BARUS TEMPO DOELOE

BARUS TEMPO DOELOE:
Upaya Penelitian, Pusat Perdagangan Kamper dan  Jejak Islam
Di Pesisir Barat Sumatra Utara


Oleh:
Erond L. Damanik

Pengantar

Suatu hal yang sangat memprihatinkan dewasa ini bahwa situs Barus cenderung terabaikan dan sedikit demi sedikit telah tergerus oleh proses abrasi daerah pantai. Sayangnya, upaya pemerintah dan dinas terkait terhadap hal ini belum maksimal. Dikhawatirkan pula, bahwa dalam waktu yang tidak lama, situs tertua di Sumatra Utara dan bahkan di Indonesia itu akan segera hilang. Dalam hal itu pulalah, letak dan posisi Barousasi yang dikemukakan oleh Ptolemaus perlu mendapatkan perhatian serius. Kini, Barus dan Lobutua di pesisir Barat Sumatra Utara itu semakin tergerus oleh derasnya arus abrasi air laut.

Sepanjang catatan yang bisa ditemukan, Barus dikenal dengan nama Pancur yang beralih menjadi Fansur. Daerah ini pula dikenal dalam catatan sejarah sebagai penghasil kamper, kemenyan serta tempat dimana penyair mistis Melayu yang terkenal dengan Hamzah, yang nisbah al Fansuri yang misterius didaerah itu. Sejarah Barus masih relatif gelap, walaupun cukup banyak sumber tulisan yang menyebut nama kota ini sejak abad Sebelum Masehi dalam berbagai bahasa seperti Yunani, Siria, Cina, Tamil, Arab, Jawa, Armenia, Melayu dan bahkan dalam bahasa Eropa dalam periode yang lebih muda. Kesulitan itu diperoleh karena secara umum, sumber-sumber tertulis tersebut tidak menjelaskan secara rinci letak daerah dimaksud kecuali menyebut nama pelabuhan dan produk kamper sebagai produk utamanya. Namun demikian, sejak tahun 1970-an beragam penelitian telah dilakukan terutama untuk mengungkap sejarah Barus. Peneliti seperti O.W. Wolters cenderung membahas Barus dari berbagai sumber yang ada terutama terhadap periodeisasi Barus. Kecuali itu, Jane Drakard mencoba menguraikan sejarah Barus dari abad ke-16.

Barus, adalah nama suatu daerah yang letaknya berada di Pantai Barat Sumatra Provinsi Sumatra Utara, diantara Kota Sibolga di  selatan dan Singkil di utara. Merupakan daratan rendah yang terletak diantara pantai Samudra Indonesia dengan kaki Bukit Barisan. Nama Barus sendiri, telah ditemukan secara pasti khususnya pada Prasasti Tamil sejak abad ke-11. Namun demikian, apabila sebutan ‘Barousai’ dalam karya geografis Ptolemaus menunjuk pada daerah Barus di Sumatra Utara sekarang, maka daerah itu telah menjadi pelabuhan tertua (ancient port) di Indonesia yang berasal dari sebelum abad ke-6. Nama, ‘Barousai’, kemudian tercatat dalam sejarah Dinasti Liang, raja-raja China Selatan yang memerintah pada abad ke-6, dan sejak saat itu Barus dikenal hingga sekarang dan sering dihubungkan dengan Kamper (Kapur Barus). Komoditas ini sendiri dikenal sejak abad ke-6 terutama di negeri China hingga Laut Tengah. Tentang nama Kamper, catatan tertulis tertua diketahui dari dokumen ‘Surat-surat Lama’ yang ditemukan di Dunhuang (Cina) yang ditulis oleh pedagang Sogdian pada abad ke-4. Sementara di Eropa, catatan pertama mengenai Kamper diperoleh dari catatan seorang dokter Yunani Actius Amida (502-578 M).

Suatu penelitian khusus juga sudah dilakukan yang didasarkan pada dua kronika berbahasa Melayu, satu dari Batak dan satu lagi dari Minang. Dua naskah tersebut telah diterbitkan oleh Jane Drakard dengan judul ‘Sejarah Raja-Raja Barus: Dua Naskah Dari Barus’. Berdasarkan kronika Batak diketahui bahwa Bukit Hasang merupakan situs baru Barus yang dibangun sesudah penghancuran Kota Lobu Tua oleh sekelompok orang tidak dikenal yang dinamakan Gargasi pada awal abad ke-12. Di Kota Lobu Tua inilah Prasasti Tamil yang berangka tahun 1088 M ditemukan. Disamping prasasti, sejak tahun 1844 juga ditemukan perhiasan serta mata uang emas dan perak (Millies, 1871). Neubroner van der Tuuk, cendekiawan pertama yang menyadari kekunoan Barus tiba pada tahun 1852 dan mengidentifkasi Lobu Tua dengan sebutan Fansur atau Pancur sesuai dengan naskah kuno yang diperolehnya. Ahli Linguistik itu berkesempatan membeli beberapa benda kuno seperti mata uang emas dan 17 cincin bertuliskan “prasasti dan simbol dalam aksara Nagari dan Kawi’ yang dikirim ke Bataviaasch Genootschap pada tahun 1856.

