REFLEKSI HARI ANTINARKOBA SEDUNIA (26 JUNI 2010)

REFLEKSI HARI ANTINARKOBA SEDUNIA

(26 JUNI 2010)

Oleh :
Drs. Sobirin, SH, M.Si,
Mahasiswa S-3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Medan
dan Bekas Pengurus Badan Narkotika Provsu


A. Belajar dari Sejarah

Pada masa lalu, salah satu cara penjajah untuk melemahkan daya juang bangsa ini agar tidak memberontak ialah memanfaatkan narkoba atau lebih dikenal opium (dalam hal ini candu). Menurut James R. Rush dalam bukunya Opium to Java, pada tahun 1677, VOC manandatangani perjanjian dengan Raja Mataram Amangkurat II yang isinya pemberian monopoli bagi VOC untuk mengimpor opium ke wilayah Mataram serta monopoli untuk mengedarkannya. Sejak saat itu, banyak masyarakat Mataram kecanduan berat pada opium. Anehnya, hanya sedikit di antara pejabat atau warga Belanda yang ”nyandu”. Misalnya, menurut laporan tahunan Departemen van Landbouw, Nijverheid en Handel (Departemen Perkebunan, Industri, dan Perdagangan) pada tahun 1929, tidak ada satu pun orang Eropa di Kota Surabaya yang mengisap opium. Sedangkan penduduk pribumi yang mengisap opium sekitar 2.205 orang dan penduduk Tionghoa 1.369 orang.

Hari Antimadat atau Antinarkoba internasional ditetapkan PBB sejak tanggal 26 Juni 1987 sekaligus sebagai warning (peringatan) bahwa narkoba tidak bisa disepelekan begitu saja. Sebab, narkoba berpotensi kuat menghancurkan bangsa dan peradaban masyarakat. Untuk itu, ajakan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyalakan lampu mobil atau motor pada Hari Antinarkoba, misalnya, membutuhkan respons yang lebih sigap, atau lebih daripada sekadar seremoni belaka. Ajakan menyalakan lampu kendaraan atau gerakan simbolis yang lain harus dimaknai bahwa kita memang tengah menghadapi bahaya besar. Maka, kita perlu tetap menerapkan siaga satu dalam setiap keadaan, terkait narkoba. Sayang, ajakan itu dalam beberapa tahun terakhir tampak tidak direspons dengan antusias.

B. Belanja dan Pengguna Narkoba Makin Meningkat.

Sikap tidak antusias atau responsif jelas memudahkan para penjahat narkoba untuk beraksi. Tidak heran, negeri ini akhirnya dikenal sebagai surga bagi para penjahat narkoba meskipun, dampaknya menjadi neraka bagi para korban dan keluarganya. Bayangkan, tiap hari ada 40 orang mati sia-sia karena mengonsumsi narkoba dan kebanyakan adalah usia muda atau produktif. Hingga tahun 2008, jumlah pecandu narkoba di Indonesia sudah 3,2 juta jiwa. Jika tiap hari seorang menghabiskan Rp 300.000, uang belanja narkoba maka jumlah biaya yang dikeluarkan  mencapai Rp 960 miliar per hari (BNN, 2008).

Makin tinggi omzet dan banyaknya korban narkoba jelas dipicu oleh banyak faktor. Salah satu di antaranya adalah lemahnya penegakan hukum, meskipun sudah ada UU Psikotropika. Seperti diketahui, kita sudah memiliki UU Nomor 8/1996 tentang Pengesahan Convention on Psychotropic Substances 1971 (Konvensi Psikotropika 1971). Kemudian, UU itu disempurnakan menjadi UU Nomor 5/1997 tentang Psikotropika. Banyak kalangan menilai, UU itu mandul atau banci karena, misalnya, hukuman untuk pembawa satu butir ineks sama dengan membawa seribu ineks. Jadi, bukan salah hakim yang memutuskan hukuman terlalu ringan, tapi undang-undangnya yang memang tidak menimbulkan efek jera. Memang, hukuman mati sudah dicantumkan dalam UU No 22 Tahun 1997, tetapi, perumusannya sangat hati-hati sehingga ujung-ujungnya para pelaku utama di balik bisnis narkoba jarang dieksekusi mati. Seharusnya hukum negeri ini berani mencontoh hukum di Tiongkok, yang berani menghukum mati para bandar narkoba di hadapan umum dengan harapan menimbulkan efek jera. Jika hukum kita hanya menjadi ”macan kertas”, kedepan jelas akan banyak anak-anak bangsa menjadi korban narkoba. Negeri kita pun bisa diam-diam hancur dari dalam karena banyak warga menjadi korban narkoba.

