware : Guan (Wade-Giles: kuan) ware, secara harfiah berarti “resmi” ware; Ru begitu yakin, Jun, dan bahkan dapat dianggap Ding Guan dalam arti luas yang diproduksi untuk pengadilan. Sebenarnya, Namun, istilah tersebut, hanya berlaku untuk yang dihasilkan oleh seorang pejabat, kiln imperially-lari, yang tidak mulai sampai Song Selatan melarikan diri dari Jin maju dan menetap di Lin’an. Ia selama periode ini dinding menjadi begitu tipis dan lapisan es begitu tebal bahwa yang terakhir menggantikan yang pertama di lebarnya. Seperti tanah liat di kaki bukit sekitar Lin’an, adalah warna kecoklatan, dan glasir sehingga viskus,””Guan ware menjadi terkenal karena “mulut cokelat” (kadang diterjemahkan sebagai “ungu”), menunjukkan tepi atas atau sebuah kapal di mana lapisan es yang tipis dan tubuh menunjukkan melalui. Guan keramik telah banyak dikagumi selama bertahun-tahun, dan sangat tunduk untuk menyalin. Sesungguhnya Gao Lain menghabiskan bagian terbesar komentarnya tentang menggambarkan Guan dan mitranya ware Ge (Lihat di bawah ini: meskipun mirip dengan Ge ware, Guan cenderung memiliki menyelesaikan biru dan [lebih transparan glasir), seakan yang paling sulit, paling mudah diidentifikasi jenis gerabah.
  5. ware Ge : Ge (Wade-Giles: ko), secara harfiah berarti ‘besar-saudara’ ware, karena legenda mengatakan bahwa dari dua bersaudara bekerja di Longquan, yang membuat keramik seladon gaya khas, tetapi tua dibuat ware ge, diproduksi di kiln pribadinya . Komentator Ming, Lian Gao mengklaim bahwa kiln ge mengambil tanah liat dari situs yang sama seperti ware Guan, yang adalah apa yang menyebabkan kesulitan dalam membedakan satu dari yang lain (meskipun Gao berpikir “Ge yang khas yang lebih rendah” Guan). Secara keseluruhan, Ge masih agak sulit dipahami, tetapi pada dasarnya terdiri dari dua jenis-satu dengan ‘hangat-nasi kuning glasir dan dua set crackles, satu set yang lebih menonjol warna gelap diselingi dengan seperangkat garis-garis halus kemerahan (disebut dagu-SSU t ‘ieh-Hsien atau’ benang emas dan benang besi ‘, yang hanya bisa samar-samar terdeteksi pada mangkuk ini: The Ge ware lainnya seperti Guan ware, dengan lapisan es keabuan dan satu set crackles. Pernah dianggap hanya diproduksi bersama seladon Longquan, per pendiri legendaris, Ge sekarang diyakini juga telah diproduksi di Jingdezhen. Sementara mirip dengan ware Guan, Ge biasanya memiliki glasir biru keabu-abuan yang buram penuh dengan selesai hampir matte. Itu pola berlebihan, sering berdiri di hitam tebal. Meskipun masih terselubung misteri, spesialis banyak yang percaya bahwa Ge ware tidak mengembangkan akhir Song Selatan atau bahkan Yuan. Dalam kasus apapun, antusiasme untuk itu tetap seluruh Ming; Wen Zhenheng lebih suka untuk semua jenis porselin, khususnya untuk pencuci droppers sikat dan air (meskipun ia lebih suka cuci sikat giok untuk porselen, Guan dan Ge adalah keramik yang terbaik, terutama jika mereka memiliki rims bergigi). Perbedaan antara imitasi kemudian Ming Song / Yuan Ge meliputi: versi Ming pengganti badan porselen putih, mereka cenderung akan diproduksi dalam berbagai bentuk baru, misalnya orang-orang untuk studio ulama; glasir cenderung lebih tipis dan lebih berkilau, dan slip diterapkan pada tepi dan dasar untuk mensimulasikan mulut “cokelat dan kaki besi” dari ware Guan.
  6. Barang Qingbai : Barang Qingbai (juga disebut ‘yingqing’) dilakukan dengan tingkat Jingdezhen dan banyak pembakaran selatan lainnya dari zaman Dinasti Song Utara sampai mereka hilang cahayanya di abad ke-14 oleh barang glasir biru dan putih berhias. Qingbai dalam bahasa Cina berarti “” biru-putih jelas. The qingbai glasir adalah glasir porselen, disebut demikian karena itu dibuat dengan menggunakan batu tembikar. The qingbai glasir jelas, namun mengandung besi dalam jumlah kecil. Ketika diaplikasikan di atas tubuh glasir porselen putih menghasilkan warna biru kehijauan yang memberikan glasir namanya. Beberapa gores atau dibentuk dekorasi. Dinasti Song qingbai mangkuk diilustrasikan itu kemungkinan besar dibuat di desa Jingdezhen dari Hutian, yang juga merupakan situs Kekaisaran tanur didirikan pada tahun 1004. mangkuk telah bertakuk dekorasi, mungkin mewakili awan atau bayangan awan di dalam air. Tubuh putih, transparan dan memiliki tekstur yang sangat-gula halus, menunjukkan bahwa itu dibuat menggunakan batu hancur dan halus tembikar bukan batu keramik dan kaolin. Glasir dan tubuh mangkuk akan dipecat bersama-sama, dalam sebuah saggar, mungkin di tungku pembakaran kayu besar-naga atau mendaki-kiln, khas kiln selatan pada periode. Meskipun banyak Song dan Yuan qingbai dibakar mangkuk terbalik dalam saggars tersegmentasi khusus, teknik yang pertama kali dikembangkan di tanur Ding di provinsi Hebei. The rims dari barang seperti itu dibiarkan tanpa glasir tetapi sering diikat dengan pita perak, tembaga atau timah. Salah satu contoh yang luar biasa dari porselen qingbai adalah apa yang disebut Fonthill Vas, dijelaskan dalam panduan untuk Fonthill Abbey diterbitkan pada tahun 1823″” … Sebuah botol cina oriental, luar biasa terpasang, dikatakan spesimen diketahui paling porselin diperkenalkan ke Eropa ” Vas ini dibuat di Jingdezhen, mungkin sekitar tahun 1300 dan dikirim sebagai hadiah kepada Paus Benediktus XII oleh salah satu kaisar Yuan terakhir dari Cina, tahun 1338. Itu gunung dimaksud dalam deskripsi 1823 adalah dari dienamel-emas perak dan ditambahkan ke dalam vas di Eropa pada tahun 1381. Sebuah warna air abad ke-18 dari vas lengkap dengan gunung yang ada, tapi gunung itu sendiri telah dihapus dan hilang pada abad ke-19. vas ini sekarang di Museum Nasional Irlandia. Hal ini sering menyatakan bahwa barang-barang qingbai tidak tunduk pada standar yang lebih tinggi dan peraturan barang porselen lain, karena mereka dibuat untuk penggunaan sehari-hari. Mereka diproduksi secara massal, dan mendapat sedikit perhatian dari para sarjana dan antiquarians. The Vas Fonthill, diberikan oleh seorang kaisar Cina untuk paus, mungkin muncul untuk membuang setidaknya beberapa keraguan pada pandangan ini. Biru dan putih barang : Kangxi periode (1662-1722) biru dan putih porselen caddy the. Mengikuti tradisi sebelumnya qingbai porselen, barang biru dan putih berglasir menggunakan glasir porselen transparan. Hiasan dicat biru ke tubuh porselen sebelum glazur, menggunakan sangat halus kobalt oksida dicampur dengan air. Setelah dekorasi telah diterapkan potongan-potongan yang berkaca-kaca dan dipecat. Hal ini diyakini bahwa glasir porselen biru dan putih pertama kali dibuat pada Dinasti Tang. Hanya tiga potong lengkap Tang porselin biru dan putih diketahui ada (di Singapura dari kapal karam Belitung Indonesia), tetapi berasal Shards abad ke-8 atau 9 telah digali di Yangz hou di Provinsi Jiangsu. Ia telah mengemukakan bahwa pecahan berasal dari sebuah tungku di provinsi Henan. Pada tahun 1957 penggalian di lokasi sebuah pagoda di provinsi Zhejiang mengungkapkan Song Utara mangkuk fragmen dihiasi dengan glasir biru dan lebih lanjut sejak ditemukan di situs yang sama. Pada tahun 1970 sebuah fragmen kecil dari sebuah mangkuk biru dan putih, lagi tanggal pada abad ke-11, juga digali di provinsi Zhejiang. Pada tahun 1975 pecahan dihiasi dengan glasir biru yang digali di situs kiln di Jiangxi dan, pada tahun yang sama, glasir sebuah guci putih biru dan digali dari kuburnya tanggal pada tahun 1319, di provinsi Jiangsu. Menarik untuk dicatat bahwa sebuah guci penguburan Yuan dihiasi dengan glasir biru dan merah dan glasir 1338 tanggal masih dalam rasa Cina, meskipun pada saat ini produksi besar-besaran dari porselin biru dan putih di Yuan, Mongol rasa memiliki mulai pengaruhnya di Jingdezhen. Mulai awal abad ke-14, porselin biru dan putih dengan cepat menjadi produk utama dari Jingdezhen, mencapai ketinggian keunggulan teknis selama tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Kaisar Kangxi dan berkelanjutan di masa sekarang menjadi produk penting kota.
  7. Teh kadi banyak digambarkan menunjukkan karakteristik porselin biru dan putih yang dihasilkan selama periode Kangxi. Tubuh tembus menunjukkan melalui glasir yang jelas adalah putih yang besar dan hiasan cobalt, diterapkan dalam banyak lapisan, memiliki warna biru halus. Dekorasi, seorang bijak dalam pemandangan danau dan pegunungan dengan batu bersinar adalah khas periode. potongan itu akan dipecat di saggar (sebuah kotak keramik mengantuk dimaksudkan untuk melindungi bagian dari puing-puing kiln, asap dan abu selama pembakaran) dalam suasana mengurangi dalam telur berbentuk kiln pembakaran kayu, pada suhu 1350 ° C mendekati . Porselen biru-putih Ciri-ciri diekspor ke Jepang di mana ia dikenal sebagai ware Tenkei biru-putih atau ko sometsukei. ware ini diduga terutama diperintahkan oleh master teh untuk upacara Jepang.
  8. Blanc de Chine: Blanc de Chine adalah jenis porselen putih dibuat di Dehua di provinsi Fujian. Telah dihasilkan dari Dinasti Ming (1368-1644) sampai sekarang. jumlah besar tiba di Eropa sebagai Porcelain Ekspor Cina di awal abad 18 dan disalin di Meissen dan di tempat lain. Daerah sepanjang pantai Fujian secara tradisional salah satu pusat utama ekspor keramik. Lebih dari seratus delapan puluh kiln dan situs telah diidentifikasi membentang dalam rentang sejarah dari periode Song sekarang. Dari objek periode Ming porselen yang diproduksi yang mencapai perpaduan dari glasir dan tubuh secara tradisional disebut sebagai “gading putih” dan “susu putih.” Ciri khusus dari porselen Dehua adalah jumlah yang sangat kecil oksida besi di dalamnya, memungkinkan untuk ditembakkan dalam suasana mengoksidasi menjadi warna putih atau gading hangat pucat. (Wood, 2007) Tubuh porselen ini tidak terlalu plastik tetapi bentuk-bentuk kapal telah dibuat dari itu. Donnelly, (1969, pp.xi-xii) daftar jenis berikut produk: angka, kotak, vas dan guci, cangkir dan mangkuk, ikan, lampu, cangkir-berdiri, perbaraan dan pot bunga, hewan, pemegang kuas, anggur dan teko , Buddha dan Tao tokoh, tokoh sekuler dan wayang. Ada output besar tokoh, terutama tokoh agama, misalnya Guanyin, Maitreya, Lohan dan tokoh Ta-mo. The Dehua banyak pabrik porselen hari ini membuat angka dan perangkat makan dalam gaya modern. Selama Revolusi Kebudayaan “Dehua pengrajin diterapkan sangat mereka keterampilan terbaik untuk menghasilkan rapi patung dari Pemimpin Besar dan para pahlawan revolusi. Potret bintang opera proletar baru dalam peran mereka yang paling terkenal diproduksi dalam skala benar-benar besar.  Mao angka kemudian disukai tetapi telah dihidupkan kembali untuk kolektor asing. Seniman terkenal di blanc de Chine, seperti periode Ming akhir Dia Chaozong, menandatangani kreasi mereka dengan stempel mereka. Barang termasuk tokoh kerupuk dimodelkan, cangkir, mangkuk dan Joss-pemegang tongkat. Banyak contoh terbaik dari blanc de Chine ditemukan di Jepang di mana berbagai putih itu disebut hakugorai atau “” putih Korea, istilah yang sering ditemukan di kalangan upacara minum teh. British Museum di London memiliki sejumlah besar potongan blanc de Chine, setelah diterima sebagai hadiah pada tahun 1980 seluruh koleksi PJ. Donnelly.

Di Situs Kota Cina terdapat tiga periode Dinasti berdasarkan jenis keramik. Yang pertama adalah dinasti Song Selatan (abad X-XI M). Kedua adalah Dinasti Yuan (abad XIII-XIV) sedangkan yang terakhir adalah Dinasti Ming (XV-XVII).

Dikompilasi oleh:
Erond Damanik
Pussis-Unimed
Juni 2010.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

KEDINASTIAN TIONGKOK DENGAN ARTIFAK DI PANTAI TIMUR SUMATRA

(dikumpulkan dari berbagai artikel lepas di internet dan literatur)

A. Kedinastian dan Tinggalan Artifak di Pantai Timur Sumatra

  1. Dinasti Song (960 – 1268)

a.   Sistem Pemerintah

Dinasti Song adalah salah satu dinasti yang memerintah di Cina antara tahun 960 sampai dengan tahun 1279 sebelum Cina diinvasi oleh bangsa Mongol. Dinasti ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara dan setelah kejatuhannya digantikan oleh Dinasti Yuan. Dinasti ini merupakan pemerintahan pertama di dunia yang mencetak uang kertas dan merupakan dinasti Cina pertama yang mendirikan angkatan laut. Dalam periode pemerintahan dinasti ini pula, untuk pertama kalinya bubuk mesiu digunakan dalam peperangan dan kompas digunakan untuk menentukan arah utara.

Dinasti Song dibagi ke dalam dua periode berbeda, Song Utara dan Song Selatan.  Song Utara ibukota Song terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol kebanyakan daerah Cina dalam (daerah suku Han) yang di pimpin oleh Kaisar Song Taizu. Song Selatan (1127–1279) merujuk pada periode setelah dinasti Song kehilangan kontrol atas Cina Utara yang direbut oleh Dinasti Jin. Pada masa periode ini, pemerintahan Song mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota di Lin’an (sekarang Hangzhou). Walaupun Dinasti Song telah kehilangan kontrol atas daerah asal kelahiran kebudayaan Cina yang berpusat di sekitar Sungai Kuning, ekonomi Dinasti Song tidaklah jatuh karena 60 persen populasi Cina berada di daerah kekuasaan Song Selatan dan mayoritas daerah kekuasaannya merupakan tanah pertanian yang produktif. Dinasti Song Selatan meningkatkan kekuatan angkatan lautnya untuk mempertahankan daerah maritim dinasti Song. Untuk mendesak Jin dan bangsa Mongol, dinasti Song mengembangkan teknologi militer yang menggunakan bubuk mesiu.

Pada tahun 1234, Dinasti Jin ditaklukkan oleh bangsa Mongol. Möngke Khan, Khan ke-empat kekaisaran Mongol, meninggal pada tahun 1259 dalam penyerangan ke sebuah kota di Chongqing. Saudara lelakinya, Kublai Khan kemudian dinyatakan sebagai Khan yang baru, walaupun klaim ini hanya diakui oleh sebagian bangsa Mongol di bagian Barat. Pada tahun 1271, Kubilai Khan dinyatakan sebagai Kaisar Cina. Setelah peperangan sporadis selama dua dasawarsa, tentara Kubilai Khan berhasil menaklukkan dinasti Song pada tahun 1279. Cina kemudian disatukan kembali di bawah Dinasti Yuan (1271–1368).

Populasi Cina meningkat dua kali lipat semasa abad ke-10 dan ke-11. Pertumbuhan ini didukung oleh perluasan kultivasi padi di Cina tengah dan selatan, penggunaan bibit beras cepat panen dari Asia selatan dan tenggara, dan surplus produksi bahan pangan. Sensus Dinasti Song Utara mencatat populasi sekitar 50 juta. Angka ini menyamai populasi Cina pada saat Dinasti Han dan Dinasti Tang. Data ini diperoleh dari sumber catatan Dua Puluh Empat Sejarah (Namun, diperkirakan bahwa Dinasti Song Utara berpopulasi sekitar 100 juta jiwa. Pertumbuhan populasi yang dramatis ini memacu revolusi ekonomi Cina pramodern. Populasi yang meningkat ini merupakan salah satu penyebab lepasnya secara perlahan peranan pemerintah pusat dalam mengatur ekonomi pasar. Populasi yang besar ini juga meningkatkan pentingnya peranan para bangsawan rendah dalam menjalankan administrasi pemerintahan tingkat bawah.

Ilmu navigasi dan pembuatan kapal segera mencapai puncaknya dan kapal Tiongkok menjadi yang paling maju pada saat itu. Kapasitasnya berkisar antara 200-600 ton. Salah satu kapal Dinasti Song yang ditemukan kembali, panjangnya mencapai 40m dan lebarnya mencapai 10m. Benar-benar suatu prestasi yang luar biasa.  Sementara itu di utara Bangsa Mongol telah menjadi semakin kuat. Pada mulanya Bangsa Mongol adalah taklukan dari Kerajaan Jin, namun pada akhirnya mereka berhasil mengalahkan Jin dan mendirikan kerajaan sendiri, di bawah Genghis Khan. Bangsa Mongol segera menjadi ancaman baru bagi Dinasti Song Selatan.

Pada tahun 1279, serangan pasukan Mongol memaksa keluarga kerajaan untuk melarikan diri ke laut, namun akhirnya Mongol berhasil mengepung mereka kembali. Ketika melihat tidak ada harapan lagi, salah seorang menteri yang setia pada Dinasti Song bernama Lo Shiufa, memeluk Bingdi dan bersama-sama menceburkan diri ke laut. Peristiwa ini menandai berakhirnya Dinasti Song.

b. Keramik dari Dinasti Song

Selama pemerintahan Sung pembuatan porselin semakin menguat. Barang porselin dikirim keluar negeri untuk dijual. Barang-barang porselin dibuat dari tanah liat yang putih dan halus seklai dengan dicampuri serbuk padas dan pasir. Bahan-bahan itu ditumbuk halus dan dijadikan semacam adonan. Dengan bahan itu dapat dibentuk sesuka hati seperti mangkuk, jambang dan lain sebagainya. Sesduah itu diberi glasir lalu dibakar.

