DAFTAR NAMA BANGUNAN DAN LOKASI YANG WAJIB DILINDUNGI DI MEDAN

42 BANGUNAN YANG SUDAH  DILINDUNGI
BERDASARKAN PERDA NO. 6 TAHUN 1988 DI KOTA MEDAN

NO NAMA LOKASI

KET
1 Bangunan Lama di Samping Hotel Danau Toba Jl Palang Merah Medan
2 Bangunan Palang Merah Indonesia Jl Palang Merah
3 Bangunan sejarah Museum Kodam I Bukit barisan Jl zainul Arifin
4 Bangunan toko yang ada di pusat pasar tidak diperbolehkan penambahan tingkat bila direhabilitasi tetap bentuk semula kecuali jika ada izin tertulis dari Kepala Daerah Jalan Sutomo Medan
5 Bank Bukopin Jl Kol Sugiono (Jl Wazir)
6 Bank Duta samping Perisai Plaza Jl Pemuda
7 Bank Koperasi Jl Kol Sugiono (Jl Wazir)
8 Bank South East Asia Jl Pemuda
9 Bekas Kantor perkebunan HVA Jl Sudirman
10 Gereja HKBP Jl Jenderal Sudirman Sudut Jalan ke Polonia
11 Gereja Kristen Indonesia Jl Zainul Arifin sudut jalan Jl Teuku Umar
12 Gereja Roma Katolik Jl Pemuda
13 Hotel Natour Darma Deli Jl Balai Kota
14 Istana Maimoon Jl Pemuda
15 Kantor Bank Unit I Jl Balai Kota
16 Kantor Bupati Deli Serdang di samping kantor Badan Pertahanan Tingkat I Sumatera Utara Jl Pemuda
17 Kantor eks Dep Tenaga Kerja Jl Perdana sudut Jl Hindu
18 Kantor Gubsu Tingkat I Sumut Jl Dipenogoro
19 Kantor Pengadilan Tk I Sumut Jl Dipenogoro
20 Kantor PJKA Jl Prof HM Yamin
21 Kantor Pos Giro Jl Balai Kota
22 Kantor PTP IV (eks Kantor  Kapolda) Jl Sudirman
23 Kantor PU Kodati II Medan Jl Listrik
24 Kantor PU TK I SUMUT Jl Kol Sugiono ( Jl Wazir)
25 Kantor Sospol Tk II Medan Jl Pemuda
26 Kantor Telkom Jl Prof HM Yamin
27 Kantor Walikotamadya Jl Balai Kota
28 Laboratorium USU samping kantor PJKA Jl Prof HM Yamin
29 Mesjid Raya labuhan Jl Yos Sudarso
30 Mesjid Raya Medan Jl Sisingamangaraja di sudut jln Masjid
31 Penerangan Kodam Bukit Barisan Jl Listrik
32 RISVA Perkebunan Jl Brigjen Katamso
33 RS Elizabeth Jl Jenderal sudirman sudut jln ke polonia
34 RS Perusahan Negara Perkebunan Jl Putri Hijau
35 RS Pirngadi Jl Prof HM Yamin
36 Rumah Dinas Gubsu Tk I Sumut Jl Sudirman
37 Rumah Dinas Walikota Tk II Meda Jl Sudirman
38 Rumah sekolah Immanuel Jl Sudirman
39 Rumah sekolah Taman Kanak-kanak Roma Katolik Jl Pemuda
40 Tapekong China Jl Hang Tuah dalam dekat Sei Babura
41 Tapekong Tjong A Fie Jl Ahmad Yani no 105
42 Toko, kantor. Bank, kanan-kiriya tidak diperbolehkan dirubah bentuk mukanya Jl Ahmad Yani

BANGUNAN INDIVIDU, KELOMPOK DAN KAWASAN
YANG WAJIB DILINDUNGI DIKOTA MEDAN
Bangunan Individu


NO NAMA LOKASI

KETERANGAN
1 Asia Jaya Jl Pemuda
2 Asrama Pastor Jl Slamet Riyadi No 10
3 Bekas konsulat Amerika Jl Imam Bonjol No 13
4 Eks perguruan YPK Medan Jl Pandan No 6
5 Gedung asuransi Jiwasraya Jl Palang Merah No 1
6 Gedung eks Biro kepegawaian Tk I Sumut Jl Sukamulia
7 Gedung Eks Dinas perindustrian Jl Irian Barat No 121
8 Gedung eks PPIA Jl Dipenogoro No 23
9 Gedung Inspektorat wilayah Tk I Sumut Jl Sukamulia No 13
10 Gedung Mega eltra Jl Brigjen Katamso No 52
11 Gedung PLN Jl Listrik
12 Gedung PT Wahid Jl Brigjen KatamsoNo 19 A
13 Gereja Katolik Kristus Raja Jl M.T Haryono No 98
`14 Gereja Kristen Immanuel Jl Dipenogoro No 25-27
15 Gereja Methodist Jl Hang Tuah No 2
16 Gudang Perumka Jl Putri Merak jingga No 2
17 Jembatan Suka Mulya Medan Jl Palang Merah
18 Jembatan Zainul Arifin Jl Zainul Arifin
19 Kantor BKS-PS Jl Pemuda No 23
20 Kantor dinas pariwisata kodya Meda Jl HM Yamin No 40
21 Kantor PTPN IX Jl Tembakau Deli No 4
22 Kolam renang paradise Jl SM raja No 16
23 Kuil Hindu Sri Mariamman Jl Teuku Umar No 18
24 Kuil Hindu Sri subramaniam Jl Kebun Bunga
25 Markas polisi Militer Jl Sena
26 Medan Club Jl kartini
27 Mejid Petisah Ilir Jl Sri Deli
28 Menara air PDAM Antara jln pandu dan jl SM raja
29 Mesjid bengkok Jl Mesjid
30 Perum garam Jl Irian Barat No 125
31 Rumah eks bangsawan Deli Jl Martimbang No 4A 4B
32 Rumah eks bangsawan Deli Jl Mahkamah No 77
33 Rumah Zainul Arifin Jl zainul arifin no 199
34 Salon Davidy Jl Brigjen Katamso
35 Sekolah Khalsa Jl Teuku Umar
36 SLTP SMU Kristen I Medan Jl S Parman No 18
37 Taman Tengku Chadijah (taman Sri Deli) Depan Mesjid Raya Al Mahsun
38 Titi Gantung Jl Kereta Api
39 TK Santo Yoseph Jl Palang Merah
40 Viana Oil Jl Brig Katamso No 30

