E’ROND L. DAMANIK, M.Si.

MUSEUM SITUS KOTA CINA MEDAN MARELAN

Ichwan Azhari, EE. McKinnon and Iqbal Nasution di Green Princess Fort Delitua

WAR DANCING: TRADITIONAL CULTURE FROM NIAS ISLAND

HOMBO BATU, TRADITIONAL CULTURE FROM NIAS ISLANDS

KEDINASTIAN TIONGKOK DENGAN ARTIFAK DI PANTAI TIMUR SUMATRA

KEDINASTIAN TIONGKOK DENGAN ARTIFAK DI

PANTAI TIMUR SUMATRA

(dikumpulkan dari berbagai artikel lepas di internet dan literatur)

A. Kedinastian dan Tinggalan Artifak di Pantai Timur Sumatra

1. Dinasti Song (960 – 1268)

a. Sistem Pemerintah

Dinasti Song adalah salah satu dinasti yang memerintah di Cina antara tahun 960 sampai dengan tahun 1279 sebelum Cina diinvasi oleh bangsa Mongol. Dinasti ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara dan setelah kejatuhannya digantikan oleh Dinasti Yuan. Dinasti ini merupakan pemerintahan pertama di dunia yang mencetak uang kertas dan merupakan dinasti Cina pertama yang mendirikan angkatan laut. Dalam periode pemerintahan dinasti ini pula, untuk pertama kalinya bubuk mesiu digunakan dalam peperangan dan kompas digunakan untuk menentukan arah utara.

Dinasti Song dibagi ke dalam dua periode berbeda, Song Utara dan Song Selatan.  Song Utara ibukota Song terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol kebanyakan daerah Cina dalam (daerah suku Han) yang di pimpin oleh Kaisar Song Taizu.  Song Selatan (1127–1279) merujuk pada periode setelah dinasti Song kehilangan kontrol atas Cina Utara yang direbut oleh Dinasti Jin. Pada masa periode ini, pemerintahan Song mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota di Lin’an (sekarang Hangzhou). Walaupun Dinasti Song telah kehilangan kontrol atas daerah asal kelahiran kebudayaan Cina yang berpusat di sekitar Sungai Kuning, ekonomi Dinasti Song tidaklah jatuh karena 60 persen populasi Cina berada di daerah kekuasaan Song Selatan dan mayoritas daerah kekuasaannya merupakan tanah pertanian yang produktif. Dinasti Song Selatan meningkatkan kekuatan angkatan lautnya untuk mempertahankan daerah maritim dinasti Song. Untuk mendesak Jin dan bangsa Mongol, dinasti Song mengembangkan teknologi militer yang menggunakan bubuk mesiu.

Pada tahun 1234, Dinasti Jin ditaklukkan oleh bangsa Mongol. Möngke Khan, Khan ke-empat kekaisaran Mongol, meninggal pada tahun 1259 dalam penyerangan ke sebuah kota di Chongqing. Saudara lelakinya, Kublai Khan kemudian dinyatakan sebagai Khan yang baru, walaupun klaim ini hanya diakui oleh sebagian bangsa Mongol di bagian Barat. Pada tahun 1271, Kubilai Khan dinyatakan sebagai Kaisar Cina. Setelah peperangan sporadis selama dua dasawarsa, tentara Kubilai Khan berhasil menaklukkan dinasti Song pada tahun 1279. Cina kemudian disatukan kembali di bawah Dinasti Yuan (1271–1368).

Populasi Cina meningkat dua kali lipat semasa abad ke-10 dan ke-11. Pertumbuhan ini didukung oleh perluasan kultivasi padi di Cina tengah dan selatan, penggunaan bibit beras cepat panen dari Asia selatan dan tenggara, dan surplus produksi bahan pangan. Sensus Dinasti Song Utara mencatat populasi sekitar 50 juta. Angka ini menyamai populasi Cina pada saat Dinasti Han dan Dinasti Tang. Data ini diperoleh dari sumber catatan Dua Puluh Empat Sejarah (Namun, diperkirakan bahwa Dinasti Song Utara berpopulasi sekitar 100 juta jiwa. Pertumbuhan populasi yang dramatis ini memacu revolusi ekonomi Cina pramodern. Populasi yang meningkat ini merupakan salah satu penyebab lepasnya secara perlahan peranan pemerintah pusat dalam mengatur ekonomi pasar. Populasi yang besar ini juga meningkatkan pentingnya peranan para bangsawan rendah dalam menjalankan administrasi pemerintahan tingkat bawah.

Ilmu navigasi dan pembuatan kapal segera mencapai puncaknya dan kapal Tiongkok menjadi yang paling maju pada saat itu. Kapasitasnya berkisar antara 200-600 ton. Salah satu kapal Dinasti Song yang ditemukan kembali, panjangnya mencapai 40m dan lebarnya mencapai 10m. Benar-benar suatu prestasi yang luar biasa.  Sementara itu di utara Bangsa Mongol telah menjadi semakin kuat. Pada mulanya Bangsa Mongol adalah taklukan dari Kerajaan Jin, namun pada akhirnya mereka berhasil mengalahkan Jin dan mendirikan kerajaan sendiri, di bawah Genghis Khan. Bangsa Mongol segera menjadi ancaman baru bagi Dinasti Song Selatan.

Pada tahun 1279, serangan pasukan Mongol memaksa keluarga kerajaan untuk melarikan diri ke laut, namun akhirnya Mongol berhasil mengepung mereka kembali. Ketika melihat tidak ada harapan lagi, salah seorang menteri yang setia pada Dinasti Song bernama Lo Shiufa, memeluk Bingdi dan bersama-sama menceburkan diri ke laut. Peristiwa ini menandai berakhirnya Dinasti Song.

b. Keramik dari Dinasti Song

Selama pemerintahan Sung pembuatan porselin semakin menguat. Barang porselin dikirim keluar negeri untuk dijual. Barang-barang porselin dibuat dari tanah liat yang putih dan halus seklai dengan dicampuri serbuk padas dan pasir. Bahan-bahan itu ditumbuk halus dan dijadikan semacam adonan. Dengan bahan itu dapat dibentuk sesuka hati seperti mangkuk, jambang dan lain sebagainya. Sesduah itu diberi glasir lalu dibakar.

Barang porselin dapat menahan panas api yang lebih besar dari pada barang yang dibuat dari tanah liat biasa. Barang porselin harus dibakar bebrapa hari lamanya dalam api yang cukup besar, lai didinginkan selama dua tiga hari sebelumnya diambil dari tempat pemabakaran. Panas api harus diamati dan harus sama pada waktu siang maupun malam, sebab jika tidak dan panas menjadi jelek.

Jika sudah selesai warna porselin seluruhnya putih bersih, sedangkan barang tanah liat selalu sedikit merah atau kemerah-merahan. Cahaya dapat menembus porselin dan jika porselin dipukul perlahan-lahan dengan benda keras porselin berbunyi nyaring. Porselin dapat dibuat lebih tipis dari pada barang tanah liat biasa, dan dapat diberi warna yang lebih indah dan glasir yang lebih bagus. Pembuatan porselin dari glasir mereka kembangakan dari pembuatan batu giok yang pembuatan batu bahan giok adalah galasir. Mereka selanjutnya membuat porselin dari warna giok: hijau tua, hijau muda, atau hijau yang berkilauan bagaikan rumput terkena sinar matahari. Ada glasir yang berwarna kuning, merah dan ungu. Sebelumnya barang-barang tadi dibakar, dibuatlah terlebih dahulu gambar-gambar diatasnya. Gambra-gambar bubga, lukisan naga atau ikan dan sebaganya. Lalu diberi gelasir dan gambar-gambar itu dapat menembus gelazur itu.

Mula-mula warna itu tak dipakai bercampur, tetapi sebuah barang porselin hanya diberi gelasir dengan sebuah warna saja. Hasil pekerjaan itu sederhana, tetapi indah. Warna yang sangat digemari adalah warna hijau, mulai dengan hijau muda kebiru-biruan, sebagai warna kulit telur itik, sampai hijau tua serupa hijau daun bayam muda. Porselin itu disebut celedon dan kini sangat mahal. Kadang-kadang terjadi hal-hal yang aneh ditempat pemabakaran itu. Kerab terjadi barang yang keluardari tempat pembakaran itu berlainan sekali dari pada yang diaharapkan, sehingga tukang-tukang mengira pai sendirihlah yang membuat perubahan tadi. Gambar-gambar yang dibuat nampak gelasir, seakan-akan apilah yang membuat. Ada juga seseorang yang membeli sebuah mangkuk besar untuk mencuci tangannya. Pada suatu hari diwaktu musim dingin, sesudah mencuci tanganya, air dalam mangkuk tersebut beku. Tetapi lihatlah! Air membeku dan nampak padanya sebuah gambar bunga buah persik. Ia ,elihat peristiwa ini dengan kagum dan amat girang. Lain waktu lagi tetapi sekarang air menjadi beku dengan ruopa setangkai bunga mawar yang mekar sekali.

