NILAI SEJARAH KILANG PANGKALAN BRANDAN

NILAI SEJARAH

KILANG PANGKALAN BRANDAN

Oleh:
Mona Lohanda
(Sejarawan, Peneliti, Bekerja di Arsip Nasional RI)

Membicarakan Sumur Minyak Telaga I tidak bisa dengan Kilang Minyak Pangkalan Brandan. Keduanya saling berkaitan. Catatan sejarah perjuangan bangsa juga melekat di sini.

Kilang Pangkalan Brandan yang dikelola Unit Pengolahan (UP) I Pertamina Brandan, merupakan salah satu dari sembilan kilang minyak yang ada di Indonesia, delapan lainnya adalah, Dumai, Sungai Pakning, Musi (Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan Kasim (Papua). Ketika dibangun N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun 1891 dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak Pangkalan Brandan, tentu saja tidak sebesar sekarang ini. Waktu itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil.

Bandingkan dengan kondisi sekarang, kilang yang berada di Kecamatan Babalan Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari, dengan hasil produksi berupa gas elpiji sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak. Nilai sejarah kilang ini terangkum dalam dua aspek. Aspek pertama adalah memberi andil bagi catatan sejarah perminyakan Indonesia, sebab minyak pertama yang diekspor Indonesia bersumber dari kilang ini.

Momentum itu terjadi pada 10 Desember 1957, yang sekarang diperingati sebagai hari lahir Pertamina, saat perjanjian ekspor ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo dengan Harold Hutton yang bertindak atas nama perusahaannya Refining Associates of Canada (Refican). Nilai kontraknya US$ 30.000.

Setahun setelah penandatanganan kontrak, eskpor dilakukan menuju Jepang dengan menggunakan kapal tanki Shozui Maru. Kapal berangkat dari Pangkalan Susu, Langkat, yang merupakan pelabuhan pengekspor minyak tertua di Indonesia. Pelabuhan ini dibangun Belanda pada tahun 1898.

Bumi Hangus

Sedangkan aspek kedua adalah nilai perjuangan yang ditorehkan putra bangsa melalui kilang ini. Kisah heroiknya berkaitan dengan Agresi Militer I Belanda 21 pada Juli 1947, yakni aksi bumi hangus kilang. Aksi bumi hangus dilaksanakan sebelum Belanda tiba di Pelabuhan Pangkalan Susu, yakni pada 13 Agustus 1947. Maksudnya, agar Belanda tidak bisa lagi menguasai kilang minyak itu seperti dulu. Selanjutnya, aksi bumi hangus kedua berlangsung menjelang Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948. Tower bekas aksi bumi hangus itu masih dapat dilihat sampai sekarang. Nilai histrois yang terkandung dalam aksi bumi hangus ini, terus diperingati sampai sekarang. Pada 13 Agustus 2004 lalu, upacara kecil dilaksanakan di Lapangan Petrolia UP I Pertamina Brandan, yang kemudian disekaliguskan dengan dekralasi pembentukan Kabupaten Teluk Aru, sebagai pemekaran Kabupaten Langkat.

Sebenarnya Belanda yang pertama sekali mempelopori aksi bumi hangus kilang Brandan. Karena menderita kalah perang, tentara Belanda membakar habis kilang ini pada 9 Maret 1942 sebelum penyerbuan tentara Jepang ke Tanah Air. Aksi serupa juga terjadi pada kilang minyak lainnya di Indonesia. Namun, Jepang ternyata bisa memperbaiki kilang-kilang tersebut dalam tempo singkat. Bahkan ahli-ahli teknik konstruksi perminyakan yang tergabung dalam Nampo Nen Rioso Butai, unit dalam angkatan darat Jepang, mampu memproduksi kembali minyak mentah, bahkan mendapatkan sumur-sumur produksi baru.