B.Bangunan Kelompok

NO NAMA

LOKASI KETERANGAN
1 Bangunan di jalan Hindu Jl Hindu No 2,4,6
2 Deretan Gudang dan Ruko Jl Sutoyo No 36 s.d 64
3 Eks Perumahan karyawan DSM Jl Jawa No 6,8,10,12,14,16,18
4 Kantor perkebunan CIPEF Jl S Parman 318,320
5 Ruko-ruko gaya  Malaka Jl Irian Barat & Jl Perniagaan
6 Ruko-ruko Renaissance Gg Mantri No 13,15,16,18,22,24
7 Ruko-ruko sudut Jl Bogor, Jl Bandung
8 Rumah Jl Maulana Lubis Jl Maulana Lubis No 10,12,13,15,17
9 Rumah-rumah dijalan listrik Jl Listrik No 1, 1A,3,5,11
10 Rumah-rumah jl babura lama Jl Babura Lama No 3,4,7,11
11 Rumah-rumah Jl Imam Bonjol Jl Imam Bonjol No 8A, 8B, 25,27
12 Rumah-rumah Melayu Gg Mantri Jl Brigjen Katamso
13 Rumah-rumah Panggung Melayu Jl Timor No 1,3,5,7,9,11,13,15,17
14 Villa di jalan sena Jl Sena No 1 s.d 10
15 Villa kembar Jl dipenogoro No 6,8,10,12

C. Kawasan

NO NAMA

LOKASI KETERANGAN
1 Kawasan Polonia Jl Sudirman No 37,35,40

Jl Multatuli No 2A

Jl Imam Bonjol No 8A,8B,25,27

Jl. Ir.H. Juanda No 1,3,5,6

Jl S Parman No 16,18,50,60,62

Jl Tumapel No 1, 11

Jl Airlangga No 2,4

Jl Walikota No 2

Jl Mangkubumi No 9

2 Kawasan Kota Lama Labuhan Deli

  1. Toapekong Labuhan
  2. Rumah-rumah Toapekong
  3. Rumah-rumah Melayu
  4. Bangunan Eks beacukai
  5. Stasiun Kereta api Belawan
Jl Yos Sudarso No 54 km 92 dan No 09
3 Kawasan perumahan dan pergudangan eks DSM di pulo Brayan

  1. jalan bundar No 5,6,7,8,9,13,16,17,18 dan satu rumah tanpa nomor
  2. Menara air
  3. Gudang persediaan perumka
  4. Station kereta api pulau braya
Jl Lampu

Jl Lampu No 1

Jl Statiun Lingkungan XII

Catatan:

Inventarisasi Bangunan tersebut, didasarkan pada inventory yang sudah dilakukan oleh Badan Warisan Sumatra (BWS) Medan, dan menurut pengkajian kami sudah sangat layak dilindungi sesuai dengan aspek historis dan kulturalnya.

Erond Damanik, M.Si

PARIWISATA BUDAYA SUMATRA UTARA BELUM MENDAPAT PRIORITAS.

PARIWISATA BUDAYA SUMATRA UTARA BELUM MENDAPAT PRIORITAS.

(Dari Focus Group Discussion Pussis-Unimed)

Sumatra Utara mempunyai warisan sejarah dan budaya (cultural and historical heritage) yang tidak kalah menarik dengan kawasan lain di Indonesia, tetapi tidak dimanfaatkan  secara efektif. Beberapa situs sejarah seperti Barus, Portibi, Benteng Putri Hijau, Kota Cina, Kota Rentang, pulau Kampai, maupun makam raja Sidabutar, batu persidangan Siallagan, bukit kerang ataupun tradisi megalitik Nias masih saja terlantar dan lama kelamaan menjadi hilang dari wujud nyatanya dan lama kelamaan hanya ada dalam ingatan kolektif masyarakat (folks memory). Lain daripada itu, beberapa bangunan bersejarah (historical building) seperti yang ada di Kota Medan dan beberapa kota di Sumatra Utara juga luput dari perhatian penyelamatan sehingga lambat laun juga menjadi hilang. Akibatnya situs maupun bangunan bersejarah sebagai warisan kebanggan masyarakat Sumatra Utara itu tidak pernah  menjadi objek atau destinasi wisata yang menarik yang mampu menyerap wisatawan secara bermanfaat secara ekonomis. Demikian diungkapkan oleh Ichwan Azhari, Kepala Pussis Unimed dalam sambutannya pada diskusi terfokus (focus group discussion) yang diselenggarakan oleh Pussis-Unimed pada hari Sabtu tanggal 20 Maret 2010 di lantai-III dekanat FIS Unimed.

Ichwan menambahkan, Medan sebagai kota terbesar kedua di Indonesia yang memiliki peninggalan sejarah yang cukup banyak itu, ternyata tidak mampu menyerap wisatawan. Jikapun ada wisatawan yang datang, maka mereka itu hanya menjadikan Medan sebagai kota transit atau menginap semalam sebelum melanjutkan kunjungan seperti ke Nias, Samosir, Berastagi, Aceh maupun Sumatra Barat. Hal ini, menurut Ichwan terjadi karena situs sejarah tidak dilestarikan, dimanfaatkan semaksil mungkin sebagai destinasi wisata. Padahal menurutnya, memasuki abad ke-20 ini telah terjadi perubahan perspektif wisata dari keindahan alam kepada wisata sejarah dan budaya (historical and cultural tourism).