Sejak waktu itu, jika hendak memperlihatkan pada teman-temanya hal-hal yang indah, diambillah olehnya mangkuk ajaib itu dan dibiarkan air disitu membeku. Lalu dilihatlah gambar-gambar yang timbul diatas es tipis itu: sepert rumpun pohon bambu, atau sebuah dusun, gunung dan tiap kali pemanadangan berlainan. Banyak sair ditulis tentang porselin. Mereka menganggap porselin adalah bagaikan bulan terang diukir dengan keahlian dan diputihkan dengan air mata. Ia bagaikan cawan indah-bagus dare s yang setipis-tipisnya dan penuh dengan awan hijau. Porselin bagaikan daun bunga teratai yang halus dan penuh tetes embun yang dibawa oleh arus air sungai. Seorang kaisar memesan bebrpa buah barang porselin untuk istananya. Katanya” warnanya harus sebagai warna biru langit sesudah air hujan turun, dan awan tebal sudah tercerai berai.”

Pedagang arab dan Persia yang datang ke Tiongkok sangat gembira melihatnya. Di Tiongkok orang mempunyai tanah liat yang bagus sekali ”kata mereka”, jika pulang dinegerinya, dengan tanah liat itu dibuatnya jambang yang tipis dan jernih seperti gelas. Kami dapat melihat air didalamnya. Mereka mebelinya dan memperdagangkannya sampai di negeri-negeri selatan dan bangsa Tionghoa sendiri membawanya juga ke India, Arab, dan kepulauan Jawa, Sumatra dan Borneo. Mereka membawa barang-barang porselin ke pelabuhan-pelabuhan di sebelah Barat dan Selatan. Dan banyak sekali kapal luar negeri berlabuh dipelabuhan Tiongkok untuk membeli pirng porselin untuk rajanya dan semua orang yang dapat membayar dengan harga yang tinggi. Jalur pelayaranpun semakin ramai. Perdagangan pun semakin diminati berbagai negara. Terutama negeri Tiongkok. Dengan berkembangnaya aktivitas perdagangan perkembanagan agamapun melejit. Para pedagang dengan membawa para bhiksu (pendeta Budha dengan misi ekonomi dan dibarengi dengan agama) melakukan perjalanan mencari dunia baru.

Di Situs Kota Cina pun tedapat porselin atau pecahan keramik yang berasal dari dinasti Song. Aktivitas arkeologi menunjukkan bahwa pecahan keramik yang telah diidentifikasi menunjukkan peninggalan dinasti Song yakni porselin putih dan glasir bening. Keramik yang di temukan di situs Kota Cina kebanyakan berasal dari keramik Song Selatan pada abad ke-10-12 m.

2. Dinasti Yuan

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Yuan (1271 – 1368) adalah satu dari dua dinasti asing di Cina. Dinasti ini didirikan oleh Kublai Khan, cucu dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Walaupun Kublai Khan secara de-facto adalah pendiri Dinasti Yuan, namun ia menempatkan kakeknya, Jenghiz Khan sebagai kaisar pertama Dinasti Yuan. Ibu kota Dadu (sekarang Beijing), Shangdu. Bahasa Mongol mandarin. Agama Buddhisme (Cina dan Tibet), Taoisme, Konfusianisme, Kepercayaan tradisional Cina. Pemerintahan adalah Monarki dengan hak pilih terbatas. Kaisar : i)  1260–1294 Kublai Khan, ii) 1333–1370 dan iii) Ukhaatu Khan

Era bersejarah adalah Abad pertengahan, pendirian       18 Desember 1271, penaklukan Dinasti Song Selatan tangaal 19 Maret 1276,  Jatuhnya Dadu tanggal 14 September 1368. Luas yakni Sekitar tahun 1310= 14.000.000 km² (5.405.430 sq mi) .Populasi perkiraan 1293 sekitar 62.818.128.  Mata uang Mayoritas uang kertas, dengan uang koin dalam jumlah kecil.

Pada Dinasti Yuan ( 1206-1368 ), utusan pedagang yang timbal balik antara Timur dan Barat lebih banyak dari pada masa sebelumnya. Dinasti Yuan kerap berhubungan dengan Jepang dan berbagai negara Asia Tenggara. Pada tahun 1275, anak pedagang Venezia, Marco Polo mengikuti ayahnya berkunjung ke Tiongkok dan menetap selama 17 tahun. Marco Polo meninggalkan karyanya “ Perjalanan ”, salah satu dokumen penting bagi orang Barat untuk mengenal Tiongkok dan Asia.

Pada tahun 1333, pemberontakan kaum tani dengan agama dan persekutuan rahasia sebagai ikatan menyebar luas ke seluruh negeri. Pada tahun 1351, kaum tani buruh yang membenahi Sungai Kuning memicu pemberontakan dengan “ kain merah ” sebagai tandanya. Pada tahun 1341, Kepala Tentara “ Kain Merah ” Zhu Yuanzhang berhasil menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan Dinasti Ming.

b. Keramik dari Dinasti Yuan

Dengan permintaan pasar baru yang dihasilkan dari penyatuan kembali utara dan selatan, serta baru Mongol selera dan permintaan untuk ekspor ke Timur Dekat, Jepang, dan Korea, Yuan masa inovasi dalam produksi keramik. Sumber untuk motif dekoratif baru dan bentuk kapal berasal dari logam Timur Dekat, fitur dinasti Tang bertahan pada keramik Dinasti Jin, dan perunggu Cina kuno dan jades.

Pada periode ini, pusat produksi keramik bergeser ke selatan, di mana rute perdagangan luar negeri menyebabkan pasar jauh seperti Jepang, India, dan Afrika. Pada kompleks Jingdezhen dari kiln di provinsi Jiangxi, yingqing atau porselen qingbai menunjukkan nada-kebiruan glasir terus diproduksi bersama dengan tipe baru dicat dengan desain porselen tembaga-merah dan biru colbalt glasir. Celadons dengan warna hijau zaitun lebih daripada rekan Song mereka terus diproduksi di tanur Longquan di provinsi Zhejiang. Beberapa teknik yang paling inovatif dikembangkan untuk batuan yang diproduksi di daerah Cizhou, provinsi Shanxi. Memiliki tubuh tanah liat gelap, barang-barang tersebut dihiasi dengan berbagai cara. Beberapa memiliki tanah slip putih dicat dengan pigmen hitam-besi glasir dan kadang-kadang gores desain, sementara yang lain menggunakan proses yang rinci sgraffito, overglazes, warni, dan berbagai teknik lainnya.

Periode Yuan juga menghasilkan barang keramik atau porselin. Hasil produksi dari dinasti Song Selatan diteruskan oleh Dinasti Yuan. Keramik yang terkenal pada saat itu adalah celadon yang di produksi Longquan. Tembikar ini diciptakan dan ditingkatkan seladon glazur teknik. Workshop Longquan secara khusus terkenal secara internasional. jumlah besar seladon Longquan diekspor seluruh Asia Timur, Asia Tenggara dan Timur Tengah pada abad ke-13-15. piring besar seladon disambut di negara-negara Islam.

Ciri-ciri keramik yang berasal dari Dinasti Yuan adalah terutama dari pertengahan seterusnya dicirikan oleh pembuluh yang lebih tebal pot dan cahaya kebiruan Glaze menjadi lebih buram. Nada warna kemudian menjadi lebih putih susu atau putih telur dalam nada dan umumnya disebut sebagai shufu dagangannya. Melengkung / menorehkan motif yang lebih samar dan luka dalam. Sebagai perbandingan, mereka masih terkesan motif rumit dan padat dihiasi di kapal.

Pada awal 2000-an, sejumlah besar barang celadon diselamatkan dari setidaknya dua bangkai kapal di perairan Indonesia oleh nelayan dan salvagers teridentifikasi. Banyak kebingungan dan informasi kontradiktif beredar, sebagian mengklaim bahwa mereka memang benar-benar kapal karam barang sementara yang lain menduga bahwa mereka adalah salinan modern tenggelam di laut untuk mengelabui calon pembeli. Penyebab utama dari masalah adalah bahwa hanya sedikit yang mampu mengidentifikasi celadon pembakaran barang-barang yang berasal dari. Bagi beberapa orang yang akrab dengan ekspor barang-barang kuno, mereka berspekulasi bahwa barang-barang tersebut berasal dari wilayah Fujian atau Guangdong.

