KRONOLOGIS PENGHANCURAN BANGUNAN VILA KEMBAR DI JALAN DIPONEGORO TAHUN 2009

KRONOLOGIS PENGHANCURAN BANGUNAN VILA KEMBAR DI JALAN DIPONEGORO

  1. Pemberitaan Kompas tanggal 24 Oktober 2009 “Vila Kembar Dihancurkan” bangunan didirikan pada awal abad XX. Yang isi beritanya satu dari empat vila kembar yang ada di Jalan Diponogoro, Medan, hancur . rencananya satu bangunan lain akan dihancurkan utuk pembangunan hotel. Pada tahun 1999, vila kembar ini pernah diusulkan oleh Badan Warisan Sumatera (BWS)  masuk dalam benda cagar Budaya
  2. Tanggal 25 Oktober 2009 terjadi  insiden penolakan di jalan Diponegoro oleh bebarapa kalangan yang peduli akan nasib villa kembar  yang dipelopori oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), B adan Warisan Sumatera Utara (BWS), PUSSIS-Unimeda, seniman dan bebrapa kalangan pers yang meliput. Ditambah lagi kedatangan anggaota DPD RI Bapak  Parlidungan Purba ikut terlibat dalam aksi ini.
  3. Tanggal 26 Oktober 2009 kompromi tentang masalah izin bangunan di lokasi ini dan mendiskusikan solusi yang tepat dalam memecahkan masalah penghancuran villa kembar di salah satu ruangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Ikhrimah Hamidi. Dan dilanjutkan dengan acar kompromi bersama Walikota Medan tentang Villa kembar dan menuntut agar Perda Nomor 6 tahun 1988 tentang Pelestarian bangunan dan Lingkungan yang bernilai Sejarah Arsitektur Keperbakalaan direvisi dan menuntut penghentian penghancuran villa kembar Namur sayangnya itu tidak terjadi malahan sekarang sudah  rata dan tidak bersisa.
  4. Tanggal 27 Oktober 2009, Audiensi dengan Penjabat Walikota Medan, Bapak Rahudman Harahap yang dihadiri oleh Pussis-Unimed, BWS, Jurusan Arsitektur USU Medan, IAI. Tapi audiensi itu tidak menghentikan langkah peruntuhan Vila Kembar.
  5. Tanggal 29 Oktober 2009 mengadakan kunjungan ke gedung Komite Nasional yang merupakan salah satu bentuk gerakan penyelamatan  bangunan-bangunan sejarah yang juga akan digantikan fungsinya. Disini BWS, IAI dan PUSSIS-UNIMED memberitahukan akan mengambil langkah hukum  berupa gugatan perwakilan kelompok.
  6. Tanggal 1 bulan November 2009 para seniman jalan melakukan aksi jalanan untuk memprotes penghancuran gedung bersejarah yakni villa kembar di jalan diponogoro yang juga terlibat sejumlah kalangan dari Balai Arkeologi Medan, Dosen USU, BWS, IAI, anggota DPD dan sejumlah masyarakat umum serta  mahasiswa. Dari hasil teatrikal ini kemudian dilanjutkan
  7. Tanggal 3 November 2009 dialog interaktrif tentang Save Our Cultural Heritage di kantor DPD di Medan. Dalam diskusi ini hadir berbagai kalangan legeslatif, akademisi dan mahasiswa. Keempat pembicaranya yakni Tavip Kurniadi Mustafa (Ketua IAI), Parlaungan Purba dari DPD, Ichwan Azhari (PUSSIS-UNIMED), Ikrimah Hamidi (DPRD), Rika Susanto (BWS) dan Pak Lendi (Dosen USU). Dari kegiatan ini dihasilkan membentuk suatu forum perlawanan  untuk menintaklanjutu pembongkarabn villa kembar dan bangunan sejarah yang lainnya berupa gerakan melawan penghancuran gedung bersejarah.
  8. Tanggal 8 November 2009 tepatnya jam setengah sembilan mengadakan aksi demo dan hunting foto tentang villa kembar dari berbagai golongan mahasiswa, fotografer dan mahasiswa arsitektur dari USU dan paling menariknya gerombolan sepeda ontel mengikuti kegiatan ini. Mulai dari depan bank mandiri lapangan merdeka, balai kota, kantor walikota, kantor DPRD dan diakhiri di Villa Kenbar dengan diikuti musikal anak jalanan, teatrikal dan ziarah ramai-ramai di gedung Villa Kembar.
  9. Tanggal 10 November 2009 meresmikan nama Sahabat Kota Medan di salah satu rumah yang unik Rector ISTP Rudolf Sitorus yang misi kedepannya yakni melakukan gerakan-gerakan penyelamatan gedung bersejarah di Kota Medan dan menjadikan Kota Medan menjadi Ikon peninggalan sejarah yang menarik di Asia Tenggara.
  10. Tanggal 12-15 bulan November 2009 Sahabat Kota Medan mengadakan pameran yang dihasilkan melalui Hunting Photo di Gema Pariwisata Kota Sumut dan memamerkan hasil Hunting Photo tentang Villa Kembar.
  11. Tanggal 15 bulan November 2009 Photo Bareng Sahabat Kota Medan dalam rangka penutupan acara Gempar.

Dari kesepuluh gerakan baik dari pertarungan wacana, sampai gerakan insiden penolakan berupa aksi teatrikal bahkan sudah sampai ke tahap meja DPRD serta berbagai aksi yang lainnya tetapi penghancuran tidak dihentikan. Melalui gerakan tersebut menghasilkan suatu Perda baru tentang bangunan sejarah. Dari Perda tersebut diharapkan bangunan sejarah tidak mengalami hal serupa dengan villa kembar. Nasi telah menjadi bubur pepatah mengatakan demikian juga Villa kembar dan menjadi ”In memoriam Villa Kembar”.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
2010

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s