Catatan yang ada menunjukkan, produksi minyak bumi Indonesia tahun 1943, saat Jepang berkuasa, hampir mencapai 50 juta barel. Sedangkan produksi sebelumnya pada 1940 adalah 65 juta barel. Hasil kilang pada 1943 sebesar 28 juta barel. Sedangkan pada tahun 1940 mencapai 64 juta barel. Kembali ke kilang Brandan, seiring dengan kekalahan Jepang, kilang juga kembali mengalami kehancuran. Puluhan pesawat pembom Mustang milik sekutu melancarkan serangan untuk melumpuhkan basis logistik dan minyak yang telah dikuasai Jepang. Kejadian itu berlangsung pada 4 Januari 1945.

Jejak Sumur Minyak Pertama di Indonesia

Sebuah pertempuran hebat berlangsung di laut lepas antara Semenanjung Melayu dan pantai Aceh sekitar abad enam belas. Saling berhadapan, antara pejuang pejuang Aceh dan armada Portugis pimpinan Laksamana Alfonso D’Albuquerque yang berencana mendarat ke Aceh dalam rangka ekspansi pencarian rempah-rempah. Bola-bola api berterbangan dari kapal-kapal milik pejuang Aceh. Api pun membakar dua kapal Portugis, dan tenggelam!

Bola-bola api yang menjadi senjata utama rakyat Aceh dalam peperangan di laut tersebut, adalah gumpalan kain yang telah dicelupkan ke dalam cairan minyak bumi. Setelah dinyalakan, lantas dilentingkan ke arah kapal Portugis itu. Sebuah catatan lain menyebutkan, pada tahun 1972 telah datang utusan kerajaan Sriwijaya ke negeri Cina. Utusan Sriwijaya itu membawa beragam cinderamata sebagai tanda persahabatan, termasuk juga membawa berguci-guci minyak bumi yang khusus dihadiahkan untuk Kaisar Cina.

Oleh orang Cina dimanfaatkan sebagai obat penyakit kulit dan rematik. Begitu juga dengan nenek moyang kita, di samping memakai cairan itu sebagai bahan bakar lampu penerang, pun memakainya untuk obat terhadap gigitan serangga, penyakit kulit dan beragam penyakit lain.

Kisah heroik pejuang Aceh dan muhibah utusan Sriwijaya tadi, merupakan kisah tentang awal mula diketahui adanya minyak bumi di Indonesia. Tetapi sejarah perminyakan di Indonesia, tidak terjadi Aceh atau Sumatera Selatan tempat Kerajaan Sriwijaya berada. Justru Sumatera Utara yang beruntung mencatat sejarah sebagai daerah tempat sumur minyak pertama ditemukan.

Persisnya sumur minyak pertama itu berada di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, sekitar 110 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara. Desa Telaga Said sendiri merupakan sebuah desa kecil yang, berada dalam areal perkebunan kelapa sawit. Pekerjaan utama masyarakatnya adalah buruh perkebunan. Dengan tingkat penghasilan yang rendah, maka dapat dikatakan taraf penghidupan ekonomi di desa ini rendah.

Tugu 100 Tahun

Perjalanan menuju lokasi sumur minyak pertama di Desa Telaga Said, cukup melelahkan. Dari Medan butuh waktu dari Medan menuju Pangkalan Brandan, salah satu kecamatan utama Kabupaten Langkat. Dari Brandan ini, jarak perjalanan sekitar 20 kilometer lagi menuju Desa Telaga Said, melewati perkebunan sawit dan karet. Memasuki jalanan desa, kesunyian mulai terasa. Kendaraan jarang berlalu-lalang. Lantas pada sebuah pertigaan, sebuah tugu akan terlihat agak mencolok di sebelah kiri jalan. Tugu itu adalah peringatan 100 tahun perminyakan Indonesia.

Tugu itu sendiri berbentuk semi silinder dengan tinggi sekitar dua meter, yang dibalut dengan marmer hitam. Pada bagian tengah tugu, di bawah logo Pertamina, terdapat tulisan, “Telaga Tunggal 1885 -1985”. Prasasti yang terdapat di sebelahnya bertuliskan, Tugu Peringatan 100 Th Industri Perminyakan Indonesia. Diresmikan Tgl 4 Oktober 1985, oleh Ir Suyetno Patmosukismo, Pimpinan Umum Daerah Pertamina Sumatera Bagian Utara.