Kemudian Dinasti Yuan (1271-1368) adalah periode kunci bagi pengembangan teknik penembakan Blue dan White Porcelain di Cina. karakteristik yang unik didasarkan pada teknik dinasti mantan. Blue dan White Porcelain telah menjadi produk utama porselen Cina oleh Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1368-1911). Blue dan White Porcelain dari Dinasti Yuan besar dalam ukuran, dengan membuat secara kasar tebal. Umumnya terdapat botol besar, panci besar, mangkuk besar dan piring besar, dengan bumbu tradisional Tang (618-907) dan Song (960-1279) dinasti. Karena teknik terbelakang, ada dua antarmuka pada tubuh dan beberapa urat dalam tubuh. yg dibuat secara kasar ini tidak semulus yang dari Dinasti Ming dan Qing, sedangkan lapisan es dari Biru dan Putih Porcelain dari Dinasti Yuan lebih tebal daripada Dinasti Ming dan Qing, karena besi lebih dalam bahan baku glasir .

Ada baris seperti bambu di kaki porselen tersebut. Tubuh terhubung dengan kaki ketika glasir belum dilapisi. Tubuh yang dihiasi dengan baris teratai, awan dan banyak bunga. Dekorasi padat tidak hanya diterapkan pada porselin biru dan putih tetapi juga untuk gambar tenun dan ukiran batu, mencerminkan karakteristik unik waktu itu. Produsen utama Blue dan White Porcelain dalam wasJingdezhen Dinasti Yuan. Selain itu, ada tungku untuk produksi porselen biru dan putih di Zhejiang timur Provinsi Yunnan Cina, barat daya Cina.

3. Dinasti Ming

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Ming (1368 – 1644) adalah dinasti satu dari dua dinasti yang didirikan oleh pemberontakan petani sepanjang sejarah Cina. Dinasti ini adalah dinasti bangsa Han yang terakhir memerintah setelah Dinasti Song. Pada tahun 1368 Zhu Yuanzhang berhasil mengusir bangsa Mongol kembali ke utara dan menghancurkan Dinasti Yuan yang mereka dirikan. Ia mendirikan dinasti Ming, dengan ibukotanya di Yingtian (sekarang Nanjing) sebelum putranya, Zhu Di, yang menjadi kaisar ke-3 memindahkan ibukota ke Shuntian (sekarang Beijing). Yingtian kemudian berganti nama menjadi Nanjing (ibukota selatan). Luas kekuasaan 1450 6.500.000 km² (2.509.664 sq mi).

Awal Dinasti Ming ditandai dengan masa-masa ketenangan dan kemakmuran di bawah Kaisar Hongwu, Zhu Yuanzhang. Kaisar Hongwu melakukan reformasi pada sistem pemerintahan dan birokrasi dengan membentuk organ birokrasi baru yang saling mengimbangi untuk mencegah munculnya lembaga pemerintah yang mempunyai wewenang terlalu besar. Ia juga melalukan pembangunan ekonomi, menghentikan segala ekspedisi militer untuk memberi rakyat waktu dan ketenangan untuk melakukan tanggung jawab mereka di bidang masing-masing. Kebijakan ini berhasil ditandai dengan peningkatan jumlah populasi sampai dengan 10.650.000 kepala keluarga atau 65.000.000 jiwa pada tahun 1393.

Di penghujung Dinasti Ming, pemberontakan marak di seluruh negara dan pada puncaknya, Beijing jatuh ke tangan pemberontak yang dipimpin oleh Li Zicheng. Kekalahan ini menyebabkan Chongzhen menggantung diri di bukit di belakang Kota Terlarang. Li yang bersengketa dengan Wu Sangui menangkapi keluarganya di Beijing menyebabkan Wu memutuskan untuk menyerah kepada suku Manchu yang kemudian menaklukkan Li Zicheng dan menguasai Beijing pada tahun 1644.

Setelah Beijing dikuasai oleh suku Manchu, mereke kemudian mendirikan Dinasti Qing yang menandai runtuhnya Dinasti Ming. Sisa-sisa kekuatan yang setia kepada Dinasti Ming kemudian mengungsi ke selatan Cina dan meneruskan perlawanan secara terpisah. Dalam sejarah, kekuatan ini dikenal sebagai Ming Selatan. Ming Selatan kemudian berhasil dihancurkan oleh Kaisar Kangxi pada tahun 1683.Dinasti Ming (1368 – 1644).  Setelah berhasil mengusir Bangsa Mongol, Zhu Yuanzhang menobatkan dirinya sebagai kaisar dengan gelar Ming Daizhu (1368 – 1398). Tahun pemerintahannya disebut dengan Hongwu, sehingga Beliau juga dikenal dengan sebutan Kaisar Hongwu. Dinasti barunya tersebut diberi nama Ming.

Pelayaran samudera merupakan salah satu hal yang patut dibanggakan pada masa Dinasti Ming. Kaisar Yongle (1403 – 1424) telah memerintahkan Admiral Zheng He untuk mengadakan pelayaran ke selatan menuju negeri-negeri yang jauh. Ia berhasil berlayar sejauh Afrika (Mogadishu dan Malindi), jauh sebelum Bangsa Barat berhasil mencapai tempat tersebut serta mencapai Kalkuta dan Kolombo beberapa ratus tahun sebelum Vasco Da Gama. Zheng He berangkat pada tahun 1405, membawa 63 kapal yang memuat 27.870 orang (jauh lebih banyak dibandingkan dengan pelayaran Kolombus). Hal terpuji yang patut kita teladani di sini adalah: meskipun membawa kekuatan besar tetapi Zheng He tidaklah berusaha menaklukkan atau menjajah negeri-negeri yang dikunjunginya. Hal ini beda dengan bangsa Barat, dimana penjelajahan selalu diakhiri dengan penjajahan. Pelayaran samudera ini beberapa ratus tahun lebih tua dibandingkan dengan Kolombus, sehingga dapat dikatakan bahwa pelopor penjelajahan samudera yang sebenarnya adalah Zheng He.

Yongle digantikan oleh putera tertuanya Hongxi (1425), yang hanya memerintah setahun, namun ia memiliki rasa ketertarikan pada astronomi. Ia telah berhasil mengenali bintik matahari, jauh sebelum bangsa Barat mengenalnya. Kaisar Dinasti Ming yang terkenal berikutnya adalah Wanli (1573 – 1620). Pada masa kekuasaannya transformasi Tiongkok menuju negara modernpun diawali. Hasil pertanian dari Amerika, seperti misalnya jagung, kentang manis, dan kacang meningkatkan produksi pangan dan jumlah penduduk meningkat hingga menjadi lebih dari 100 juta jiwa atau bertambah dua kali lipat dibandingkan awal Dinasti Ming. Dinasti Ming terkenal pula dengan keramiknya yang diekspor ke seantero penjuru dunia. Pada beberapa bagian belahan bumi ini, kita dapat menjumpai sisa-sisa keramik dari jaman dinasti ini. Sementara itu menjelang akhir Dinasti Ming, Bangsa Manchu di utara menjadi bertambah kuat. Pemimpin mereka Nurhachi beserta puteranya Aberhai pada awal abad ketujuh belas berhasil merebut Liaoning dari tangan Dinasti Ming. Setelah merasa kuat mereka mendirikan dinasti sendiri yang diberi nama Qing (1626).

Kaisar Dinasti Ming terakhir adalah Chongzhen (1628 – 1644), pada jamannya terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Li Zicheng. Ia berhasil merebut Beijing, ibukota Dinasti Ming pada Bulan April 1644, menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dinasti Xun. Kaisar Chongzhen bunuh diri dengan cara menggantung diri dan pada saat yang sama dengan kematiannya, berakhir pulalah Dinasti Ming. Jenderal Wu Sangui yang ditugaskan menjaga perbatasan masih setia pada Dinasti Ming, maka ia meminta tolong Bangsa Manchu yang saat itu dipimpin Shunzhi (1644 – 1661) untuk mengusir Li Zicheng. Tetapi ternyata setelah Li berhasil diusir, Bangsa Manchu tidak bersedia meninggalkan Tiongkok, sehingga dengan demikian berawalah kekuasaan Dinasti Qing di Tiongkok.