Barang porselin dapat menahan panas api yang lebih besar dari pada barang yang dibuat dari tanah liat biasa. Barang porselin harus dibakar bebrapa hari lamanya dalam api yang cukup besar, lai didinginkan selama dua tiga hari sebelumnya diambil dari tempat pemabakaran. Panas api harus diamati dan harus sama pada waktu siang maupun malam, sebab jika tidak dan panas menjadi jelek. Jika sudah selesai warna porselin seluruhnya putih bersih, sedangkan barang tanah liat selalu sedikit merah atau kemerah-merahan. Cahaya dapat menembus porselin dan jika porselin dipukul perlahan-lahan dengan benda keras porselin berbunyi nyaring. Porselin dapat dibuat lebih tipis dari pada barang tanah liat biasa, dan dapat diberi warna yang lebih indah dan glasir yang lebih bagus. Pembuatan porselin dari glasir mereka kembangakan dari pembuatan batu giok yang pembuatan batu bahan giok adalah galasir. Mereka selanjutnya membuat porselin dari warna giok: hijau tua, hijau muda, atau hijau yang berkilauan bagaikan rumput terkena sinar matahari. Ada glasir yang berwarna kuning, merah dan ungu. Sebelumnya barang-barang tadi dibakar, dibuatlah terlebih dahulu gambar-gambar diatasnya. Gambra-gambar bubga, lukisan naga atau ikan dan sebaganya. Lalu diberi gelasir dan gambar-gambar itu dapat menembus gelazur itu.

Mula-mula warna itu tak dipakai bercampur, tetapi sebuah barang porselin hanya diberi gelasir dengan sebuah warna saja. Hasil pekerjaan itu sederhana, tetapi indah. Warna yang sangat digemari adalah warna hijau, mulai dengan hijau muda kebiru-biruan, sebagai warna kulit telur itik, sampai hijau tua serupa hijau daun bayam muda. Porselin itu disebut celedon dan kini sangat mahal. Kadang-kadang terjadi hal-hal yang aneh ditempat pemabakaran itu. Kerab terjadi barang yang keluardari tempat pembakaran itu berlainan sekali dari pada yang diaharapkan, sehingga tukang-tukang mengira pai sendirihlah yang membuat perubahan tadi. Gambar-gambar yang dibuat nampak gelasir, seakan-akan apilah yang membuat. Aa juga seseorang yang membeli sebuah mangkuk besar untuk mencuci tangannya. Pada suatu hari diwaktu musim dingin, sesudah mencuci tanganya, air dalam mangkuk tersebut beku. Tetapi lihatlah! Air membeku dan nampak padanya sebuah gambar bunga buah persik. Ia ,elihat peristiwa ini dengan kagum dan amat girang. Lain waktu lagi tetapi sekarang air menjadi beku dengan ruopa setangkai bunga mawar yang mekar sekali. Sejak waktu itu, jika hendak memperlihatkan pada teman-temanya hal-hal yang indah, diambillah olehnya mangkuk ajaib itu dan dibiarkan air disitu membeku. Lalu dilihatlah gambar-gambar yang timbul diatas es tipis itu: sepert rumpun pohon bambu, atau sebuah dusun, gunung dan tiap kali pemanadangan berlainan.

Banyak sair ditulis tentang porselin. Mereka menganggap porselin adalah bagaikan bulan terang diukir dengan keahlian dan diputihkan dengan air mata. Ia bagaikan cawan indah-bagus dare s yang setipis-tipisnya dan penuh dengan awan hijau. Porselin bagaikan daun bunga teratai yang halus dan penuh tetes embun yang dibawa oleh arus air sungai. Seorang kaisar memesan bebrpa buah barang porselin untuk istananya. Katanya” warnanya harus sebagai warna biru langit sesudah air hujan turun, dan awan tebal sudah tercerai berai.”

Pedagang arab dan Persia yang datang ke Tiongkok sangat gembira melihatnya. Di Tiongkok orang mempunyai tanah liat yang bagus sekali ”kata mereka”, jika pulang dinegerinya, dengan tanah liat itu dibuatnya jambang yang tipis dan jernih seperti gelas. Kami dapat melihat air didalamnya. Mereka mebelinya dan memperdagangkannya sampai di negeri-negeri selatan dan bangsa Tionghoa sendiri membawanya juga ke India, Arab, dan kepulauan Jawa, Sumatra dan Borneo. Mereka membawa barang-barang porselin ke pelabuhan-pelabuhan di sebelah Barat dan Selatan. Dan banyak sekali kapal luar negeri berlabuh dipelabuhan Tiongkok untuk membeli pirng porselin untuk rajanya dan semua orang yang dapat membayar dengan harga yang tinggi. Jalur pelayaranpun semakin ramai. Perdagangan pun semakin diminati berbagai negara. Terutama negeri Tiongkok. Dengan berkembangnaya aktivitas perdagangan perkembanagan agamapun melejit. Para pedagang dengan membawa para bhiksu (pendeta Budha dengan misi ekonomi dan dibarengi dengan agama) melakukan perjalanan mencari dunia baru.

Di Situs Kota Cina pun tedapat porselin atau pecahan keramik yang berasal dari dinasti Song. Aktivitas arkeologi menunjukkan bahwa pecahan keramik yang telah diidentifikasi menunjukkan peninggalan dinasti Song yakni porselin putih dan glasir bening. Keramik yang di temukan di situs Kota Cina kebanyakan berasal dari keramik Song Selatan pada abad ke-10-12 m.

2. Dinasti Yuan

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Yuan (1271 – 1368) adalah satu dari dua dinasti asing di Cina. Dinasti ini didirikan oleh Kublai Khan, cucu dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Walaupun Kublai Khan secara de-facto adalah pendiri Dinasti Yuan, namun ia menempatkan kakeknya, Jenghiz Khan sebagai kaisar pertama Dinasti Yuan. Ibu kota Dadu (sekarang Beijing), Shangdu. Bahasa Mongol mandarin. Agama Buddhisme (Cina dan Tibet), Taoisme, Konfusianisme, Kepercayaan tradisional Cina. Pemerintahan adalah Monarki dengan hak pilih terbatas. Kaisar : i)  1260–1294 Kublai Khan, ii) 1333–1370 dan iii) Ukhaatu Khan

Era bersejarah adalah Abad pertengahan, pendirian    18 Desember 1271, penaklukan Dinasti Song Selatan tangaal 19 Maret 1276,  Jatuhnya Dadu tanggal 14 September 1368. Luas yakni Sekitar tahun 1310= 14.000.000 km² (5.405.430 sq mi) .Populasi perkiraan 1293 sekitar 62.818.128.  Mata uang Mayoritas uang kertas, dengan uang koin dalam jumlah kecil.

Pada Dinasti Yuan ( 1206-1368 ), utusan pedagang yang timbal balik antara Timur dan Barat lebih banyak dari pada masa sebelumnya. Dinasti Yuan kerap berhubungan dengan Jepang dan berbagai negara Asia Tenggara. Pada tahun 1275, anak pedagang Venezia, Marco Polo mengikuti ayahnya berkunjung ke Tiongkok dan menetap selama 17 tahun. Marco Polo meninggalkan karyanya “ Perjalanan ”, salah satu dokumen penting bagi orang Barat untuk mengenal Tiongkok dan Asia.

Pada tahun 1333, pemberontakan kaum tani dengan agama dan persekutuan rahasia sebagai ikatan menyebar luas ke seluruh negeri. Pada tahun 1351, kaum tani buruh yang membenahi Sungai Kuning memicu pemberontakan dengan “ kain merah ” sebagai tandanya. Pada tahun 1341, Kepala Tentara “ Kain Merah ” Zhu Yuanzhang berhasil menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan Dinasti Ming.

b. Keramik dari Dinasti Yuan

Dengan permintaan pasar baru yang dihasilkan dari penyatuan kembali utara dan selatan, serta baru Mongol selera dan permintaan untuk ekspor ke Timur Dekat, Jepang, dan Korea, Yuan masa inovasi dalam produksi keramik. Sumber untuk motif dekoratif baru dan bentuk kapal berasal dari logam Timur Dekat, fitur dinasti Tang bertahan pada keramik Dinasti Jin, dan perunggu Cina kuno dan jades.

Pada periode ini, pusat produksi keramik bergeser ke selatan, di mana rute perdagangan luar negeri menyebabkan pasar jauh seperti Jepang, India, dan Afrika. Pada kompleks Jingdezhen dari kiln di provinsi Jiangxi, yingqing atau porselen qingbai menunjukkan nada-kebiruan glasir terus diproduksi bersama dengan tipe baru dicat dengan desain porselen tembaga-merah dan biru colbalt glasir. Celadons dengan warna hijau zaitun lebih daripada rekan Song mereka terus diproduksi di tanur Longquan di provinsi Zhejiang. Beberapa teknik yang paling inovatif dikembangkan untuk batuan yang diproduksi di daerah Cizhou, provinsi Shanxi. Memiliki tubuh tanah liat gelap, barang-barang tersebut dihiasi dengan berbagai cara. Beberapa memiliki tanah slip putih dicat dengan pigmen hitam-besi glasir dan kadang-kadang gores desain, sementara yang lain menggunakan proses yang rinci sgraffito, overglazes, warni, dan berbagai teknik lainnya.

Periode Yuan juga menghasilkan barang keramik atau porselin. Hasil produksi dari dinasti Song Selatan diteruskan oleh Dinasti Yuan. Keramik yang terkenal pada saat itu adalah celadon yang di produksi Longquan. Tembikar ini diciptakan dan ditingkatkan seladon glazur teknik. Workshop Longquan secara khusus terkenal secara internasional. jumlah besar seladon Longquan diekspor seluruh Asia Timur, Asia Tenggara dan Timur Tengah pada abad ke-13-15. piring besar seladon disambut di negara-negara Islam.

Ciri-ciri keramik yang berasal dari Dinasti Yuan adalah terutama dari pertengahan seterusnya dicirikan oleh pembuluh yang lebih tebal pot dan cahaya kebiruan Glaze menjadi lebih buram. Nada warna kemudian menjadi lebih putih susu atau putih telur dalam nada dan umumnya disebut sebagai shufu dagangannya. Melengkung / menorehkan motif yang lebih samar dan luka dalam. Sebagai perbandingan, mereka masih terkesan motif rumit dan padat dihiasi di kapal.

Pada awal 2000-an, sejumlah besar barang celadon diselamatkan dari setidaknya dua bangkai kapal di perairan Indonesia oleh nelayan dan salvagers teridentifikasi. Banyak kebingungan dan informasi kontradiktif beredar, sebagian mengklaim bahwa mereka memang benar-benar kapal karam barang sementara yang lain menduga bahwa mereka adalah salinan modern tenggelam di laut untuk mengelabui calon pembeli. Penyebab utama dari masalah adalah bahwa hanya sedikit yang mampu mengidentifikasi celadon pembakaran barang-barang yang berasal dari. Bagi beberapa orang yang akrab dengan ekspor barang-barang kuno, mereka berspekulasi bahwa barang-barang tersebut berasal dari wilayah Fujian atau Guangdong.

Kemudian Dinasti Yuan (1271-1368) adalah periode kunci bagi pengembangan teknik penembakan Blue dan White Porcelain di Cina. karakteristik yang unik didasarkan pada teknik dinasti mantan. Blue dan White Porcelain telah menjadi produk utama porselen Cina oleh Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1368-1911). Blue dan White Porcelain dari Dinasti Yuan besar dalam ukuran, dengan membuat secara kasar tebal. Umumnya terdapat botol besar, panci besar, mangkuk besar dan piring besar, dengan bumbu tradisional Tang (618-907) dan Song (960-1279) dinasti. Karena teknik terbelakang, ada dua antarmuka pada tubuh dan beberapa urat dalam tubuh. yg dibuat secara kasar ini tidak semulus yang dari Dinasti Ming dan Qing, sedangkan lapisan es dari Biru dan Putih Porcelain dari Dinasti Yuan lebih tebal daripada Dinasti Ming dan Qing, karena besi lebih dalam bahan baku glasir .

Ada baris seperti bambu di kaki porselen tersebut. Tubuh terhubung dengan kaki ketika glasir belum dilapisi. Tubuh yang dihiasi dengan baris teratai, awan dan banyak bunga. Dekorasi padat tidak hanya diterapkan pada porselin biru dan putih tetapi juga untuk gambar tenun dan ukiran batu, mencerminkan karakteristik unik waktu itu. Produsen utama Blue dan White Porcelain dalam wasJingdezhen Dinasti Yuan. Selain itu, ada tungku untuk produksi porselen biru dan putih di Zhejiang timur Provinsi Yunnan Cina, barat daya Cina.

3. Dinasti Ming

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Ming (1368 – 1644) adalah dinasti satu dari dua dinasti yang didirikan oleh pemberontakan petani sepanjang sejarah Cina. Dinasti ini adalah dinasti bangsa Han yang terakhir memerintah setelah Dinasti Song. Pada tahun 1368 Zhu Yuanzhang berhasil mengusir bangsa Mongol kembali ke utara dan menghancurkan Dinasti Yuan yang mereka dirikan. Ia mendirikan dinasti Ming, dengan ibukotanya di Yingtian (sekarang Nanjing) sebelum putranya, Zhu Di, yang menjadi kaisar ke-3 memindahkan ibukota ke Shuntian (sekarang Beijing). Yingtian kemudian berganti nama menjadi Nanjing (ibukota selatan). Luas kekuasaan 1450 6.500.000 km² (2.509.664 sq mi).

Awal Dinasti Ming ditandai dengan masa-masa ketenangan dan kemakmuran di bawah Kaisar Hongwu, Zhu Yuanzhang. Kaisar Hongwu melakukan reformasi pada sistem pemerintahan dan birokrasi dengan membentuk organ birokrasi baru yang saling mengimbangi untuk mencegah munculnya lembaga pemerintah yang mempunyai wewenang terlalu besar. Ia juga melalukan pembangunan ekonomi, menghentikan segala ekspedisi militer untuk memberi rakyat waktu dan ketenangan untuk melakukan tanggung jawab mereka di bidang masing-masing. Kebijakan ini berhasil ditandai dengan peningkatan jumlah populasi sampai dengan 10.650.000 kepala keluarga atau 65.000.000 jiwa pada tahun 1393.

Di penghujung Dinasti Ming, pemberontakan marak di seluruh negara dan pada puncaknya, Beijing jatuh ke tangan pemberontak yang dipimpin oleh Li Zicheng. Kekalahan ini menyebabkan Chongzhen menggantung diri di bukit di belakang Kota Terlarang. Li yang bersengketa dengan Wu Sangui menangkapi keluarganya di Beijing menyebabkan Wu memutuskan untuk menyerah kepada suku Manchu yang kemudian menaklukkan Li Zicheng dan menguasai Beijing pada tahun 1644.

Setelah Beijing dikuasai oleh suku Manchu, mereke kemudian mendirikan Dinasti Qing yang menandai runtuhnya Dinasti Ming. Sisa-sisa kekuatan yang setia kepada Dinasti Ming kemudian mengungsi ke selatan Cina dan meneruskan perlawanan secara terpisah. Dalam sejarah, kekuatan ini dikenal sebagai Ming Selatan. Ming Selatan kemudian berhasil dihancurkan oleh Kaisar Kangxi pada tahun 1683.Dinasti Ming (1368 – 1644).  Setelah berhasil mengusir Bangsa Mongol, Zhu Yuanzhang menobatkan dirinya sebagai kaisar dengan gelar Ming Daizhu (1368 – 1398). Tahun pemerintahannya disebut dengan Hongwu, sehingga Beliau juga dikenal dengan sebutan Kaisar Hongwu. Dinasti barunya tersebut diberi nama Ming.

Pelayaran samudera merupakan salah satu hal yang patut dibanggakan pada masa Dinasti Ming. Kaisar Yongle (1403 – 1424) telah memerintahkan Admiral Zheng He untuk mengadakan pelayaran ke selatan menuju negeri-negeri yang jauh. Ia berhasil berlayar sejauh Afrika (Mogadishu dan Malindi), jauh sebelum Bangsa Barat berhasil mencapai tempat tersebut serta mencapai Kalkuta dan Kolombo beberapa ratus tahun sebelum Vasco Da Gama. Zheng He berangkat pada tahun 1405, membawa 63 kapal yang memuat 27.870 orang (jauh lebih banyak dibandingkan dengan pelayaran Kolombus). Hal terpuji yang patut kita teladani di sini adalah: meskipun membawa kekuatan besar tetapi Zheng He tidaklah berusaha menaklukkan atau menjajah negeri-negeri yang dikunjunginya. Hal ini beda dengan bangsa Barat, dimana penjelajahan selalu diakhiri dengan penjajahan. Pelayaran samudera ini beberapa ratus tahun lebih tua dibandingkan dengan Kolombus, sehingga dapat dikatakan bahwa pelopor penjelajahan samudera yang sebenarnya adalah Zheng He.

Yongle digantikan oleh putera tertuanya Hongxi (1425), yang hanya memerintah setahun, namun ia memiliki rasa ketertarikan pada astronomi. Ia telah berhasil mengenali bintik matahari, jauh sebelum bangsa Barat mengenalnya. Kaisar Dinasti Ming yang terkenal berikutnya adalah Wanli (1573 – 1620). Pada masa kekuasaannya transformasi Tiongkok menuju negara modernpun diawali. Hasil pertanian dari Amerika, seperti misalnya jagung, kentang manis, dan kacang meningkatkan produksi pangan dan jumlah penduduk meningkat hingga menjadi lebih dari 100 juta jiwa atau bertambah dua kali lipat dibandingkan awal Dinasti Ming. Dinasti Ming terkenal pula dengan keramiknya yang diekspor ke seantero penjuru dunia. Pada beberapa bagian belahan bumi ini, kita dapat menjumpai sisa-sisa keramik dari jaman dinasti ini. Sementara itu menjelang akhir Dinasti Ming, Bangsa Manchu di utara menjadi bertambah kuat. Pemimpin mereka Nurhachi beserta puteranya Aberhai pada awal abad ketujuh belas berhasil merebut Liaoning dari tangan Dinasti Ming. Setelah merasa kuat mereka mendirikan dinasti sendiri yang diberi nama Qing (1626).

Kaisar Dinasti Ming terakhir adalah Chongzhen (1628 – 1644), pada jamannya terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Li Zicheng. Ia berhasil merebut Beijing, ibukota Dinasti Ming pada Bulan April 1644, menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dinasti Xun. Kaisar Chongzhen bunuh diri dengan cara menggantung diri dan pada saat yang sama dengan kematiannya, berakhir pulalah Dinasti Ming. Jenderal Wu Sangui yang ditugaskan menjaga perbatasan masih setia pada Dinasti Ming, maka ia meminta tolong Bangsa Manchu yang saat itu dipimpin Shunzhi (1644 – 1661) untuk mengusir Li Zicheng. Tetapi ternyata setelah Li berhasil diusir, Bangsa Manchu tidak bersedia meninggalkan Tiongkok, sehingga dengan demikian berawalah kekuasaan Dinasti Qing di Tiongkok.

b. Keramik Ming

Porselin Ming merupakan keramik yang kualitas tinggi. Fungsi porselen Cina termasuk di antara hadiah dipertukarkan dalam hubungan luar negeri selama Dinasti Ming. Di antara jumlah besar dan berbagai keramik Cina yang ditemukan di Thailand dan lebih besar Asia Tenggara adalah berbagai yang mirip Ming ware resmi dalam penggunaannya naga dan phoenix motif dan bahan berkualitas tinggi dengan pengerjaan. Sarjana Liu Liangyou dalam sebuah artikel berjudul “Cina Keramik tergali di Thailand” pada edisi 49 dari National Palace Museum Seni Bulanan Cina, menyatakan bahwa keramik halus dieksekusi tersebut hanya bisa menjadi produk dari sebuah bengkel resmi dan bagian dari sistem hadiah tempat untuk hubungan Ming Dinasti asing. Liang mengutip Sejarah Dinasti Ming (Mingshi) 339 bab untuk Champa dan Kamboja (Zhancheng Zhenla zhuan) untuk tahun 1383. Pengadilan Ming disajikan Siam (Thailand) 19.000 item barang keramik. Tiga tahun kemudian juga mencatat bahwa pengadilan Kamboja disajikan dengan jumlah yang tidak ditentukan barang keramik. Kita dapat mengasumsikan bahwa jumlah item yang signifikan juga dan jangka waktu tersebut ditukar terus setidaknya selama periode awal dinasti Ming. Phoenix piring biru-putih direproduksi di sini, dan menemukan di Asia Tenggara, identik dengan contoh di Boston Museum of Fine Arts, tanggal pertengahan abad ke-15.

