EMPAT ASPEK PENTING PEMAMFAATAN SITUS KOTA CINA

EMPAT ASPEK PENTING PEMAMFAATAN SITUS KOTA CINA

Situs Kota Cina diketahui pada akhir abad 19 pada waktu kunjungan Anderson dan kemudian  pada tahun 1875 Halewijn (1876) mencatatnya dengan nama Kota Cina, pada saat itu terdapat puluhan rumah tangga yang dikontrol oleh Sultan Deli di Labuhan.  Kampung Terjun dan Hamparan Perak terletak hanya beberapa kilometer disebelah Barat dan disebelahnya terdapat Suku Duabelas Kota yang dikontrol oleh Kejuruan Hamparan Perak yakni seorang Melayu Karo (Veth, 1877).

Catatan awal keberadaan kawasan ini ditemukan dari riwayat perjalanan John Anderson, seorang Scotisch yang diutus dari Penang pada tahun 1823 dalam bukunya: ”Mission to the East Coast of Sumatra and Malay Penisula” yang menyebutkan bahwa di daerah tersebut terdapat batu bertulis yang masyarakat tidak dapat membaca.  Anderson juga mengingatkan akan pentingnya Sei Deli  sebagai jalur pelayaran sungai (riverine) dan pintu masuk (entrance) menghubungkan dataran tinggi (hinterland) dan lembah Deli.

Catatan Anderson tersebut dipublikasikan pada Tijdschrift van het Bataviasche Genootshap yang pada tahun 1882, yakni 20 tahun setelah pengusaha Belanda menginjakkan kakinya di Deli,  controleur Labuhan Deli berkeinginan menyelidiki inskripsi sebagaimana yang dimaksud Anderson tersebut tetapi tidak menemukan batu bertulis itu.  Namun demikian, sehubungan dengan ekspansi perkebunan Deli di kawasan ini, maka sejalan dengan banyaknya artifak seperti mata uang, archa tembikar, dan keramik dari Cina itu, maka pada tahun 1886 oleh Halewijn dicatat sebagai Kota Cina kemudian pada tahun 1914 dicatat lagi dengan resmi pada Oudheidkundig Verslaag (laporan Dinas Kepurbakalaan Belanda).

Namun demikian, bila memeriksa kembali catatan-catatan yang lebih awal, maka akan diperoleh penggambaran terhadap kawasan ini sebagai bandar perniagaan kuno. Alasannya adalah posisisnya yang berhadapan langsung dengan selat Malaka (Malaca strait) yang memegang peranan penting sebagai ”jalur maritim sutra” yang menghubungkan Guang Chou (Asia), Arab (Timur Tengah) dan Mesir (Afrika). Dengan demikian, tidak mengherankan apabila disepanjang selat Malaka terdapat bandar-bandar niaga ramai dikunjungi seperti Kota Cina, Kota Rentang, Pulau Kampai, Tamiang, Samudra [Pase], Jambi, Batu Sangkar dan lain-lain.

Situs Kota Cina  diyakini sebagai cikal bakal terbentuknya Kota Medan sekarang yang berasal dari permulaan abad ke-12. Hal mana ditunjukkan oleh banyaknya peninggalan atau artifak arkeologis (archeological evidence) yang tertuju pada satu era yakni sejak abad ke-12 hingga awal abad ke-14, seperti eartenware fragmen (tembikar), porcelain fragmen (keramik), coin (mata uang), glass fragmen (gelas), brickstone fragmen (Batubata berfragmen candi), archa (statue), tulang belulang, atau bahkan sisa-sisa perahu tua (ships ruins). Tentang kondisi dan keadaan kawasan Medan sebelum awal abad-12 ini belum banyak diketahui.

Dalam catatan McKinnon (1984) diketahui bahwa, Kota Cina pada awalnya adalah daerah yang sangat dekat dengan laut, merupakan kawasan yang terpengaruh pasang surut, dan ber-rawa (lahan basah). Namun karena proses sedimentasi yang bergerak cepat  setinggi 2 cm per tahun menjadikan kawasan ini menjadi daratan yang jauh dari laut. Bila demikian, terdapat  pengendapan delta setinggi 120-140 cm selama  800 tahun silam. Hal ini dibuktikan dengan lapisan tanah (statigrafi) berupa letak lapisan kerang dan kedalaman (speed) ekskavasi yang pada umumnya setelah kedalam 140 cm, ekskavasi dinyatakan steril dalam arti tidak ditemukan lagi artifak-artifak lain.