B. Keramik Ming

Porselin Ming merupakan keramik yang kualitas tinggi. Fungsi porselen Cina termasuk di antara hadiah dipertukarkan dalam hubungan luar negeri selama Dinasti Ming. Di antara jumlah besar dan berbagai keramik Cina yang ditemukan di Thailand dan lebih besar Asia Tenggara adalah berbagai yang mirip Ming ware resmi dalam penggunaannya naga dan phoenix motif dan bahan berkualitas tinggi dengan pengerjaan. Sarjana Liu Liangyou dalam sebuah artikel berjudul “Cina Keramik tergali di Thailand” pada edisi 49 dari National Palace Museum Seni Bulanan Cina, menyatakan bahwa keramik halus dieksekusi tersebut hanya bisa menjadi produk dari sebuah bengkel resmi dan bagian dari sistem hadiah tempat untuk hubungan Ming Dinasti asing. Liang mengutip Sejarah Dinasti Ming (Mingshi) 339 bab untuk Champa dan Kamboja (Zhancheng Zhenla zhuan) untuk tahun 1383. Pengadilan Ming disajikan Siam (Thailand) 19.000 item barang keramik. Tiga tahun kemudian juga mencatat bahwa pengadilan Kamboja disajikan dengan jumlah yang tidak ditentukan barang keramik. Kita dapat mengasumsikan bahwa jumlah item yang signifikan juga dan jangka waktu tersebut ditukar terus setidaknya selama periode awal dinasti Ming. Phoenix piring biru-putih direproduksi di sini, dan menemukan di Asia Tenggara, identik dengan contoh di Boston Museum of Fine Arts, tanggal pertengahan abad ke-15.

Selama Dinasti Ming (1368-1644), yuqichang atau kiln resmi didirikan dan ware biru-putih menjadi lebih halus. Tanah liat untuk porselin putih terpilih pada hati-hati, warna biru kobalt cemerlang dan motif yang halus, memproduksi barang dari keanggunan abadi. Dari periode seterusnya Xuande (1426), tanda pemerintahan mulai muncul di kekaisaran wares. Pada periode Chenghua (1466-1487), biru-putih mencapai titik puncaknya, dan sejumlah karya yang rumit sama berharganya seperti perhiasan yang diproduksi. bekerja Overglaze email doucai disebut juga dikembangkan selama periode ini. Pada periode Jiajing (1522-1566), biru-putih mulai menunjukkan penurunan negaranya dan digantikan oleh karya overglaze polikrom enamel. Boros potongan termasuk wucai dan kinrande diproduksi pada kedua kekaisaran dan swasta kiln. Pada periode Wanli (1573-1620), seorang ware Wanli-gaya khas dengan lukisan polikrom overglaze enamel diproduksi, meskipun tungku kekaisaran dinasti Ming tertarik untuk mengakhiri selama periode ini.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina juga terdapat keramik dinasti Ming tahun 14-17 M. Ciri dari keramik Ming yakni Longquan barang-barang terus diproduksi selama melalui Late Ming Dinasti Qing. Selama periode Ming awal, ada banyak juga membuat piring besar diproduksi dengan padat diisi melengkung / dibentuk motif bunga di pedalaman. Beberapa potongan yang lebih baik memiliki Glaze glossy tebal yang merupakan hasil dari Glaze multi layer aplikasi. Dibandingkan dengan sebelumnya khas dinding plat dangkal. Potongan Ming memiliki glassier dan lebih transparan glasir yang cenderung untuk mengembangkan krasing. Volume produksi menurun tajam dan kualitas relatif lebih miskin. Kebanyakan kiln menghentikan produksinya dengan hanya beberapa yang terus berproduksi dalam periode Qing.

B. Artifak China di Pantai Timur Sumatra

1. Latar belakang historis

Berdasarkan hasil penelitian terhadap situs Kota Cina setidaknya ditemukan lokasi yang mengandung tinggalan arkeologi, diantaranya ditemukan berbagai sisa bangunan keagamaan yang berisi arca Budhis, dan arca yang bersifat Hindu, sisa pertukangan logam, sisa tempat tinggal di sekitar sampah kerang dan berbagai artefak lain berupa manik-manik, pecahan gelas, mata uang logam, sisa papan perahu, tembikar dan keramik (baik yang masih utuh maupun pecahan). Berdasarkan banyaknya temuan arkeologis tersebut membuktikan bahwa pada masa lalu Kota Cina berperan sebagai ”Pelabuhan” jalur perdangangan atau sisa aktifitas kemaritiman pada masa lau di pesisir timur Sumatera (Koestoro dkk, 2004:31).

Salah satu penyebab kenapa dinasti Cina datang ke Situs Kota Cina adalah terbukanya jalur pelayaran melalui selat malaka. Selat ini semakin ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing-kapal asing yang berasal dari belahan bumi barat. Kedatangan kapal-kapal ini selain berlayar sebagaian ada yang singgah dan berdagang di sekitar Selat Malaka. Pada masa itu daerah Kota Cina merupakan salah satu pelabuhan penting di daerah Selat Malaka sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang sangat terkenal di dunia perdagangaan internasonal.

Beberapa asumsi diajukan oleh peneliti bahwa penghunian dan kegiatan/aktifitas di Kota Cina berlangsung pada sekkitar abad ke 12-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai. Asumsi ini berlangsung oleh penggalan carbondatting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Cina yang diketahui pembuatannya dari abad ke 12-13 (Wibisono, 1982). Asumsi juga dikuatkan dengan analisa terhadap temuan arca Budha, dilihat dari segi ikonografi menunjukkan kesamaan dengan gaya India Selatan (Tanjore) yang berasal abad ke 12-13 M (Suleiman, 1981). Analisa terhadap temuan keramik menunjukkan bahwa sebagian bersar keramik yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari abad ke 12-14 M. Jenis keramik yang paling banyak ditemukan di situs Kota Cina adalah jenis Celadon (green-glazed) yakni jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware.

Puncak masa keemasan celadon adalah pada masa dinasti Sung abad ke 11-12 M, diproduksi masal untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan eksport. (Ambary, 1984:66). Jenis keramik lainya keramik Chingpai ,(white glaze wares) yang merupakan jenis keramik yang bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silica yang kadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar abad 12 hingga akhir abad ke 14. Di situs Kota Cina juga terdapat keramik Te Hua wares yakni jenis keramik yang mirip dengan keramik Chingpai, perbedaannya pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik ini banyak diproduksi pada dinasti Yuan sekitar abad 14. (Ambary, 1984: 69). Jenis lainnya adalah Coarse stone wares, adalah jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberi kesan kasar bada bagian badan wadah.

Aktivitas Arkeologis berupa penelitian arkeologis dan geomorfologis  dimulai sejak tahun 1972 hingga tahun 1989 yang dilakukan oleh arkeolog seperti Mc. Kinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989).

Temuan arkeologis situs Kota Cina membuktikan bahwa masa lalu sudah berlangsung lama. Dahulu daerah ini difungsikan sebagai salah satu pusat niaga di pesisir timur Pulau Sumatera. Kontak pelayaran dan perdagangan mempertemukan masyarakat pedalaman–yang menghasilkan berbagai komoditas yang diperlukan pendatang dari berbagai penjuru dunia–dengan kelompok masyarakat pedagang dari luar Sumatera. Berbagai kebutuhan masyarakat setempat juga dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang datang membawa berbagai barang. Sisa dari sebagian aktivitas itulah yang ditemukan dalam kegiatan arkeologis yang dilakukan di sana dan kelak menjadi sarana penggalian informasi.

Aktifitas hubungan dagang melalui jalur laut secara khusus serta aktivitas maritim secara umum di pesisir timur Pulau Sumatera, tidak dapat dipisahkan dari letak strategis lokasi situs yang menghadap ke selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dalam rentang waktu yang panjang (mulai abad permulaan masehi hingga abad ke-19). Perdagangan melalui laut memanfaatkan kemajuan teknologi pelauaran melalui penggunaan perahu-perahu  dagang beretonase besar dengan memanfaatkan navigasi angin muson. Selat Malaka merupakan jalur sutera laut yang pada awalnya merupakan jalur perdagangan alternatif setelah jalur sutera darat yang menghubungkan Cina dengan daerah India. Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan teknologi pelayaran, Selat Malaka menjadi jalur perdagangan utama menuju daerah penghasil rempah-rempah, kapur barus, emas, kayu cendana, maupun barang niaga lainnya di wilayah Nusantara.