Pada satu sisi, tugu minyak ini menjadi pertanda sumur minyak pertama sudah semakin dekat. Tetapi pada sisi lain, juga menandakan, akan segera berakhirnya jalan beraspal hotmix. Sekitar 20 menit berikutnya, memasuki tikungan yang ke kiri, jalan yang akan dilalui sudah tidak beraspal lagi karena telah tergerus. Debu beterbangan saat mobil melintas. Hujan sehari sebelumnya membentuk kolam-kolam kecil di tengah jalan.

Lokasi sumur minyak pertama itu sendiri dapat ditemui setelah berjalan kaki sekitar 200 meter dari lokasi tempat mobil dapat diparkirkan. Berjalan agak menanjak sedikit, selanjutnya akan didapati sebuah plang yang menjelaskan tentang riwayat singkat sumur pertama tersebut.

“Di sini telah dibor sumur penghasil pertama di Indonesia. Nama Sumur Telaga Tunggal. Ditajak 15 Juni 1885. Kedalaman 121 meter. Hasil minyak 180 barrel perhari dari lima lapisan batu pasir dengan formasi baong. Lapangan ditinggalkan tahun 1934.”

Dekat plang itu akan ditemukan ujung poipa besi bekas aliran minyak. Pipa itu terselebung semak belukar, pertanda areal ini memang tidak dirawat sebagaimana mestinya. Sebuah gundukan tanah terlihat di dekatnya. Gundukan itu diyakini sebagai kuburan Said, yakni petugas pengeboran yang hilang sewaktu melakukan pekerjaannya membangun sumur minyak pertama. Kuburan itu dikeramatkan, dan beberapa warga mengaku pernah melihat rambut Said di sekitar sumur itu.

Andil Aeliko Janszoon Zijlker

Penemu sumur minyak pertama ini adalah seorang warga Belanda bernama Aeliko Janszoon Zijlker. Dia ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij, perusahaan perkebunan yang ada di daerah ini pada masa itu. Penemuan itu sendiri merupakan buah perjalanan waktu dan ketabahan yang mengagumkan. Prosesnya dimulai setelah Zijlker mengetahui adanya kemungkinan kandungan minyak di daerah tersebut.

Lantas dia menghubungi sejumlah rekannya di Belanda untuk mengumpulkan dana guna melakukan eksplorasi minyak di Langkat. Begitu dana diperoleh, perizinan pun diurus. Persetujuan konsesi dari Sultan Langkat masa itu, Sultan Musa, diperoleh pada 8 Agustus 1883.

Tak membuang waktu lebih lama, eksplorasi pertama pun segera dilakukan Zijlker. Tetapi bukan di tempat sumur minyak pertama itu, melainkan di daerah yang belakangan disebut sebagai sumur Telaga Tiga. Memang dari proses pengeboran di Telaga Tiga diperoleh minyak mentah (crude oil), tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Hingga tanggal 17 November 1884, setelah pengeboran berlangsung sekitar dua bulan, minyak yang diperoleh hanya sekitar 200 liter. Semburan gas yang cukup tinggi dari sumur Telaga Tiga, membuyarkan harapan untuk mendapatkan minyak yang banyak.