Berdasarkan catatan-catatan Tiongkok misalnya, diketahui bahwa beberapa penguasa di kawasan pesisir timur  Sumatra (Sumatra east coast) ini telah melakukan kontak niaga dengan China ataupun dengan cara membayar upeti.  Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila  Wolters, (1970), mengemukakan bahwa nama Kota Cina tidak banyak diketahui dari catatan historis. Namun demikian, nama Kota Cina sangat akrap dalam ingatan kolektif masyarakatnya (folks memory) yang menunjuk pada ’pendudukan orang China’ (a fortified settlement occupied by Chinese).

Demikian pula dalam catatan India Selatan yang menyebut nama pulau ini dengan Swarnabhumi atau swarnadwipa yang berarti ”bumi emas”. Hal ini dikarenakan banyaknya produksi emas yang ditemukan dan diperdagangkan di sepanjang Pulau Sumatra, seperti di Tamiang, Singkil, Mandailing dan juga di Dairi.

McKinnon yang melakukan penelitian dan ekskavasi sejak tahun 1972 hingga tahun 1978 dalam disertasi doktoralnya (1984) mengemukakan bahwa hasil analisis terhadap material ekskavasi menunjukkan adanya indikasi hubungan penting antara India Selatan dan China Selatan. Oleh karena, berdasarkan sumber-sumber historis itu dikemuakan bahwa eksistensi masyarakat China di pesisir timur Sumatra menunjukkan adanya aktifitas kemaritiman di kawasan ini. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian  yang dilakukan pada tanggal 10 Juli-10 Agustus tahun 1979 yang dilaksanakan oleh Puslitarkenas yang mengemukakan bahwa Situs kota Cina merupakan pelabuhan kuno yang banyak dikunjungi pedagang asing sekitar abad 12-14 masehi. Komoditas-komoditas alam yang diperdagangkan adalah seperti benzoin, champhor dan emas, damar, rottan dan lain-lain yang dipertukarkan dengan tembikar, keramik, dan gelas.

Adanya  pemukiman masyarakat di wilayah itu, ditunjukkan oleh temuan batubata (brickstone) yang diyakini merupakan bangunan sakral seperti bihara atau candi. Hal ini juga dikuatkan dengan temuan lempengan emas yang digunakan sebagai benda upacara. Demikian pula struktur pagar yang terbuat dari batubata yang melindungi bangunan sakral tersebut.

Sejumlah data arkeologis yang berhasil dihimpun melalui penelitian antara tahun 1973 hingga 1989 terhadap situs Kota Cina antara lain berupa sisa struktur bangunan keagamaan yang sekonteks dengan temuan 2 arca Buddha dan 2 arca yang bersifat Hindu, sisa-sisa aktivitas pertukangan logam, berbagai artefak seperti keramik, tembikar, manik-manik, benda-benda berbahan kaca, mata uang logam, sisa papan perahu. Berdasarkan banyaknya temuan arkeologis tersebut diperkirakan pada masa lalu situs Kota Cina berperan sebagai pelabuhan di jalur perdangangan kawasan pesisir timur Sumatera (Koestoro, 2004).

Beberapa asumsi diajukan oleh para peneliti berkaitan dengan masa hunian dan ragam kegiatan/aktifitas masa lalu di situs Kota Cina, salah satunya adalah yang menyatakan bahwa aktivitas budaya masa lalu situs ini berlangsung pada kisaran abad ke-12 M hingga ke-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai. Pertanggalan relatif masa hunian tersebut diperoleh antara lain melalui carbon datting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Cina yang menunjukkan angka relative abad ke-12 M hingga ke-13 M (Wibisono, 1982). Pertanggalan relatif tersebut dikuatkan dengan hasil analisis terhadap temuan arca Budha yang ditemukan di Kotacina, yang ditinjau secara ikonografis menunjukkan kesamaan dengan gaya seni arca-arca dari Tanjore (India Selatan) yang berasal dari abad ke-12 M hingga ke-13 M (Suleiman, 1981).