Jumlah pengguna narkoba suntikan di Indonesia cenderung meningkat.  Indonesia ternyata telah merupakan salah satu negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara yang jumlah pengguna narkoba suntikannya telah melampaui 100.000 orang selain Banglades, India, Iran, Pakistan, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. Pengguna narkoba suntikan di Indonesia pada mulanya hanya terdapat di kota besar, tetapi sekarang juga sudah didapati di kota-kota kecil di seluruh Indonesia. Bahkan, sejak tiga tahun terakhir ini kasus HIV/AIDS baru yang berobat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo 65 persen berasal dari kalangan pengguna narkoba suntikan. Sebagain besar adalah remaja yang berumur antara 15 sampai 25 tahun.

Kecenderungan peningkatan pengguna narkoba suntikan ini rupanya terjadi juga di seluruh dunia. Pada akhir tahun 2003 diperkirakan terdapat 13,2 juta pengguna narkoba suntikan di dunia. Sekitar 22 persen di antaranya hidup di negara maju, sedangkan sisanya berada di negara yang sedang berkembang atau sedang mengalami transisi. Di Eropa Barat terdapat sekitar 1 juta sampai 1,4 juta pengguna narkoba suntikan (9,41 persen), sedangkan di Eropa Timur dan Asia Tengah mencapai 2,3 sampai 4,1 juta (24,18 persen). Di Asia Selatan dan Asia Tenggara jumlahnya jauh lebih banyak lagi, yaitu mencapai 5,3 juta (25,36 persen). Sementara di Asia Timur dan Pasifik empat juta orang (17,66 persen), Afrika Utara dan Timur Tengah 0,6 juta orang, Amerika Latin 1,3 juta, Amerika Utara 1,4 juta, Australia dan Selandia Baru sekitar 298.000 orang.

Kekhawatiran terhadap peningkatan jumlah pengguna narkoba suntikan di dunia terungkap pada pertemuan WHO di Lisabon 13-15 Juni 2005 yang lalu. Pada pertemuan ini negara seperti Rusia, Uzbekistan, Portugal, dan beberapa negara lain mengungkapkan pengalaman mereka dalam menanggulangi permasalahan penggunaan narkoba suntikan ini, terutama dari segi intervensi medik. Pengalaman tersebut penting bagi kita untuk menyempurnakan langkah dalam upaya penanggulangan narkoba di Tanah Air. Berdasarkan data BNN diketahui bahwa jumlah tindak pidana narkoba yang diungkap terus meningkat dari 17.355 kasus pada tahun 2006 menjadi 22.630 kasus. Jumlah pelaku tindak pidana narkoba juga meningkat dari 31.635 orang menjadi 36.169 orang. Sedangkan jumlah barang bukti juga meningkat seperti ganja naik 79 persen, heroin 23 persen, psikotropika ekstasi tablet 156 persen.

Sedangkan data dari Komisi Penanggulangan AIDS dan Narkoba Daerah (KPAND) Sumatera Utara  pada tahun 2005 diperoleh data bahwa  berdasarkan estimasi populasi rawan 2005, adapun jumlah pengguna narkotik suntik di Sumut meningkat menjadi 5.200 orang dan diketahui bahwa 80% (4.160) diantaranya terjangkit HIV/AIDS dari 7.800 PSK yang tersebar di seluruh Sumatra Utara. Dari jumlah tersebut diketahui bahwa 14 orang diantaranya positif mengidap penyakit HIV/AIDS.