Penelitian arkeologi dilakukan sejak tahun 1970-an yang diawali oleh survey Hasan Ambary pada tahun 70-an dan survey yang lebih intensif dilakukan oleh  Nurhadi, dkk pada tahun 1988. Hasil penelitian terakhir ini telah diterbitkan dengan judul ‘Kota Barus: Tinjauan Awal Arkeologi’. Pada tahun 2002, buku “Lobu Tua: Sejarah Awal Barus’ yang disunting oleh Guillot diterbitkan. Selanjutnya, pada tahun 2008 dengan penyunting yang sama, diterbitkan pula buku lainnya dengan judul ‘Barus Seribu Tahun Yang Lalu’. Pada tahun 1995-1999, Ecole francaise d’Extreme-Orient, Paris bekerjasama dengan URA 1074 CNRS-EHESS Paris serta Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta melakukan ekskavasi di situs Barus. Benda-benda purbakala hasil penelitian dan ekskavasi adalah seperti keramik, tembikar, nisan islam dan lain-lain merujuk pada periode abad ke-8 hingga abad-13.  Dengan buku-buku dan hasil penelitian itu, kiranya sejarah Barus yang gelap itu mulai terbentang dengan baik.

Di pusat Kota Barus, terdapat rumah-rumah lama  dari kayu beratapkan seng yang dibangun kembali oleh pedagang Tionghoa pada tahun 1912 (Encyclopedia van Netherlandsch-Indie, jilid-I). Namun, sejak tahun 1950-an, orang Tionghoa meninggalkan Barus sejalan dengan kebijakan pemerintah yang melarang orang Tionghoa tinggal dikawasan kampung. Menurut Guillot (2002) pengaruh Tionghoa jelas terlihat pada rumah-rumah tersebut seperti adanya ukiran kayu atau perhiasan balok dilangit-langit. Sekarang, rumah-rumah itu di diami oleh pedagang eceran atau grosir untuk daerah Barus.

Pada saat sekarang daerah ini merupakan daerah terpencil yang disebabkan oleh buruknya sarana perhubungan darat. Suatu program untuk membuka keterisoliran Barus pernah di lakukan pada awal tahun 1980-an dengan menempatkan transmigran Jawa di Manduamas di sebelah utara Barus. Pada saat itu, hutan-hutan dibuka dan digantikan dengan komoditas komersil seperti Sawit, Coklat, Karet dan lain-lain. Tetapi, agaknya program itu tidak banyak memberikan manfaat bagi pembangunan masyarakat dan kawasannya. Hal ini jelas terlihat pada situasi dan kondisi infrastruktur yang ada, rumah-rumah masyarakat maupun tingkat sosial ekonomi masyarakat.

Jejak Islam di Situs Barus.

Dalam tulisannya ‘La plus ancienne inscription islamique du Monde malais?, Ludvik Kalus (2000) mengemukakan  bahwa sumber-sumber efigrafi di situs Barus didasarkan pada batu nisan islam (Islamic Tombstone).  Jumlah keseluruhan nisan bertulis ada 36 buah termasuk batu nisan fragmentaris, kecuali dua nisan yang kini disimpan di Museum Negeri Provinsi Sumatra Utara. Batu-batu nisan itu terletak di lima kompleks pekuburan yang sudah teridentifikasi dan satu kompleks belum teridentifikasi. Ukuran nisan tersebut sangat variatif dan tidak semua terletak pada posisi aslinya karena sering tumbang dan digeser oleh masyarakat. Variasi dari batu nisan tersebut sekaligus menunjukkan asal usul dan pengaruh. Namun demikian, asal usul batu nisan tersebut belum dapat dipastikan melainkan hanya kemungkinan yang menunjuk pada kemiripan tertentu. Jika dibandingkan dengan jumlah seluruh nisan yang ada, maka nisan bertulis jumlahnya sangat sedikit dan tulisannyapun tidak terlalu baik sehingga menyulitkan dalam pembacaanya.