Selama Dinasti Ming (1368-1644), yuqichang atau kiln resmi didirikan dan ware biru-putih menjadi lebih halus. Tanah liat untuk porselin putih terpilih pada hati-hati, warna biru kobalt cemerlang dan motif yang halus, memproduksi barang dari keanggunan abadi. Dari periode seterusnya Xuande (1426), tanda pemerintahan mulai muncul di kekaisaran wares. Pada periode Chenghua (1466-1487), biru-putih mencapai titik puncaknya, dan sejumlah karya yang rumit sama berharganya seperti perhiasan yang diproduksi. bekerja Overglaze email doucai disebut juga dikembangkan selama periode ini. Pada periode Jiajing (1522-1566), biru-putih mulai menunjukkan penurunan negaranya dan digantikan oleh karya overglaze polikrom enamel. Boros potongan termasuk wucai dan kinrande diproduksi pada kedua kekaisaran dan swasta kiln. Pada periode Wanli (1573-1620), seorang ware Wanli-gaya khas dengan lukisan polikrom overglaze enamel diproduksi, meskipun tungku kekaisaran dinasti Ming tertarik untuk mengakhiri selama periode ini.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina juga terdapat keramik dinasti Ming tahun 14-17 M. Ciri dari keramik Ming yakni Longquan barang-barang terus diproduksi selama melalui Late Ming Dinasti Qing. Selama periode Ming awal, ada banyak juga membuat piring besar diproduksi dengan padat diisi melengkung / dibentuk motif bunga di pedalaman. Beberapa potongan yang lebih baik memiliki Glaze glossy tebal yang merupakan hasil dari Glaze multi layer aplikasi. Dibandingkan dengan sebelumnya khas dinding plat dangkal. Potongan Ming memiliki glassier dan lebih transparan glasir yang cenderung untuk mengembangkan krasing. Volume produksi menurun tajam dan kualitas relatif lebih miskin. Kebanyakan kiln menghentikan produksinya dengan hanya beberapa yang terus berproduksi dalam periode Qing.

B. Artifak China di Pantai Timur Sumatra

1. Latar belakang historis

Berdasarkan hasil penelitian terhadap situs Kota Cina setidaknya ditemukan lokasi yang mengandung tinggalan arkeologi, diantaranya ditemukan berbagai sisa bangunan keagamaan yang berisi arca Budhis, dan arca yang bersifat Hindu, sisa pertukangan logam, sisa tempat tinggal di sekitar sampah kerang dan berbagai artefak lain berupa manik-manik, pecahan gelas, mata uang logam, sisa papan perahu, tembikar dan keramik (baik yang masih utuh maupun pecahan). Berdasarkan banyaknya temuan arkeologis tersebut membuktikan bahwa pada masa lalu Kota Cina berperan sebagai ”Pelabuhan” jalur perdangangan atau sisa aktifitas kemaritiman pada masa lau di pesisir timur Sumatera (Koestoro dkk, 2004:31).

Salah satu penyebab kenapa dinasti Cina datang ke Situs Kota Cina adalah terbukanya jalur pelayaran melalui selat malaka. Selat ini semakin ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing-kapal asing yang berasal dari belahan bumi barat. Kedatangan kapal-kapal ini selain berlayar sebagaian ada yang singgah dan berdagang di sekitar Selat Malaka. Pada masa itu daerah Kota Cina merupakan salah satu pelabuhan penting di daerah Selat Malaka sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang sangat terkenal di dunia perdagangaan internasonal.

Beberapa asumsi diajukan oleh peneliti bahwa penghunian dan kegiatan/aktifitas di Kota Cina berlangsung pada sekkitar abad ke 12-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai. Asumsi ini berlangsung oleh penggalan carbondatting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Cina yang diketahui pembuatannya dari abad ke 12-13 (Wibisono, 1982). Asumsi juga dikuatkan dengan analisa terhadap temuan arca Budha, dilihat dari segi ikonografi menunjukkan kesamaan dengan gaya India Selatan (Tanjore) yang berasal abad ke 12-13 M (Suleiman, 1981). Analisa terhadap temuan keramik menunjukkan bahwa sebagian bersar keramik yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari abad ke 12-14 M. Jenis keramik yang paling banyak ditemukan di situs Kota Cina adalah jenis Celadon (green-glazed) yakni jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware.

Puncak masa keemasan celadon adalah pada masa dinasti Sung abad ke 11-12 M, diproduksi masal untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan eksport. (Ambary, 1984:66). Jenis keramik lainya keramik Chingpai ,(white glaze wares) yang merupakan jenis keramik yang bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silica yang kadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar abad 12 hingga akhir abad ke 14. Di situs Kota Cina juga terdapat keramik Te Hua wares yakni jenis keramik yang mirip dengan keramik Chingpai, perbedaannya pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik ini banyak diproduksi pada dinasti Yuan sekitar abad 14. (Ambary, 1984: 69). Jenis lainnya adalah Coarse stone wares, adalah jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberi kesan kasar bada bagian badan wadah.

Aktivitas Arkeologis berupa penelitian arkeologis dan geomorfologis  dimulai sejak tahun 1972 hingga tahun 1989 yang dilakukan oleh arkeolog seperti Mc. Kinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989).

Temuan arkeologis situs Kota Cina membuktikan bahwa masa lalu sudah berlangsung lama. Dahulu daerah ini difungsikan sebagai salah satu pusat niaga di pesisir timur Pulau Sumatera. Kontak pelayaran dan perdagangan mempertemukan masyarakat pedalaman–yang menghasilkan berbagai komoditas yang diperlukan pendatang dari berbagai penjuru dunia–dengan kelompok masyarakat pedagang dari luar Sumatera. Berbagai kebutuhan masyarakat setempat juga dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang datang membawa berbagai barang. Sisa dari sebagian aktivitas itulah yang ditemukan dalam kegiatan arkeologis yang dilakukan di sana dan kelak menjadi sarana penggalian informasi.

Aktifitas hubungan dagang melalui jalur laut secara khusus serta aktivitas maritim secara umum di pesisir timur Pulau Sumatera, tidak dapat dipisahkan dari letak strategis lokasi situs yang menghadap ke selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dalam rentang waktu yang panjang (mulai abad permulaan masehi hingga abad ke-19). Perdagangan melalui laut memanfaatkan kemajuan teknologi pelauaran melalui penggunaan perahu-perahu  dagang beretonase besar dengan memanfaatkan navigasi angin muson. Selat Malaka merupakan jalur sutera laut yang pada awalnya merupakan jalur perdagangan alternatif setelah jalur sutera darat yang menghubungkan Cina dengan daerah India. Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan teknologi pelayaran, Selat Malaka menjadi jalur perdagangan utama menuju daerah penghasil rempah-rempah, kapur barus, emas, kayu cendana, maupun barang niaga lainnya di wilayah Nusantara.

Kebanyakan temuan di Situs Kota cina adalah keramik kuno. Keramik kuno merupakan salah satu jenis benda yang diproduksi oleh manusia masa lalu untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka di dalam hidupnya. Pada prinsipnya pengertian keramik adalah setiap benda yang dibuat dari tanah liat, dan yang kemudian dibakar untuk memenuhi fungsinya. Pengertian dari istilah tersebut mancakup tiga macam benda yang dalam kepustakaan arkeologi dikenal sebagai: (1) “porselin” (porcelain), (2) “bahan-batuan” (stoneware), dan (3) “tembikar” (earthenware) (Ayat rohaedi et al. 1978:83; McKinnon et al. 1991). Porselin dan bahan-batuan dapat dibedakan secara tegas dengan tembikar karena kedua jenis benda keramik yang disebut terdahulu pada umumnya mempunyai beberapa ciri utama yaitu: benda tersebut dibuat dari bahan dasar tanah liat berwarna relatif putih yang dicampur dengan bahan-batuan tertentu (petuntze); permukaannya dilapisi dengan lapisan glasir; dan dibakar dengan suhu tinggi antara 1150 hingga 1350 C. Sementara tembikar memiliki beberapa ciri utama yang berbeda yaitu: benda dibuat dari bahan dasar tanah liat (biasa) yang dicampur dengan pasir, atau pecahan kerang, atau sekam pada permukaannya tidak dilapisi dengan lapisan glasir, dan dibakar dengan suhu rendah sekitar 900 C.

Oleh sebagian orang di Indonesia keramik berglasir sering disebut sebagai “keramik asing” (Ridho 1977, 1980, 1984; Hadimuljono 1980, 1985), sebaliknya tembikar disebut sebagai “keramik lokal”. Kedua istilah tersebut untuk pertama kalinya muncul dalam penelitian yang dipimpin oleh Teguh Asmar dan B. Bronson di Rembang (Asmar et al. 1975). Dalam rangka kegiatan penelitian situs-kota oleh Indonesian Field School of Archaeology (IFSA) di Trowulan yang dipimpin oleh Mundardjito dan J. Miksic diputuskan bahwa istilah keramik mencakup pengertian dari ketiga macam benda seperti tersebut di atas (Mundardjito et al. 1992). Bagi para peneliti masa prasejarah Indonesia, istilah keramik lokal sering disebut sebagai “gerabah” (Soegondho 1993, 1995) atau juga sering disebut “kereweng” jika ditemukan dalam bentuk pecahan seperti dalam penelitian di Ratubaka (Asmar dan Bronson 1973). Namun beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa tidak semua benda tembikar atau gerabah adalah keramik lokal yang dibuat di Indonesia. Ada di antara himpunan benda tembikar itu merupakan barang impor atau yang dibuat di luar Indonesia (Miksic dan Tack 1988, 1992). Pengertian keramik dalam tesis ini mencakupi “keramik berglasir” dan “keramik tidak berglasir” yang keduanya dapat dipastikan berasal dari luar Indonesia dan merupakan barang impor.

Berdasarkan ciri-ciri fisik yang tampak pada keramik-keramik tersebut dapat diindentifikasi asal daerah pembuatannnya dan pertarikhannya. Keramik-keramik impor yang ditemukan di Indonesia berasal dari berbagai negara seperti: Cina, Asia Tenggara (antara lain Thailand, Vietnam, dan Khmer), Timur Tengah, Jepang, dan Eropa (seperti Belanda, dan Jarman). Di antara negara-negara penghasil keramik tersebut, keramik dari Cina merupakan temuan yang paling banyak (de Flines 1969; Ridho 1993/94:20). Sementara itu cara memberi pertarikhan (dating) atas benda keramik ditemukan oleh masa pemerintahan dinasti-dinasti Cina, yang tahun awal dan akhir kekuasaannya dapat diketahui. Tarikh tertua dari keramik yang pernah ditemukan di Indonesia diketahui dari masa dinasti Han yang berkuasa di Cina tahun 202 SM hingga 202 M (Ridho 1977). Namun yang banyak ditemukan di Indonesia terutama keramik-keramik yang dibuat dari masa sesudahnya, yaitu dari masa dinasti Tang (abad VII-X), Lima dinasti (abad X), dinasti Song (abad X-XIII), dinasti Yuan (abad XIII-XIV), dinasti Ming (abad XIV-XVII), dan terakhir dinasti Ching.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina sangat banyak. Berdasarkan data arkeologi pecahan keramik ini dulunya merupakann bahan perdagangan yang akan ditukarkan dengan rempah-rempah di situs Kota Cina. Tetapi sayang keramik yang didapat umumnya pecahan keramik.

2. Sejarah keramik cina

Keramik Cina (Chinese ware) adalah  bahan yang telah berkembang sejak masa dinasti. Cina kaya akan bahan baku yang dibutuhkan untuk pembuatan keramik. Jenis keramik pertama dibuat sekitar 11.000 tahun yang lalu, selama era Palaeolithic. Keramik Cina mulai dari bahan bangunan seperti batu bata dan genteng, untuk kapal tembikar tangan-dibangun dibakar dalam api unggun atau pembakaran, dengan barang-barang porselen canggih dibuat untuk istana.

Porcelain adalah istilah kolektif yang terdiri dari seluruh piranti keramik yang putih dan transparan, tidak peduli apa bahan yang digunakan untuk membuat atau untuk apa menggunakannya diletakkan. Keramik Cina juga dapat diklasifikasikan yang berasal dari utara atau selatan. Cina terdiri dari dua daratan yang terpisah dan berbeda secara geologis, dibawa bersama-sama dengan aksi pergeseran benua dan membentuk sebuah persimpangan yang terletak di antara sungai Kuning dan sungai Yangtze. Geologi kontras dari utara dan selatan menyebabkan perbedaan dalam bahan baku yang tersedia untuk pembuatan keramik.Porselen Cina sebagian besar dibuat oleh kombinasi bahan-bahan berikut:

· Kaolin – sebagian besar terdiri dari mineral lempung kaolinit.

· Tembikar batu – batu yang terurai dr mika atau feldspar, historis juga dikenal sebagai petunse.

· Feldspar

Dalam konteks keramik porselen Cina tidak memiliki istilah yang diterima secara universal. Hal ini pada gilirannya telah menyebabkan kebingungan tentang kapan porselen Cina yang pertama dilakukan. Meneurut pendapat keramik yang pertama dibuat berasal dari periode akhir Han Timur (100 sampai 200 M.), periode Tiga Kerajaan Wei , Shu, and Wu (220-280 AD), periode Enam Dinasti (220-589 M), dan Dinasti Tang (618-906 M).

Dinasti Han, 202 SM-220 AD : Beberapa ahli percaya bahwa porselin yang pertama dibuat di provinsi Zhejiang selama periode Han Timur. ahli Cina menekankan adanya proporsi yan g signifikan dari mineral porselen-bangunan (tanah liat cina, batu porselin atau kombinasi dari keduanya) sebagai faktor penting dalam mendefinisikan porselen. Pecahan dari situs arkeologi Han Timur (kiln) diperkirakan suhu pembakaran berkisar antara 1260-1300 ° C . Sejauh 1000 SM, yang disebut “barang Porcelaneous” atau “proto-barang porselin” dibuat dengan menggunakan paling tidak beberapa kaolin dibakar pada suhu tinggi.

Sui dan dinasti Tang, 581-907 : Selama periode Sui dan Tang (581-907) berbagai keramik, rendah dan tinggi, di produksi. Tang terkenal dengan bahan  kaca (tiga warna) barang-barang, penembakan-tinggi, barang seladon kapur-kaca Yue dan produk rendah dibakar dari Changsha. Di Cina utara, pembakarannya tinggi, porselen tembus dibuat di tanur di propinsi Henan dan Hebei. Sebuah bentuk hidangan berglasir dari akhir 7 atau abad ke-8 awal, Dinasti Tang (618-907). Salah satu yang pertama menyebutkan dari porselen oleh asing dibuat oleh seorang musafir Arab masa Dinasti Tang yang mencatat bahwa: “” Mereka telah di Cina tanah lempung yang sangat baik dengan yang mereka membuat vas yang setransparan kaca; air terlihat melalui mereka. Para vas terbuat dari tanah liat . “Orang-orang Arab sadar bahan yang diperlukan untuk menciptakan kerami kaca, bukanlah bahan kaca biasa.

Song dan dinasti Yuan, 960-1368 : keramik ini diterukkan oleh dinasti Song Pada tahun 1004 dikawasan Jingde. Jingde dijadikan sebagai kota pusat produksi utama untuk porselen Imperial. Selama dinasti Song dan Yuan, porselen yang dibuat di kota dan lainnya selatan Cina kiln . Dinasti Ming, 1368-1644 : Dinasti Ming melihat suatu periode yang luar biasa inovasi dalam pembuatan keramik. Pembakaran diselidiki teknik baru dalam desain dan bentuk, menunjukkan kecenderungan untuk warna dan desain dicat, dan keterbukaan terhadap bentuk-bentuk asing. Kaisar Yongle (1402-1424) terutama ingin tahu tentang negara lain (yang dibuktikan dengan dukungan dari kasim Zheng He eksplorasi yang diperpanjang Samudra Hindia), dan menikmati bentuk yang tidak biasa, banyak terinspirasi oleh logam Islam. Selama pemerintahan Xuande (1425-1435), penyempitan teknis diperkenalkan dalam penyusunan kobalt yang digunakan untuk dekorasi glasir biru. Sebelumnya kobalt telah cemerlang dalam warna, namun dengan kecenderungan untuk  menambaw warna darah dan mangan warna kusam, tapi rak baris. Xuande porselin sekarang dianggap salah satu yang terbaik dari semua output Ming.  Dekorasi berenamel keramik disempurnakan di bawah Kaisar Chenghua (1464-1487), dan sangat dihargai oleh para kolektor kemudian. Bahkan menurut akhir abad keenam belas, Chenghua dan era Xuande bekerja (terutama anggur cangkir telah tumbuh begitu banyak dalam popularitas, bahwa harga mereka hampir cocok barang antik asli Song atau bahkan lebih tua. Ini harga untuk keramik yang relatif baru.  Banyak sarjana sasrawan senang  (seperti Wen Zhenheng, Tu Long, dan Lian Gao).]

Selain inovasi ini, periode akhir Ming mengalami pergeseran yang dramatis terhadap ekonomi pasar, porselen diekspor ke seluruh dunia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi selain dari porselin dipasok untuk keperluan rumah tangga, tempat pembakaran di Jingdezhen menjadi pusat produksi utama untuk ekspor porselen skala besar ke Eropa dimulai dengan masa pemerintahan Kaisar Wanli (1572-1620). Dengan ini kaolin waktu dan batu keramik yang dicampur dalam proporsi yang hampir sama. Kaolin menghasilkan barang dari kekuatan besar ketika ditambahkan ke paste, tetapi juga meningkatkan warna putih – suatu warna yang banyak dicari properti, khususnya ketika bentuk barang biru-putih tumbuh dan menjadi popularitas. Tembikar batu bisa dibakar pada suhu yang lebih rendah (1250 ° C) dari pasta dicampur dengan kaolin, yang dibutuhkan 1350 ° C. Variasi semacam ini sangat penting untuk diingat karena kiln(tempat pembakaran) berbentuk telur besar selatan sangat bervariasi suhu. Dekat perapian itu terpanas; dekat cerobong asap, di ujung tungku pembakaran, itu lebih dingin.