Kebanyakan temuan di Situs Kota cina adalah keramik kuno. Keramik kuno merupakan salah satu jenis benda yang diproduksi oleh manusia masa lalu untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka di dalam hidupnya. Pada prinsipnya pengertian keramik adalah setiap benda yang dibuat dari tanah liat, dan yang kemudian dibakar untuk memenuhi fungsinya. Pengertian dari istilah tersebut mancakup tiga macam benda yang dalam kepustakaan arkeologi dikenal sebagai: (1) “porselin” (porcelain), (2) “bahan-batuan” (stoneware), dan (3) “tembikar” (earthenware) (Ayat rohaedi et al. 1978:83; McKinnon et al. 1991). Porselin dan bahan-batuan dapat dibedakan secara tegas dengan tembikar karena kedua jenis benda keramik yang disebut terdahulu pada umumnya mempunyai beberapa ciri utama yaitu: benda tersebut dibuat dari bahan dasar tanah liat berwarna relatif putih yang dicampur dengan bahan-batuan tertentu (petuntze); permukaannya dilapisi dengan lapisan glasir; dan dibakar dengan suhu tinggi antara 1150 hingga 1350 C. Sementara tembikar memiliki beberapa ciri utama yang berbeda yaitu: benda dibuat dari bahan dasar tanah liat (biasa) yang dicampur dengan pasir, atau pecahan kerang, atau sekam pada permukaannya tidak dilapisi dengan lapisan glasir, dan dibakar dengan suhu rendah sekitar 900 C.

Oleh sebagian orang di Indonesia keramik berglasir sering disebut sebagai “keramik asing” (Ridho 1977, 1980, 1984; Hadimuljono 1980, 1985), sebaliknya tembikar disebut sebagai “keramik lokal”. Kedua istilah tersebut untuk pertama kalinya muncul dalam penelitian yang dipimpin oleh Teguh Asmar dan B. Bronson di Rembang (Asmar et al. 1975). Dalam rangka kegiatan penelitian situs-kota oleh Indonesian Field School of Archaeology (IFSA) di Trowulan yang dipimpin oleh Mundardjito dan J. Miksic diputuskan bahwa istilah keramik mencakup pengertian dari ketiga macam benda seperti tersebut di atas (Mundardjito et al. 1992).

Bagi para peneliti masa prasejarah Indonesia, istilah keramik lokal sering disebut sebagai “gerabah” (Soegondho 1993, 1995) atau juga sering disebut “kereweng” jika ditemukan dalam bentuk pecahan seperti dalam penelitian di Ratubaka (Asmar dan Bronson 1973). Namun beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa tidak semua benda tembikar atau gerabah adalah keramik lokal yang dibuat di Indonesia. Ada di antara himpunan benda tembikar itu merupakan barang impor atau yang dibuat di luar Indonesia (Miksic dan Tack 1988, 1992). Pengertian keramik dalam tesis ini mencakupi “keramik berglasir” dan “keramik tidak berglasir” yang keduanya dapat dipastikan berasal dari luar Indonesia dan merupakan barang impor.

Berdasarkan ciri-ciri fisik yang tampak pada keramik-keramik tersebut dapat diindentifikasi asal daerah pembuatannnya dan pertarikhannya. Keramik-keramik impor yang ditemukan di Indonesia berasal dari berbagai negara seperti: Cina, Asia Tenggara (antara lain Thailand, Vietnam, dan Khmer), Timur Tengah, Jepang, dan Eropa (seperti Belanda, dan Jarman). Di antara negara-negara penghasil keramik tersebut, keramik dari Cina merupakan temuan yang paling banyak (de Flines 1969; Ridho 1993/94:20). Sementara itu cara memberi pertarikhan (dating) atas benda keramik ditemukan oleh masa pemerintahan dinasti-dinasti Cina, yang tahun awal dan akhir kekuasaannya dapat diketahui. Tarikh tertua dari keramik yang pernah ditemukan di Indonesia diketahui dari masa dinasti Han yang berkuasa di Cina tahun 202 SM hingga 202 M (Ridho 1977). Namun yang banyak ditemukan di Indonesia terutama keramik-keramik yang dibuat dari masa sesudahnya, yaitu dari masa dinasti Tang (abad VII-X), Lima dinasti (abad X), dinasti Song (abad X-XIII), dinasti Yuan (abad XIII-XIV), dinasti Ming (abad XIV-XVII), dan terakhir dinasti Ching.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina sangat banyak. Berdasarkan data arkeologi pecahan keramik ini dulunya merupakann bahan perdagangan yang akan ditukarkan dengan rempah-rempah di situs Kota Cina. Tetapi sayang keramik yang didapat umumnya pecahan keramik.

2. Sejarah keramik cina

Keramik Cina (Chinese ware) adalah  bahan yang telah berkembang sejak masa dinasti. Cina kaya akan bahan baku yang dibutuhkan untuk pembuatan keramik. Jenis keramik pertama dibuat sekitar 11.000 tahun yang lalu, selama era Palaeolithic. Keramik Cina mulai dari bahan bangunan seperti batu bata dan genteng, untuk kapal tembikar tangan-dibangun dibakar dalam api unggun atau pembakaran, dengan barang-barang porselen canggih dibuat untuk istana.

Porcelain adalah istilah kolektif yang terdiri dari seluruh piranti keramik yang putih dan transparan, tidak peduli apa bahan yang digunakan untuk membuat atau untuk apa menggunakannya diletakkan. Keramik Cina juga dapat diklasifikasikan yang berasal dari utara atau selatan. Cina terdiri dari dua daratan yang terpisah dan berbeda secara geologis, dibawa bersama-sama dengan aksi pergeseran benua dan membentuk sebuah persimpangan yang terletak di antara sungai Kuning dan sungai Yangtze. Geologi kontras dari utara dan selatan menyebabkan perbedaan dalam bahan baku yang tersedia untuk pembuatan keramik.Porselen Cina sebagian besar dibuat oleh kombinasi bahan-bahan berikut: Kaolin – sebagian besar terdiri dari mineral lempung kaolinit. Tembikar batu – batu yang terurai dr mika atau feldspar, historis juga dikenal sebagai petunse.

Dalam konteks keramik porselen Cina tidak memiliki istilah yang diterima secara universal. Hal ini pada gilirannya telah menyebabkan kebingungan tentang kapan porselen Cina yang pertama dilakukan. Meneurut pendapat keramik yang pertama dibuat berasal dari periode akhir Han Timur (100 sampai 200 M.), periode Tiga Kerajaan Wei , Shu, and Wu (220-280 AD), periode Enam Dinasti (220-589 M), dan Dinasti Tang (618-906 M).  Dinasti Han, 202 SM-220 AD : Beberapa ahli percaya bahwa porselin yang pertama dibuat di provinsi Zhejiang selama periode Han Timur. ahli Cina menekankan adanya proporsi yan g signifikan dari mineral porselen-bangunan (tanah liat cina, batu porselin atau kombinasi dari keduanya) sebagai faktor penting dalam mendefinisikan porselen. Pecahan dari situs arkeologi Han Timur (kiln) diperkirakan suhu pembakaran berkisar antara 1260-1300 ° C . Sejauh 1000 SM, yang disebut “barang Porcelaneous” atau “proto-barang porselin” dibuat dengan menggunakan paling tidak beberapa kaolin dibakar pada suhu tinggi.

Sui dan dinasti Tang, 581-907 : Selama periode Sui dan Tang (581-907) berbagai keramik, rendah dan tinggi, di produksi. Tang terkenal dengan bahan  kaca (tiga warna) barang-barang, penembakan-tinggi, barang seladon kapur-kaca Yue dan produk rendah dibakar dari Changsha. Di Cina utara, pembakarannya tinggi, porselen tembus dibuat di tanur di propinsi Henan dan Hebei. Sebuah bentuk hidangan berglasir dari akhir 7 atau abad ke-8 awal, Dinasti Tang (618-907). Salah satu yang pertama menyebutkan dari porselen oleh asing dibuat oleh seorang musafir Arab masa Dinasti Tang yang mencatat bahwa: “” Mereka telah di Cina tanah lempung yang sangat baik dengan yang mereka membuat vas yang setransparan kaca; air terlihat melalui mereka. Para vas terbuat dari tanah liat . “Orang-orang Arab sadar bahan yang diperlukan untuk menciptakan kerami kaca, bukanlah bahan kaca biasa.