Dr. Edward McKinnon, arkeolog berkebangsaan Inggris sekaligus Research Associate di Nalanda Sriwijaya CenterInstitute of South East Asian Studies (ISEAS) Singapura yang hadir sebagai pembanding utama mengemukakan bahwa cukup berbeda dengan yang terjadi di Inggris. Jika di Indonesia, terjadi penghancuran bangunan maupun situs bersejarah secara berkelanjutan maka di Inggris justru sebaliknya. Sekecil apapun situs atau bangunan bersejarah di Inggris, akan tetap dilestarikan dan dari waktu ke waktu direstorasi. Sehingga tidak mengherankan apabila di Inggris terdapat kawasan-kawasan ataupun bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini. Lain dari pada itu, peneliti yang tidak asing lagi di Sumatra Utara itu mengemukakan bahwa untuk mengelola warisan bersejarah di Inggris, dibentuk dewan konservasi heritage yang bertanggungjawab mengurus warisan sejarah dan pemerintah mengeluarkan regulasi yang tegas dengan sangksi yang sangat tegas pula seperti pidana dan denda. Disetiap bangunan bersejarah selalu terpampang semacam pamplet yang menyatakan bangunan atau situs yang dilindungi, terdapat petunjuk atau acuan wisata sejarah dan budaya dalam bentuk brosur, leafleat, maupun peta. Demikian pula, arkeolog yang akrap disapa Pak Ed itu mengemukakan bahwa pemerintah menyadari akan pentingnya warisan sejarah dimaksud dengan membangun sarana dan prasarana penunjang sehingga akses setiap pengunjung dapat berjalan dengan baik. Ia mengemukakan bahwa dalam keberhasilan wisata sangat ditentukan oleh Insentif pengelolaan, infrastructur pendukung,  information yang signifikan dan kepuaasan kunjungan.

Pembanding utama lainnya adalah Lim Chen Sian, MA dari Institute of South East Asian Studies (ISEAS) Singapore yang mengemukakan langkah-langkah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah Singapura dalam mempertahankan warisan budaya.  Lim mengemukakan bahwa  Singapura pernah kehilangan 70 pesen warisan sejarah dan budayanya, namun sekarang warisan yang hilang itu sudah hampir pulih kembali hingga 100 persen dan kini juga daerah itu sudah masuk dalam daftar negara yang dikunjungi di Asia. Ia mengemukakan bahwa hal tersebut dapat wujud karena adanya keseriusan pemerintah dalam mempertahankan warisan sejarah dan budaya. Preservasi tersebut pada dasarnya dilakukan oleh pemerintah bekerjasama dengan Singapore Heritage yang bersifat top down. Dewan cagar Budaya Singapura mengawasi sebagian besar heritage dan sebagian lagi dikelola oleh swasta. Strategi yang dilakukan berupa sosialisasi melalui booklet, leafleat, komik ataupun peta yang dilakukan oleh swasta, sponsor, maupun adanya  bantuan hibah dari pemerintah. Lain daripada itu, pendidikan terhadap arti pentingnya warisan sejarah dan budaya telah diajarkan sejak kelas III sekolah dasar hingga perguruan tinggi.  Lain daripada itu law enforcement harus ditegakkan terutama yang terkait dengan pelestarian warisan sejarah dan budaya.

Berkesempatan hadir dalam diskusi tersebut adalah Parlindungan Purba, Anggota DPD RI utusan Sumut yang menyoroti peletakan sektor kebudayaan kedalam kepariwisataan. Ia mengungkapkan bahwa kebudayaan seharusnya dilekatkan kedalam pendidikan sehingga menciptakan perubahan pola pikir atau mindset. Kemudian, pada saat terjadi perubahan mindset itu, barulah sektor kebudayaan tersebut diefektifkan melalui kepariwisataan. Menurutnya lagi, bahwa peminggiran sektor kebudayaan masa kini justru diakibatkan oleh belum tercapainya kesadaran masyarkat terhadap arti pentingya warisan sejarah dan budaya yang hanya bisa dicapai lewat dunia pendidikan. Senada dengan hal tersebut, Brilian Moktar, ketua Komisi E DPRD Sumut menyoroti adanya kesalahan dalam penunjukan orang yang mengatur sektor kebudayaan dan pariwisata. Menurutnya pariwisata dan budaya adalah satu hal yang melekat, orang ke Bali bukan karena indah tetapi karena penataan Budayanya. Oleh karena itu, dibutuhkan dinas karir yang mesti diduduki oleh orang yang profesional. Perlunya jalinan yang baik dan kordinasi yang signifikan. Pariwisata bagus karena budayanya baik. Perlunya rekomendasi untuk melihat suatu situs sebagai destinasi wisata.

Partisipan diskusi lainnya seperti Aripay Tambunan, ketua komisi C DPRD Kota Medan mengemukakan bahwa persoalan kebudayaan dan pariwisata belum menjadi prioritas. Ia mencontohkan bahwa dalam Musrenbang 2010 yang lewat di Pemko Medan, pengembangan sektor kebudayaan dan pariwisata justru tidak dibahas. Oleh karena itu, ia mengharapkan adanya jalinan kordinasi yang melibatkan lintas instansi untuk melakukan hal-hal seperti listing situs dan bangunan bersejarah, mendorong perda warisan bersejarah, maupun mendobrak stagnasi komunikasi dan hukum antara akademisi, LSM maupun pemerintah. Anggota DPRD Kota Medan yang juga hadir adalah Ikrimah Hamidy dari fraksi PKS yang mengakui ketidaktahuannya terhadap persoalan kebudayaan dan pariwisata sebelum dirinya diikutkan sebagai narasumber pada seminar Internasional yang dilaksanakan Pussis-Unimed pada 18 Mei 2008 tentang bangunan bersejarah di kota Medan.

Ikrimah mengemukakan bahwa, permasalahan warisan sejarah dan budaya ini mesti mendapatkan prioritas yang signifikan. Ia juga mengakui bahwa pendidikan adalah salah satu sarana yang tepat untuk menumbuhkan generasi yang sadar sejarah dan budaya. Karena itulah, Ia mengupayakan komunikasi diantara anggota DPRD kota Medan untuk meratifikasi Perda No. 6 Tahun 1988 tentang bangunan bersejarah yang telah usang, pembebasan lahan di Situs Kota Cina sebagai situs perkotaan di Medan dan Sumatra pra kebudayaan Islam serta mendukung upaya penulisan dan penerbitan buku ajar muatan lokal di Kota Medan.