Yang terakhir adalah Dinasti Qing, 1644-1911 : sumber bahan primer porselen Dinasti Qing tersedia dari kedua warga asing dan penulis dalam negeri. Dua surat yang ditulis oleh Xavier Francois Père d’Entrecolles, mata-mata Yesuit misionaris dan industri yang tinggal dan bekerja di Jingdezhen pada awal abad kedelapan belas, dijelaskan dalam manufaktur detail porselen di kota itu. Dalam surat pertama kencan 1712, d ‘Entrecolles menggambarkan cara di mana batu tembikar hancur, halus dan dibentuk menjadi batu bata putih kecil, dikenal di Cina sebagai petuntse. Dia kemudian melanjutkan untuk menggambarkan pemurnian kaolin tanah liat cina bersama dengan tahap-tahap perkembangan dari kaca dan menembak. Dia menjelaskan motif-motifnya: “Tidak ada tapi rasa ingin tahuku yang bisa mendorong saya untuk penelitian tersebut, tetapi tampaknya saya bahwa deskripsi menit dari semua yang menyangkut pekerjaan semacam ini mungkin, akan berguna di Eropa. Pada 1743, selama pemerintahan Kaisar Qianlong, Tang Ying, pengawas kekaisaran di kota ini menghasilkan sebuah memoar berjudul “Dua puluh ilustrasi pembuatan porselen. Jenis barang porselen Cina

1. Tang Sancai penguburan barang-barang : Sancai berarti tiga warna. Namun, warna glasir digunakan untuk menghias barang-barang dari dinasti Tang tidak terbatas pada tiga nomor. Di Barat, barang-barang Tang sancai kadang-kadang disebut sebagai telur b ayam dan-oleh dealer untuk penggunaan hijau, kuning dan putih. Meskipun terakhir dari dua warna mungkin lebih tepat digambarkan sebagai off-kuning dan putih / krim. Barang-barang dagangannya utara Sancai itu dibuat dengan menggunakan putih dan buff-menembak kaolins sekunder dan tanah liat api . Di situs kiln terletak di Tongchuan, county Neiqui di Hebei dan Gongxian di Henan , yang tanah liat yang digunakan untuk barang-barang penguburan itu sama dengan yang digunakan oleh Tang tembikar. Penguburan barang dagangan dibakar pada suhu yang lebih rendah dari whiteware kontemporer. barang Burial, seperti representasi terkenal berbentuk unta dan kuda, yang dilemparkan di bagian, dalam cetakan dengan bagian luted bersama menggunakan slip tanah liat. Dalam beberapa kasus, tingkat individualitas yang diberikan kepada patung-patung dirakit oleh tangan-ukiran.

2. Teh Jianblackwares Jian, terutama terdiri dari barang-barang teh, dibuat di tanur terletak di propinsi Fujian Jianyang. Mereka mencapai puncak popularitas mereka pada masa Dinasti Song. Barang dagangan dibuat menggunakan lokal-won, tanah liat yang kaya besi dan menembak dalam suasana pengoksidasi pada temperatur di wilayah 1300 ° C. Glasir dibuat dengan menggunakan tanah liat yang sama dengan yang digunakan untuk membentuk tubuh, kecuali fluxed dengan kayu-abu. Pada temperatur tinggi cair glasir terpisah untuk menghasilkan pola yang disebut bulu kelinci itu. Ketika barang Jian dipasang miring untuk menembak, menetes berlari menuruni samping, menciptakan bukti glasir cair pooling.

Bulu kelinci’s Jian nama keramik ini diilustrasikan dalam mangkuk teh Metropolitan Museum of Art di New York dibuat pada masa Dinasti Song (960-1279 M). keramik itu berpola dalam glasir mangkuk ini berasal dari pengaruh acak fase pemisahan selama pendinginan awal di kiln dan unik ke dalam mangkuk ini. Pemisahan fase ini dalam glasir besi-kaya blackwares Cina juga digunakan untuk menghasilkan minyak yang terkenal-spot, teadust dan bulu ayam hutan-efek glasir. Tidak ada dua mangkuk memiliki pola yang sama. mangkuk juga memiliki besi kaki coklat gelap yang khas gaya ini. Pasti dibakar, mungkin dengan beberapa ribu keping lainnya, masing-masing saggar stackable sendiri, dalam sebuah tembak-tunggal dalam tungku naga besar. Satu kiln tersebut, dibangun pada sisi bukit yang curam, hampir 150 meter panjang, meskipun pembakaran naga yang paling Jian lebih sedikit dari 100 meter panjangnya.

Keramik ini digunakan pada aba Abad ke-11 pleh penduduk Fujian :”Teh adalah warna cahaya dan terlihat terbaik dalam cangkir hitam. Cangkir dibuat di Jianyang yang kebiruan dengan warna hitam, ditandai seperti bulu kelinci. Menjadi kain agak tebal mereka menahan panas, sehingga ketika begitu hangat melalui mereka dingin sangat lambat, dan mereka tambahan dinilai pada account ini. Tak satu pun dari cangkir dihasilkan di tempat lain bisa menyaingi ini. Cangkir putih biru dan tidak digunakan oleh orang-orang yang memberikan teh-pihak mencicipi. Pada saat itu, teh disiapkan oleh whisking daun bubuk yang telah ditekan menjadi kue kering bersama dengan air panas, (agak mirip dengan matcha dalam Upacara teh Jepang). Air ditambahkan ke bubuk ini menghasilkan buih putih yang akan menonjol lebih baik terhadap mangkuk gelap. Selera dalam persiapan berubah selama dinasti Ming, Kaisar Hongwu daun sendiri lebih suka kue bubuk, dan teh hanya akan diterima upeti dari daun sebagai daerah penghasil teh. Daun teh, berbeda dengan teh bubuk, disiapkan oleh seluruh daun seduhan dalam air mendidih – teko berikutnya Yixing barang atas mangkuk teh gelap sangat populer. Barang teh Jian dari dinasti Song juga sangat dihargai dan disalin di Jepang, di mana mereka dikenal sebagai barang dagangan tenmoku.

3. ware Ding : Ding (Wade-Giles: Ting) barang ini telah diproduksi di Ding Xian (modern Chu-yang), Propinsi Hebei, sedikit barat daya Beijing. Sudah di produksi ketika para kaisar Song berkuasa di 940, Ding ware adalah porselin terbaik diproduksi di Cina utara pada waktu itu, dan adalah yang pertama untuk masuk istana kekaisaran untuk penggunaan resmi. pasta adalah putih, umumnya ditutupi dengan hampir transparan glasir yang menetes dan dikumpulkan dalam “air mata,” (meskipun beberapa ware Ding berlapis hitam atau coklat monokrom, putih adalah jenis jauh lebih umum). Secara keseluruhan, estetika Ding lebih mengandalkan pada bentuk yang elegan dari dekorasi mewah, desain yang understated, baik gores atau dicap dalam tanah liat sebelum glazur. Karena cara piring ditumpuk dalam tungku pembakaran, yang rata tanpa glasir tetap, dan harus berbingkai dalam logam seperti emas atau perak bila digunakan sebagai perangkat makan. Beberapa ratus tahun kemudian, seorang Song Selatan era penulis berkomentar bahwa ini cacat yang menyebabkan kematian sebagai kekaisaran ware disukai.  Karena pengadilan Song kehilangan akses ke tanur utara saat mereka melarikan diri ke selatan, telah berpendapat bahwa Qingbai ware dipandang sebagai pengganti Ding.

4. Ru ware : Seperti ware Ding, Ru (Wade-Giles: ju) diproduksi di Cina Utara untuk digunakan kekaisaran. Tempat pembakaran Ru itu dekat ibukota Song Utara di Kaifeng. Dalam cara yang sama dengan celadons Longquan, potongan Ru memiliki sejumlah kecil besi dalam mereka glasir yang mengoksidasi dan mengubah kehijauan ket ika menembak dalam suasana mengurangi. Ru wares rentang dalam warna-dari hampir putih ke dalam robin’s telur-dan seringkali ditutupi dengan crackles cokelat kemerahan. The crackles, atau “krasing,” disebabkan ketika glasir mendingin dan kontrak lebih cepat dari tubuh, sehingga harus meregangkan dan akhirnya untuk membagi, (seperti yang terlihat di detail di sebelah kanan, lihat juga [8]). Sejarawan seni James Watt komentar bahwa dinasti Song adalah periode pertama yang dilihat krasing sebagai prestasi bukan cacat. Selain itu, sebagai waktu, tubuh mendapat lebih tipis dan lebih tipis, sementara glasir harus lebih tebal, sampai dengan akhir Song Selatan yang ‘hijau-glasir’ lebih tebal daripada tubuh, sehingga sangat gemuk dan bukan kurus, ‘untuk menggunakan analogi tradisional. Terlalu, glasir cenderung menitik dan kolam sedikit, meninggalkannya lebih tipis di bagian atas, di mana tanah liat mengintip melalui.

5. Ware Juni : Juni (Wade-Giles: Chun) ware adalah gaya sepertiga dari porselen digunakan di pengadilan Song Utara. Dicirikan oleh tubuh lebih tebal dari Ding atau ware Ru, Juni ditutupi de ngan pirus dan ungu glasir, begitu tebal dan kental melihat bahwa hampir tampaknya mencair dari tubuh besar yang coklat keemasan. Tidak hanya kapal lebih tebal Juni pot, bentuknya jauh lebih kuat daripada potongan Juni baik-baik saja, namun kedua jenis itu dihargai di istana Kaisar Huizong. Juni produksi berpusat pada Juni-tai di county Yüxian, Provinsi Hunan.

6. Guan ware : Guan (Wade-Giles: kuan) ware, secara harfiah berarti “resmi” ware; Ru begitu yakin, Jun, dan bahkan dapat dianggap Ding Guan dalam arti luas yang diproduksi untuk pengadilan. Sebenarnya, Namun, istilah tersebut, hanya berlaku untuk yang dihasilkan oleh seorang pejabat, kiln imperially-lari, yang tidak mulai sampai Song Selatan melarikan diri dari Jin maju dan menetap di Lin’an. Ia selama periode ini dinding menjadi begitu tipis dan lapisan es begitu tebal bahwa yang terakhir menggantikan yang pertama di lebarnya. Seperti tanah liat di kaki bukit sekitar Lin’an, adalah warna kecoklatan, dan glasir sehingga viskus,””Guan ware menjadi terkenal karena “mulut cokelat” (kadang diterjemahkan sebagai “ungu”), menunjukkan tepi atas atau sebuah kapal di mana lapisan es yang tipis dan tubuh menunjukkan melalui. Guan keramik telah banyak dikagumi selama bertahun-tahun, dan sangat tunduk untuk menyalin. Sesungguhnya Gao Lain menghabiskan bagian terbesar komentarnya tentang menggambarkan Guan dan mitranya ware Ge (Lihat di bawah ini: meskipun mirip dengan Ge ware, Guan cenderung memiliki menyelesaikan biru dan [lebih transparan glasir), seakan yang paling sulit, paling mudah diidentifikasi jenis gerabah.

7. ware Ge : Ge (Wade-Giles: ko), secara harfiah berarti ‘besar-saudara’ ware, karena legenda mengatakan bahwa dari dua bersaudara bekerja di Longquan, yang membuat keramik seladon gaya khas, tetapi tua dibuat ware ge, diproduksi di kiln pribadinya . Komentator Ming, Lian Gao mengklaim bahwa kiln ge mengambil tanah liat dari situs yang sama seperti ware Guan, yang adalah apa yang menyebabkan kesulitan dalam membedakan satu dari yang lain (meskipun Gao berpikir “Ge yang khas yang lebih rendah” Guan). Secara keseluruhan, Ge masih agak sulit dipahami, tetapi pada dasarnya terdiri dari dua jenis-satu dengan ‘hangat-nasi kuning glasir dan dua set crackles, satu set yang lebih menonjol warna gelap diselingi dengan seperangkat garis-garis halus kemerahan (disebut dagu-SSU t ‘ieh-Hsien atau’ benang emas dan benang besi ‘, yang hanya bisa samar-samar terdeteksi pada mangkuk ini: The Ge ware lainnya seperti Guan ware, dengan lapisan es keabuan dan satu set crackles. Pernah dianggap hanya diproduksi bersama seladon Longquan, per pendiri legendaris, Ge sekarang diyakini juga telah diproduksi di Jingdezhen.

Sementara mirip dengan ware Guan, Ge biasanya memiliki glasir biru keabu-abuan yang buram penuh dengan selesai hampir matte. Itu pola berlebihan, sering berdiri di hitam tebal. Meskipun masih terselubung misteri, spesialis banyak yang percaya bahwa Ge ware tidak mengembangkan akhir Song Selatan atau bahkan Yuan. Dalam kasus apapun, antusiasme untuk itu tetap seluruh Ming; Wen Zhenheng lebih suka untuk semua jenis porselin, khususnya untuk pencuci droppers sikat dan air (meskipun ia lebih suka cuci sikat giok untuk porselen, Guan dan Ge adalah keramik yang terbaik, terutama jika mereka memiliki rims bergigi). Perbedaan antara imitasi kemudian Ming Song / Yuan Ge meliputi: versi Ming pengganti badan porselen putih, mereka cenderung akan diproduksi dalam berbagai bentuk baru, misalnya orang-orang untuk studio ulama; glasir cenderung lebih tipis dan lebih berkilau, dan slip diterapkan pada tepi dan dasar untuk mensimulasikan mulut “cokelat dan kaki besi” dari ware Guan.

8. Barang Qingbai : Barang Qingbai (juga disebut ‘yingqing’) dilakukan dengan tingkat Jingdezhen dan banyak pembakaran selatan lainnya dari zaman Dinasti Song Utara sampai mereka hilang cahayanya di abad ke-14 oleh barang glasir biru dan putih berhias. Qingbai dalam bahasa Cina berarti “” biru-putih jelas. The qingbai glasir adalah glasir porselen, disebut demikian karena itu dibuat dengan menggunakan batu tembikar. The qingbai glasir jelas, namun mengandung besi dalam jumlah kecil. Ketika diaplikasikan di atas tubuh glasir porselen putih menghasilkan warna biru kehijauan yang memberikan glasir namanya. Beberapa gores atau dibentuk dekorasi.

Dinasti Song qingbai mangkuk diilustrasikan itu kemungkinan besar dibuat di desa Jingdezhen dari Hutian, yang juga merupakan situs Kekaisaran tanur didirikan pada tahun 1004. mangkuk telah bertakuk dekorasi, mungkin mewakili awan atau bayangan awan di dalam air. Tubuh putih, transparan dan memiliki tekstur yang sangat-gula halus, menunjukkan bahwa itu dibuat menggunakan batu hancur dan halus tembikar bukan batu keramik dan kaolin. Glasir dan tubuh mangkuk akan dipecat bersama-sama, dalam sebuah saggar, mungkin di tungku pembakaran kayu besar-naga atau mendaki-kiln, khas kiln selatan pada periode. Meskipun banyak Song dan Yuan qingbai dibakar mangkuk terbalik dalam saggars tersegmentasi khusus, teknik yang pertama kali dikembangkan di tanur Ding di provinsi Hebei. The rims dari barang seperti itu dibiarkan tanpa glasir tetapi sering diikat dengan pita perak, tembaga atau timah. Salah satu contoh yang luar biasa dari porselen qingbai adalah apa yang disebut Fonthill Vas, dijelaskan dalam panduan untuk Fonthill Abbey diterbitkan pada tahun 1823″” … Sebuah botol cina oriental, luar biasa terpasang, dikatakan spesimen diketahui paling porselin diperkenalkan ke Eropa “”

Vas ini dibuat di Jingdezhen, mungkin sekitar tahun 1300 dan dikirim sebagai hadiah kepada Paus Benediktus XII oleh salah satu kaisar Yuan terakhir dari Cina, tahun 1338. Itu gunung dimaksud dalam deskripsi 1823 adalah dari dienamel-emas perak dan ditambahkan ke dalam vas di Eropa pada tahun 1381. Sebuah warna air abad ke-18 dari vas lengkap dengan gunung yang ada, tapi gunung itu sendiri telah dihapus dan hilang pada abad ke-19. vas ini sekarang di Museum Nasional Irlandia. Hal ini sering menyatakan bahwa barang-barang qingbai tidak tunduk pada standar yang lebih tinggi dan peraturan barang porselen lain, karena mereka dibuat untuk penggunaan sehari-hari. Mereka diproduksi secara massal, dan mendapat sedikit perhatian dari para sarjana dan antiquarians. The Vas Fonthill, diberikan oleh seorang kaisar Cina untuk paus, mungkin muncul untuk membuang setidaknya beberapa keraguan pada pandangan ini.

9. Biru dan putih barang : Kangxi periode (1662-1722) biru dan putih porselen caddy the. Mengikuti tradisi sebelumnya qingbai porselen, barang biru dan putih berglasir menggunakan glasir porselen transparan. Hiasan dicat biru ke tubuh porselen sebelum glazur, menggunakan sangat halus kobalt oksida dicampur dengan air. Setelah dekorasi telah diterapkan potongan-potongan yang berkaca-kaca dan dipecat.

Hal ini diyakini bahwa glasir porselen biru dan putih pertama kali dibuat pada Dinasti Tang. Hanya tiga potong lengkap Tang porselin biru dan putih diketahui ada (di Singapura dari kapal karam Belitung Indonesia), tetapi berasal Shards abad ke-8 atau 9 telah digali di Yangz hou di Provinsi Jiangsu. Ia telah mengemukakan bahwa pecahan berasal dari sebuah tungku di provinsi Henan. Pada tahun 1957 penggalian di lokasi sebuah pagoda di provinsi Zhejiang mengungkapkan Song Utara mangkuk fragmen dihiasi dengan glasir biru dan lebih lanjut sejak ditemukan di situs yang sama. Pada tahun 1970 sebuah fragmen kecil dari sebuah mangkuk biru dan putih, lagi tanggal pada abad ke-11, juga digali di provinsi Zhejiang.

Pada tahun 1975 pecahan dihiasi dengan glasir biru yang digali di situs kiln di Jiangxi dan, pada tahun yang sama, glasir sebuah guci putih biru dan digali dari kuburnya tanggal pada tahun 1319, di provinsi Jiangsu. Menarik untuk dicatat bahwa sebuah guci penguburan Yuan dihiasi dengan glasir biru dan merah dan glasir 1338 tanggal masih dalam rasa Cina, meskipun pada saat ini produksi besar-besaran dari porselin biru dan putih di Yuan, Mongol rasa memiliki mulai pengaruhnya di Jingdezhen. Mulai awal abad ke-14, porselin biru dan putih dengan cepat menjadi produk utama dari Jingdezhen, mencapai ketinggian keunggulan teknis selama tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Kaisar Kangxi dan berkelanjutan di masa sekarang menjadi produk penting kota.