Song dan dinasti Yuan, 960-1368 : keramik ini diterukkan oleh dinasti Song Pada tahun 1004 dikawasan Jingde. Jingde dijadikan sebagai kota pusat produksi utama untuk porselen Imperial. Selama dinasti Song dan Yuan, porselen yang dibuat di kota dan lainnya selatan Cina kiln . Dinasti Ming, 1368-1644 : Dinasti Ming melihat suatu periode yang luar biasa inovasi dalam pembuatan keramik. Pembakaran diselidiki teknik baru dalam desain dan bentuk, menunjukkan kecenderungan untuk warna dan desain dicat, dan keterbukaan terhadap bentuk-bentuk asing. Kaisar Yongle (1402-1424) terutama ingin tahu tentang negara lain (yang dibuktikan dengan dukungan dari kasim Zheng He eksplorasi yang diperpanjang Samudra Hindia), dan menikmati bentuk yang tidak biasa, banyak terinspirasi oleh logam Islam. Selama pemerintahan Xuande (1425-1435), penyempitan teknis diperkenalkan dalam penyusunan kobalt yang digunakan untuk dekorasi glasir biru. Sebelumnya kobalt telah cemerlang dalam warna, namun dengan kecenderungan untuk  menambaw warna darah dan mangan warna kusam, tapi rak baris. Xuande porselin sekarang dianggap salah satu yang terbaik dari semua output Ming.  Dekorasi berenamel keramik disempurnakan di bawah Kaisar Chenghua (1464-1487), dan sangat dihargai oleh para kolektor kemudian. Bahkan menurut akhir abad keenam belas, Chenghua dan era Xuande bekerja (terutama anggur cangkir telah tumbuh begitu banyak dalam popularitas, bahwa harga mereka hampir cocok barang antik asli Song atau bahkan lebih tua. Ini harga untuk keramik yang relatif baru.  Banyak sarjana sasrawan senang  (seperti Wen Zhenheng, Tu Long, dan Lian Gao).]

Selain inovasi ini, periode akhir Ming mengalami pergeseran yang dramatis terhadap ekonomi pasar, porselen diekspor ke seluruh dunia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi selain dari porselin dipasok untuk keperluan rumah tangga, tempat pembakaran di Jingdezhen menjadi pusat produksi utama untuk ekspor porselen skala besar ke Eropa dimulai dengan masa pemerintahan Kaisar Wanli (1572-1620). Dengan ini kaolin waktu dan batu keramik yang dicampur dalam proporsi yang hampir sama. Kaolin menghasilkan barang dari kekuatan besar ketika ditambahkan ke paste, tetapi juga meningkatkan warna putih – suatu warna yang banyak dicari properti, khususnya ketika bentuk barang biru-putih tumbuh dan menjadi popularitas. Tembikar batu bisa dibakar pada suhu yang lebih rendah (1250 ° C) dari pasta dicampur dengan kaolin, yang dibutuhkan 1350 ° C. Variasi semacam ini sangat penting untuk diingat karena kiln(tempat pembakaran) berbentuk telur besar selatan sangat bervariasi suhu. Dekat perapian itu terpanas; dekat cerobong asap, di ujung tungku pembakaran, itu lebih dingin.

Yang terakhir adalah Dinasti Qing, 1644-1911 : sumber bahan primer porselen Dinasti Qing tersedia dari kedua warga asing dan penulis dalam negeri. Dua surat yang ditulis oleh Xavier Francois Père d’Entrecolles, mata-mata Yesuit misionaris dan industri yang tinggal dan bekerja di Jingdezhen pada awal abad kedelapan belas, dijelaskan dalam manufaktur detail porselen di kota itu. Dalam surat pertama kencan 1712, d ‘Entrecolles menggambarkan cara di mana batu tembikar hancur, halus dan dibentuk menjadi batu bata putih kecil, dikenal di Cina sebagai petuntse. Dia kemudian melanjutkan untuk menggambarkan pemurnian kaolin tanah liat cina bersama dengan tahap-tahap perkembangan dari kaca dan menembak. Dia menjelaskan motif-motifnya: “Tidak ada tapi rasa ingin tahuku yang bisa mendorong saya untuk penelitian tersebut, tetapi tampaknya saya bahwa deskripsi menit dari semua yang menyangkut pekerjaan semacam ini mungkin, akan berguna di Eropa. Pada 1743, selama pemerintahan Kaisar Qianlong, Tang Ying, pengawas kekaisaran di kota ini menghasilkan sebuah memoar berjudul “Dua puluh ilustrasi pembuatan porselen. Jenis barang porselen Cina

Tang Sancai penguburan barang-barang : Sancai berarti tiga warna. Namun, warna glasir digunakan untuk menghias barang-barang dari dinasti Tang tidak terbatas pada tiga nomor. Di Barat, barang-barang Tang sancai kadang-kadang disebut sebagai telur b ayam dan-oleh dealer untuk penggunaan hijau, kuning dan putih. Meskipun terakhir dari dua warna mungkin lebih tepat digambarkan sebagai off-kuning dan putih / krim. Barang-barang dagangannya utara Sancai itu dibuat dengan menggunakan putih dan buff-menembak kaolins sekunder dan tanah liat api . Di situs kiln terletak di Tongchuan, county Neiqui di Hebei dan Gongxian di Henan , yang tanah liat yang digunakan untuk barang-barang penguburan itu sama dengan yang digunakan oleh Tang tembikar. Penguburan barang dagangan dibakar pada suhu yang lebih rendah dari whiteware kontemporer. barang Burial, seperti representasi terkenal berbentuk unta dan kuda, yang dilemparkan di bagian, dalam cetakan dengan bagian luted bersama menggunakan slip tanah liat. Dalam beberapa kasus, tingkat individualitas yang diberikan kepada patung-patung dirakit oleh tangan-ukiran.