Peserta lainnya seperti Dirk A Buiskool menyatakan kekecewaanya terhadap pemerintah kota Medan yang justru menghancurkan bangunan bersejarah di Kota Medan. Ia menuturkan bahwa satu persatu bangunan bersejarah di Medan hilang dan sebagian dalam proses pembiaran akibat tidak adanya political will untuk menyelamatkan bangunan bersejarah dimaksud. Ia menambahkan bahwa wisatawan datang ke Medan bukan untuk melihat keindahan alamnya tetapi karena adanya keunikan kota tertentu. Jadi, ia mengharapkan agar bangunan bersejarah yang telah ada itu untuk tetap dipertahankan. Senada dengan Dirk, Tuanku Lukman Sinar juga menyatakan keprihatinan serta kekhawatirannya akan upaya Pemerintah Kota Medan yang dengan seenaknya memusnahkan bangunan bersejarah. Pada kesempatan itu, pewaris kesultanan Serdang itu menyatakan bahwa salah satu situs Jepang yang ada di Medan juga akan dibongkar dan akan dijadikan sebagai hotel. Ia mengharapkan agar langkah penghancuran itu seyogianya juga dapat dihentikan. Menurut Amir Husin Ritonga dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sumatra Utara mengemukakan bahwa sektor kebudayaan menjadi semakin terlantar akibat adanya otonomi daerah, dimana daerah otonom ternyata kurang serius dalam menyelamatkan dan melestarikan bangunan bersejarah itu. Jika dibandingkan dengan sebelum era otonomi, warisan sejarah justru semakin membaik. Tetapi kini, persoalan itu semakin pelik akibat terbatasnya tugas-tugas dari disbudpar propinsi.

Diskusi yang bertajuk “Pengembangan Pariwisata Budaya di Sumatra Utara” ini diikuti oleh 35 peserta ini dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor-IV Unimed yakni Dr.Berlin Sibarani, M.Pd. Dalam sambutannya, Dr. Berlin mengemukakan bahwa pariwisata adalah upaya untuk menarik orang lain untuk mengunjungi sebuah negara, selain menarik perhatian juga mengupayakan agar bisa tinggal lebih lama. Dengan keberhasilan menarik wisatawan sudah barang tentu akan menghasilkan devisa bagi negara. Devisa tersebut akan menghasilkan uang bagi pembangunan. Oleh karena itu, diskusi yang digelar Pussis-Unimed dapat menjadi ajang pencarian kebijakan dalam kerangka pengembangan wisata budaya dimaksud.

Erond Damanik, peneliti Pussis-Unimed mengemukakan bahwa tujuan penyelenggaran diskusi ini adalah untuk menemukan langkah-langkah kebijakan dalam menggalakkan pariwisata budaya di Sumatra Utara. Kebijakan tersebut bermanfaat bagi pengambil kebijakan khususnya di Sumatra Utara dalam upaya melestarikan warisan sejarah dan budaya serta memanfaatkannya sebagai destinasi wisata. Erond menambahkan bahwa hal terkecil yang mesti dilakukan adalah bahwa masing-masing instansi, daerah kabupaten ataupun kota harus sesegera mungkin melakukan terobosan dalam pemamfaatan warisan sejarah di daerahnya sehingga dapat beramanfaat bagi pengetahuan dan mendatangkan devisa. Dari diskusi yang berjalan selama 3 jam tersebut diperolah simpulan akan pentingnya pelestarian dan pememfaatan warisan sejarah yang menyangkut: inventarisasi, penceritaan dan penyadaran. Hal pertama yang mesti dilakukan adalah inventarisasi warisan sejarah dan budaya, pengikutsertaan masyarakat setempat  yang dekat dengan situs untuk mempelajari peninggalan, memberikan penjelasan arti penting warisan, menjadikan sebagai muatan lokal, sosialisasi melalui booklet, leafleat, mata ajar, diskusi komprehensif dan penegakan hukum yang tegas. Demikian Erond menutup pembicarannya.

Turut hadir sebagai peserta dalam diskusi ini adalah Budpar Propinsi, Budpar Deli Serdang, Anggota DPRD Kota Medan, DPRD Propinsi Sumut, DPD RI Utusan Sumut, Badan Warisan Sumatra, Balai Arkeologi Medan, Inside Sumatra, Penikmat warisan sejarah dan Budaya, akademisi, profesional, mahasiswa, LSM dan Pers. Diskusi dipandu oleh Ben Pasaribu, MA dan diakhir acara dilakukan penyerahan cenderamata kepada Edward McKinnon dan Lim Chen Sian yang diserahkan oleh Drs. Restu, MS, dekan Fakultas Ilmu Sosial Unimed.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed

PUSSIS-UNIMED KEMBANGKAN KOTA CINA MELALUI PROGRAM WISATA SEJARAH

PUSSIS-UNIMED KEMBANGKAN KOTA CINA
MELALUI PROGRAM WISATA SEJARAH

Oleh: Erond L. Damanik
Pussis-Unimed

Sesuai dengan Undang-undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) bahwa benda atau kawasan yang memiliki kharakteristik unik serta berusia lebih dari lima puluh tahun dan bermanfaat untuk ilmu pengetahuan wajib dilestarikan. Disamping karena dianggap sebagai khasanah kekayaan bangsa masa kini juga sekaligus mencerminkan tingkat peradaban dimasa silam. Kebermamfaatan dan penyelamatan tersebut dapat dilakukan dengan pengembangan situs sejarah sebagai kawasan wisata yang disebut sebagai tujuan wisata sejarah dan budaya (historical and cultural tours).

Situs Kota Cina yang  terletak di kelurahan Paya Pasir kecamatan Medan Marelan Kota Medan merupakan salah satu situs yang sangat penting untuk menjelaskan cikal bakal berdirinya kota Medan. Situs Kota Cina merupakan urban sites (situs perkotaan) yang ditemukan di pulau Sumatra sebelum berkembangnya kebudayaan Islam. Program penelitian untuk menguak keberadaan Situs Kota Cina dimulai pada tahun 1972 yang dilakukan oleh arkeolog berkebangsaan Inggris yakni Edwards McKinnon. Penelitian tersebut telah menghasilkan sebuah tulisan dalam bentuk disertasi yang menggambarkan artifak peninggalan Kota Cina berupa keramik, tembikar dan lain-lain.

Penelitian yang dilakukan sejak tahun 1972 tersebut dilakukan secara intensif hingga tahun 1978 dengan melibatkan sejumlah peneliti yang silih berganti. Adapun mereka itu ialah seperti Edwards McKinnon, Hasan Muarif Ambari, T.Lukman Sinar, Balai Arkeologi Medan. Selanjutnya, pada awal tahun 1980-an, penelitian dilakukan oleh arkeolog berkebangsaan Australia, Prancis, dan lain-lain.