Dari enam pekuburan yang disebutkan itu, terdapat satu pekuburan yang hingga kini rajin di ziarahi oleh masyarakat. Kuburan tersebut diyakini sebagai makam seorang sufi atau wali. Bila dilihat dari segi bahasa, maka batu nisan tersebut digunakan bahasa Arab pada satu sisi dan bahasa Persia pada sisi yang lain.  Kekhususan ini sangat jarang ditemukan di Barus maupun di Indonesia. Kompleks pekuburan dimaksud adalah sebagai berikut: i) pekuburan makam Ibrahim, ii) pekuburan belum teridentifikasi, iii) pekuburan Papan Tinggi, iv) pekuburan Ambar, v) pekuburan Maqdum dan vi) pekuburan Mahligai. Pada pekuburan Ibrahim ditemukan nisan tertua dengan tarik yang pasti yakni 772 H atau 1370 M dan dapat dipastikan bahwa dikuburan itu dimakamkam seorang perempuan.  Adapun transliterasi dari nisan ini adalah: “kematian almarhumah ibu, ketua, para perempuan, tuhan, ibuku (???) Suy, terjadi pada tanggal dua puluh Safar-Semoga Allah menamatkannya dalam kebaikan dan kemenangan-pada tahun 772/13 September 1370”

Hampir keseluruhan makam dipekuburan ini menggunakan dua batu nisan dengan tipe dan hiasan batu yang agak seragam. Berdasarkan tipologinya, kemungkinan nisan tersebut di impor dari India, China atau Jawa. Dari segi gaya tulisan, beberapa nisan ditulis dengan huruf berkontur ganda, huruf timbul  dan ditulis dengan memakai tinta. Sedang nisan yang diberi ornamentasi bunga teratai, kemungkinan diimpor dalam keadaan belum bertulis. Beberapa nisan dipekuburan ini bertuliskan kalimat syahadat. Sedangkan di pekuburan yang belum teridentifikasi, ditemukan batu nisan yang kini disimpan di Museum Propinsi Sumut. Nisan tersebut bertarik 23 Safar 800 atau 15 November 1379 yang jatuh pada hari Kamis. Kedua sisi batu nisan ini ditulis dengan huruf timbul. Adapun transliterasi pada nisan sebelah kanan sisi II adalah sebagai berikut: “Tanggal wafat Rukn al-din pada malam Senin x.x.x 23 bulan Safar Hijriah tahun 800 H/15 November 1397…(semoga Allah) mengampuni…”

Pekuburan yang ketiga adalah makam yang paling sering dikunjungi dan diziarahi oleh masyarakat sekitar Barus maupun daerah lain. Di makam tersebut, orang sering menaburkan bunga sembari berdoa. Terletak diatas sebuah bukit setinggi 215 meter dan dapat dicapai melalui 900 anak tangga yang dibangun pada tahun 1986.  Pekuburan itu diyakini merupakan makam Mahmud yang ditandai dengan dua nisan. Panjang makam tersebut adalah 9 meter. Dari segi gaya tulisan, kedua nisan tersebut sangat berbeda, yakni menggunakan bahasa Arab dan Persia dengan huruf timbul. Jenis batu yang digunakan adalah granit dengan tekstur yang sama, tetapi dibedakan oleh warna dari kedua nisan tersebut. Kuat dugaan bahwa kedua nisan itu, di impor dari tempat yang berbeda. Pada akhir teks bahasa Persia, dituliskan: “setiap hari, keajaiban hadir bagi yang meminta pertolongan”. Kiranya, dengan teks inilah hingga sekarang, masyarakat sering mengunjungi makam sembari berdoa untuk memohon ‘keajaiban’. Pada batu nisan tersebut terdapat tarik yakni 829 H atau 1425-6 M.

Pekuburan yang keempat adalah kompleks pekuburan Ambar. Dipekuburan ini tidak ditemukan nisan yang menggunakan tarik dan hanya satu nisan yang memuat nama. Namun, kondisi dari nisan tersebut tidak memungkinkan untuk dibaca karena sudah sangat aus. Orang yang dimakamkan dipekuburan tersebut salah satunya bergelar al-syekh dan pujian yang dituliskan pada nisanya adalah “semoga Allah menyucikan jiwanya yang mulia”. Kuat dugaan bahwa nisan di pekuburan tersebut sudah tidak asli karena nisan sudah dideretkan secara teratur. Dari segi tipologinya, batu nisan dipekuburan ini banyak persamaan dengan nisan di makam Papan Tinggi demikian pula dengan hiasan relung lampu yang tampak pada kedua sisi yang berlawanan. Jenis batu yang digunakan adalah granit.