Analisis terhadap temuan keramik menunjukkan bahwa sebagian bersar keramik yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari abad ke-12 M hingga ke-14 M. Jenis keramik yang paling banyak ditemukan di situs Kota Cina adalah jenis Celadon (green-glazed) yakni jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware. Produksi jenis keramik celadon mencapai puncaknya pada masa dinasti Sung di abad ke-11 M hingga ke-12 M, diproduksi masal untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan eksport. (Ambary, 1984).

Jenis keramik lain yang ditemukan di situs Kotacina adalah keramik Chingpai ,(white glaze wares) yang merupakan jenis keramik dengan bahan dasarnya menggunakan stoneware dan glasir putih/bening yang dihasilkan dari mineral silika yang kadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar antara abad ke-12 M hingga akhir abad ke-14 M. Di situs Kota Cina juga terdapat keramik Te Hua yakni jenis keramik yang mirip dengan keramik Chingpai, perbedaannya pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik ini banyak diproduksi pada dinasti Yuan sekitar abad ke-14 M (Ambary, 1984). Jenis lainnya adalah Coarse stone wares, adalah jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberi kesan kasar bada bagian badan wadah.

  1. 1. Aspek edukatif

Dalam bidang edukatif, situs Kota Cina memiliki manfaat yang berguna dalam pengembangan ilmu pendidikan atau pengetahuan sejarah, terutama dalam pembelajaran outdoor. Dalam pola pembelajaran seperti ini, situs dapat dimanfaatkan sebagai lahan pembelajaran.

Melalui pembelajaran di perguruan tinggi maupun disekolah-sekolah, maka  cara tersebut merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian situs  sejarah sebagai warisan (heritage) bangsa.  Pertanyaanya adalah,  bagaimana cara memperkenalkan situs sejarah kepada pelajar atau mahasiswa? Maka salah satu cara efektif adalah menjadikannya sebagai muatan sejarah di kawasan kurikulum tersebut.  Dengan cara ini,  pelajar dan mahasiswa dapat mengenal situs ‘Kota Cina’ apabila muatan tersebut dimasukkan sebagai muatan materi sejarah lokal di sekolah ataupun perguruan tinggi.

Eksistensi peninggalan tua sebagai warisan kota Medan khususnya situs Kota Cina sepatutnya dilestarikan karena memiliki nilai edukasi, ekonomi dan estetika. Disamping itu, situs ini juga memiliki nilai pendidikan sosial dan budaya yang dapat dipetik dalam merekontruksi perjalanan panjang sejarah bangsa khususnya sejarah kota Medan. Oleh karenanya, adalah tugas yang penting untuk mempublikasikan serta melestarikan keberlangsungan situs sejarah ini sehingga masa depan sejarah kota Medan tidak melayu dan meredup.

Adalah tugas utama tenaga edukatif (guru dan dosen) untuk mempublikasikannya secara ilmiah dan bertanggungjawab bahwa situs ini memiliki arti penting yang tinggi. Dari sana, bukan saja sejarah masa lalu dapat dibentuk kembali tetapi juga kontinutas masa depan sejarah. Kini yang terlihat di situs Kota Cina justru lain. Situs tersebut mulai melayu dan akan hilang akibat gempuran populasi yang menyerobot tanah situs.  Penyerobotan-penyerobotan yang dilakukan pendudukan sebagai rasionalisasi terhadap lonjakan penduduk tidak saja mengambil alih tanah-tanah area situs tetapi juga telah menempati lokasi yang dimana aktifitas arkeologis berupa penggalian pernah dilakukan.