Teh kadi banyak digambarkan menunjukkan karakteristik porselin biru dan putih yang dihasilkan selama periode Kangxi. Tubuh tembus menunjukkan melalui glasir yang jelas adalah putih yang besar dan hiasan cobalt, diterapkan dalam banyak lapisan, memiliki warna biru halus. Dekorasi, seorang bijak dalam pemandangan danau dan pegunungan dengan batu bersinar adalah khas periode. potongan itu akan dipecat di saggar (sebuah kotak keramik mengantuk dimaksudkan untuk melindungi bagian dari puing-puing kiln, asap dan abu selama pembakaran) dalam suasana mengurangi dalam telur berbentuk kiln pembakaran kayu, pada suhu 1350 ° C mendekati . Porselen biru-putih Ciri-ciri diekspor ke Jepang di mana ia dikenal sebagai ware Tenkei biru-putih atau ko sometsukei. ware ini diduga terutama diperintahkan oleh master teh untuk upacara Jepang.

10. Blanc de Chine: Blanc de Chine adalah jenis porselen putih dibuat di Dehua di provinsi Fujian. Telah dihasilkan dari Dinasti Ming (1368-1644) sampai sekarang. jumlah besar tiba di Eropa sebagai Porcelain Ekspor Cina di awal abad 18 dan disalin di Meissen dan di tempat lain. Daerah sepanjang pantai Fujian secara tradisional salah satu pusat utama ekspor keramik. Lebih dari seratus delapan puluh kiln dan situs telah diidentifikasi membentang dalam rentang sejarah dari periode Song sekarang. Dari objek periode Ming porselen yang diproduksi yang mencapai perpaduan dari glasir dan tubuh secara tradisional disebut sebagai “gading putih” dan “susu putih.” Ciri khusus dari porselen Dehua adalah jumlah yang sangat kecil oksida besi di dalamnya, memungkinkan untuk ditembakkan dalam suasana mengoksidasi menjadi warna putih atau gading hangat pucat. (Wood, 2007)

Tubuh porselen ini tidak terlalu plastik tetapi bentuk-bentuk kapal telah dibuat dari itu. Donnelly, (1969, pp.xi-xii) daftar jenis berikut produk: angka, kotak, vas dan guci, cangkir dan mangkuk, ikan, lampu, cangkir-berdiri, perbaraan dan pot bunga, hewan, pemegang kuas, anggur dan teko , Buddha dan Tao tokoh, tokoh sekuler dan wayang. Ada output besar tokoh, terutama tokoh agama, misalnya Guanyin, Maitreya, Lohan dan tokoh Ta-mo. The Dehua banyak pabrik porselen hari ini membuat angka dan perangkat makan dalam gaya modern. Selama Revolusi Kebudayaan “Dehua pengrajin diterapkan sangat mereka keterampilan terbaik untuk menghasilkan rapi patung dari Pemimpin Besar dan para pahlawan revolusi. Potret bintang opera proletar baru dalam peran mereka yang paling terkenal diproduksi dalam skala benar-benar besar.  Mao angka kemudian disukai tetapi telah dihidupkan kembali untuk kolektor asing. Seniman terkenal di blanc de Chine, seperti periode Ming akhir Dia Chaozong, menandatangani kreasi mereka dengan stempel mereka. Barang termasuk tokoh kerupuk dimodelkan, cangkir, mangkuk dan Joss-pemegang tongkat. Banyak contoh terbaik dari blanc de Chine ditemukan di Jepang di mana berbagai putih itu disebut hakugorai atau “” putih Korea, istilah yang sering ditemukan di kalangan upacara minum teh. British Museum di London memiliki sejumlah besar potongan blanc de Chine, setelah diterima sebagai hadiah pada tahun 1980 seluruh koleksi PJ. Donnelly.

Di Situs Kota Cina terdapat tiga periode Dinasti berdasarkan jenis keramik. Yang pertama adalah dinasti Song Selatan (abad X-XI M). Kedua adalah Dinasti Yuan (abad XIII-XIV) sedangkan yang terakhir adalah Dinasti Ming (XV-XVII).

Dikompilasi oleh:

Erond Damanik

Pussis-Unimed

Juni 2010.

Kota Rentang dan Hubungannya Dengan Kerajaan Aru

Kota Rentang dan Hubungannya Dengan Kerajaan Aru


Oleh: Suprayitno
Dosen Sejarah Fakultas Sastra USU Medan

PADA April 2008, Tim Peneliti Gabungan dari Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat menemukan situs Kota Rantang yang terletak di Kec. Hamparan Perak, Deli Serdang. Temuan itu berupa keramik, potongan kayu bekas kapal, batu bata dan nisan. Koordinator kegiatan penggalian situs, Nani H Wibisono dalam salah satu media Jakarta terbitan 24 April 2008 mengatakan, aneka keramik yang ditemukan paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Selain itu ada keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke-12- 14. Adapun batu nisan yang ditemukan di lokasi bergaya Islam bertuliskan syahadat tanpa ada angka tahun.

Temuan situs Kota Rantang kembali mengingatkan kita kepada temuan situs Kota China di Labuhan Deli yang ditemukan pada tahun 1970-an. Yang menarik dari komentar para ahli sejarah dan arkeologi tentang temuan itu adalah, temuan di kedua situs itu selalu dihubungkaitkan dengan keberadaan Kerajaan Aru. Pertanyaannya: benarkah demikian? Bagaimanakah temuan-temuan di lokasi tersebut berkaitan dengan Kerajaan Aru, dan bisa dipahami oleh publik secara logik? Tulisan singkat ini berupaya menjawab soalan itu berdasarkan batu nisan Aceh yang berada di situs Kota Rantang.

Kerajaan Aru

Dimanakah lokasi Kerajaan Aru dan benarkah Kerajaan Aru itu wujud dalam sejarah Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Jika benar, siapakah nama rajanya, bagaimanakah kehidupan sosial-ekonomi penduduk dan hasil bumi negeri itu. Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan lebih awal sebagai entri point untuk menjelaskan isu tersebut diatas. Sebagaimana diketahui, catatan atau rekord tentang Kerajaan Aru sangat terbatas sekali. Menurut Ma Huan dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal dengan “fresh water estuary”. A.H. Gilles sebagaimana dikutip J.V.G. Mills menyatakan “fresh water estuary” adalah muara Sungai Deli. Oleh karena itu Gilles menegaskan bahwa lokasi Aru berada di sekitar Belawan (3o 47` U 98o 41` T) wilayah Deli Pantai Timur Sumatera. Di sebelah selatan, Aru berbatasan dengan Bukit Barisan, di sebelah utara dengan Laut, di sebelah barat bertetangga dengan Sumentala (Samudera Pasai) dan di sebelah timur berbatasan dengan tanah datar.  Untuk sampai ke Kerajaan Aru, dibutuhkan pelayaran dari Melaka selama 4 hari 4 malam dengan kondisi angin yang baik.

Dalam Hsingcha Shenglan (1426) disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan dengan Pulau Sembilan (wilayah pantai Negeri Perak, Malaysia), dan dapat ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin yang baik. Sementara menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325 disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari. Semua sumber China itu mengarahkan bahwa lokasi Kerajaan Aru itu berada di daerah Sumatera Utara, karena sebelah barat Aru disebutkan adalah Samudera Pasai. Samudera Pasai sudah jelas terbukti berdasarkan bukti arekologi berupa makam Sultan Malik Al-Saleh posisinya berada di daerah antara Sungai Jambu Air (Krueng Jambu Aye) dengan Sungai Pasai (Krueng Pase) di Aceh Utara.

Namun, lokasi pusat Kerajaan Aru yang disebutkan dalam sumber China itu memang belum dapat dikenali pasti karena, bukti-bukti pendukung lainnya, khususnya bekas istana, makam-makam diraja Aru dsb. belum ditemukan. Dua lokasi tempat ditemukannya sisa-sisa keramik China, nisan, dan lain-lainnya sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini belum dapat dijadikan bukti yang kuat. Hasil-hasil penggalian di kota China (Labuhan Deli) dan Kota Rantang sementara hanya membuktikan bahwa wilayah itu merupakan wilayah ekonomi yang penting sebagai tempat aktifitas perdagangan dengan para pedagang asing dari China, Siam dan lain-lain.

Ada beberapa pendapat tentang lokasi Kerajaan Aru. Groeneveldt (1960:95) menegaskan lokasi Kerajaan Aru berada kira-kira di muara Sungai Barumun (Padang Lawas) dan Gilles menyatakan di dekat Belawan. Sementara ada juga yang menyatakan lokasi Kerajaan Aru berada di muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat). Pendapat terakhir ini tampaknya sesuai dengan keterangan geografi dari salah satu sumber China di atas, yakni berhadapan dengan Pulau Sembilan di Pantai Perak Malaysia. Memang apabila ditarik garis lurus dari Pulau Sembilan menyeberangi Selat Melaka akan bertemu dengan Teluk Haru yang terletak di Muara Sungai Wampu. Tetapi hingga hari ini didaerah itu belum ada ditemukan bukti-bukti arkeologis yang dapat mendukung pernyataan tersebut.

Sesuai dengan sistem transportasi zaman dahulu yang masih bertumpu kepada jalur sungai, dapat kita pastikan bahwa bandar-bandar perdagangan yang sering berfungsi sebagai pusat sebuah kekuasaan politik (kerajaan) pastilah berada di sekitar muara sungai. Dalam konteks ini, maka di sepanjang pantai Sumatera Timur, ada beberapa sungai besar yang bermuara ke Selat Melaka. Misalnya Sungai Barumun, Sungai Wampu, Sungai Deli, dan Sungai Bedera. Dua sungai yang disebut terakhir ini bermuara ke Belawan dan sekitarnya (Hamparan Perak). Jika demikian tampaknya pendapat Gilles lebih masuk akal, apalagi dihubungkaitkan dengan beberapa temuan-temuan arkeologis di Kota Rantang dan Labuhan Deli.

Tiga buah sungai yang disebutkan terakhir itu juga merupakan jalur lalulintas penting sepanjang sejarah, setidaknya sebelum penjajah Belanda membangun jalan raya pada awal abad ke-20, bagi orang-orang Karo untuk berniaga, sekaligus bermigrasi ke pesisir pantai Sumatera Timur/Selat Melaka. Dalam sejarah Melayu, ada disebutkan tentang nama-nama pembesar Aru yang erat kaitannya dengan nama-nama/marga orang Karo, seperti Serbanyaman Raja Purba dan Raja Kembat dan nama Aru atau Haru juga dapat dikaitkan dengan Karo. Jika informasi ini dikaitkan, maka pusat Kerajaan Aru memang berada di muara-muara sungai tersebut. Namun, secara pasti belum dapat ditetapkan, apakah di sekitar Muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat) atau di sekitar Belawan.

Dalam Atlas Sejarah karya Muhammad Yamin, pada sekitar abad ke-15 M wilayah Kerajaan Aru meliputi seluruh Pesisir Timur Sumatera dari Tamiang sampai ke Rokan dan bahkan sampai ke Mandailing dan Barus. Jika begitu yang boleh kita pastikan adalah wilayah Kerajaan Aru berada di sebagian Pantai Timur Sumatera yang sekarang menjadi wilayah Provinsi Sumatera Utara. Penguasa. Siapakah penguasa Kerajaan Aru? Dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang (1612) disebutkan bahwa Kerajaan Aru pada periode 1477-1488 dipimpin oleh Maharaja Diraja, putra Sultan Sujak “…yang turun daripada Batu Hilir di kota Hulu, Batu Hulu di kota Hilir”. Aru menyerang Pasai karena Raja Pasai menghina utusan Raja Aru yang ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pasai.

T.Luckman Sinar (2007) menjelaskan bahwa Batu Hilir maksudnya adalah Batak Hilir dan Batu Hulu adalah Batak Hulu. Menurut beliau ada kesalahan tulis antara wau pada akhir “batu” dengan kaf, sehingga yang tepat adalah “…yang turun daripada Batak Hilir di kota Hulu, Batak Hulu, di kota Hilir. Dari nama-nama pembesar-pembesar Haru yang disebut dalam Sejarah Melayu, seperti nama Serbayaman Raja Purba, Raja Kembat, merupakan nama yang mirip dengan nama-nama Karo. Sebagaimana kita ketahui di Deli Hulu ada daerah bernama Urung Serbayaman, yang merupakan nama salah satu Raja Urung Melayu di Deli yang berasal dari Suku Karo. Tetapi nama tokoh Maharaja Diraja anak Sultan Sujak masih perlu diperbandingkan dengan sumber lain untuk membuktikan kebenarannya. Sebutan Maharaja Diraja adalah sebuah gelar bagi seorang raja, bukan nama sebenarnya dan apakah Maharaja Diraja adalah Raja Aru yang pertama atau apakah itu gelar dari Sultan Sujak? Kedua pertanyaan ini sukar untuk memastikannya.

Dalam catatan Dinasti Ming, disebutkan, pada 1419 anak Raja Aru bernama Tuan A-lasa mengirim utusan ke negeri China untuk membawa upeti.Nama tokoh inipun sukar mencari pembenarannya karena tidak ada sumber bandingannya dan apakah padanannya dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Namun demikian, nama Sulutang Hutsin yang disebutkan dalam catatan Dinasti Ming dapat dianggap benar karena dapat diperbandingkan dengan Sejarah Melayu. Sulutang Hutsin adalah sebutan orang China untuk mengucapkan nama Sultan Husin. Nama Sultan Husin juga telah disebut-sebut dalam Sejarah Melayu, yaitu sebagai penguasa Aru sekaligus menantu Sultan Mahmud Shah (Raja Melaka) yang terakhir 1488-1528.

Disebutkan, Sultan Husin pernah datang ke Kampar bersama-sama dengan Raja-raja Melayu lainnya seperti Siak, Inderagiri, Rokan dan Jambi atas undangan Sultan Mahmud Shah yang ketika itu sudah membangun basis pertahanan di Kampar karena Melaka sudah dikuasai Portugis untuk membangun aliansi Melayu melawan Portugis. Berdasarkan keterangan itu dapat dikatakan bahwa nama Sultan Husin sebagaimana disebut dalam catatan China dan Sejarah Melayu secara historis dapat dibenarkan. Dengan demikian hanya itulah nama-nama yang tercatat sebagai penguasa Aru. Namun nama itu secara arkeologis hingga hari ini belum dapat dibuktikan, maksudnya belum ada temuan berupa batu nisan atau mata uang yang memuat nama tersebut.

Sosial Ekonomi

Bagaimanakah keadaan sosial-ekonomi penduduk Aru? Raja Aru dan penduduknya telah memeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan dalam Yingyai Shenglan (1416). Dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan dalam Sejarah Melayu, kerajaan tersebut diislamkan oleh Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad. Keduanya merupakan pendakwah dari Madinah dan Malabar, yang juga mengislamkan Merah Silu, Raja Samudera Pasai pada pertengahan abad ke-13. Oleh karena itu, dapat dipastikan agama Islam telah sampai ke Aru paling tidak sejak abad ke-13. Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan data arkeologis berupa batu nisan Sultan Malikus Saleh di Geudong, Lhok Seumawe yang bertarikh 1270-1297, dan kunjungan Marcopolo ke Samudera Pasai tahun 1293. Kedua sumber itu sudah valid dan kredibel.

Sumber-sumber China menyebutkan bahwa adat istiadat seperti perkawinan, adat penguburan mayat, bahasa, pertukangan, dan hasil bumi Kerajaan Aru sama dengan Kerajaan Melaka, Samudera dan Jawa. Mata pencaharian penduduknya adalah menangkap ikan di pantai dan bercocok tanam. Tetapi karena tanah negeri itu tidak begitu sesuai untuk penanaman padi, maka sebagian besar penduduknya berkebun menanam kelapa, pisang dan mencari hasil hutan seperti kemenyan. Mereka juga berternak unggas, bebek, kambing. Sebagian penduduknya juga sudah mengkonsumsi susu (maksudnya mungkin susu kambing). Apabila pergi ke hutan mereka membawa panah beracun untuk perlindungan diri. Wanita dan laki-laki menutupi sebagian tubuh mereka dengan kain, sementara bagian atas terbuka. Hasil-hasil bumi negeri itu mereka barter dengan barang-barang dari pedagang asing seperti keramik, kain sutera, manik-manik dan lain-lain. (Groeneveldt, 1960: 94-96).

Kerajaan Aru telah terwujud pada abad ke-13, sebagaimana beberapa utusannya telah sampai ke Tiongkok, yaitu pertama di tahun 1282 dan 1290 pada zaman pemerintahan Kubilai Khan (T.L. Sinar, 1976 dan McKinnon dalam Kompas, 24 April 2008). Ketika itu telah muncul Kerajaan Singosari di Jawa yang berusaha mendominasi wilayah perdagangan di sekitar Selat Malaka (Asia Tenggara). Singosari berusaha menghempang kuasa Kaisar Kubilai Khan dengan melakukan ekspedisi Pamalayu tahun 1292 untuk membangun aliansi melawan Kaisar China. Negeri-negeri Melayu dipaksa tunduk dibawah kuasa Singosari, seperti Melayu (Jambi) dan  Aru/Haru. Sementara dengan Champa, Singosari berhasil membangun aliansi melalui perkawinan politik. Pada abad ke-14, sebagaimana disebutkan dalam Negara Kertagama karangan Prapanca bahwa Harw (Aru) kemudian menjadi daerah vasal (bawahan) Kerajaan Majapahit, termasuk juga Rokan, Kampar, Siak, Tamiang, Perlak, Pasai, Kandis dan Madahaling.

Memasuki abad ke-15 Haru tampaknya mulai muncul menjadi kerajaan terbesar di Sumatera dan ingin menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Melaka. Munculnya utusan-utusan dari Kerajaan Aru pada 1419, 1421, 1423, dan 1431 di istana Kaisar China dan kunjungan Laksamana Cheng Ho yang muslim itu membuktikan pernyataan itu. Aru menjadi bandar perdagangan yang penting di mata kaisar China. Kaisar China membalas pemberian raja Aru dengan memberikan hadiah berupa kain sutera, mata uang (siling) dan juga uang kertas. Mengikut pendapat Selamat Mulyana, (1981:18) bahwa negeri-negeri di Asia Tenggara yang mengirim utusan ke China dipandang sebagai negeri merdeka. Hanya negeri yang merdeka saja yang berhak mengirim utusan ke negeri China untuk menyampaikan upeti atau persembahan/surat kepada Kaisar China.

Oleh karena itu dapat dipastikan Kerajaan Aru pada abad ke-15 adalah negeri yang merdeka dan berusaha pula untuk mendominasi perdagangan di sekitar Selat Melaka. Oleh karena itu, Haru berusaha menguasai Pasai dan menyerang Melaka berkali-kali, sebagaimana telah disebut dalam Sejarah Melayu. Menurut Sejarah Melayu (cerita ke-13), kebesaran Kerajaan Haru sebanding dengan Melaka dan Pasai, sehingga masing-masing menyebut dirinya “adinda”. Semua utusan dari Aru yang datang ke Melaka harus disambut dengan upacara kebesaran kerajaan. Utusan Aru yang datang ke Istana China terakhir tahun 1431. Setelah itu tidak ada lagi utusan Raja Aru yang dikirim untuk membawa persembahan kepada Kaisar China. Hal ini dapat dipahami karena Aru pada pertengahan abad ke-15 sudah ditundukkan Melaka dibawah Sultan Mansyur Shah melaui perkawinan politik.

