The Historical value and Meaning KILANG MINYAK TELAGA SAID PANGKALAN BRANDAN

The Historical value and Meaning

KILANG MINYAK TELAGA SAID PANGKALAN BRANDAN

Oleh:

Erond L. Damanik, M.Si

Pussis-Unimed/2010

Penemuan sumur minyak pertama di Nusantara ini berjarak sekitar 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia pada 27 Agustus 1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania, yang diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company.

(Mona Lohanda, Sejarahwan, Peneliti bekerja di ANRI Jakarta)


A. Pengantar

Bila merujuk sejarah pertambangan, khususnya tambang minyak di Indonesia maka nama Aeilko Janszoon Zijlker tidak bisa dilupakan begitu saja dan Telaga Said-pun tidak mungkin dihiraukan sebagai daerah tambang minyak pertama di Indonesia. Aeliko Janszoon Zijlker adalah ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij. Bermula pada tahun 1883, pada saat Sultan Musa, sultan Langkat pada saat itu memberi ijin konsesi kepada Aeilko J. Zijlker untuk mengusahakan pertambangan minyak di daerah Telaga Said dekat Pangkalan Brandan kabupaten Langkat Sumatra Utara. Ijin konsesi diperoleh pada diperoleh pada 8 Agustus 1883.

Persisnya sumur minyak pertama di Indonesia itu berada di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, sekitar 110 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara. Nama ‘Said’ diambil dari nama petugas pengeboran yang hilang sewaktu melakukan pekerjaannya membangun sumur minyak pertama. Kilang-kilang minyak tersebut merupakan Jejak Sumur Minyak Pertama di Indonesia (Mona Lohanda, Kompas.com, 2008).

Kilang Pangkalan Brandan merupakan salah satu dari sembilan kilang minyak yang ada di Indonesia, delapan lainnya adalah, Dumai, Sungai Pakning, Musi (Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan Kasim (Papua). Ketika dibangun oleh N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun 1891 dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak Pangkalan Brandan, tidak sebesar sekarang ini. Waktu itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil. Kilang yang berada di Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari, dengan hasil produksi berupa gas LPG (Liquid Petroleum Gas) sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak.

Sebelumnya, memang terdapat pertambangan minyak di Indonesia, tepatnya pada tahun 1871 yang dikenal sebagai usaha pertama pengeboran minyak di Indonesia, yakni di Cirebon. Namun, karena hasilnya tidak maksimal, akhirnya tambang tersebutpun ditutup. Kemudian pada tahun 1885, produksi minyak Telaga Said dikendalikan oleh pemerintah Hindia Belanda yakni ‘Royal Dutch’ dan selanjutnya pada tahun 1890 di bentuk ‘Koninklijke’ yakni semacam persekutuan untuk menjalankan usaha tambang minyak di Sumatra Utara. Pada tahun 1892, pengusaha Royal Dutch mulai membangun kilang-kilang minyak di Pangkalan Brandan untuk selanjutnya menjadi Kilang Minyak Pertama di Indonesia.   Selanjutnya, pada tahun 1901, saluran pipa minyak yang menghubungkan Perlak (Aceh) dan Pangkalan Brandan telah selesai dibangun.

B. Rontok dan dibangun kembali

Pecahnya perang di Asia Tenggara pada tahun 1941 berdampak pada penghancuran dan penutupan sumur minyak bumi termasuk di Pangkalan Brandan.  Kemudian, pada tahun 1944 tentara pendudukan Jepang berusaha membangun kembali instalasi minyak yang hancur dan pada tahun 1945, lapangan minyak sekitar Pangkalan Brandan (ex konsesi BPM) diserahkan pihak Jepang atas nama sekutu kepada Bangsa Indonesia yang diberi nama PT. MRI (Perusahaan Terbatas Minyak Republik Indonesia).