Sangat ironis, apabila situs tersebut jatuh dan dihuni oleh pendudukan yang liar  yang seharusnya diselamatkan dan dilestarikan.  Tanggung jawab seperti ini tentu saja harus melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik itu pemerintah maupun akademisi berupa pemberian pemahaman dan pengertian kepada masyarakat akan arti penting dan makna dari situs sejarah. Upaya terkini yang dapat dilakukan melalui perguruan tinggi adalah pemberian pendidikan sosial kepada masyarakat dengan melibatkan sejarawan, antropolog dan sosiolog. Dengan pendekatan humanis dan manusiawi ini, kepedulian serta kesadaran (consciousness) masyarakat dapat bertumbuh. Dengan cara itulah, penghargaan terhadap situs sejarah dapat berjalan dengan baik. Niscaya tanpa itu, maka situs sejarah tersebut akan melayu, hilang dan punah selama-lamanya.

Melalui kegiatan wisata sejarah lebih memungkinkan bagi mahasiswa untuk  mengamati proses sejarah terjadi.  Demikian pula bahwa wisata sejarah dapat dinyatakan sebagai salah satu model atau strategi mengajar dengan menggunakan pendekatan ilmiah terhadap elemen sejarah yang sedang diselidiki  dan dipelejari. Dengan demikian,  model pembelajaran wisata sejarah sangat berperan dalam menunjang keberhasilan Proses Belajar Mengajar.  Dengan  kunjungan lapangan tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengamati secara langsung gejala dan peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Dengan begitu, bentuk pembelajaran Wisata sejarah efektif untuk mencapai sasaran secara bersamaan pada tiga ranah tujuan pembelajaran yakni: 1)  kognisi yang tinggi yaitu mahasiswa terlatih dan mampu untuk mengerti teori, 2) afeksi yakni merencanakan kegiatan secara mandiri, belajar bekerjasama dan belajar mengkomunikasikan informasi menganai bidangnya atau belajar menghargai bidangnya serta 3) psikomotor yakni belajar memadukan teori dengan lapangan. Dengan demikian, tujuan daripada dilaksanakannya wisata sejarah ini adalah untuk i) mendorong dan mempertahankan minat, sikap dan rasa ingin tahu terhadap ilmu, ii) mengembangkan pikiran kreatif dan kemampuan pemecahan masalah, iii) mendorong berbagai aspek pikiran keilmuan untuk merumuskan , iv) mengembangkan pemahaman konsep dan potensi intelektual serta vi) mengembangkan keterampilan proses.

  1. 2. Aspek Penelitian dan Pengembangan Pengetahuan

Sebagaimana diketahui bahwa Kota Cina merupakan lahan penelitian yang subur dilakukan karena mengandung sejumlah archeological evidence yang sangat bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran dan penjelasan rinci terhadap aspek kelampauan di situs Kota Cina sejak abad ke-12.

Jika melirik kembali jejak penelitian yang telah dilakukan, maka dapat dirujuk bahwa penelitian terdahulu berupa survei permukaan telah dilakukan sejak tahun 1823 oleh Anderson yang mencatatnya sebagai Kota Cina. Kemudian diikuti kemudian oleh Dinas Kepurbakalaan Belanda pada tahun 1886 dan 1914. Setelah itu terjadi stagnasi dan kembali dimulai sejak tahun 1972 oleh arkeolog berkebangsaan Inggris yakni Edward McKinnon, kemudian diikuti oleh Puslitbangarkenas Jakarta, arkeolog Prancis dan Australia ataupun.

Penelitian terhenti sejak tahun 1989 dan barulah sejak tahun 2007 dilakukan penelitian-penelitian yang melibatkan mahasiswa, arkeolog dari Balai Arkeologi Medan bersama dengan Pussis-Unimed.  Pada tahun 2010, Situs Kota Cina dikunjungi oleh kepala Puslitbangarkenas Jakarta, ISEAS Singapura dan Anggota DPD RI utusan daerah Sumatra Utara.

Mengingat arti pentingnya bagi dunia ilmu pengetahuan, situs ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi para siswa atau mahasiswa peserta belajar baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Salah satu cara efektif pengenalan tinggalan masa lalu kepada para peserta didik adalah melalui praktek lapangan sebagaimana yang dilakukan oleh para mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UNIMED. Lewat kegiatan ini para mahasiswa dapat melihat, mendeskripsikan, dan menuliskan berbagai bentuk peninggalan sejarah yang berada tidak jauh dari lingkungan belajarnya.

