Kota Medan dan Bangunan Bersejarah

Sejarah Kota Medan (The History of Medan Town)


Keunikan suatu bangunan bersejarah di Kota Medan adalah  replika bangunan Eropa pada abad XIX. Medan dahulu disebut sebagai Paris van of Sumatra karena bangunannya merupakan replika peradaban Eropa yang bergaya Prancis. Ditambah lagi pusat kota yang dibangun dengan sengaja oleh bangsa kolonial yang hampir mirip dengan peradaban kota-kota di Eropa. Di pusat kota terdapat ruang terbuka (esplanade) yang ditanami pohon Trembesi (Samanea saman) yang dibawa dengan sengaja oleh Belanda dari Amerika Latin.

Tanaman Trembesi (Samanea saman) merupakan pohon penyejuk yang biasanya terdapat di pinggir jalan atau gedung-gedung tua peninggalan Belanda. Jenis tanaman itu dibawa oleh Belanda pada akhir abad ke-19 dengan tujuan meneduhkan suasana kota. Belanda tampaknya masih sangat terpengaruh dengan replika kota-kota tua di Eropa yang sarat dengan tanaman Trembesi. Disamping Esplanade itu, berbagai fasilitas lainnya dibangun oleh Belanda seperti Kantor Pos (1913), Balai Kota (1906), Kereta Api (1905), Hotel De Boer (1909), dan lain-lain  dan kompleks pertokoan kelas menengah yakni Kesawan.  Dari serangkaian jejak rekam peninggalan sejarah yang ada di kota Medan, maka keberadaan kota ini dapat disebut sebagai “Kota yang terlengkap dan unik. Medan adalah Kota yang mempunyai peradaban dan multikultural. Medan mempunyai history yang lengkap dan hidup”.

Diatas adalah sepenggal sepenggal konteks makna yang terungkap. Dalam perkembangan sejarah kota Medan, dapat dikatakan bahwa terbentuknya Kota Medan tidak terlepas dari pemahaman tentang munculnya kolonialisme Eropa terutama Belanda. Munculnya penjajahan membawa dampak yang signifikan bagi sejarah perkembangan kota Medan.

Pada abad ke XX terbentuklah sistem perkebunan yang pertama kali dibuka oleh pionir penanaman tembakau di Deli pada tahun 1863 oleh J. Nienhuys. Ia membawa negeri ini menjadi salah satu kawasan perkebunan tembakau yang terbesar dan berkualitas internasional dengan hasil pada tahun pertama (1964) mencapai 27.550.000 Gulden (Mahadai, 1978). Ketika itu penamaan Kota Medan masih disebut Deli sebelum Kotapraja  Medan dibentuk pada tanggal 1 April 1909.

Hasil konsesi antara Sultan Deli dengan Nienhuys dibukalah suatu Perseroan Terbatas ”Deli Maatschapij” yang membutuhkan tenaga kuli kontrak Tionghoa dan Jawa sehingga dari sistem perkebunan ini terjadi multikultural yang dibagi tiga lapisan sosial yakni yang lapisan pertama Orang Eropa, yang kedua orang Cina dan Timur Asing dan yang ketiga Orang Pribumi.

Dari hasil perkebunan tembakau Deli ini perkembangan peradaban dimulai. Dibangunnya fasilitas-fasilitas bangunan, perkantoran, perumahan, jalan dan transportasi untuk mempermudah produksi perkebunan tembakau yang termasyur  di dunia dan dibiayai oleh perusahaan perkebunan. Jumlah perkebunan meningkat dari 13 pada tahun 1873 menjadi 23 dan seterusnya menjadi 40 perkebunan yang beroperasi (Breman:1997). Konsolidasi perkebunan besar memberikan dorongan penting bagi dikembangkan infrastruktur Kota Medan ini. Medan ini dipilih sebagai pusat pemerintahan yang dinyatakan “Medan adalah kota baru dengan gedung-gedung segar berwarna putih di tengah petak-petak rumput yang hijau segar”. Kota itu muncul terutama berkat kehidupan perkebunan disekelilingnya yang luar biasa sibuknya. Kita takkan menemukan kota lain yang sama dengannya, baik di Sumatera maupun Jawa. Wittw Societait (Sositet Putih)- nama yang sangat tepat-Kantor Pos, Gedung Kota Praja dan Javasche Bank, Hotel de Boer dan Hotel Medan, kantor berbagai perusahaan yang mengesankan seperti Harrison and Crossfield, Deli Maatschappij, Deli-Proefstation, Deli-Spoorweg-Maatscahapij, Firma Van Nie en Co. Kesemuanya berdiri di tengah kehijauan pohon Palma, Ara dan Cemara yang bersih terguyur hujan serta mencerminkan kemakmuran dan kerja yang sukses, mencerminkan usaha Barat yang patut di kagumi (Couperus 1924:33).  Dari ungkapan tersebut kita bisa rasakan sisa peradaban yang masih tertinggal di pusat kota Medan (titik nol Kota Medan sekarang).

Insfrastruktur yang pertama kali didirikan adalah Deli Spoorweg-Maatschappij (Perusahaan Kereta Api Deli ) oleh Cremer  pada tahun 1886. Kemudian ditambah fasilitas yang lainnya meliputi : Perusahaan Air Bersih September  1905,  Perusahaan Listrik tahun 1898,  Rumah sakit Deli Mij (Jalan Puteri Hijau Sekarang),  Hotel De Boer tahun 1909,  Kantor Pos tahun 1911 serta fasilitas yang lain yang dapat mendukung perkebunan tembakau Deli baik berupa perumahan-perumahan kontrolir Belanda (villa-villa) maupun sarana-prasarana.

Namun sisa peradaban itu telah hilang dan dihancurkan oleh Developer. Bangunan bersejarah di Medan telah dihancurkan 40% dan sisanya tinggal menunggu penghancuran atau sebaliknya. Berbagai penghancuran telah dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada bangunan sejarah (historical building). Pemerintah lebih mengutamakan kepentingan modal dibanding sejarah bangsanya. Mereka hanya menganggap bangunan itu hanya sekedar bangunan tua yang tidak menguntungkan dibanding dengan bangunan baru yang megah dan elit. Padahal kalau saja bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai obyek wisata mungkin bisa mengalahkan bangunan modern tersebut. Seperti halnya Malaysia dan Singapura yang berhasil dalam menunjukan pariwisata dengan memanfaatkan bangunan sejarah. Singapura telah melakukan 44 kegiatan konservasi sejak tahun 1980-an terhadap 5.000 bangunan kolonial hingga tahun 2003, demikian juga upaya preservasi terhadap 42 monumen yang kebanyakan merupakan tinggalan kolonial yang diperkenalkan sebagai tengaran-tengaran bersejarah (historical landmark) dan sebagai bukti penting sejarah Singapura. Banyak gedung bersejarah dialihfungsikan menjadi museum dan fungsi-fungsi adaptif lainnya.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
2010

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s