  1. Teh Jian :  blackwares Jian, terutama terdiri dari barang-barang teh, dibuat di tanur terletak di propinsi Fujian Jianyang. Mereka mencapai puncak popularitas mereka pada masa Dinasti Song. Barang dagangan dibuat menggunakan lokal-won, tanah liat yang kaya besi dan menembak dalam suasana pengoksidasi pada temperatur di wilayah 1300 ° C. Glasir dibuat dengan menggunakan tanah liat yang sama dengan yang digunakan untuk membentuk tubuh, kecuali fluxed dengan kayu-abu. Pada temperatur tinggi cair glasir terpisah untuk menghasilkan pola yang disebut bulu kelinci itu. Ketika barang Jian dipasang miring untuk menembak, menetes berlari menuruni samping, menciptakan bukti glasir cair pooling. Bulu kelinci’s Jian nama keramik ini diilustrasikan dalam mangkuk teh di Metropolitan Museum of Art di New York dibuat pada masa Dinasti Song (960-1279 M). keramik itu berpola dalam glasir mangkuk ini berasal dari pengaruh acak fase pemisahan selama pendinginan awal di kiln dan unik ke dalam mangkuk ini. Pemisahan fase ini dalam glasir besi-kaya blackwares Cina juga digunakan untuk menghasilkan minyak yang terkenal-spot, teadust dan bulu ayam hutan-efek glasir. Tidak ada dua mangkuk memiliki pola yang sama. mangkuk juga memiliki besi kaki coklat gelap yang khas gaya ini. Pasti dibakar, mungkin dengan beberapa ribu keping lainnya, masing-masing saggar stackable sendiri, dalam sebuah tembak-tunggal dalam tungku naga besar. Satu kiln tersebut, dibangun pada sisi bukit yang curam, hampir 150 meter panjang, meskipun pembakaran naga yang paling Jian lebih sedikit dari 100 meter panjangnya.Keramik ini digunakan pada aba Abad ke-11 pleh penduduk Fujian :”Teh adalah warna cahaya dan terlihat terbaik dalam cangkir hitam. Cangkir dibuat di Jianyang yang kebiruan dengan warna hitam, ditandai seperti bulu kelinci. Menjadi kain agak tebal mereka menahan panas, sehingga ketika begitu hangat melalui mereka dingin sangat lambat, dan mereka tambahan dinilai pada account ini. Tak satu pun dari cangkir dihasilkan di tempat lain bisa menyaingi ini. Cangkir putih biru dan tidak digunakan oleh orang-orang yang memberikan teh-pihak mencicipi. Pada saat itu, teh disiapkan oleh whisking daun bubuk yang telah ditekan menjadi kue kering bersama dengan air panas, (agak mirip dengan matcha dalam Upacara teh Jepang). Air ditambahkan ke bubuk ini menghasilkan buih putih yang akan menonjol lebih baik terhadap mangkuk gelap. Selera dalam persiapan berubah selama dinasti Ming, Kaisar Hongwu daun sendiri lebih suka kue bubuk, dan teh hanya akan diterima upeti dari daun sebagai daerah penghasil teh. Daun teh, berbeda dengan teh bubuk, disiapkan oleh seluruh daun seduhan dalam air mendidih – teko berikutnya Yixing barang atas mangkuk teh gelap sangat populer. Barang teh Jian dari dinasti Song juga sangat dihargai dan disalin di Jepang, di mana mereka dikenal sebagai barang dagangan tenmoku.ware Ding : Ding (Wade-Giles: Ting) barang ini telah diproduksi di Ding Xian (modern Chu-yang), Propinsi Hebei, sedikit barat daya Beijing. Sudah di produksi ketika para kaisar Song berkuasa di 940, Ding ware adalah porselin terbaik diproduksi di Cina utara pada waktu itu, dan adalah yang pertama untuk masuk istana kekaisaran untuk penggunaan resmi. pasta adalah putih, umumnya ditutupi dengan hampir transparan glasir yang menetes dan dikumpulkan dalam “air mata,” (meskipun beberapa ware Ding berlapis hitam atau coklat monokrom, putih adalah jenis jauh lebih umum). Secara keseluruhan, estetika Ding lebih mengandalkan pada bentuk yang elegan dari dekorasi mewah, desain yang understated, baik gores atau dicap dalam tanah liat sebelum glazur. Karena cara piring ditumpuk dalam tungku pembakaran, yang rata tanpa glasir tetap, dan harus berbingkai dalam logam seperti emas atau perak bila digunakan sebagai perangkat makan. Beberapa ratus tahun kemudian, seorang Song Selatan era penulis berkomentar bahwa ini cacat yang menyebabkan kematian sebagai kekaisaran ware disukai.  Karena pengadilan Song kehilangan akses ke tanur utara saat mereka melarikan diri ke selatan, telah berpendapat bahwa Qingbai ware dipandang sebagai pengganti Ding.
  2. Ru ware : Seperti ware Ding, Ru (Wade-Giles: ju) diproduksi di Cina Utara untuk digunakan kekaisaran. Tempat pembakaran Ru itu dekat ibukota Song Utara di Kaifeng. Dalam cara yang sama dengan celadons Longquan, potongan Ru memiliki sejumlah kecil besi dalam mereka glasir yang mengoksidasi dan mengubah kehijauan ket ika menembak dalam suasana mengurangi. Ru wares rentang dalam warna-dari hampir putih ke dalam robin’s telur-dan seringkali ditutupi dengan crackles cokelat kemerahan. The crackles, atau “krasing,” disebabkan ketika glasir mendingin dan kontrak lebih cepat dari tubuh, sehingga harus meregangkan dan akhirnya untuk membagi, (seperti yang terlihat di detail di sebelah kanan, lihat juga [8]). Sejarawan seni James Watt komentar bahwa dinasti Song adalah periode pertama yang dilihat krasing sebagai prestasi bukan cacat. Selain itu, sebagai waktu, tubuh mendapat lebih tipis dan lebih tipis, sementara glasir harus lebih tebal, sampai dengan akhir Song Selatan yang ‘hijau-glasir’ lebih tebal daripada tubuh, sehingga sangat gemuk dan bukan kurus, ‘untuk menggunakan analogi tradisional. Terlalu, glasir cenderung menitik dan kolam sedikit, meninggalkannya lebih tipis di bagian atas, di mana tanah liat mengintip melalui.
  3. Ware Juni : Juni (Wade-Giles: Chun) ware adalah gaya sepertiga dari porselen digunakan di pengadilan Song Utara. Dicirikan oleh tubuh lebih tebal dari Ding atau ware Ru, Juni ditutupi de ngan pirus dan ungu glasir, begitu tebal dan kental melihat bahwa hampir tampaknya mencair dari tubuh besar yang coklat keemasan. Tidak hanya kapal lebih tebal Juni pot, bentuknya jauh lebih kuat daripada potongan Juni baik-baik saja, namun kedua jenis itu dihargai di istana Kaisar Huizong. Juni produksi berpusat pada Juni-tai di county Yüxian, Provinsi Hunan.
  4. Guan ware : Guan (Wade-Giles: kuan) ware, secara harfiah berarti “resmi” ware; Ru begitu yakin, Jun, dan bahkan dapat dianggap Ding Guan dalam arti luas yang diproduksi untuk pengadilan. Sebenarnya, Namun, istilah tersebut, hanya berlaku untuk yang dihasilkan oleh seorang pejabat, kiln imperially-lari, yang tidak mulai sampai Song Selatan melarikan diri dari Jin maju dan menetap di Lin’an. Ia selama periode ini dinding menjadi begitu tipis dan lapisan es begitu tebal bahwa yang terakhir menggantikan yang pertama di lebarnya. Seperti tanah liat di kaki bukit sekitar Lin’an, adalah warna kecoklatan, dan glasir sehingga viskus,””Guan ware menjadi terkenal karena “mulut cokelat” (kadang diterjemahkan sebagai “ungu”), menunjukkan tepi atas atau sebuah kapal di mana lapisan es yang tipis dan tubuh menunjukkan melalui. Guan keramik telah banyak dikagumi selama bertahun-tahun, dan sangat tunduk untuk menyalin. Sesungguhnya Gao Lain menghabiskan bagian terbesar komentarnya tentang menggambarkan Guan dan mitranya ware Ge (Lihat di bawah ini: meskipun mirip dengan Ge ware, Guan cenderung memiliki menyelesaikan biru dan [lebih transparan glasir), seakan yang paling sulit, paling mudah diidentifikasi jenis gerabah.
  5. ware Ge : Ge (Wade-Giles: ko), secara harfiah berarti ‘besar-saudara’ ware, karena legenda mengatakan bahwa dari dua bersaudara bekerja di Longquan, yang membuat keramik seladon gaya khas, tetapi tua dibuat ware ge, diproduksi di kiln pribadinya . Komentator Ming, Lian Gao mengklaim bahwa kiln ge mengambil tanah liat dari situs yang sama seperti ware Guan, yang adalah apa yang menyebabkan kesulitan dalam membedakan satu dari yang lain (meskipun Gao berpikir “Ge yang khas yang lebih rendah” Guan). Secara keseluruhan, Ge masih agak sulit dipahami, tetapi pada dasarnya terdiri dari dua jenis-satu dengan ‘hangat-nasi kuning glasir dan dua set crackles, satu set yang lebih menonjol warna gelap diselingi dengan seperangkat garis-garis halus kemerahan (disebut dagu-SSU t ‘ieh-Hsien atau’ benang emas dan benang besi ‘, yang hanya bisa samar-samar terdeteksi pada mangkuk ini: The Ge ware lainnya seperti Guan ware, dengan lapisan es keabuan dan satu set crackles. Pernah dianggap hanya diproduksi bersama seladon Longquan, per pendiri legendaris, Ge sekarang diyakini juga telah diproduksi di Jingdezhen. Sementara mirip dengan ware Guan, Ge biasanya memiliki glasir biru keabu-abuan yang buram penuh dengan selesai hampir matte. Itu pola berlebihan, sering berdiri di hitam tebal. Meskipun masih terselubung misteri, spesialis banyak yang percaya bahwa Ge ware tidak mengembangkan akhir Song Selatan atau bahkan Yuan. Dalam kasus apapun, antusiasme untuk itu tetap seluruh Ming; Wen Zhenheng lebih suka untuk semua jenis porselin, khususnya untuk pencuci droppers sikat dan air (meskipun ia lebih suka cuci sikat giok untuk porselen, Guan dan Ge adalah keramik yang terbaik, terutama jika mereka memiliki rims bergigi). Perbedaan antara imitasi kemudian Ming Song / Yuan Ge meliputi: versi Ming pengganti badan porselen putih, mereka cenderung akan diproduksi dalam berbagai bentuk baru, misalnya orang-orang untuk studio ulama; glasir cenderung lebih tipis dan lebih berkilau, dan slip diterapkan pada tepi dan dasar untuk mensimulasikan mulut “cokelat dan kaki besi” dari ware Guan.