  1. 3. Aspek Ekonomi

Tidak menjadi keniscayaan bahwa apabila Situs Kota Cina dikembangkan secara profesional maka akan bermanfaat secara ekonomi, yakni bernilai guna untuk mendatangkan pendapatan asli daerah. Belum lagi apabila program wisata ini dipadu dengan wisata bahari Danau Siombak.

Melalui kegiatan wisata sejarah lebih memungkinkan bagi mahasiswa untuk  mengamati proses sejarah terjadi.  Demikian pula bahwa wisata sejarah dapat dinyatakan sebagai salah satu model atau strategi mengajar dengan menggunakan pendekatan ilmiah terhadap elemen sejarah yang sedang diselidiki  dan dipelejari. Dengan demikian,  model pembelajaran wisata sejarah sangat berperan dalam menunjang keberhasilan Proses Belajar Mengajar.  Dengan  kunjungan lapangan tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengamati secara langsung gejala dan peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Dengan begitu, bentuk pembelajaran Wisata sejarah efektif untuk mencapai sasaran secara bersamaan pada tiga ranah tujuan pembelajaran yakni: 1)  kognisi yang tinggi yaitu mahasiswa terlatih dan mampu untuk mengerti teori, 2) afeksi yakni merencanakan kegiatan secara mandiri, belajar bekerjasama dan belajar mengkomunikasikan informasi menganai bidangnya atau belajar menghargai bidangnya serta 3) psikomotor yakni belajar memadukan teori dengan lapangan. Dengan demikian, tujuan daripada dilaksanakannya wisata sejarah ini adalah untuk i) mendorong dan mempertahankan minat, sikap dan rasa ingin tahu terhadap ilmu, ii) mengembangkan pikiran kreatif dan kemampuan pemecahan masalah, iii) mendorong berbagai aspek pikiran keilmuan untuk merumuskan , iv) mengembangkan pemahaman konsep dan potensi intelektual serta vi) mengembangkan keterampilan proses.

  1. 4. Aspek Sosial

Bila situs Kota Cina dilola secara profesional, maka berbagai infrastruktur akan dengan serta merta dibenahi seperti jalan dan jembatan yang membelah situs Kota Cina. Hal ini akan sangat terasa bagi masyarakatnya untuk mempercepat jalur hubungan antara masyarakat Kota Cina dengan pusat pasar Medan Marelan.

Kondisi jalan yang ada saat ini masih dalam kondisi pengerasan dengan menggunakan semen sebagai bahan dasarnya. Dipintu masuk ke Danau Siombak, menuju kolam dan objek wisata yang dikelola oleh Bapak Rizal terlihat sangat ironis berupa jalan berlubang dan berdebu yang terkategori jalan pengerasan. Demikian pula kondisi jalan masih sangat sempit yang kurang dari 4 (empat) meter. Dari objek wisata danau Siombak yang dikelola Bapak Rizal hingga ke kompleks sekolah dasar Kota Cina, perumahan kota Cina hingga ke jalan raya Medan Marelan juga masih dengan kondisi yang mengenaskan.  Bila jalan dan jembatan parit Panjang diperbaiki maka akses menuju objek wisata danau Siombak, site museum dan lokasi pembebasan lahan yang akan dikembangkan, demikian pula terhadap perumahan dan kompleks sekolah dasar Kota Cina akan terbuka dengan baik. Atas dasar itu, akses mayarakat akan semakin teratasi.

Lebih jauh lagi, semakin membaiknya kondisi jalan, dan semakin tertatanya keterhubungan danau Siombak dengan site museum begitu pula dengan objek lain di situs Kota Cina, maka hal ini akan mendoro masyarakat untuk berbenah diri untuk menyesuaikan dengan perubahan sosial yang terjadi di kompleks situs Kota Cina itu. Singkatnya bahwa, pemamfataan dan pengembangan Situs Kota Cina sebagai objek wisata sejarah, danau Siombak sebagai objek wisata alam dan bahari akan memberikan impak yang signifikan bagi masyarakat.

Oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan
2010

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s