Hasil-hasil penelitian penting tersebut adalah berupa, ditemukkannya ragam fragmen keramik yang berasal dari dinasti Sung dan Yuan di China, maupun fragmen tembikar, mata uang China (Koin China), Archa (Budha, Siwa dan Lakhsmi), bongkahan perahu tua, batu bata berstruktur candi, tulang-tulang hewan, pecahan kaca dan lain-lain. Dari test penentuan usia artifak (carbon dating) yang dilakukan, hampir keseluruhan temuan tersebut berasal dari satu masa yakni pada era kedinastian Sung dan Yuan di China yakni abad 12-13 masehi.

Menurut Ichwan Azhari, Kepala Pussis-Unimed mengemukakan bahwa situs Kota Cina dikembangkan oleh Pussis-Unimed sebagai lahan praktek arkeologi pada jurusan Sejarah dan Antropologi Unimed. Upaya ini ditempuh oleh Pussis-Unimed yakni dalam rangka aktualisasi pembelajaran arkeologi sekaligus meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap situs Kota Cina. Di Situs itu, terdapat Museum situs (Site museum) yang dikembangkan oleh Pussis-Unimed, berupa bangunan sederhana yang terbuat dari kayu kelapa, dingding tepas dan atap rumbia berukuran 12 x 10 meter. Adapun artifak yang dijadikan koleksi museum ini adalah temuan-temuan praktek ekskavasi  mahasiswa di kota Cina maupun pengupayaan replika archa Siwa, Laksmi dan Budha yang dipesan khusus dari Trowulan. Kini, ketiga arca tersebut telah ada di museum situs Kota Cina.

Lain daripada itu, kepala Pussis-Unimed alumni Universitas Hamburg Jerman tersebut mengemukakan bahwa, selain menjadi lahan praktek arkeologi mahasiswa, Pussis-Unimed juga mengembangkan program Wisata Sejarah dan Budaya (historical and cultural tours) yang bermanfaat untuk memberikan pengenalan Situs Kota Cina terhadap masyarakat, pelajar maupun mahasiswa serta pelajar yang ada di Kota Medan. Salah satu tujuan program wisata ini, disamping memperkenalkan situs Kota Cina kepada masyarakat umum adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap arti penting situs pada masyarakat masa kini. Dengan demikian, semakin intensnya program wisata ini sekaligus menciptakan generasi yang sadar terhadap situs sejarah sehingga dalam periode-periode kedepan akan lahir generasi-generasi ataupun pemimpin yang tidak akan menghancurkan peninggalan-peninggalan sejarah. Kecuali itu, Pussis-Unimed hingga kini masih terus mengkaji pelaksanaan Wisata Sejarah ini sebagai sebuah model pembelajaran sejarah maupun strategi untuk memperkenalkan situs terhadap masyarakat.  Pengembangan itu mencakup penatalayanan maupun menambah koleksi seperti pengupayaan  replika keramik, tembikar dan lain-lain. Hal ini dilakukan sehingga kekayaan museum Situs Kota Cina dapat ditingkatkan sekaligus menambah daya tarik masyarakat ke Situs Kota Cina. Demikian Ichwan menuturkan.

Menurut Erond Damanik (peneliti Pussis-Unimed) mengemukakan bahwa hingga kini tercatat sejumlah sekolah di Medan telah melakukan wisata sejarah bersama dengan Pussis-Unimed yakni SMA Negeri 5 Medan, pelajar Medan International School, SMA Negeri-1 Medan, SMA Negeri-14 Medan, SMA Amir Hamzah, Madrasah Aliyah Institut Agama Islam Negeri (MAL-IAIN) Medan yang hingga sudah berjumlah 533 orang siswa. Demikian pula kedepan, Pussis-Unimed akan tetap mengembangkan program wisata ini dengan menjalin kerjasama dengan pihak sekolah di Medan dan Sumatra Utara.

Selanjutnya Erond Damanik menuturkan bahwa, wisata sejarah dilakukan setelah pengenalan program wisata yang dilakukan oleh Pussis-Unimed kepada pihak sekolah, terkait dengan tujuan dan mekanisme pelaksanaan. Jumlah siswa yang diperkenankan dalam satu program wisata maksimal 120 orang yang bertujuan untuk pencapaian hasil yang maksimal. Dalam program ini, kepada siswa diberikan informasi seputar Situs Kota Cina seperti, catatan awal tentang Situs Kota Cina, masa perkebunan pengusaha Belanda, ekskavasi dan penelitian Situs Kota Cina, artifak tinggalan Situs Kota Cina, kondisi masa kini serta arti pentingnya dalam pembelajaran Sejarah. Selama pelaksanaan program wisata, peserta diberikan brosur yang berisi uraian singkat Kota Cina maupun sertifikat bukti kesertaan. Penjelasan tentang Kota Cina diuraikan oleh pembimbing lapangan  (guide) yakni dari Balai Arkeologi Medan dan Pussis-Unimed. Setelah mendapatkan penjelasan wisata di museum situs Kota Cina dilanjutkan dengan peninjauan kotak-kotak gali di Kota Cina, toapekong China, batu berfragmen candi maupun meninju Danau Siombak. Pelaksanaan wisata diakhiri dengan wisata air di Danau Siombak. Bagi peserta yang berminat dapat menghubungi Pussis-Unimed  yang beralamat di Gedung Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan pada setiap hari kerja.

Pussis-Unimed mengakui bahwa program seperti ini termasuk langka untuk Sumatra Utara sehingga membutuhkan kerjasama yang intens antara pihak sekolah, guru-guru sejarah, perguruan tinggi maupun pihak pemerintah, khususnya dinas Kebudayaan dan Pariwisata maupun Dinas Pendidikan. Dengan upaya ini, salah satu yang diharapkan adalah timbulnya kesadaran masyarakat terhadap situs sejarah, khususnya terhadap situs Kota Cina Medan Marelan.

Disarikan pada tanggal 06 Maret 2010:
oleh: Erond Damanik
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

ADITYAWARMAN LAHIR DAN DIBESARKAN DI SUMATRA!