C. Ketergantungan narkoba

Penggunaan narkoba dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan terhadap narkoba ternyata tidak mudah diatasi. Meski cukup banyak remaja yang berjuang untuk keluar dari ketergantungan narkoba, acap kali mereka jatuh kembali. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan program substitusi obat dengan menggunakan metadon. Diharapkan dengan pemberian metadon ini penggunaan narkoba dapat dikurangi atau dihentikan. Penggunaan narkoba suntikan amat berisiko menularkan penyakit Hepatitis C dan HIV.

Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo mendapatkan angka kekerapan Hepatitis C di kalangan pengguna narkoba suntikan mencapai 77 persen. Sedangkan kekerapan HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia berkisar antara 60 persen sampai 90 persen. Dengan demikian, remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan berisiko tertular Hepatitis C dan HIV akibat penggunaan jarum suntik bersama. Selain itu jarum yang digunakan untuk menggunakan narkoba biasanya tidak steril sehingga juga dapat menimbulkan infeksi paru dan jantung (endokarditis).

Obat Antiretroviral (ARV) telah mengubah perjalanan penyakit HIV/AIDS. Sebelum era ARV, mereka yang terinfeksi HIV setelah lima sampai delapan tahun akan masuk ke stadium AIDS. Sedangkan mereka yang telah berada dalam stadium AIDS biasanya akan meninggal setelah enam bulan sampai satu tahun. Berkat ARV dewasa ini banyak orang yang terinfeksi HIV dapat tetap produktif.

Mungkinkah manfaat obat ARV juga akan dapat dinikmati oleh remaja pengguna narkoba suntikan yang terinfeksi HIV?. WHO menegaskan bahwa riwayat penggunaan narkoba suntikan tidak menjadi halangan untuk mengakses obat ARV. Dengan persiapan yang baik serta upaya dukungan yang memadai, hasil terapi ARV pada pengguna narkoba suntikan akan sama baiknya dengan yang bukan pengguna narkoba. Layanan metadon dapat mendukung kepatuhan berobat karena itu layanan ini dapat diperbanyak di negara yang mempunyai masalah narkoba suntikan. Di Indonesia layanan metadon baru terbatas di Jakarta dan Bali dan layanan tersebut di kota-kota tadi masih sedikit. Rusia mempunyai layanan AIDS dan layanan narkoba secara terpisah, tetapi dengan kerja sama yang baik kedua layanan tersebut mampu menyediakan layanan yang terpadu

Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba di Indonesia sekitar 3,2 juta orang, atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk negeri ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.000 orang menggunakan narkotika dengan alat bantu berupa jarum suntik, dan 60 persennya terjangkit HIV/AIDS, serta sekitar 15.000 orang meninggal setiap tahun karena menggunakan napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) lain. Pada tahun 2006, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa mencapai 1,1 juta orang atau hampir 30 persen dari total pengguna narkoba yang ada di Indonesia.

Cerita ini tentu bisa menjadi perumpamaan orang yang jadi penyalahguna narkoba. Jadi, narkoba itu bak belati yang berlumur darah beku dan serigala yang mati lemas adalah pelaku penyalahgunanya. Akhirnya, penulis hanya bisa berharap agar institusi keluarga dan agama berdiri di garda depan pemberantasan narkoba. Jika nilai-nilai agama dan kecintaan kepada keluarga terpatri dalam hidup, dan bahwa hidup ini sekadar pinjaman dari Tuhan sehingga tak layak disia-siakan, masih ada harapan melawan narkoba. Kalau perlu, segenap anak bangsa berkoalisi setiap saat untuk melawan narkoba. Say No to Drugs, Say Yes to Life.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pussis-Unimed
Juni 2010

1 Komentar

  1. diatas ditulis korban narkoba, siapa yg dimaksud korban narkoba itu?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s