Kekuatan Aru juga dilirik oleh Portugis untuk dijadikan sekutu melawan Melaka.  Akan tetapi hubungan Aru dengan Melaka tetap harmonis. Pada saat Sultan Melaka (Sultan Mahmud Shah) diserang oleh Portugis dan mengungsi di Bintan, Sultan Haru datang membantu Melaka. Sultan Haru (Sultan Husin) dinikahkan dengan putri sultan Mahmud Shah pada tahun 1520 M. Banyak orang dari Johor dan Bintan mengiringi putri Sultan Melaka itu ke Aru. Memasuki abad ke16 M, Kerajaan Aru menjadi medan pertempuran antara Portugis (penguasa Melaka) dan Aceh. Pasukan Aceh yang pada tahun 1524 berhasil mengusir Portugis dari Pidi dan Pasai kemudian menguber sisa-sisa pasukan Portugis yang lari ke Aru. Kerajaan Aru diserang Aceh sebanyak dua kali yakni pada bulan Januari dan November 1539.

Aru berhasil dikuasai Aceh dan Sultan Abdullah ditempatkan sebagai Wakil Kerajaan Aceh di Aru. Ratu Aru melarikan diri ke Melaka untuk meminta perlindungan kepada Gubernur Portugis, Pero de Faria. (M.Said, 2007: 164). Dengan bukti-bukti itu secara tertulis, jelas Kerajaan Aru memang pernah wujud di Pantai Timur Sumatera paling tidak sejak abad ke 13 hingga awal abad ke-16. Namun benarkah istananya terdapat disekitar Belawan (Muara Sungai Deli) atau di Muara Sungai Barumun di Padang Lawas, masih perlu dikaji lebih teliti dengan memerlukan banyak bukti.
(wns)

sumber: WASPADA ONLINE, Minggu, 18 Mei 2008 00:59 WIB

Catatan:
Terdapat kesalahan yang menurut EE. McKinnon, nama tersebut bukan ‘Kota Rantang’ tetapi ‘Kota Rentang’. Hal ini didasarkan kepada sumber-sumber Melayu klasik.

Diupload kembali oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
Juni 2010

REFLEKSI HARI ANTINARKOBA SEDUNIA (26 JUNI 2010)

REFLEKSI HARI ANTINARKOBA SEDUNIA

(26 JUNI 2010)

Oleh :
Drs. Sobirin, SH, M.Si,
Mahasiswa S-3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Medan
dan Bekas Pengurus Badan Narkotika Provsu


A. Belajar dari Sejarah

Pada masa lalu, salah satu cara penjajah untuk melemahkan daya juang bangsa ini agar tidak memberontak ialah memanfaatkan narkoba atau lebih dikenal opium (dalam hal ini candu). Menurut James R. Rush dalam bukunya Opium to Java, pada tahun 1677, VOC manandatangani perjanjian dengan Raja Mataram Amangkurat II yang isinya pemberian monopoli bagi VOC untuk mengimpor opium ke wilayah Mataram serta monopoli untuk mengedarkannya. Sejak saat itu, banyak masyarakat Mataram kecanduan berat pada opium. Anehnya, hanya sedikit di antara pejabat atau warga Belanda yang ”nyandu”. Misalnya, menurut laporan tahunan Departemen van Landbouw, Nijverheid en Handel (Departemen Perkebunan, Industri, dan Perdagangan) pada tahun 1929, tidak ada satu pun orang Eropa di Kota Surabaya yang mengisap opium. Sedangkan penduduk pribumi yang mengisap opium sekitar 2.205 orang dan penduduk Tionghoa 1.369 orang.

Hari Antimadat atau Antinarkoba internasional ditetapkan PBB sejak tanggal 26 Juni 1987 sekaligus sebagai warning (peringatan) bahwa narkoba tidak bisa disepelekan begitu saja. Sebab, narkoba berpotensi kuat menghancurkan bangsa dan peradaban masyarakat. Untuk itu, ajakan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyalakan lampu mobil atau motor pada Hari Antinarkoba, misalnya, membutuhkan respons yang lebih sigap, atau lebih daripada sekadar seremoni belaka. Ajakan menyalakan lampu kendaraan atau gerakan simbolis yang lain harus dimaknai bahwa kita memang tengah menghadapi bahaya besar. Maka, kita perlu tetap menerapkan siaga satu dalam setiap keadaan, terkait narkoba. Sayang, ajakan itu dalam beberapa tahun terakhir tampak tidak direspons dengan antusias.

B. Belanja dan Pengguna Narkoba Makin Meningkat.

Sikap tidak antusias atau responsif jelas memudahkan para penjahat narkoba untuk beraksi. Tidak heran, negeri ini akhirnya dikenal sebagai surga bagi para penjahat narkoba meskipun, dampaknya menjadi neraka bagi para korban dan keluarganya. Bayangkan, tiap hari ada 40 orang mati sia-sia karena mengonsumsi narkoba dan kebanyakan adalah usia muda atau produktif. Hingga tahun 2008, jumlah pecandu narkoba di Indonesia sudah 3,2 juta jiwa. Jika tiap hari seorang menghabiskan Rp 300.000, uang belanja narkoba maka jumlah biaya yang dikeluarkan  mencapai Rp 960 miliar per hari (BNN, 2008).

Makin tinggi omzet dan banyaknya korban narkoba jelas dipicu oleh banyak faktor. Salah satu di antaranya adalah lemahnya penegakan hukum, meskipun sudah ada UU Psikotropika. Seperti diketahui, kita sudah memiliki UU Nomor 8/1996 tentang Pengesahan Convention on Psychotropic Substances 1971 (Konvensi Psikotropika 1971). Kemudian, UU itu disempurnakan menjadi UU Nomor 5/1997 tentang Psikotropika. Banyak kalangan menilai, UU itu mandul atau banci karena, misalnya, hukuman untuk pembawa satu butir ineks sama dengan membawa seribu ineks. Jadi, bukan salah hakim yang memutuskan hukuman terlalu ringan, tapi undang-undangnya yang memang tidak menimbulkan efek jera. Memang, hukuman mati sudah dicantumkan dalam UU No 22 Tahun 1997, tetapi, perumusannya sangat hati-hati sehingga ujung-ujungnya para pelaku utama di balik bisnis narkoba jarang dieksekusi mati. Seharusnya hukum negeri ini berani mencontoh hukum di Tiongkok, yang berani menghukum mati para bandar narkoba di hadapan umum dengan harapan menimbulkan efek jera. Jika hukum kita hanya menjadi ”macan kertas”, kedepan jelas akan banyak anak-anak bangsa menjadi korban narkoba. Negeri kita pun bisa diam-diam hancur dari dalam karena banyak warga menjadi korban narkoba.

Jumlah pengguna narkoba suntikan di Indonesia cenderung meningkat.  Indonesia ternyata telah merupakan salah satu negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara yang jumlah pengguna narkoba suntikannya telah melampaui 100.000 orang selain Banglades, India, Iran, Pakistan, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. Pengguna narkoba suntikan di Indonesia pada mulanya hanya terdapat di kota besar, tetapi sekarang juga sudah didapati di kota-kota kecil di seluruh Indonesia. Bahkan, sejak tiga tahun terakhir ini kasus HIV/AIDS baru yang berobat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo 65 persen berasal dari kalangan pengguna narkoba suntikan. Sebagain besar adalah remaja yang berumur antara 15 sampai 25 tahun.

Kecenderungan peningkatan pengguna narkoba suntikan ini rupanya terjadi juga di seluruh dunia. Pada akhir tahun 2003 diperkirakan terdapat 13,2 juta pengguna narkoba suntikan di dunia. Sekitar 22 persen di antaranya hidup di negara maju, sedangkan sisanya berada di negara yang sedang berkembang atau sedang mengalami transisi. Di Eropa Barat terdapat sekitar 1 juta sampai 1,4 juta pengguna narkoba suntikan (9,41 persen), sedangkan di Eropa Timur dan Asia Tengah mencapai 2,3 sampai 4,1 juta (24,18 persen). Di Asia Selatan dan Asia Tenggara jumlahnya jauh lebih banyak lagi, yaitu mencapai 5,3 juta (25,36 persen). Sementara di Asia Timur dan Pasifik empat juta orang (17,66 persen), Afrika Utara dan Timur Tengah 0,6 juta orang, Amerika Latin 1,3 juta, Amerika Utara 1,4 juta, Australia dan Selandia Baru sekitar 298.000 orang.

Kekhawatiran terhadap peningkatan jumlah pengguna narkoba suntikan di dunia terungkap pada pertemuan WHO di Lisabon 13-15 Juni 2005 yang lalu. Pada pertemuan ini negara seperti Rusia, Uzbekistan, Portugal, dan beberapa negara lain mengungkapkan pengalaman mereka dalam menanggulangi permasalahan penggunaan narkoba suntikan ini, terutama dari segi intervensi medik. Pengalaman tersebut penting bagi kita untuk menyempurnakan langkah dalam upaya penanggulangan narkoba di Tanah Air. Berdasarkan data BNN diketahui bahwa jumlah tindak pidana narkoba yang diungkap terus meningkat dari 17.355 kasus pada tahun 2006 menjadi 22.630 kasus. Jumlah pelaku tindak pidana narkoba juga meningkat dari 31.635 orang menjadi 36.169 orang. Sedangkan jumlah barang bukti juga meningkat seperti ganja naik 79 persen, heroin 23 persen, psikotropika ekstasi tablet 156 persen.

Sedangkan data dari Komisi Penanggulangan AIDS dan Narkoba Daerah (KPAND) Sumatera Utara  pada tahun 2005 diperoleh data bahwa  berdasarkan estimasi populasi rawan 2005, adapun jumlah pengguna narkotik suntik di Sumut meningkat menjadi 5.200 orang dan diketahui bahwa 80% (4.160) diantaranya terjangkit HIV/AIDS dari 7.800 PSK yang tersebar di seluruh Sumatra Utara. Dari jumlah tersebut diketahui bahwa 14 orang diantaranya positif mengidap penyakit HIV/AIDS.

C. Ketergantungan narkoba

Penggunaan narkoba dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan terhadap narkoba ternyata tidak mudah diatasi. Meski cukup banyak remaja yang berjuang untuk keluar dari ketergantungan narkoba, acap kali mereka jatuh kembali. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan program substitusi obat dengan menggunakan metadon. Diharapkan dengan pemberian metadon ini penggunaan narkoba dapat dikurangi atau dihentikan. Penggunaan narkoba suntikan amat berisiko menularkan penyakit Hepatitis C dan HIV.

Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo mendapatkan angka kekerapan Hepatitis C di kalangan pengguna narkoba suntikan mencapai 77 persen. Sedangkan kekerapan HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia berkisar antara 60 persen sampai 90 persen. Dengan demikian, remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan berisiko tertular Hepatitis C dan HIV akibat penggunaan jarum suntik bersama. Selain itu jarum yang digunakan untuk menggunakan narkoba biasanya tidak steril sehingga juga dapat menimbulkan infeksi paru dan jantung (endokarditis).

Obat Antiretroviral (ARV) telah mengubah perjalanan penyakit HIV/AIDS. Sebelum era ARV, mereka yang terinfeksi HIV setelah lima sampai delapan tahun akan masuk ke stadium AIDS. Sedangkan mereka yang telah berada dalam stadium AIDS biasanya akan meninggal setelah enam bulan sampai satu tahun. Berkat ARV dewasa ini banyak orang yang terinfeksi HIV dapat tetap produktif.

Mungkinkah manfaat obat ARV juga akan dapat dinikmati oleh remaja pengguna narkoba suntikan yang terinfeksi HIV?. WHO menegaskan bahwa riwayat penggunaan narkoba suntikan tidak menjadi halangan untuk mengakses obat ARV. Dengan persiapan yang baik serta upaya dukungan yang memadai, hasil terapi ARV pada pengguna narkoba suntikan akan sama baiknya dengan yang bukan pengguna narkoba. Layanan metadon dapat mendukung kepatuhan berobat karena itu layanan ini dapat diperbanyak di negara yang mempunyai masalah narkoba suntikan. Di Indonesia layanan metadon baru terbatas di Jakarta dan Bali dan layanan tersebut di kota-kota tadi masih sedikit. Rusia mempunyai layanan AIDS dan layanan narkoba secara terpisah, tetapi dengan kerja sama yang baik kedua layanan tersebut mampu menyediakan layanan yang terpadu

Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba di Indonesia sekitar 3,2 juta orang, atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk negeri ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.000 orang menggunakan narkotika dengan alat bantu berupa jarum suntik, dan 60 persennya terjangkit HIV/AIDS, serta sekitar 15.000 orang meninggal setiap tahun karena menggunakan napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) lain. Pada tahun 2006, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa mencapai 1,1 juta orang atau hampir 30 persen dari total pengguna narkoba yang ada di Indonesia.

Cerita ini tentu bisa menjadi perumpamaan orang yang jadi penyalahguna narkoba. Jadi, narkoba itu bak belati yang berlumur darah beku dan serigala yang mati lemas adalah pelaku penyalahgunanya. Akhirnya, penulis hanya bisa berharap agar institusi keluarga dan agama berdiri di garda depan pemberantasan narkoba. Jika nilai-nilai agama dan kecintaan kepada keluarga terpatri dalam hidup, dan bahwa hidup ini sekadar pinjaman dari Tuhan sehingga tak layak disia-siakan, masih ada harapan melawan narkoba. Kalau perlu, segenap anak bangsa berkoalisi setiap saat untuk melawan narkoba. Say No to Drugs, Say Yes to Life.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pussis-Unimed
Juni 2010

The Historical value and Meaning KILANG MINYAK TELAGA SAID PANGKALAN BRANDAN

The Historical value and Meaning

KILANG MINYAK TELAGA SAID PANGKALAN BRANDAN

Oleh:

Erond L. Damanik, M.Si

Pussis-Unimed/2010

Penemuan sumur minyak pertama di Nusantara ini berjarak sekitar 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia pada 27 Agustus 1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania, yang diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company.

(Mona Lohanda, Sejarahwan, Peneliti bekerja di ANRI Jakarta)


A. Pengantar

Bila merujuk sejarah pertambangan, khususnya tambang minyak di Indonesia maka nama Aeilko Janszoon Zijlker tidak bisa dilupakan begitu saja dan Telaga Said-pun tidak mungkin dihiraukan sebagai daerah tambang minyak pertama di Indonesia. Aeliko Janszoon Zijlker adalah ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij. Bermula pada tahun 1883, pada saat Sultan Musa, sultan Langkat pada saat itu memberi ijin konsesi kepada Aeilko J. Zijlker untuk mengusahakan pertambangan minyak di daerah Telaga Said dekat Pangkalan Brandan kabupaten Langkat Sumatra Utara. Ijin konsesi diperoleh pada diperoleh pada 8 Agustus 1883.

Persisnya sumur minyak pertama di Indonesia itu berada di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, sekitar 110 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara. Nama ‘Said’ diambil dari nama petugas pengeboran yang hilang sewaktu melakukan pekerjaannya membangun sumur minyak pertama. Kilang-kilang minyak tersebut merupakan Jejak Sumur Minyak Pertama di Indonesia (Mona Lohanda, Kompas.com, 2008).

Kilang Pangkalan Brandan merupakan salah satu dari sembilan kilang minyak yang ada di Indonesia, delapan lainnya adalah, Dumai, Sungai Pakning, Musi (Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan Kasim (Papua). Ketika dibangun oleh N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun 1891 dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak Pangkalan Brandan, tidak sebesar sekarang ini. Waktu itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil. Kilang yang berada di Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari, dengan hasil produksi berupa gas LPG (Liquid Petroleum Gas) sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak.

Sebelumnya, memang terdapat pertambangan minyak di Indonesia, tepatnya pada tahun 1871 yang dikenal sebagai usaha pertama pengeboran minyak di Indonesia, yakni di Cirebon. Namun, karena hasilnya tidak maksimal, akhirnya tambang tersebutpun ditutup. Kemudian pada tahun 1885, produksi minyak Telaga Said dikendalikan oleh pemerintah Hindia Belanda yakni ‘Royal Dutch’ dan selanjutnya pada tahun 1890 di bentuk ‘Koninklijke’ yakni semacam persekutuan untuk menjalankan usaha tambang minyak di Sumatra Utara. Pada tahun 1892, pengusaha Royal Dutch mulai membangun kilang-kilang minyak di Pangkalan Brandan untuk selanjutnya menjadi Kilang Minyak Pertama di Indonesia.   Selanjutnya, pada tahun 1901, saluran pipa minyak yang menghubungkan Perlak (Aceh) dan Pangkalan Brandan telah selesai dibangun.

B. Rontok dan dibangun kembali

Pecahnya perang di Asia Tenggara pada tahun 1941 berdampak pada penghancuran dan penutupan sumur minyak bumi termasuk di Pangkalan Brandan.  Kemudian, pada tahun 1944 tentara pendudukan Jepang berusaha membangun kembali instalasi minyak yang hancur dan pada tahun 1945, lapangan minyak sekitar Pangkalan Brandan (ex konsesi BPM) diserahkan pihak Jepang atas nama sekutu kepada Bangsa Indonesia yang diberi nama PT. MRI (Perusahaan Terbatas Minyak Republik Indonesia).

Selanjutnya, pada tahun 1951 PTMRI diakui sah oleh pemerintah RI dan diganti menjadi P.N PERMIGAN (Perusahaan Negara Minyak dan Gas Nasional). Kemudian, pada tahun 1954 Pemerintah RI mengangkat koordinator untuk Tambang Minyak Sumatra Utara  dan PTMNRI dirubah menjadi TMSU (Tambang Minyak Sumatra Utara) dan selanjutnya pada tahun 1957, atas petunjuk dari AH. Nasution (KSAD) mengangkat Kolonel Ibnu Sutowo untuk membentuk sebuah perusahaan minyak yang berstatus hukum. Pada tanggal 10 Desember 1957 P.T. PERMINA (Perusahan Minyak Nasional) didirikan dan disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. J.A. 5/32/11 tanggal 3 April 1958. Pada akhirnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1968 tanggal 20 Agustus 1968 PN PERMINA dan PN PERTAMIN dilebur menjadi satu Perusahaan Negara dengan nama PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional, disingkat PN Pertamina.

Untuk mendukung tambang minyak Telaga Said Pangkalan Brandan sekaligus bangkitnya Sumatra Timur sebagai ‘Dollarland’ dan Medan sebagai kota ‘Paris van Sumatra’ maka pada tahun 1883, oleh JT Cremer, komisaris NV Deli Matschapaij dirintis jalur Kereta Api (Deli Spoorweg Matschapaij) di Sumatra Utara yang menghubungkan Medan-Belawan. Demikian pula Pangkalan Brandan-Belawan dan beberapa kawasan perkebunan di Medan seperti Pancur Batu, Selesai, Kuala, Binjai, Galang, Tebing Tinggi, Siantar, Kisaran hingga Rantau Prapat.  Pada tahun 1940 seluruh jalur kereta api di Sumatra Timur terbentang yang menghubungkan  Deli Spoorweg (Kereta Api Deli) dengan Acehstaat Spoorweg (Kereta Api Negara Aceh).  Pembangunan itu sendiri direncanakan hingga menghubungkan Aceh-Palembang sejauh 1. 400 Km yang dikenal dengan ‘Kereta Api Trans Sumatra’

Di daerah Tambang Minyak ini terdapat tugu peringatan 100 tahun perminyakan Indonesia. Tugu itu sendiri berbentuk semi silinder dengan tinggi sekitar dua meter, yang dibalut dengan marmer hitam. Pada bagian tengah tugu, di bawah logo Pertamina, terdapat tulisan, “Telaga Tunggal 1885 -1985”. Prasasti yang terdapat di sebelahnya bertuliskan, ’Tugu Peringatan 100 Tahun Industri Perminyakan Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 Oktober 1985 oleh Pimpinan Umum Daerah Pertamina Sumatera Bagian Utara.