ADITYAWARMAN LAHIR DAN DIBESARKAN DI SUMATRA!
Ekspedisi Pamalayu bukan penaklukan tetapi misi persahabatan antara Jawa-Sumatra
Dari Ceramah Prof. Uli Kozok di Universitas Negeri Medan
Oleh: Erond L. Damanik
Pussis-Unimed

Penulisan sejarah Indonesia selama ini menurut Uli Kozok sering memunculkan interpretasi terhadap sumber-sumber primer yang tidak didukung oleh sumber primer lainnya. Akibatnya, narasi sejarah yang timbul adalah penciptaan atas realita sejarah yang mengorbankan kebenaran sejarah. Hal tersebut menjadi faktor munculnya sejarah Nasional Indonesia yang kontroversial. Keadaan tersebut tidak saja terjadi pada sejarah modern Indonesia tetapi juga pada sejarah awal Indonesia. Dalam era desentralisasi saat ini, menurut pengajar di Universitas Hawaii itu sebaiknya adalah melakukan pendekatan historiografi yang berlandaskan bottom up yakni penulisan sejarah ditingkat lokal dan kemudian dari tingkat lokal tersebut dirumuskan Sejarah Nasional. Jadi akan berbeda dengan kondisi selama ini dimana sejarah nasional cenderung disusun ditingkat nasional yang meniadakan peran daerah.  Hal tersebut dikemukakan oleh Uli Kozok dalam ceramah ilmiah: Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting Dalam Sejarah Jawa-Sumatra di Universitas Negeri Medan yang diadakan oleh Pussis-Unimed pada tanggal 09 Maret 2010.

Dalam ceramah tersebut, Uli menunjukkan kelemahan sekaligus dilema yang dihadapi oleh sejarahwan Nasional seperti Slamet Muljana dalam menafsirkan dan menuliskan sejarah Malayu (Sumatra) dan Majapahit (Jawa) khususnya tentang tokoh Adityawarman. Dalam bukunya, Slamet Muljana menuliskan bahwa Adityawarman benar-benar tokoh sejarah, karena namanya tercantum pada pelbagai prasasti di Pulau Jawa dan Sumatra serta  dinasti Yuan.  Kitap Pararaton 24, 27 menyatakan bahwa Adityawarman adalah putra Dara Jingga dari Tanah Malayu. Demikian pula bahwa pada tahun  1325 pada Dinasti Yuan dinyatakan bahwa utusan Jawa bernama Seng-kia-lia-yulan berpangkat menteri, datang di istana kaisar. Ironisnya, nama Seng-kia-lia-yulan diidentifikasi dengan Adityawarman. Seharusnya penamaan tersebut adalah sebutan gelar Sang Arya yang banyak digunakan dalam pengaruh Hindu-Budha. Selanjutnya pada tahun 1332 Adityawarman diutus ke Cina dan pada tahun 1330 nama Adityawarman disebut pada prasasti Blitar atau pada prasati tidak bertarik (OJO LXXXIV (D38) serta pada tahun 1343 Adityawarman mengeluarkan prasasti Manjusri di Candi Jago. Selanjutnya Slamet Muljana mengemukakan bahwa pada tahun 1347 Adityawarman mengeluarkan prasasti di Dharmasraya  dimana arcanya ditemukan di  Sungai Langsat. Tidak lama kemudian, Adityawarman memindahkan kerajaan itu ke Pagaruyung dan terakhir pada tahun 1375, Adityawarman mengirimkan utusan ke Cina. Adityawarman meningggal dan dimakamkan di Kubur Raja, Lima Kaum Sumatra Barat.

Namun menurut Uli, Adityawarman adalah Melayu (Sumatra) yang dilahirkan dan dibesarkan di Sumatra dan tidak ada hubungan dengan Raden Wijaya, raja Majapahit. Ibunya bukanlah Dara Jingga seperti yang ditulis dalam sejarah nasional selama ini, karena menurutnya, bila Dara Jingga adalah Ibunya, maka setidaknya Adityawarman menjadi raja pada usia 45-50 tahun adalah kemustahilan apalagi untuk mendirikan dan memimpin sebuah kerajaan di Sumatra yang baru dibentuk.  Demikian pula bahwa Adityawarman bukan pendiri kerajaan Malayu tetapi kerajaan itu didirikan oleh Akarendrawarman yang namanya banyak disebut pada berbagai prasasti di Minangkabau seperti prasasti PGR 7 yang menyebutnya  sebagai maharajadhiraja, prasati PGR 8 yang dikeluarkan tahun 1316 dan pada prasasti Bandar Bapahat dimana Adityawarman meneruskan pembangunan raja sebelumnya yakni Akarendrawarman. Jadi, sebelum Adityawarman, telah ada dan berdiri kerajaan Malayu di Sumatra yang didirikan oleh Akarendrawarman dan Adityawarman bercita-cita meneruskan pembangunan pendahulunya itu.

Lebih lanjut Uli mengemukakan bahwa berdasakan sumber-sumber primer dan analisis kritis yang dilakukannya terhadap sumber-sumber tersebut, Uli menegaskan bahwa Adityawarman adalah kemungkinan adalah keponakan Akarendrawarman yang lahir antara  tahun 1310 dan 1320 di Sumatra dan tidak pernah diutus ke China sebagai duta besar Majapahit. Demikian juga bahwa  Adityawarman tidak pernah mendampingi Majapahit untuk menyerang Bali atau Adityawarman ditugasi untuk menaklukkan Sumatra dalam ekspedisi Pamalayu di era Singhasari. Adityawarman sendiri tidak dimakamkan di Makam Kubu Rajo, karena tidak ditemukkanya bukti bahwa Kubu Rajo sebagai makam. Kubu Rajo sendiri adalah kubu atau benteng pertahanan.