Namun Zijlker dan kawan-kawan tidak berhenti sampai di situ. Mereka kemudian mengalihkan kegiatannya ke daerah konsesinya yang berada di sebelah timur. Untungnya memang konsesi yang diberikan Sultan Musa cukup luas, mencakup wilayah pesisir Sei Lepan, Bukit Sentang sampai ke Bukit Tinggi, Pangkalan Brandan, sehingga bisa mencari lebih banyak titik pengeboran. Pilihan kedua jatuh ke Desa Telaga Said. Di lokasi kedua ini, pengeboran mengalami sedikit kesulitan karena struktur tanah lebih keras jika dibandingkan dengan struktur tanah di Telaga Tiga. Usaha memupus rintangan struktur tanah yang keras itu, akhirnya membuahkan hasil. Saat pengeboran mencapai kedalaman 22 meter, berhasil diperoleh minyak sebanyak 1.710 liter dalam waktu 48 jam kerja. Saat mata bor menyentuh kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan sudah mencapai 86.402 liter! Jumlah itu terus bertambah hingga pada 15 Juni 1885, ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba-tiba muncul semburan kuat gas dari dalam berikut minyak mentah dan material lainnya dari perut bumi. Sumur itu kemudian dinamakan Telaga Tunggal I.

Penemuan sumur minyak pertama di Nusantara ini berjarak sekitar 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia pada 27 Agustus 1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania, yang diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company.

Bukan yang Pertama

Aeliko Janszoon Zijlker memang bukan orang pertama yang melakukan pengeboran minyak di Indonesia. Bahkan pada saat yang hampir bersamaan dengan Zijlker, seorang Belanda lainnya Kolonel Drake, juga tengah melakukan pencarian ladang minyak di Pulau Jawa, namun Zijlker mendahuluinya. Jauh sebelum itu, pada tahun 1871, seorang Belanda lainnya, Jan Reerink menjadi orang pertama yang membor bumi Nusantara untuk mencari emas hitam. kendatipun usahanya tidak berhasil. Reerink mencoba peruntungannya di Cibodas Tangat, Kecamatan Majalengka, Jawa Barat. Karena kurang pengalaman dan peralatan yang minim pemboran hanya berhasil mencapai kedalaman 33 meter. Tahun 1872 pemboran dihentikan karena banyaknya longsoran tanah.

Pemboran di lokasi kedua yang jaraknya sekitar semeter dari lubang pemboran pertama, berhasil menemukan minyak pada kedalaman mencapai 22 meter. Namun sepanjang tahun 1872 itu, mimnyak yang berhasil ditemukan tak lebih dari 6.176 kilogram saja. Usaha itu dinyatakan gagal total pada 16 Desember 1974, setelah berkali-kali gagal.

Namun kegagalan itu akhirnya dituntaskan Zijlker. Semburan minyak dari Sumur Telaga I jadi momentum pertama keberhasilan penambangan minyak di Indonesia. Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun tercatat dalam Sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia, sebagai penemu sumur minyak pertama dalam sejarah perminyakan di Indonesia yang telah berberusia 119 tahun hingga saat ini.

Telaga Tunggal I itu sendiri akhirnya akhirnya berhenti operasi pada tahun 1934 setelah habis minyaknya disedot pemerintah Belanda yang mengelola ladang minyak ini melalui perusahaan Bataafsche Petroleum Matschappij (BPM).

Perluasan Eksploitasi Ekonomi Kolonial

Pada 5 Mei 1808 Gubernur Jenderal HW Daendels mengeluarkan keputusan agar di seluruh Jawa dibuat jalan raya (dalam literatur kolonial disebut grooten postweg) sebagai bagian dari usaha mempertahankan Pulau Jawa dari serbuan Inggris. Itulah yang kita kenal dalam pelajaran sejarah di sekolah.

Menyimak pasal pertama keputusan tersebut, jelas alasan pembangunan jalan adalah kepentingan ekonomi. ”Bahwa selama musim kering harus dibangun jalan besar dari Buitenzorg (sekarang Bogor) sampai ke Karang Sambung melalui Cipanas, Cianjur, Bandung, Parakamuncang, dan Sumedang supaya ketika warga penduduk memanen kopi, bahkan juga ketika mengirim hasil panen padi, tidak lagi harus lewat jalan buruk dan sulit dilalui.”