Selanjutnya, pada tahun 1951 PTMRI diakui sah oleh pemerintah RI dan diganti menjadi P.N PERMIGAN (Perusahaan Negara Minyak dan Gas Nasional). Kemudian, pada tahun 1954 Pemerintah RI mengangkat koordinator untuk Tambang Minyak Sumatra Utara  dan PTMNRI dirubah menjadi TMSU (Tambang Minyak Sumatra Utara) dan selanjutnya pada tahun 1957, atas petunjuk dari AH. Nasution (KSAD) mengangkat Kolonel Ibnu Sutowo untuk membentuk sebuah perusahaan minyak yang berstatus hukum. Pada tanggal 10 Desember 1957 P.T. PERMINA (Perusahan Minyak Nasional) didirikan dan disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. J.A. 5/32/11 tanggal 3 April 1958. Pada akhirnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1968 tanggal 20 Agustus 1968 PN PERMINA dan PN PERTAMIN dilebur menjadi satu Perusahaan Negara dengan nama PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional, disingkat PN Pertamina.

Untuk mendukung tambang minyak Telaga Said Pangkalan Brandan sekaligus bangkitnya Sumatra Timur sebagai ‘Dollarland’ dan Medan sebagai kota ‘Paris van Sumatra’ maka pada tahun 1883, oleh JT Cremer, komisaris NV Deli Matschapaij dirintis jalur Kereta Api (Deli Spoorweg Matschapaij) di Sumatra Utara yang menghubungkan Medan-Belawan. Demikian pula Pangkalan Brandan-Belawan dan beberapa kawasan perkebunan di Medan seperti Pancur Batu, Selesai, Kuala, Binjai, Galang, Tebing Tinggi, Siantar, Kisaran hingga Rantau Prapat.  Pada tahun 1940 seluruh jalur kereta api di Sumatra Timur terbentang yang menghubungkan  Deli Spoorweg (Kereta Api Deli) dengan Acehstaat Spoorweg (Kereta Api Negara Aceh).  Pembangunan itu sendiri direncanakan hingga menghubungkan Aceh-Palembang sejauh 1. 400 Km yang dikenal dengan ‘Kereta Api Trans Sumatra’

Di daerah Tambang Minyak ini terdapat tugu peringatan 100 tahun perminyakan Indonesia. Tugu itu sendiri berbentuk semi silinder dengan tinggi sekitar dua meter, yang dibalut dengan marmer hitam. Pada bagian tengah tugu, di bawah logo Pertamina, terdapat tulisan, “Telaga Tunggal 1885 -1985”. Prasasti yang terdapat di sebelahnya bertuliskan, ’Tugu Peringatan 100 Tahun Industri Perminyakan Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 Oktober 1985 oleh Pimpinan Umum Daerah Pertamina Sumatera Bagian Utara.

Pada satu sisi, tugu minyak ini menjadi pertanda sumur minyak pertama sudah semakin dekat. Lokasi sumur minyak pertama itu sendiri dapat ditemui setelah berjalan kaki sekitar 200 meter dari lokasi tempat mobil dapat diparkirkan. Dikawasan tersebut terdapat sebuah plang yang menjelaskan tentang riwayat singkat sumur pertama tersebut.

“Di sini telah dibor sumur penghasil pertama di Indonesia. Nama Sumur Telaga Tunggal. Ditajak 15 Juni 1885. Kedalaman 121 meter. Hasil minyak 180 barrel perhari dari lima lapisan batu pasir dengan formasi baong. Lapangan ditinggalkan tahun 1934.”

Dekat plang itu ditemukan ujung pipa besi bekas aliran minyak. Pipa itu terselubung semak belukar, pertanda areal ini memang tidak dirawat sebagaimana mestinya. Sebuah gundukan tanah terlihat di dekatnya. Gundukan itu diyakini sebagai kuburan Said, yakni petugas pengeboran yang hilang sewaktu melakukan pekerjaannya membangun sumur minyak pertama. Kuburan itu dikeramatkan, dan beberapa warga mengaku pernah melihat rambut Said di sekitar sumur itu.

Sejalan dengan uraian ini, dapat diketahui bahwa Kilang Minyak Telaga Said Pangkalan Brandan merupakan tambang minyak pertama di Indonesia dan tambang minyak terbesar kedua di dunia setelah di Amerika. Kilang tersebut juga sekaligus memiliki aspek historis terhadap lahirnya Perusahaan Tambang Minyak Nasional (Pertamina) di Indonesia. Namun demikian, sejalan dengan merosotnya cadangan minyak didaerah ini, kawasan inipun semakin termarginalkan. Mona Lohanda (Kompas. com) pada saat melihat tugu peringatan 100 tahun tambang minyak di Pangkalan Brandan melaporkan:

”Pada satu sisi, tugu minyak ini menjadi pertanda sumur minyak pertama sudah semakin dekat. Tetapi pada sisi lain, juga menandakan, akan segera berakhirnya jalan beraspal hotmix. Sekitar 20 menit berikutnya, memasuki tikungan yang ke kiri, jalan yang akan dilalui sudah tidak beraspal lagi karena telah tergerus. Debu beterbangan saat mobil melintas. Hujan sehari sebelumnya membentuk kolam-kolam kecil di tengah jalan”.

Dalam buku bertitel “Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Berbicara” yang ditulis oleh Ramadhan KH, tahun 2008 kurang menuliskan aspek historis dari sumur-sumur minyak di Pangkalan Brandan itu, tetapi cenderung menonjolkan dan pembelaan dirinya sebagai pionir yang memajukan PT. Pertamina.

Menurut Lohanda (Kompas.com 2008), nilai sejarah kilang ini terangkum dalam dua aspek. Aspek pertama adalah memberi andil bagi catatan sejarah perminyakan Indonesia, sebab minyak pertama yang diekspor Indonesia bersumber dari kilang ini. Momentum itu terjadi pada 10 Desember 1957, yang sekarang diperingati sebagai hari lahir Pertamina, saat perjanjian ekspor ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo dengan Harold Hutton yang bertindak atas nama perusahaannya Refining Associates of Canada (Refican). Nilai kontraknya US$ 30.000. Setahun setelah penandatanganan kontrak, eskpor dilakukan menuju Jepang dengan menggunakan kapal tanki Shozui Maru. Kapal berangkat dari Pangkalan Susu, Langkat, yang merupakan pelabuhan pengekspor minyak tertua di Indonesia. Pelabuhan ini dibangun Belanda pada tahun 1898.

Sedangkan aspek kedua adalah nilai perjuangan yang ditorehkan putra bangsa melalui kilang ini. Kisah heroiknya berkaitan dengan Agresi Militer I Belanda 21 pada Juli 1947, yakni aksi bumi hangus kilang. Aksi bumi hangus dilaksanakan sebelum Belanda tiba di Pelabuhan Pangkalan Susu, yakni pada 13 Agustus 1947. Maksudnya, agar Belanda tidak bisa menguasai kilang minyak itu seperti dulu. Selanjutnya, aksi bumi hangus kedua berlangsung menjelang Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948. Tower bekas aksi bumi hangus itu masih dapat dilihat sampai sekarang dan  nilai histrois yang terkandung dalam aksi bumi hangus ini, terus diperingati sampai sekarang.

C. Arti Penting

Kilang minyak Telaga Said Pangkalan Brandan Kabupaten Langkat adalah ikon penanda tambang minyak pertama di Indonesia. Kilang itu juga menandakan eksplorasi sumberdaya minyak bumi dan gas terbesar kedua di dunia. Kilang itu juga menandai dibangunnya jalur kereta api Pangkalan Brandan-Belawan serta Aceh. Demikian pula bahwa Kilang itu menjadi awal dibangunya dermaga Pangkalan Susu, dimana kapal-kapal tanker mancanegara pernah berlabuh. Selanjutnya, kilang minyak tersebut menyiratkan peristiwa heroik masyarakat Brandan yang dikenal dengan ‘Bumi Hangus’.

Kilang tersebut juga mendorong lahirnya badan resmi perminyakan dan gas bumi nasional yang dikenal dengan PT. Pertamina. Sumur-sumur minyak yang berusia lebih 100 tahun tersebut menjadi ingatan kolektif masyarakat terhadap kekayaan alam negeri Brandan. Pipa-pipa saluran minyak Telaga Said mengingatkan kita pada  aspek historis kawasan itu dalam sejarah perminyakan di tanah air.

Oleh karena itu, kilang minyak Telaga Said memiliki uraian dan sederetan sejarah panjang. Kilang tersebut, telah menorehkan sejumlah prestasi, nilai, makna dan arti pentingya dalam sejarah nasional Indonesia. Oleh karenanya, Kilang Minyak Telaga Said, patut mendapat apresiasi yang tinggi pada masyarakat kita terutama  dalam Sejarah Sumatra Utara.

Diposting kembali oleh
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed/2010

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s