Ekspedisi Pamalayu menurut Uli adalah persekutuan (dalam rangka menjalin kerjasama antara Jawa dan Sumatra), dan   bukan dalam rangka penaklukan sebagaimana yang disebut dalam sejarah nasional seperti selama ini. Lebih lanjut Uli menegaskan bahwa,  Kertanegara  (raja Singhasari) terancam oleh pasukan Kubilai Khan dari Mongol akibat menolak membayar upeti ke Tiongkok. Akibat penolakan tersebut, posisi Singhasari semakin terancam dan takut bila diserang oleh pasukan Mongol. Demikian pula bahwa hubungan antara Jawa dan Sumatra tersebut tidak menunjukkan bawahan dan atasan dimana raja-raja di Sumatra disebut sebagai vasal dari raja Jawa sehingga memungkinkan untuk menyerang kerajaan Jawa ini. Atas dasar itu, Kertanegara menyadari bahwa posisisnya kian terancam, maka ia membentuk persekutuan dengan kerajaan Melayu yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu.  Selanjutnya, prasasti Manjusri yang sekarang berada di kompleks candi Jago meriwayatkan bahwa Adityawarman mendirikan arca di Bhumi Jawa yang berarti bahwa Adityawarman bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Majapahit (Jawa). Tetapi ia lahir dan dibesarkan di Sumatra dan sewaktu muda dikirim ke Majapahit untuk persahabatan Jawa dan Sumatra.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa penggunaan istilah Maharaja dan  Maharajadiraja telah menegaskan bahwa tidak ada hubungan taklukan antara Jawa dan Sumatra.  Maharaja adalah sebutan atau gelar untuk raja sedang maharajadiraja adalah gelar raja diatas segala raja (king of the king). Adityawarman sendiri telah menggunakan maharajadiraja sama seperti  Akarendrawarman yang berarti bahwa kerajaan tersebut adalah berdaulat penuh yang tidak memiliki hubungan dengan Majapahit. Selanjutnya, pada tahun 1293, 1299, 1301 kerajaan Malayu mengirimkan utusan ke Tiongkok dan pada tahun 1295, Kaisar Cina menyuruh Siam untuk tidak menyerang Malayu. Ibu negeri Kerajaan Malayu sendiri menurut Uli adalah berpindah-pindah seperti dari Saruaso, Dhamasraya dan Muara Jambi.

Ichwan Azhari, Kepala Pussis-Unimed mengemukakan bahwa uraian Uli Kozok ini sangat penting terutama untuk meluruskan sejarah Nasional Indonesia. Setidaknya, penelitian Uli ini telah mengilhami pentingnya analisis kritis terhadap  sumber-sumber primer sejarah Indonesia yang kerap kali tidak didukung oleh sumber primer lainnya. Dengan paparan Uli ini, Ichwan melanjutkan bahwa kiranya sudah semakin terang tentang sosok Adityawarman yang ternyata lahir dan dibesarkan di Malayu (Sumatra), tidak pernah diutus ke China, tidak menyertai Majapahit dalam penyerangan Bali. Demikian pula bahwa Adityawarman bukan pendiri kerajaan Malayu serta yang paling penting adalah bahwa ekspedisi Pamalayu bukan dalam rangka penaklukan Sumatra tetapi justru untuk mencari persahabatan (persekutuan) antara raja-raja Jawa (Singhasari) dan Raja Sumatra. Hal ini justru kebalikan dari yang selama ini diketahui dalam sejarah Nasional kita. Akan tetapi, Ichwan menyayangkan mengapa justru yang melakukan koreksi terhadap sejarah Indonesia paling banyak dilakukan oleh orang luar Indoensia?. Kemana sejarahwan Indonesia, tanyanya?.

Selanjutnya, Erond Damanik (peneliti Pussis-Unimed) mengemukakan bahwa kehadiran Uli Kozok di Universitas Negeri Medan adalah untuk yang ke empat kalinya yakni untuk menyelenggarakan seminar yakni Stempel dan Surat Sisingamangaraja, Aksara Batak, Utusan Damai di Kemelut Perang yakni hubungan Nomensen dengan Belanda ditanah Batak,  dan yang terakhir ini adalah tentang Adityawarman. Pada kehadiran yang ke empat ini, Uli dengan berani mengemukakan kecenderungan interpretasi sejarah nasional berdasarkan sumber-sumber historiografi yang kurang didukung oleh sumber-sumber primer itu sendiri. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini sangat  perlu dan penting terutama untuk memahami historiografi Indonesia sekaligus pentingya mengedepankan telaah sejarah kritis. Atas dasar itu, sejarah Indonesia yang kerab berselimut misteri itu dapat dibuka satu per satu.

Disarikan oleh:
Erond L. Damanik
Peneliti Pussis-Unimed
09 Maret 2010.

REKAPITULASI KEGIATAN PUSAT STUDI SEJARAH DAN ILMU-ILMU SOSIAL LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN (PUSSIS-UNIMED) TAHUN 2007-2009

REKAPITULASI KEGIATAN
PUSAT STUDI SEJARAH DAN ILMU-ILMU SOSIAL
LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN (PUSSIS-UNIMED)
TAHUN 2007-2009

TAHUN NO URAIAN KEGIATAN PELAKSANAAN PEMBICARA PESERTA
2007 1 Seminar dan Lokakarya Nasional: Sejarah Indonesia Yang Kontroversial: Solusi dan Pengajarannya di SMA 8 Sept 2007 Mestika Zed

S. Hamid Hasan

Asvi Warman Adam

Ichwan Azhari

265 orang
2 Pameran: Pers Zaman Kolonial di Sumatra Utara 6-8 Sept 2007
3 Seminar Nasional: Mengenal Tokoh, Pejuang dan Pahlawan Nasional Sumatra Utara 10 Nov 2007 Muh. TWH

T.Lukman Sinar

Ratna

Basyral H. Harahap

Dirk A. Buiskool

Antilan Purba

204 orang
4 Pameran: Para Tokoh, Pejuang dan Pahlawan Sumatra Utara 6-10 Nov 2007
5 Pemutaran film: Nagabonar I dan Nagabonar Jadi II 10 Nov 2007
6 Bedah Buku: Kontroversi Tuanku Rao Dalam Sejarah Sumatra Utara 10 Nov 2007 Usman Pelly

B.A. Simanjuntak

Basyral Hamidi

Ichwan Azhari

204 orang
7 Seminar: Sastra Dalam Sejarah, Antara Fakta dan Fiksi Tan Malaka di Kota Medan 13 Des 2007 Wara Sinuhaji

Ahmad Samin Siregar

Ichwan Azhari

Antilan Purba

210 orang
2008 1 Diklat: Aktualisasi Pengajaran Sejarah, Media dan Metode Pengajaran serta Pembuatan Karya Ilmiah 20 Feb 2008 Ichwan Azhari

Trisni Andayani

Flores Tanjung

Erond L. Damanik

235 orang
2 Seminar dan Wisata Sejarah: Arti Penting Situs Kota Cina Medan Marelan Dan Pengintegrasiannya Dalam Sejarah Nasional serta pengajarannya di SMP dan SMA 28 Feb 2008 T. Lukman Sinar