Pekuburan selanjutnya adalah makam Maqdum. Sebuah makam dengan nisan yang paling besar dan tinggi di pekuburan ini mengandung silsilah sultan-sultan dan kalimat syahadat yang dituliskan berulang-ulang. Selain nisan ini, juga terdapat nisan lain yang lebih kecil dan  sederhana tetapi sebagian nisan sudah rusak dan tidak terbaca. Tulisan yang terdapat di nisan dibuat dengan tanpa nama. Selain itu, juga terdapat nisan dengan hiasan yang dipahat menyerupai nisan di pekuburan Ibrahim. Kemungkinan, kata Maqdum berasal dari bahasa Arab mahdum yang bermakna dilayani dengan setia.

Pekuburan yang terakhir adalah makam Mahligai. Pekuburan ini terletak diatas bebukitan yang relatif luas dan merupakan pekuburan yang paling jauh dari Barus. Batu nisan yang ada cenderung bervariasi dari segi bentuk dan ukuranya. Jumlah makam relatif banyak jika dibandingkan dengan pekuburan terdahulu. Dari jumlah nisan yang ada, terdapat dua yang menuliskan nama almarhum dan selebihnya menuliskan teks-teks bernuansa islami tanpa menyebutkan nama. Salah satu nisan bertulis dengan nama almarhum adalah nisan yang berbentuk segi delapan dengan ruang empat persegi panjang yang dibubuhi tulisan pada setiap bagian pinggir atas yang dibuat dengan huruf timbul. Adapun transliterasi dari nisan dimaksud adalah sebagai berikut: “Imam dan Khatib, Murra, murid syekh dan imam Mu’azzam Sah, dari kota Fansuri, yang mengikuti Syekh Sams al-din, Rahmat  (atau  semoga (Allah) menyayanginya?)”. Teks menggarisbawahi bahwa ia berasal dari kota Fansur, nama Barus pada abad pertengahan. Namun, nama  kota dipakai dalam bentuk nisbah yakni Fansuri. Nisbah tersebut mengingatkan kepada penyair mistis Hamzah Fansuri yang meninggal dunia pada 933 H atau 1527 M. Belum diketahui apakah epitaf itu merujuk pada nama Hamzah atau nama kotanya, karena dalam naskah Sejarah Melayu maupun Hikayat Aceh, Barus disebut dengan Fansuri dan bukan Fansur.

Penutup

Barus yang pada masa kini dapat dikatakan kawasan terpencil, pada awalnya lebih mudah dicapai dengan jalur transportasi laut. Demikian pula bahwa Barus bukan saja kawasan perdagangan kamper, kemenyan atau bahan hutan lainnya tetapi juga kawasan di mana Islam sudah berkembang. Pada saat itu, Islam sudah merupakan kebudayaan pada masyarakat yang tinggal di daerah itu yang menunjukkan peradaban yang agung. Setidaknya hal tersebut tampak jelas pada banyaknya nisan islam yang ditemukan di daerah itu. Inskripsi yang terdapat di nisan, keanekaan nisan dari segi morfologi ataupun ornamentasi nisan telah menunjukkan suatu peradaban yang maju.

Akan tetapi, keterpencilan daerah tersebut telah membatasi penyelidikan-penyelidikan lebih lanjut, yang diperparah lagi oleh minusnya sumber-sumber tertulis yang dapat mendukung penyelidikan guna merekontruksi sejarah Barus Tempo Doeloe. Sumber-sumber itu memang ada dan tersembunyi di dalam kesunyian tanah pekuburan. Meminjam kalimat Ludvik, “Sumber itu memang sederhana tempatnya, namun inskripsi yang mengandung nama ‘Suy’ memunculkan hipotesis kehadiran orang Cina, dwibahasa di makam Papan Tinggi juga mengindikasikan bahwa bahasa Persia juga dipakai di Barus disamping bahasa Arab.  Demikian pula bahwa makam Papan Tinggi telah membuka rahasia kepada kita bahwa ia adalah seorang wali yang makamnya akan dijadikan tempat ziarah. Nisan berbentuk segi delapan kemungkinan adalah sekelompok sufi yang mengikuti pengajaran Sams al-din yang bisa jadi adalah tokoh sufi terkenal dari Sumatra. Demikian pula makam Zaynal Abidin di pekuburan Mahligai telah membuka tabir akan kesultanan yang pernah ada di Barus”. Kiranya, inskripsi itu telah menjadi batu penjuru bagi kita untuk menyingkap tabir rahasia Barus pada 1000 tahun silam, sebuah kota yang pada masa kini menjadi terlupakan tetapi memiliki arti di pulau Sumatra dan bahkan dunia pada awalnya.

Penulis: Peneliti pada
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s