Pengalaman menempuh jalanan yang buruk diperoleh ketika sang Gubernur Jenderal menempuh perjalanan Bogor-Semarang pada 29 April 1808, dilanjutkan pada 19-20 Juni ke wilayah Kerajaan Mataram/Yogya-Solo (Vorstenlanden), terus lewat jalur selatan ke sudut Jawa bagian timur (Java’s Oosthoek) menyusuri Sedayu-Tuban-Bangil-Pasuruan- sampai ke Surabaya. Dari Surabaya lewat jalur utara melalui Rembang-Kudus-Japara, tiba kembali di Bojong/Semarang pada 24 Juli 1808.

Pasal selanjutnya dari keputusan 5 Mei tersebut lebih bersifat pelaksanaan teknis, yang justru kemudian menjadi identitas ciri jalan pos. Misalnya, ”setiap 400 rijnlandsche roeden (sekarang kira-kira sama dengan 1,5 km) ditandai dengan tonggak batu (disebut paal), lebar jalan 2 Rijnlandsche roeden (kira-kira 7,5 meter). Ciri lain adalah poststation pada setiap 8-9 kilometer yang oleh warga dikenal sebagai pesanggrahan, semacam tempat beristirahat sementara atau tempat penggantian kuda pos. Selain kepentingan ekonomi, ada pula keperluan terkait dengan pembaharuan administrasi yang dilancarkan Daendels. Misalnya, pembagian wilayah Jawa dalam sembilan prefectur, mengikuti model Perancis.

Patut dicatat bahwa sistem dan model Perancis yang diterapkan Daendels di Jawa bukan semata- mata karena Daendels diangkat oleh Kaisar Louis Napoleon ketika negeri Belanda berada di bawah kekuasaan Perancis atau karena Daendels adalah seorang Patriot yang anti-Oranye. Hal itu karena yang bersangkutan adalah satu-satunya gubernur jenderal yang sama sekali tidak paham tentang situasi Asia dibandingkan dengan para pendahulunya yang umumnya tumbuh besar dan memulai karier di wilayah koloni VOC.

Pembangunan jalan pos memudahkan dan mempercepat komunikasi sehingga pengiriman berita tidak lagi memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Jalan pos menjadi sarana kontrol dalam administrasi pemerintahan, termasuk pula tournee dengan tujuan inspeksi oleh para petinggi kolonial menjadi lebih mudah tanpa perlu menunggu musim yang cocok.

Bagaimana mungkin mempertahankan tanah Jawa dari ancaman serbuan armada Inggris dengan keuangan negara yang kempis? Kepentingan ekonomi menjadi pekerjaan pokok yang pertama-tama harus dilaksanakan. Itulah alasan utama memulai jalan pos di daerah Priangan agar pengiriman hasil preangercultuur berjalan lancar sampai ke pusat kekuasaan di Batavia.

Jalan pos dibangun hampir tanpa biaya dari pemerintah kolonial. Sistem tradisional dalam membangun jalan, memperbaiki desa, membersihkan makam dimanfaatkan dan dilegalkan dengan nama herendiensten, yang sering disebut kerja rodi. Lewat herendiensten inilah jalan pos dibangun. Ada darah, nyawa, dan air mata penderitaan yang terkubur di sepanjang jalan pos. Selalu ada sumbangsih dalam pembangunan negeri ini oleh warga bangsa sendiri.

Para pekerja herendiensten sesungguhnya bukan tanpa kompensasi. Mereka mendapat bayaran berupa uang dan juga beras. Antara Sumedang-Cirebon, mereka mendapat bayaran 4 riksdalder sebulan dengan beras 4 gantang. Sementara pekerja yang bujangan bayarannya ditentukan berdasarkan konsumsi beras dan garam selama sebulan. Orang Eropa yang cacat juga dipekerjakan dengan bayaran 24 stuivers (120 sen) sehari.

Pelajaran kolonial

Jalan pos diselesaikan dalam tempo setahun lebih, dimulai Mei 1808 dan selesai pertengahan 1809. Jalan sepanjang 1.000 km itu dapat ditempuh dalam 300 jam berjalan kaki. Di samping jalan pos sebagai proyek utama, dibangun pula jalan untuk berbagai keperluan. Misalnya, jalan sepanjang pantai utara dari Batavia ke Cirebon, jalan untuk keperluan militer di jalur selatan dari Semarang ke Yogya-Solo.

Di daerah pedalaman juga dibangun jalan untuk mengangkut barang dan hasil bumi. Di samping jalan pos dibangun jalan pedati untuk warga. Atas prakarsa Daendels, terciptalah sistem jaringan jalan. Gubernur jenderal berikutnya tinggal menambah, memperluas, memperbaiki, dan memelihara jalur transportasi tersebut.

Dapat pula dicatat bahwa panjang jalan yang ditandai dengan paal (tonggak kecil dicat putih dengan garis hitam dan dibubuhi angka menunjukkan jarak) menjadi patokan ketika pemerintah akan memperbaiki jalan. Sebagai contoh, pada 1857 ditentukan bahwa pemeliharaan jalan yang dibebankan ke residensi Batavia mulai dari paal 4 (Kwitang) sampai paal 7 (Meester-Cornelis/Jatinegara) terus ke poststation yang pertama, yaitu Bidara Cina lalu ke Pulo Gadung-Bekasi sampai perbatasan dengan Karawang.

Ketika cultuurstelsel dilaksanakan, banyak rel jalan lori dibuat untuk mengangkut tebu ke berbagai pabrik pengolahan gula. Namun, pembukaan jalan kereta api pertama di Jawa justru dibangun setelah cultuurstelsel berakhir, yaitu pada 1871 dengan jalur antara Semarang dan Kedung Jati. Jika jalan pos dibangun mengandalkan tenaga herendiensten (baru dihapus tahun 1916), jalan kereta api dibangun dengan melibatkan perusahaan swasta Eropa sesuai tuntutan arus ekonomi liberal saat itu.

Pada periode bersamaan, wilayah Sumatera mulai memperoleh perhatian pemerintah kolonial. Eksploitasi hutan menumbuhkan berbagai perkebunan—terutama karet—milik swasta di wilayah Sumatera Timur. Muncullah kelas buruh yang dikenal sebagai kuli kontrak yang diboyong beramai-ramai, termasuk tenaga buruh dari daratan China.

Pertambangan juga menjadi komoditas ekspor yang baru. Jalan kereta api dibangun untuk mengirim batu bara dari Ombilin/Sawahlunto ke Pelabuhan Padang (Emmahaven); kelak diperpanjang sampai Pekanbaru. Di Sumatera Timur, jalur kereta api dibangun ketika pengeboran minyak dimulai dari Pangkalan Brandan ke Belawan Deli. Pada 1940, jalur kereta api terbentang sepanjang Sumatera Timur sebagai wilayah penghasil minyak dan karet: mulai dari Kutaraja (sekarang Banda Aceh) sampai Rantau Prapat.

Pembangunan jalur kereta api di wilayah Aceh juga bagian strategi militer dalam menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Pembukaan jalur kereta api di Sumatera Selatan didasari alasan ekonomi semata, dengan dimulainya pengeboran minyak di Prabumulih, Muara Enim, dan Martapura. Tahun 1940 jalur kereta api diperluas ke Teluk Betung dan ke arah Lubuk Linggau.

Kalimantan—sekalipun kaya hasil tambang dan hutan—tidak sempat mengalami pembangunan jalan kereta api. Begitu juga Sulawesi dan wilayah Indonesia timur. Kesalahan terbesar pemerintah kolonial adalah terlalu mementingkan dan memusatkan aktivitas di Pulau Jawa dan kemudian Sumatera pada pertengahan abad ke-19. Jika beban berat Jawa adalah akibat kebijakan kolonial, apakah Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, yang dapat menentukan pilihan sendiri untuk membangun negeri ini akankah melanjutkan kesalahan politik pemerintah kolonial?

Diposting kembali oleh
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed/2010
Dipetik dari:
KOMPAS.COM/2008.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s