Sri Hartini

Lucas P. Koestoro

Ichwan Azhari

250 orang
3 Seminar dan Bedah Buku: Tradisi Megalitik Nias: Melacak Batu Menguak Mitos (karya. Jajang A. Sonjaya) 2 Maret 2008 Jajang A. Sonjaya

Ketut Wiradyana

200 orang
4 Diklat: Kedudukan dan Tehnik Pembuatan Modul serta Karya Ilmiah dalam kerangka Portofolio Guru 2 April 2008 Restu

Ichwan Azhari

Ely Djulia

200 orang
5 Seminar dan Bedah buku: Mengutamakan Rakyat (Karya Saurip Kadi dan Liem Siok Lan) 20 April 2008 Liem Siok Lan

Saurip Kadi

Ahmad Samin

450 orang
6 Seminar Internasional: Mencegah Musnahnya Warisan sejarah Kota Medan 18 Mei 2008 EE. McKinnon

JC. Van Diemen

Sean B. Stein

Dirk A. Buiskool

Lucas P. Koestoro

Asmyta Surbakti

Arif Nugroho

Ikrimah Hamidy

550 orang
7 Seminar Nasional: Satu Abad Kebangkitan Nasional: Reaktualisasi dan Reinterpretasi Kebankitan Nasional. 22 Mei 2008 Basyral H. Harahap

Hans Van Miertz

Ichwan Azhari

450 orang
8 Seminar Nasional dan Pameran: Kerajaan Aru, Kerajaan Besar dan Penting Yang Hilang di SumatraUtara 2 Juli 2008 T. Lukman Sinar

Naniek Wibisono

EE. McKinnon

Ichwan Azhari

245 orang
9 Kunjungan Arkeologis: Situs Sejarah Kota Rentang Hamparan Perak 27 Juli 2008 Ichwan Azhari

EE McKinnon

Erond L. Damanik

60 orang Mahasiswa
10 Kunjungan Arkeologis: Situs Sejarah Kuala Terjun Medan Marelan 2 Aug 2008 Ichwan Azhari

Ery Soedewo

Uut Balar

Erond L. Damanik

Sri Hartini

Disertai Wartawan
11 Pesta Budaya Melayu dan Seminar Nasional: Restorasi Budaya Melayu 8 Aug 2008 T.Lukman Sinar

Wan Saifuddin

Usman Pelly

Soeroso

150 orang
12 Kunjungan Arkeologis: Situs Benteng Putri Hijau Delitua Namurambe 15 Aug 2008 Ichwan Azhari

Asmyta Surbakti

Erond L. Damanik

Ery Soedewo

Disertai wartawan
13 Seminar dan Diskusi Buku: Dinegeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda tahun 1602-1950 (Karya Harry A. Poeze) 20 Aug 2008 Ichwan Azhari

Wara Sinuhaji

Dirk A Buiskool

JC. Van Diemen

150 orang
14 Seminar dan Bedah Buku: Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Idiologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia (Karya Chaterine Dobbin) 12 sept 2008 Asvi Warman Adam

Ichwan Azhari

250 orang
15 Seminar dan Bedah Buku: Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri Minangkabau 1748-1874 14 Okt  2008 Usman Pelly

Nur Ahmad Fadhil Lubis

200 orang
16 Ekskavasi dan Penelitian Komprehensif: Benteng Putri Hijau Delitua 1-18 Okt 2008 Lucas P. Koestoro

Insa Ansari

Ery Soedewo

Erond L. Damanik

Tim Peneliti
17 Diskusi dan Pemutaran Film: Arkeologi Virtual: Kejayaan Romawi Kuno 12 Nov 2008 Livia Raponi

Ben Pasaribu

Sri Hartini

80 orang
18 Seminar dan Bedah Buku: Tan Malaka dihujat dan dilupakan (karya Harry A. Poeze) 18 Nov 2008 Harry A. Poeze

Ridwan Rangkuti

Ichwan Azhari

200 orang
19 Ceramah dan Diskusi Ilmiah: Misteri Surat-Surat Sisingamangarajda XII 28 Nov 2008 Ulrich Kozok 200 orang
2009 1 Konferensi Internasional Encountering a Common Past in Asia (ENCOMPASS): A State of Transition 6-8 Januari 2009 Panel Discussion dan Focus group Discussion. 45 orang
2 Seminar dan Wisata Sejarah:  Benteng Putri Hijau Delitua. Februari 2009 Ery Soedewo, M.Hum

Dr. EE. McKinnon

Erond L. Damanik, M.Si

Adi Suryana, S.Si

200 orang
3 Seminar Nasional: Etnis Minoritas India Tamil di Sumatra Utara Juni 2009 T. Lukman Sinar, SH

Julius Raja, SE

Zulkifli Rangkuti, MA

150 orang
4 Seminar dan Diskusi Ilmiah: Utusan Damai di kemelut Perang Juli 2007 Dr. JR. Hutauruk

Prof. Dr. Uli Kozok

Limantina Sihaloho

200 orang
5 Penulisan dan Penyusunan Buku: Data Base masyarakat dan kebudayaan Sumatra Utara Maret-Mei 2009 Pussis-Unimed Lap Kegiatan
6 Penelitian dan Penyusunan buku: Apa dan Siapa 500 Tokoh, Pejuang dan Pahlawan Sumatra Utara Juni-Juli 2009 Pussis-Unimed Lap kegiatan
7 Peluncuran buku: Apa dan Siapa 500 Tokoh, Pejuang dan Pahlawan Sumatra Utara November 2009 Pussis-Uniemd Lap Kegiatan
8 Penelitian dan ekskavasi:  Situs Benteng Putri Hijau Delitua April 2009 Kerjasama Pussis-Unimed dan Dinas kebudayaan dan pariwisata Deli Serdang
9 Seminar dan Pameran: Pangan dan Peradaban Mei 2009 Kerjasama Pussis-Unimed, Asosiasi Museum Indonesia dan Kompas
10 Ekspedisi Sejarah: Situs Teluk Aru dan Pulau Kampai April-Mei 2009 Edward McKinnon dan team Pussis-Unimed, Balar Medan
11 Survei Sejarah:Nisan Islam Kota Rentang Hamparan Perak Mei 2009 Prof. Mike Fener (Australia), Edward McKinnon (inggris), BALAR Medan dan Pussis Unimed.

Disusun dan dikerjakan oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan