KOTA CINA DALAM CATATAN SEJARAH

KOTA CINA DALAM CATATAN SEJARAH


A. Pengantar

Catatan terawal tentang keberadaan situs Kota Cina telah ada sejak tahun 1826, berkenaan dengan laporan John Anderson yang pada tahun 1823 diperintahkan Gubernur Penang, W. E. Philips untuk melakukan survei politik dan ekonomi ke Sumatera Timur bagi kepentingan Inggris. Salah satu hal penting berkenaan dengan Kotacina sebagaimana disebutkan oleh Anderson adalah adanya batu besar bertulis yang tidak dapat dibaca oleh penduduk setempat. Dalam Oudheikundig Verslag (OV) tahun 1914 keberadaan situs bersejarah ini kemudian disebut dengan Kota Cina.

Bagi generasi tua Cina yang bermigrasi dari Daratan Tiongkok ke Pulau Sumatera ratusan tahun yang lalu dan kemudian berdomisili di Medan, kawasan Kota Cina yang menyimpan banyak benda cagar budaya asal negeri itu bukanlah sesuatu yang baru. Namun, bagi  generasi sesudahnya, telebih-lebih mereka yang lahir dan besar di tengah “hiruk pikuk” pembangunan saat ini, apa dan bagaimana Kota Cina itu boleh jadi merupakan sesuatu yang asing atau baru kedengarannya.

Setidaknya gambaran ini dijumpai pada generasi sekarang yang hampir tidak mengetahui pentingnya situs Kota Cina bagi sejarah Indonesia. Kota Cina,  berada di dataran rendah yang merupakan bagian lembah Deli di wilayah pantai Timur Sumatera. Terletak di posisi 30 43’ Lintang Utara dan 980 38’ Bujur Timur yang dapat dicapai  dari Kota Medan setelah menyusuri tepi Sungai Deli sejauh 14 km ke arah Utara/Belawan,  dan kemudian menyeberangi sungai Deli sejauh 2 km ke arah Barat.  Terletak pada ketinggian sekitar 1,5 meter di atas permukaan laut (dpl) pada suatu lahan yang didominasi oleh rawa-rawa yang banyak dipengaruhi pasang surut air laut. Diyakini, kawasan ini pernah menjadi bandar internasional yang cukup sibuk antara abad ke-10 M hingga ke-14 M.

Sejumlah data arkeologis yang berhasil dihimpun melalui penelitian antara tahun 1973 hingga 1989 terhadap situs Kota Cina antara lain berupa sisa struktur bangunan keagamaan yang sekonteks dengan temuan 2 arca Buddha dan 2 arca yang bersifat Hindu, sisa-sisa aktivitas pertukangan logam, berbagai artefak seperti keramik, tembikar, manik-manik, benda-benda berbahan kaca, mata uang logam, sisa papan perahu. Berdasarkan banyaknya temuan arkeologis tersebut diperkirakan pada masa lalu situs Kota Cina berperan sebagai pelabuhan di jalur perdangangan kawasan pesisir timur Sumatera (Koestoro dkk, 2004:31).

Beberapa asumsi diajukan oleh para peneliti berkaitan dengan masa hunian dan ragam kegiatan/aktifitas masa lalu di situs Kota Cina, salah satunya adalah yang menyatakan bahwa aktivitas budaya masa lalu situs ini berlangsung pada kisaran abad ke-12 M hingga ke-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai. Pertanggalan relatif masa hunian tersebut diperoleh antara lain melalui carbon datting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Cina yang menunjukkan angka relative abad ke-12 M hingga ke-13 M (Wibisono, 1982). Pertanggalan relatif tersebut dikuatkan dengan hasil analisis terhadap temuan arca Budha yang ditemukan di Kotacina, yang ditinjau secara ikonografis menunjukkan kesamaan dengan gaya seni arca-arca dari Tanjore (India Selatan) yang berasal dari abad ke-12 M hingga ke-13 M (Suleiman, 1981).

Analisis terhadap temuan keramik menunjukkan bahwa sebagian bersar keramik yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari abad ke-12 M hingga ke-14 M. Jenis keramik yang paling banyak ditemukan di situs Kota Cina adalah jenis Celadon (green-glazed) yakni jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware. Produksi jenis keramik celadon mencapai puncaknya pada masa dinasti Sung di abad ke-11 M hingga ke-12 M, diproduksi masal untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan eksport. (Ambary, 1984:66). Jenis keramik lain yang ditemukan di situs Kotacina adalah keramik Chingpai ,(white glaze wares) yang merupakan jenis keramik dengan bahan dasarnya menggunakan stoneware dan glasir putih/bening yang dihasilkan dari mineral silika yang kadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar antara abad ke-12 M hingga akhir abad ke-14 M. Di situs Kota Cina juga terdapat keramik Te Hua yakni jenis keramik yang mirip dengan keramik Chingpai, perbedaannya pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik ini banyak diproduksi pada dinasti Yuan sekitar abad ke-14 M. (Ambary, 1984: 69). Jenis lainnya adalah Coarse stone wares, adalah jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberi kesan kasar bada bagian badan wadah.

Temuan arkeologis situs Kota Cina membuktikan bahwa masa lalu sudah berlangsung lama. Dahulu daerah ini difungsikan sebagai salah satu pusat niaga di pesisir timur Pulau Sumatera. Kontak pelayaran dan perdagangan mempertemukan masyarakat pedalaman–yang menghasilkan berbagai komoditas yang diperlukan pendatang dari berbagai penjuru dunia–dengan kelompok masyarakat pedagang dari luar Sumatera. Berbagai kebutuhan masyarakat setempat juga dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang datang membawa berbagai barang. Sisa dari sebagian aktivitas itulah yang ditemukan dalam kegiatan arkeologis yang dilakukan di sana dan kelak menjadi sarana penggalian informasi.

Aktifitas hubungan dagang melalui jalur laut khususnya, serta aktivitas maritim secara umum di pesisir timur Pulau Sumatera, tidak dapat dipisahkan dari letak strategis lokasi situs yang menghadap ke selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dalam rentang waktu yang panjang (mulai abad permulaan Masehi hingga abad ke-19 M). Perdagangan melalui laut memanfaatkan kemajuan teknologi pelauaran melalui penggunaan perahu-perahu  dagang beretonase besar dengan memanfaatkan navigasi angin muson. Selat Malaka merupakan jalur sutera laut yang pada awalnya merupakan jalur perdagangan alternatif setelah jalur sutera darat yang menghubungkan Cina dengan daerah India. Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan teknologi pelayaran, Selat Malaka menjadi jalur perdagangan utama menuju daerah penghasil rempah-rempah, kapur barus, kemenyan, emas, maupun barang niaga lainnya di wilayah Nusantara.

B. Urban Sites Pra Kebudayaan Islam di Pulau Sumatra

Kota Cina merupakan satu-satu situs perkotaan (urban site) pra kebudayaan islam yang ditemukan hingga kini di Pulau Sumatra yang secara administratif pemerintahan terletak di kecamatan Medan Marelan Kota Medan.  Situs ini berada pada posisi 30 43’ N dan 980 38’ E dan sekitar 1.5 meter dari permukaan laut (dpl).  Luas situs ini berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Medan adalah sekitar 25 hektar, yang tidak mengikutsertakan Danau Siombak hingga sepanjang sungai Terjun. Bila seluruh kawasan ini digabungkan sebagai satu kesatuan situs Kota Cina, maka luasnya mencapai 100 hektar.

Kota Cina diyakini merupakan pemukiman awal hingga terbentuknya Kota Medan Sekarang. Merupakan bandar niaga kuno yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang asing pada kurun waktu abad ke-12 hingga abad ke 14. Hal ini banyak ditentukan oleh peninggalan arkeologis (archeologichal evidence) yang ditemukan pada saat penelitian dan ekskavasi di situs Kota Cina. Kenyataan ini didukung oleh posisi Kota Cina yang berdampingan langsung dengan Selat Malaka yakni jalur pelayaran utama sebagai “maritim sutra” sebelum jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511.

Oleh karena itu, bila berbicara tentang sejarah perkembangan Kota Medan dewasa ini maka Kota Cina adalah masa sejarah awal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Hal ini disebabkan oleh peranan Kota Cina sebagai bandar niaga yang ramai dikunjungi sekaligus sebagai tempat bertemunya pedagang asing dengan pemukim dikawasan Kota Cina. Namun kenyataanya adalah bahwa kawasan ini cenderung diabaikan dan luput dari perhatian.

Demikian pula bahwa apresiasi yang dilakukan oleh Sejarahwan dan Arkeolog adalah sebatas penelitian dan penggalian (ekskavasi) yang dari hasil penelitian tersebut merekomendasikan pentingnya upaya-upaya penyelamatan dan pengembangan serta pemamfaatan situs Kota Cina. Hal ini dikarenakan bahwa dari segi archeological evidencenya, diketahui bahwa situs Kota Cina mengandung temuan-temuan yang sangat penting sebagai bandar perniagaan kuno.

Dimasa kini, kondisi dan keadaan situs Kota Cina sangat bertolak belakang dengan kejayaannya dimasa silam, terlantar, tidak terawat dan mungkin juga akan segera menghilang. Disamping karena dijadikan sebagai lahan pertanian masyarakat, juga disebabkan oleh pemukiman penduduk yang sudah mulai padat. Oleh karena itu, bila tidak dilakukan langkah-langkah penyelamatan maka dalam waktu tidak lama lagi, minimal sepuluh tahun kedepan, maka situs yang sangat penting itu akan segera hilang.

Oleh karena itu, studi yang dilakukan oleh Pussis-Unimed ini dilakukan untuk melihat kelayakan dari aspek signifikansi, kebermanfaatan dan pola-pola pengembangan yang akan dilakukan dalam upaya penyelamatan situs Kota Cina. Hal mana adalah perlunya pembebasan lahan di Kota Cina pada titik-titik atau sector tertentu yang didasarkan pada skala urgensi dan signifikansi sisa-sisa arkeologisnya (archeologichal evidence).

Oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan
2010

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s