Pada satu sisi, tugu minyak ini menjadi pertanda sumur minyak pertama sudah semakin dekat. Lokasi sumur minyak pertama itu sendiri dapat ditemui setelah berjalan kaki sekitar 200 meter dari lokasi tempat mobil dapat diparkirkan. Dikawasan tersebut terdapat sebuah plang yang menjelaskan tentang riwayat singkat sumur pertama tersebut.

“Di sini telah dibor sumur penghasil pertama di Indonesia. Nama Sumur Telaga Tunggal. Ditajak 15 Juni 1885. Kedalaman 121 meter. Hasil minyak 180 barrel perhari dari lima lapisan batu pasir dengan formasi baong. Lapangan ditinggalkan tahun 1934.”

Dekat plang itu ditemukan ujung pipa besi bekas aliran minyak. Pipa itu terselubung semak belukar, pertanda areal ini memang tidak dirawat sebagaimana mestinya. Sebuah gundukan tanah terlihat di dekatnya. Gundukan itu diyakini sebagai kuburan Said, yakni petugas pengeboran yang hilang sewaktu melakukan pekerjaannya membangun sumur minyak pertama. Kuburan itu dikeramatkan, dan beberapa warga mengaku pernah melihat rambut Said di sekitar sumur itu.

Sejalan dengan uraian ini, dapat diketahui bahwa Kilang Minyak Telaga Said Pangkalan Brandan merupakan tambang minyak pertama di Indonesia dan tambang minyak terbesar kedua di dunia setelah di Amerika. Kilang tersebut juga sekaligus memiliki aspek historis terhadap lahirnya Perusahaan Tambang Minyak Nasional (Pertamina) di Indonesia. Namun demikian, sejalan dengan merosotnya cadangan minyak didaerah ini, kawasan inipun semakin termarginalkan. Mona Lohanda (Kompas. com) pada saat melihat tugu peringatan 100 tahun tambang minyak di Pangkalan Brandan melaporkan:

”Pada satu sisi, tugu minyak ini menjadi pertanda sumur minyak pertama sudah semakin dekat. Tetapi pada sisi lain, juga menandakan, akan segera berakhirnya jalan beraspal hotmix. Sekitar 20 menit berikutnya, memasuki tikungan yang ke kiri, jalan yang akan dilalui sudah tidak beraspal lagi karena telah tergerus. Debu beterbangan saat mobil melintas. Hujan sehari sebelumnya membentuk kolam-kolam kecil di tengah jalan”.

Dalam buku bertitel “Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Berbicara” yang ditulis oleh Ramadhan KH, tahun 2008 kurang menuliskan aspek historis dari sumur-sumur minyak di Pangkalan Brandan itu, tetapi cenderung menonjolkan dan pembelaan dirinya sebagai pionir yang memajukan PT. Pertamina.

Menurut Lohanda (Kompas.com 2008), nilai sejarah kilang ini terangkum dalam dua aspek. Aspek pertama adalah memberi andil bagi catatan sejarah perminyakan Indonesia, sebab minyak pertama yang diekspor Indonesia bersumber dari kilang ini. Momentum itu terjadi pada 10 Desember 1957, yang sekarang diperingati sebagai hari lahir Pertamina, saat perjanjian ekspor ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo dengan Harold Hutton yang bertindak atas nama perusahaannya Refining Associates of Canada (Refican). Nilai kontraknya US$ 30.000. Setahun setelah penandatanganan kontrak, eskpor dilakukan menuju Jepang dengan menggunakan kapal tanki Shozui Maru. Kapal berangkat dari Pangkalan Susu, Langkat, yang merupakan pelabuhan pengekspor minyak tertua di Indonesia. Pelabuhan ini dibangun Belanda pada tahun 1898.

Sedangkan aspek kedua adalah nilai perjuangan yang ditorehkan putra bangsa melalui kilang ini. Kisah heroiknya berkaitan dengan Agresi Militer I Belanda 21 pada Juli 1947, yakni aksi bumi hangus kilang. Aksi bumi hangus dilaksanakan sebelum Belanda tiba di Pelabuhan Pangkalan Susu, yakni pada 13 Agustus 1947. Maksudnya, agar Belanda tidak bisa menguasai kilang minyak itu seperti dulu. Selanjutnya, aksi bumi hangus kedua berlangsung menjelang Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948. Tower bekas aksi bumi hangus itu masih dapat dilihat sampai sekarang dan  nilai histrois yang terkandung dalam aksi bumi hangus ini, terus diperingati sampai sekarang.

C. Arti Penting

Kilang minyak Telaga Said Pangkalan Brandan Kabupaten Langkat adalah ikon penanda tambang minyak pertama di Indonesia. Kilang itu juga menandakan eksplorasi sumberdaya minyak bumi dan gas terbesar kedua di dunia. Kilang itu juga menandai dibangunnya jalur kereta api Pangkalan Brandan-Belawan serta Aceh. Demikian pula bahwa Kilang itu menjadi awal dibangunya dermaga Pangkalan Susu, dimana kapal-kapal tanker mancanegara pernah berlabuh. Selanjutnya, kilang minyak tersebut menyiratkan peristiwa heroik masyarakat Brandan yang dikenal dengan ‘Bumi Hangus’.

Kilang tersebut juga mendorong lahirnya badan resmi perminyakan dan gas bumi nasional yang dikenal dengan PT. Pertamina. Sumur-sumur minyak yang berusia lebih 100 tahun tersebut menjadi ingatan kolektif masyarakat terhadap kekayaan alam negeri Brandan. Pipa-pipa saluran minyak Telaga Said mengingatkan kita pada  aspek historis kawasan itu dalam sejarah perminyakan di tanah air.

Oleh karena itu, kilang minyak Telaga Said memiliki uraian dan sederetan sejarah panjang. Kilang tersebut, telah menorehkan sejumlah prestasi, nilai, makna dan arti pentingya dalam sejarah nasional Indonesia. Oleh karenanya, Kilang Minyak Telaga Said, patut mendapat apresiasi yang tinggi pada masyarakat kita terutama  dalam Sejarah Sumatra Utara.

Diposting kembali oleh
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed/2010

HARU, KERAJAAN BESAR MELAYU YANG DILUPAKAN

HARU, KERAJAAN BESAR MELAYU YANG DILUPAKAN

Sambutan Dr.phil. Ichwan Azhari, MS

kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan pada peletakan batu pertama Museum Maritim di Ciba Island Hamparan Perak

Haru merupakan kerajaan Melayu yang besar yang pernah menguasai dan mengontrol jalur perdagangan internasional di Selat Malaka. Kerajaan-kerajaan besar yang pernah menjadi kerajaan ”superpower” di kawasan Asia Tenggara seperti Cina, Pasai, Aceh, Majapahit dan Malaka tidak bisa mengabaikan kebesaran kerajaan Haru yang penting tapi dilupakan ini. Bahkan Gajah Mada pun tidak tenteram sebelum kerajaan Haru bisa ditaklukkannya. Bukti-bukti sejarah berupa arsip, teks, temuan-temuan arkeologis serta sejarah lisan telah mengukuhkan bahwa kerajaan ini berkecenderungan kuat terletak di pantai timur Sumatra Utara, tepatnya di kawasan Hamparan Perak.

Keberadaan kerajaan ini muncul pertama kali dalam sumber Cina, ketika negeri tersebut berada dibawah pemerintahan Dinasti Yuan. Laporan perjalanan ini dituliskan oleh Ma Huan, asisten Laksamana Cheng Ho ketika melakukan perjalanan ke Nusantara  pada tahun 1416 M atas perintah kaisar Cina. Dalam buku Nusantara Dalam Catatan Tionghoa (2009), diterangkan bahwa Laksamana Cheng Ho seorang utusan kaisar Cina sempat singgah di Kerajaan Haru melalui negeri Ma-La-Chia (Malaka). Dewasa itu, Kekaisaran Cina menjalin hubungan yang sangat baik dengan Kerajaan Aru. Menurut Ma Huan, di negeri ini terdapat sungai Air Tawar (Fresh Water River), dengan melintasi sungai ini maka kita akan tiba ke sebuah permukiman penduduk. Menurut keterangannya, penduduk Kerajaan Haru, kala itu telah menganut agama Islam.

Berselang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1430, Zheng He kembali menjadi utusan kaisar Renzong untuk melakukan perjalanan ke beberapa Negara. Sebelumnya pada tahun 1412, sebagaimana di catat dalam Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325, menjelaskan bahwa Zheng He mengunjungi negara ini sebagai utusan kaisar. Tujuan perjalanan ketujuh ini ingin mengembalikan pengaruh Cina, ditandai dengan berkurangnya Negara-negara di selatan yang memberikan upeti ke kerajaannya. Negara yang dikunjunginya tersebut adalah Campa, Jawa, Kamboja, Ku-kang, Siam, Kalkuta, Melaka, Brunei, Sumatra, Aru, Cochin, Coilan Besar, Coilan Kecil, Soli dan Soli Barat, Cail, A-bo-ba-dan, Comari, Sri Langka, Lambri, Pahang, Kelantan, Hormus, Bi–la, Kepulauan Maladewa, Sun-la (Sunda) (Groeneveldt, 2009:63). Kedua laporan perjalanan ini masing-masing adalah Yingya Shenglan (1416) dan Xingcha Shenglan (1436).

Selain dari kedua sumber Cina tersebut, Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325 juga mencatat bahwa Aru terletak didekat Melaka. Pada tahun 1411, raja mereka Su-lu-tang Hut-sin mengirim utusan yang membawa upeti bersamaan dengan Kalkuta dan Negara lainnya. Sebagai gantinya, para utusan ini memperoleh hadiah topi, ikat pinggang, sutra, uang dan uang kertas serta hadiah lainnya untuk diberikan kepada Raja (Groeneveldt, 2009: 133).  Secara berturut-turut, Kerajaan ini mengirimkan upetinya kepada Kaisar Cina. Tepatnya pada tahun 1419, putra Raja Tuan A-la-sa mengirimkan utusannya. Diikuti pada tahun 1421 dan 1423. Hingga akhirnya tahun-tahun berikutnya, kerajaan ini mulai membelok dengan tidak mengirimkan upeti ke Kaisar Cina.

Keberadaan kerajaan ini juga dituliskan dalam beberapa sumber Eropa, antara lain:  Tome Pires dari Portugis dan Mendez Pinto. Dalam sumber Eropa diuraikan bahwa Haru merupakan kerajaan besar yang terdapat di pesisir timur pulau Sumatera. Hal ini dijelaskan oleh Pires dalam Cortesao (1967: 146), bahwa Kerajaan Daruu (Haru) adalah kerajaan besar, lebih besar dari kerajaan-kerajaan lain di Sumatera. Perjalanan Tome Pires ini dilakukan pada pertengahan abad ke-16, ketika Malaka takluk dibawah pengaruh Portugis. Dalam kunjungannya tersebut, digambarkan Kerajaan Haru memiliki banyak sungai dan sedikit berawa (Pires dalam Cortesao, 1967:147). Kerajaan ini telah mendapat pengaruh Islam ditandai dengan kepemimpinan seorang Raja muslim yang berdiam di pedalaman.

Selain laporan perjalanan Tome Pires, keberadaan kerajaan ini juga dipaparkan Ferdinand Mendes Pinto yang merupakan utusan Portugis. Untuk mencapai kerajaan ini menurut Pinto dalam Reid (1991:28), membutuhkan waktu  berlayar dari Malaka, kemudian tibalah di sungai Panecitan dimana terletak ibukota Haru. Dengan demikian semakin jelaslah keberadaan Kerajaan ini, kerajaan besar di pesisir Sumatera Utara yang letaknya membentang dari Tamiang hingga ke Rokan. Uraian daerah kekuasaan Kerajaan Aru ini ditemukan juga dalam beberapa sumber local, antara lain: Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu, pada pertengahan Abad ke-13 (Sinar, 2006:12).

Sumber-sumber local yang dimaksud tersebut ialah sumber Melayu, Aceh dan Jawa. Dalam sumber Jawa, Kerajaan Aru berulang kali disebutkan terutama di dalam kitab Negara Kertagama karya Prapanca dan Kitab Pararaton. Pada pupuh ke-13 bait ke-1, diuraikan bahwa di Sumatera daerah-daerah di luar Jawa yang dikuasai Majapahit pada abad ke-14, antara lain: Jambi, Palembang, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Siak, Rokan, Mandailing, Panai, Kampe, Haru, Tamiang, Parlak, Samudra, Lamuri, Barus, Batan dan Lampung (Muljana, 2006:161). Kitab Negara Kertagama dikarang pada tahun 1365 Masehi yang menyimpulkan kepemimpinan Rajasanagara atau Hayam Wuruk sebagai Raja Kerajaan Majapahit.

Penaklukkan ini berkaitan dengan upaya perluasan hegemoni Majapahit di seberang lautan diawali dari pengucapan Amukti Palapa oleh Gajah Mada. Dalam buku Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (2005), dijelaskan bahwa saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa jikalau seluruh Nusantara bertakluk di bawah kekuasaan Negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik sudah dikalahkan.”  Amukti Palapa yang diucapkan Gajah Mada ini menyebutkan bahwa Haru merupakan salah satu kerajaan yang nantinya akan ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit. Selain itu, penaklukkan Kerajaan Haru yang dituangkan dalam Amukti Palapa ini  dituliskan dalam Kitab Pararaton. Dalam istilah bahasa Jawi, Kitab Pararaton berarti kitab Raja-raja dan dikenal pula dengan nama Pustaka Raja.

Sedangkan di dalam sumber-sumber Aceh dan Melayu, terutama pada Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan bahwa rombongan Nahkoda Ismail dan Fakir Muhammad mula-mula mengislamkan Fansuri (Barus), kemudian Lamiri (Lamuri) lalu ke Haru dan dari sana barulah Raja Samudra Pasai yang bernama Merah Silau yang kemudian Sultan Malikulussaleh diislamkan (Sinar, 2006:12).

Pada abad ke-15, kebesaran Kerajaan Aru semakin berkembang dengan pesatnya.  Sebagaimana dijelaskan dalam Sejarah Melayu bab ke-13 bahwa Kerajaan Aru telah menjadi kerajaan besar setaraf dengan Malaka dan Pasai. Periode tersebut, kerajaan ini menjadi kerajaan besar di Sumatera dan memiliki kekuatan yang dapat menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka Sebelum kedatangan Portugis, Kerajaan Aru sudah berdiri kokoh dan memiliki pengaruh besar di Selat Malaka. Oleh karena itu, berkali-kali dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang dijelaskan bahwa Haru sempat berkali-kali menduduki Pasai dan menyerang Malaka.

Untuk meredam pertempuran dengan Malaka, Kerajaan Harupun tetap berusaha menjalin hubungan yang harmonis dengan Melayu Malaka. Sultan Haru sempat membantu Kerajaan Malaka dari penyerbuan Portugis ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Persahabatan tersebut semakin dipererat dengan pernikahan anak perempuan sultan yang bernama Raja Putih dengan Sultan Haru yang bernama Sultan Husin (Sinar, 2006:19).  Setelah penyerangan Malaka tersebut, Sultan Malaka menyelamatkan diri di Bintan. Hubungan yang erat inilah yang nantinya menjadi pangkal permasalahan dengan Kerajaan Aceh, sebagai kerajaan yang menggantikan peran penting kerajaan Pasai setelah Pasai surut. Menurut Muhammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad (1981), sengketa antara Portugis dan Aru pada suatu pihak terhadap Aceh pada lain pihak, sebetulnya bermulaan sejak tahun 1524 (Masa Ali Mughayat Syah). Ketika orang Portugis lari ke Aru sehingga armada Aceh memburu sisa-sisa angkatan perang Portugis yang sebelumnya dihancurkan di Pasai lantas berlindung ke Aru serta meminta bantuan disana. Portugis meminta bantuan Kerajaan Haru dari penyerangan Ali Mughayat Syah. Hingga kemudian sejarah menjelaskan bahwa akhir pertempuran tersebut adalah kemenangan di pihak Aceh. Sejumlah legenda dan cerita rakyat berkaitan dengan konflik Aceh – Haru ini seperti cerita tentang Benteng Putri Hijau di Deli Tua sebenarnya berkaitan atau merupakan interpretasi tradisional atas  fakta-fakta historis yang ada.

Penyerangan yang terjadi pada tahun 1612 ini menyebabkan Kerajaan Haru berada di bawah kekuasaan Aceh. Di daerah taklukkan ini ditempatkanlah Wali Negara Aceh, yaitu Gotjah Pahlawan. Ratu Aru yang selamat dalam pertempuran tersebut lantas meminta bantuan kepada Sultan Johor dengan syarat ratu bersedia menikah dengan Sultan Johor yaitu Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah. Pada tahun 1640, Sultan Johor dan Ratu Aru berhasil mengadakan serangan balasan ke Haru dan memulihkan kembali kekuasaan Ratu di negerinya tersebut (Said, 1981:189). Dua puluh empat tahun kemudian tepatnya pada tahun 1664, Kerajaan Aru dapat diambil alih kembali oleh pihak Aceh.

Majapahit, Pasai, Aceh dan Malaka sering disebut-sebut dalam historiografi nasional Indonesia. Bahkan dalam sejarah resmi Indonesia (6 Jilid Sejarah Nasional Indonesia) kerajaan-kerajaan tersebut dikukuhkan sebagai kerajaan penting di Asia Tenggara. Tapi Haru tidak disebut, Haru belum mendapat tempat dalam sejarah nasional Indonesia.  Untuk itu diperlukan suatu upaya agar kerajaan besar ini dapat intensif diperkenalkan, artefak dan teks yang sudah ada dapat di himpun dalam suatu museum serta penelitian lanjutan berupa eskavasi tentang kerajaan ini perlu segera dilakukan.

Hamparan Perak, 18 Mei 2010

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Staf Peneliti Pussis-Unimed
2010

Benteng Puteri Ijo Namu Rambe, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara (A World Class Heritage Site Under Threat)

Benteng Puteri Ijo
Namu Rambe, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara
(A World Class Heritage Site Under Threat)

Field Report, May 2008.
E. Edwards McKinnon
Ph.D., M.A., FRAS, FSAS

The Medan Region: Belawan to Deli Tua (Benteng Puteri Ijo).

Recent developments at Namu Rambe, Kabupaten Deli Serdang suggest that a World Class Heritage site, the Benteng Puteri Ijo, or Fortification of the Green Princess may be under threat from development. This series of earthen ramparts and ditches is unique in the area around Medan, the provincial capital of North Sumatra province though similar constructions may exist elsewhere in the province such as the Padang Lawas area southeast of Medan.

Unfortunately, and ironically in Visit Indonesia Year 2008, this important site, distinguished by impressive earthen ramparts and ditches, extends along the south bank of the Deli river where the river transforms into the Lau Petani, the Karo name for the stream which rises on the slopes of the Gunung Sibayak. It appears to be under threat from development. For some unknown reason the site does not appear to be listed in the Inventory of Ancient Sites for Aceh and North Sumatra held by the BP3 Aceh and Sumatera Utara based in Banda Aceh.

Benteng Puteri Ijo is associated with the Legend of the Green Princess, a folk hero claimed by both Karo and Melayu ethnic groups. According to the Karo, Puteri Ijo was boru Sembiring (a member of the merga Sembiring, one of the five Karo clans) who came from the village of Siberaya, Urung Sukapiring, on the Karo plateau. She married the Raja Aru who ruled at Deli Tua – a settlement that formerly existed where the ramparts now stand. Aru was attacked by Aceh and the ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom. A sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor and the events that transpired thereafter.

Evidence for former habitation at the Benteng Puteri Ijo site exists in the form of ceramic sherds and other artefacts which may be found on the surface of the ground within the settlement area, though many have been pulverised due to repeated ploughing for agricultural activities. Miksic (1979) describes the topography and characteristics of the area as follows:

“This site is on the fifty-meter elevation contour; here the land rapidly begins to rise above the featureless Deli plain, and thus marks an important point of topographic transition. …. The main features of the site are two large earthen fortifications 1.2 kilometres apart (see map, attached). Both utilize the near-vertical west bank of the Deli river as part of the defense.

The local topography is composed of a number of parallel and very narrow ridges, on which houses are located and crops such as maize and tapioca are grown. Between the ridges, in equally narrow valleys, are irrigated rice fields. These ridges and the intervening valleys are each less than a hundred meters wide, but stretch north and south for several kilometers. The tops of the parallel ridges are ten to fifteen meters above the padis.”

Miksic goes on to describe two defensive features, one 150 X 60 metres in extent at the northern end of the complex and another feature some 300 metres square. At the time he undertook his survey, the area was heavily overgrown and he would appear not to have seen other defensive features which now, with more clearing having taken place in the intervening years, are more readily apparent to the observer. The earthworks would thus appear to be much more extensive than reported in 1979, as the additional south-facing natural features of the area have been enhanced and strengthened for defence subsuming an extensive defensive complex some 1800 metres in length and of varying depth. The actual extent of the settlement complex requires further survey and verification.

The intervening valleys mentioned above are actually former river beds, abandoned courses of the Lau Petani, which have considerably broken up the terrain to the south of the fortifications. The construction of the fortifications show remarkable ingenuity in the adaptation of the terrain for defensive purposes, enhancing the natural slope of the land and by the planting of impenetrable clumps of bamboo along the crests of the ramparts. These latter are largely in the process of being destroyed but some remnants still give a vivid impression of the original strength of the ramparts.

Miksic’s map shows some six locations within the general area of the former settlement where cultural remains were to be seen in 1979. It appears however, that the area of cultural remains is actually much more extensive than reported earlier, as traces of sherd material may now be found in cultivated fields, even beyond the Medan / Namu Rambe road.  The site of a spring, now known as the Pancuran Puteri Ijo, where Puteri Ijo reputedly went to bathe is located on the southeast side of the complex, a short distance from the Lau Petani and below an entrance feature, well-protected by steep and powerful ramparts. The spring is now acknowledged as a keramat where Medan folk go to burn incense and to ask for favours.

Ceramic sherd material recovered from the settlement area comprises Chinese wares, the earliest of which date from the late Song (1127-1279) and Yuan (1280-1368), Ming (1368-1644) and Qing (1644-1912) periods, Burmese, Thai Si Sachanalai (Sawankhalok) and Sukhothai wares and Vietnamese wares. The Ming material comprises both Longquan celadons and Jingdezhen blue and white wares. A Burmese green on white sherd, extremely rare in a Southeast Asian export context, has been recovered within the fortification area.  Sherd recoveries at Deli Tua relate to finds of similar materials at Kota Rentang, an extensive early Islamic site located west of Hamperan Perak and some 6 to 8 kilometres from Kota Cina, the latter an 11th to late 13th or early 14th century riverine harbour site located between the Sungei Deli and the Belawan rivers. Kota Cina related material, including recoveries of Chinese coins, has been recovered at both Deli Tua and Kota Rentang.

There are also considerable amounts of locally produced earthenware. Of the latter, Miksic (1979) writes:

“The pastes of earthenware from Deli Tua fall into three types. The most common type contains a striking amount of iron pyrite which causes the surfaces of ost of these sherds to glitter with numerous golden flecks. These sherds come mainly from the simple thick-walled, wheel-formed bowls (see drawing 114). One variety has traces of a red slip on the exterior, and anvil marks on the interior.

The second type is nearly as common. Little or no pyrite exists in these sherds, but mica is quite common. Vessels were mostly flaring-rimmed cooking pots, some with rim designs similar to Kota Cina vessels, and many sherds bear traces of red slip. Some sherds come from smaller unslipped vessels.

The third type is rare, and the paste includes both pyrite and mica, though the pyrite is not as abundant as in the first type described. These sherds have a much smoother feel, because of the finer grained paste. No shapes can be reconstructed. One sherd has a paddle-marked impressed herringbone design.”

Locally made earthenwares would normally display quantities of volcanic glass, derived from the volcanic tuff (cadas) which forms much of the bedrock of the north Sumata area, a legacy of the tremendous Toba eruption of some 60 to 70,000 years ago. Miksic observed that no one area within that surveyed contained any unusual concentrations of sherd material of any one type or period. He thus assumed that areas near to the northern and southern fortifications were inhabited contemporaneously – evidence which suggests a near continuity of occupation over a period of six to seven hundred years from at least the c14th, if not earlier, to the present.

Over the centuries Deli Tua was an important node in the route between the coast and the plateau, with a trail leading up past Limau Mungkur to Bukum and the Cingkam pass.

The name first appears in European literature in a report by John Anderson who visited Deli in 1823, where he notes that “At Delli Tuah, or Old Delli, there are the remains of an old fort, with large square stones, the walls thirty feet in height, and two hundred fathoms in circumference. Rajah putri Iju, the celebrated princess, is stated to have built it. It is now, however, in a very imperfect state; and possibly my information as to the size may be incorrect.” (Anderson 1971: 292). Anderson did not personally visit Deli Tua and reference to stone-built defences was an exaggeration, but the site was obviously well known in the folk memory of the period.

In 1866, Deli Tua was visited by the Dutch Colonial Controlleur, Van Cats, Baron de Raet, who passed through on his way to the Karo plateau (Van Cats: 1875: 173-175). He found it surprising that so many people could be housed in so few dwellings. His description of the area includes a note of a lela or Malay bronze cannon that was found imbedded in the earthen ramparts and which bore an inscription in Jawi (Arabic) script, “Sanah 1004 (?) alamat balon Haru” which Lau Husni (n.d.) affirms is a mixture of Malay and Karo. The date was initially thought to be 1104, which transcribes as 1691 C.E. but, as the name Aru disappears completely in the early sixteenth century when it was conquered by Sultan Iskandar Muda of Aceh in 1612, the date in all probability should read 1591 C.E.. The cannon is thought now to be in the collections of the Museum Nasional, Jakarta. On his return, Van Cats purchased a lead cannon shot from the penghulu for 5 guilders.

Over the years, numerous small Acehnese gold coins known as dirham have been found scattered over the Benteng Puteri Ijo site. A single Chinese coin of the Zhenzong emperor, of the period 1111-1118 C.E. together with a fragment of Song period qingbai porcelain were found at the southern end of the fortification complex.  A small modern village, occupied by Karo people is located within the ramparts at a location known as Deli Tua Lama. Here the ridge is some 250 metres in width and cut by a two metre high rampart and a ditch, in which is a point where a five metre causeway across the ditch allows access to the village (Miksic 1979).

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Staf Peneliti Pussis-Unimed
2010

NAIK KERETA API…Zus…Zus…Zus…

NAIK KERETA API…Zus…Zus…Zus…

Dr.phil. Ichwan Azhari, MS

Kepala Pussis-Unimed


Naik kereta api
Zus zus zus
Siapa hendak
turut


Lagu ciptaan Ibu Sud itu akrab di telinga anak-anak kita. Hampir semua anak-anak sekolah TK dapat menyanyikannya. Tapi hampir dapat dipastikan, tak satupun di antara mereka (termasuk guru-gurunya) pernah melihat langsung kereta api yang bunyinya zus…zus…zus itu.  Dan dalam kosa kata Indonesia, “kertapi” adalah akronim dari “kereta api”, yakni kereta yang ada apinya, ada asapnya, dan dengan suaranya yang zus…zus…zus itu. Roda kereta digerakkan oleh tenaga uap dari air mendidih yang direbus oleh tungku api dengan menggunakan bahan bakar kayu.

Kelak nanti, anak-anak tahu (walau hanya dalam khayal dan imajinasinya, tanpa mereka pernah melihatnya langsung) itulah prototip mesin uap temuan James Watt. Dengan demikian, kereta api yang kemudian menjadi “kertapi” merupakan kosa kata Indonesia yang sangat kontekstual dan punya makna historis yang terus dipakai hingga kini, sekalipun sekarang kertapi tidak lagi berbunyi zus…zus…zus, tidak mengeluarkan api dan asap.  Kereta api uap dengan suaranya yang zus…zus…zus itu sebenarnya masih bisa diperjuangkan  ada di Medan dan Sumatera Utara, bahkan sampai ke Aceh. Tidak hanya demi pengayaan fantasi dan khayal iptek anak cucu kita, tapi demi satu warisan sejarah yang penting. Beruntunglah mereka yang tinggal di Jawa, yang saat ini bisa melihat dan menaiki kertapi zus…zus…zus di Museum Kereta Api Ambarawa. Hal yang sama juga segera bisa dinikmati oleh mereka yang tinggal di, atau yang dapat pergi, ke Sawahlunto, Sumatera Barat.

Apa yang terjadi dan apa problematika di kertapi zus…zus…zus di Medan? Awal tahun 2007, saya  mengirim 4 orang mahasiswa dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Medan ke kantor PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) yang ada di Medan untuk membuat program wisata sejarah menggunakan kereta api zus…zus…zus ke jalur bersejarah Medan–Labuhan. Kereta api di Medan memiliki sejarah yang panjang, dibangun oleh swasta dengan nama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) tahun 1883. Jalur yang pertamakali dibuka waktu itu adalah jalur Medan–Labuhan sejauh lebih kurang 16 km yang diresmikan pada tanggal 25 Juli 1886. DSM sebagai perusahaan swasta berani memelopori pembukaan bisnis kereta api bukan karena penduduk yang padat atau berkembangnya sektor industri atau pertambangan di kawasan ini. DSM berdiri untuk memfasilitasi sektor perkebunan yang berkembang pesat di Tanah Deli. Perkembangan Kota Medan sendiri sejak akhir abad 19 tidak bisa dilepaskan dari perkembangan perkebunan, sehingga jejak sejarah perkebunan dan sejarah kereta api merupakan ikon sejarah kota ini.

Terus terang, waktu saya merencanakan program wisata sejarah naik kereta api dengan mahasiswa itu, saya teringat dengan wisata sejarah kereta api di Jerman, khususnya di Hamburg, tempat saya tinggal selama 7 tahun. Di halte kertapi Barmbek dekat rumah saya waktu itu, selalu terpampang poster dan brosur wisata sejarah naik kertapi tua ke kawasan-kawasan yang punya sejarah tua jalur perkeretaapian. Banyak orang tua yang ikut bernostalgia menaiki kertapi itu, sementara anak-anak sekolah  beserta guru sejarah mereka membuat acara khusus mengikuti program wisata sejarah yang sangat cerdas dan mengesankan  itu.  Ketika saya tahu di Ambarawa, wisata sejarah menggunakan kertapi sudah mulai dijalankan juga, kenapa di Medan tidak dimulai? Saya ingat, kertapi zus…zus…zus itu, waktu kecil sering saya lihat di Stasion Kertapi Medan. Bahkan akhir tahun 1970-an, saya pernah naik kertapi zus…zus…zus itu di Tebingtinggi. Saya sangat berharap, mahasiswa yang saya kirim ke kantor  PT. KAI di Medan akan membawa berita gembira untuk segera membuat wisata sejarah menggunakan kertapi lama.

Tapi betapa menyedihkan ketika saya mengetahui dari mahasiswa itu, bahwa ternyata kereta api zus…zus…zus sudah tidak ada lagi di Medan. Saya heran, ke mana kertapi zus…zus…zus yang masih banyak saya lihat di tahun 1970-an itu kini berada? Tanya sana tanya sini, akhirnya saya mendapat informasi bahwa kertapi itu di tahun 1980-an diambil oleh Ibu Tien Soeharto untuk menjadi koleksi Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Saya sendiri belum mengecek kebenaran informasi itu.  Satu kertapi tua yang diletakkan di samping Stasion Kereta Api Medan sekarang ternyata sudah tidak bisa jalan. Kertapi itu disisakan sekadar untuk monumen kejayaan masa lalu perkeretaapian Medan.

Saya sangat sedih dan kecewa. Dan kekecewaan makin bertambah ketika tanggal 20 Januari 2009 yang lalu, terbetik berita di Harian Kompas bahwa PT. KAI akan menyewakan aset lahannya ke swasta seluas 67 hektar di Brayan. Di lahan yang akan disewakan ke swasta itu, terdapat aset bersejarah perkeretaapian, seperti bangunan perumahan dan perkantoran dari zaman Belanda  yang berarsitektur khas, bengkel kereta api dengan berbagai peninggalan dan peralatannya dari akhir abad ke-19, jalur-jalur kereta api tua dan juga menara air yang unik, tempat di mana kertapi zus…zus..zus dulu mengisi air untuk menggerakkan lokomotifnya. Bila kawasan ini disewakan ke swasta untuk dijadikan sentra bisnis, perkantoran, mall atau perumahan, maka tidak ada jaminan bahwa bangunan-bangunan bersejarah itu tidak dihancurkan oleh swasta yang telah mengantongi hak pengelolaan kawasan.

Saya dan beberapa teman yang mewakili Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Pengurus Daerah Sumatera Utara, Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed dan Badan Warisan Sumatera, pada tanggal 22 Januari 2009 datang menemui Kepala PT. KAI Divisi Regional Sumut-Aceh, Bapak Albert Tarra, di kantor pusatnya, di sebuah gedung bersejarah di Jl. Prof. Mr. M. Yamin  Medan. Kami ingin menanyakan bagaimana konsep dan sikap  PT. KAI terhadap bangunan-bangunan bersejarah yang ada di lahan yang akan mereka sewakan ke swasta itu.

Dan ternyata, PT. KAI pada waktu itu tidak peduli tentang aset sejarah yang ada di atas lahan itu. Mereka tidak melihat bangunan tua sebagai aset. Mereka hanya melihat kawasan itu sebatas aset lahan, yang bisa menguntungkan secara ekonomi. Dengan enteng, sang pimpinan bilang, nasib bangunan-bangunan itu terserah pihak swasta yang akan memakai lahan itu. Dari dialog dengan pimpinan PT. KAI, nampak bahwa perusahaan BUMN itu tidak menghargai warisannya sendiri, bahkan terkesan tidak tahu sama sekali tentang nilai sejarah dari kawasan yang akan disewakan ke swasta itu. Cara berpikir PT. KAI seperti ini tentu sangat membahayakan warisan sejarah Kota Medan, terutama di tengah kecuekan pemerintah kotanya.

Pembicaraan kami dengan PT. KAI di Medan pun tak memberikan apa-apa, karena pimpinan PT. KAI di Medan hanya instrumen dari kebijakan PT. KAI pusat. Sejumlah keberatan yang dilayangkan sejarahwan dan pemerhati sejarah di media massa tentang rencana penghancuran warisan sejarah Kota Medan itu seharusnya juga bisa disampaikan ke PT. KAI Pusat atau atasannya, bahkan jika perlu ke DPR RI agar parlemen bisa memanggil Dirut PT. KAI. Aset sejarah kereta api di Medan tidak hanya penting bagi sejarah perkeretaapian Indonesia, tapi juga penting bagi sejarah Kota Medan. Menghancurkan aset itu berarti juga menghancurkan sejarah Kota Medan. Untuk mencegah hal itu, pihak Pemko Medan harusnya bisa bernegosiasi dengan PT. KAI Pusat di Bandung sebagaimana yang dilakukan Pemko Sawah Lunto. Pengelolaannya bisa dilakukan dalam bentuk konsorsium kedua instansi atau diserahkan ke pihak ketiga.

Kawasan Brayan yang akan disewakan PT. KAI ke swasta harusnya tidak memasukkan bangunan-bangunan sejarah dan situs bersejarah yang ada di sekitar itu. Pihak PT. KAI saya kira bisa bernegosiasi dengan pihak swasta karena bangunan bersejarah yang ada tidak berada di seluruh area, hanya memusat di satu tempat. Pihak Pemko dengan DPRD perlu segera mengeluarkan Perda untuk menetapkan bangunan-bangunan bersejarah di kawasan itu sebagai benda cagar budaya agar pihak swasta nanti tidak bisa menghancurkannya.

Di samping kawasan Brayan, di sekitar Stasion Kereta Api Medan sendiri banyak sekali bangunan dan kawasan bersejarah yang berkaitan dengan sejarah perkeretaapian. Saya mendengar dari anggota DPRD Medan, Bapak Ikrimah Hamidy, bahwa pihak PT. KAI sedang mengusulkan pengembangan stasion itu dalam rangka pembukaan jalur kereta api ke Kualanamu. Dikhawatirkan, dalam rancangan pengembangannya, kawasan bersejarah di kawasan itu akan dikorbankan. Pemko Medan dan DPRD perlu segera mengantisipasi rencana ini dengan menyelamatkan aset sejarah yang ada di situ. Saya mengusulkan agar titi gantung dan pergudangan di kiri dan kanan stasion, juga bangunan-bangunan tua PT. KAI di sekitarnya,  dapat difungsikan sebagai site museum kereta api.

Kereta api tua yang dipajang di samping Stasion Kereta Api Medan yang nampak tidak terawat, seperti sengaja ditelantarkan dan dijadikan semacam “toilet umum” itu, harusnya bisa dipindahkan ke salah satu gudang yang ada, terlindung dari panas dan hujan, dirawat dan diberi narasi sejarah. Gudang-gudang itu bisa dirombak, dijadikan museum tempat pajangan berbagai gerbong dan kereta api lainnya, termasuk gerbong kereta api Sultan Deli yang ada di Brayan. Sejumlah replika kereta api tua yang pernah dipakai di Medan dapat disajikan di ruang museum itu, juga foto-foto perkeretaapian kawasan ini.

Itu semua bisa dirangkai dalam gagasan menghidupkan kembali jalur sejarah kereta api Sumatera. Dan ini semuanya bukan mustahil. Modifikasi teknologi di Eropa telah memungkinkan rongsokan kereta api tua bisa dihidupkan lagi. Untuk itu, bisa dibuat komite untuk melacak dan mengembalikan semua lokomotif tua milik Sumut yang pernah dibawa ke Pulau Jawa. Jika ada kemauan, bukanlah mimpi lagi untuk berwisata sejarah naik kereta api di Medan yang zus…zus…zus itu.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Staf Peneliti Pussis-Unimed
2010