  6. Barang Qingbai : Barang Qingbai (juga disebut ‘yingqing’) dilakukan dengan tingkat Jingdezhen dan banyak pembakaran selatan lainnya dari zaman Dinasti Song Utara sampai mereka hilang cahayanya di abad ke-14 oleh barang glasir biru dan putih berhias. Qingbai dalam bahasa Cina berarti “” biru-putih jelas. The qingbai glasir adalah glasir porselen, disebut demikian karena itu dibuat dengan menggunakan batu tembikar. The qingbai glasir jelas, namun mengandung besi dalam jumlah kecil. Ketika diaplikasikan di atas tubuh glasir porselen putih menghasilkan warna biru kehijauan yang memberikan glasir namanya. Beberapa gores atau dibentuk dekorasi. Dinasti Song qingbai mangkuk diilustrasikan itu kemungkinan besar dibuat di desa Jingdezhen dari Hutian, yang juga merupakan situs Kekaisaran tanur didirikan pada tahun 1004. mangkuk telah bertakuk dekorasi, mungkin mewakili awan atau bayangan awan di dalam air. Tubuh putih, transparan dan memiliki tekstur yang sangat-gula halus, menunjukkan bahwa itu dibuat menggunakan batu hancur dan halus tembikar bukan batu keramik dan kaolin. Glasir dan tubuh mangkuk akan dipecat bersama-sama, dalam sebuah saggar, mungkin di tungku pembakaran kayu besar-naga atau mendaki-kiln, khas kiln selatan pada periode. Meskipun banyak Song dan Yuan qingbai dibakar mangkuk terbalik dalam saggars tersegmentasi khusus, teknik yang pertama kali dikembangkan di tanur Ding di provinsi Hebei. The rims dari barang seperti itu dibiarkan tanpa glasir tetapi sering diikat dengan pita perak, tembaga atau timah. Salah satu contoh yang luar biasa dari porselen qingbai adalah apa yang disebut Fonthill Vas, dijelaskan dalam panduan untuk Fonthill Abbey diterbitkan pada tahun 1823″” … Sebuah botol cina oriental, luar biasa terpasang, dikatakan spesimen diketahui paling porselin diperkenalkan ke Eropa ” Vas ini dibuat di Jingdezhen, mungkin sekitar tahun 1300 dan dikirim sebagai hadiah kepada Paus Benediktus XII oleh salah satu kaisar Yuan terakhir dari Cina, tahun 1338. Itu gunung dimaksud dalam deskripsi 1823 adalah dari dienamel-emas perak dan ditambahkan ke dalam vas di Eropa pada tahun 1381. Sebuah warna air abad ke-18 dari vas lengkap dengan gunung yang ada, tapi gunung itu sendiri telah dihapus dan hilang pada abad ke-19. vas ini sekarang di Museum Nasional Irlandia. Hal ini sering menyatakan bahwa barang-barang qingbai tidak tunduk pada standar yang lebih tinggi dan peraturan barang porselen lain, karena mereka dibuat untuk penggunaan sehari-hari. Mereka diproduksi secara massal, dan mendapat sedikit perhatian dari para sarjana dan antiquarians. The Vas Fonthill, diberikan oleh seorang kaisar Cina untuk paus, mungkin muncul untuk membuang setidaknya beberapa keraguan pada pandangan ini. Biru dan putih barang : Kangxi periode (1662-1722) biru dan putih porselen caddy the. Mengikuti tradisi sebelumnya qingbai porselen, barang biru dan putih berglasir menggunakan glasir porselen transparan. Hiasan dicat biru ke tubuh porselen sebelum glazur, menggunakan sangat halus kobalt oksida dicampur dengan air. Setelah dekorasi telah diterapkan potongan-potongan yang berkaca-kaca dan dipecat. Hal ini diyakini bahwa glasir porselen biru dan putih pertama kali dibuat pada Dinasti Tang. Hanya tiga potong lengkap Tang porselin biru dan putih diketahui ada (di Singapura dari kapal karam Belitung Indonesia), tetapi berasal Shards abad ke-8 atau 9 telah digali di Yangz hou di Provinsi Jiangsu. Ia telah mengemukakan bahwa pecahan berasal dari sebuah tungku di provinsi Henan. Pada tahun 1957 penggalian di lokasi sebuah pagoda di provinsi Zhejiang mengungkapkan Song Utara mangkuk fragmen dihiasi dengan glasir biru dan lebih lanjut sejak ditemukan di situs yang sama. Pada tahun 1970 sebuah fragmen kecil dari sebuah mangkuk biru dan putih, lagi tanggal pada abad ke-11, juga digali di provinsi Zhejiang. Pada tahun 1975 pecahan dihiasi dengan glasir biru yang digali di situs kiln di Jiangxi dan, pada tahun yang sama, glasir sebuah guci putih biru dan digali dari kuburnya tanggal pada tahun 1319, di provinsi Jiangsu. Menarik untuk dicatat bahwa sebuah guci penguburan Yuan dihiasi dengan glasir biru dan merah dan glasir 1338 tanggal masih dalam rasa Cina, meskipun pada saat ini produksi besar-besaran dari porselin biru dan putih di Yuan, Mongol rasa memiliki mulai pengaruhnya di Jingdezhen. Mulai awal abad ke-14, porselin biru dan putih dengan cepat menjadi produk utama dari Jingdezhen, mencapai ketinggian keunggulan teknis selama tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Kaisar Kangxi dan berkelanjutan di masa sekarang menjadi produk penting kota.
  7. Teh kadi banyak digambarkan menunjukkan karakteristik porselin biru dan putih yang dihasilkan selama periode Kangxi. Tubuh tembus menunjukkan melalui glasir yang jelas adalah putih yang besar dan hiasan cobalt, diterapkan dalam banyak lapisan, memiliki warna biru halus. Dekorasi, seorang bijak dalam pemandangan danau dan pegunungan dengan batu bersinar adalah khas periode. potongan itu akan dipecat di saggar (sebuah kotak keramik mengantuk dimaksudkan untuk melindungi bagian dari puing-puing kiln, asap dan abu selama pembakaran) dalam suasana mengurangi dalam telur berbentuk kiln pembakaran kayu, pada suhu 1350 ° C mendekati . Porselen biru-putih Ciri-ciri diekspor ke Jepang di mana ia dikenal sebagai ware Tenkei biru-putih atau ko sometsukei. ware ini diduga terutama diperintahkan oleh master teh untuk upacara Jepang.
  8. Blanc de Chine: Blanc de Chine adalah jenis porselen putih dibuat di Dehua di provinsi Fujian. Telah dihasilkan dari Dinasti Ming (1368-1644) sampai sekarang. jumlah besar tiba di Eropa sebagai Porcelain Ekspor Cina di awal abad 18 dan disalin di Meissen dan di tempat lain. Daerah sepanjang pantai Fujian secara tradisional salah satu pusat utama ekspor keramik. Lebih dari seratus delapan puluh kiln dan situs telah diidentifikasi membentang dalam rentang sejarah dari periode Song sekarang. Dari objek periode Ming porselen yang diproduksi yang mencapai perpaduan dari glasir dan tubuh secara tradisional disebut sebagai “gading putih” dan “susu putih.” Ciri khusus dari porselen Dehua adalah jumlah yang sangat kecil oksida besi di dalamnya, memungkinkan untuk ditembakkan dalam suasana mengoksidasi menjadi warna putih atau gading hangat pucat. (Wood, 2007) Tubuh porselen ini tidak terlalu plastik tetapi bentuk-bentuk kapal telah dibuat dari itu. Donnelly, (1969, pp.xi-xii) daftar jenis berikut produk: angka, kotak, vas dan guci, cangkir dan mangkuk, ikan, lampu, cangkir-berdiri, perbaraan dan pot bunga, hewan, pemegang kuas, anggur dan teko , Buddha dan Tao tokoh, tokoh sekuler dan wayang. Ada output besar tokoh, terutama tokoh agama, misalnya Guanyin, Maitreya, Lohan dan tokoh Ta-mo. The Dehua banyak pabrik porselen hari ini membuat angka dan perangkat makan dalam gaya modern. Selama Revolusi Kebudayaan “Dehua pengrajin diterapkan sangat mereka keterampilan terbaik untuk menghasilkan rapi patung dari Pemimpin Besar dan para pahlawan revolusi. Potret bintang opera proletar baru dalam peran mereka yang paling terkenal diproduksi dalam skala benar-benar besar.  Mao angka kemudian disukai tetapi telah dihidupkan kembali untuk kolektor asing. Seniman terkenal di blanc de Chine, seperti periode Ming akhir Dia Chaozong, menandatangani kreasi mereka dengan stempel mereka. Barang termasuk tokoh kerupuk dimodelkan, cangkir, mangkuk dan Joss-pemegang tongkat. Banyak contoh terbaik dari blanc de Chine ditemukan di Jepang di mana berbagai putih itu disebut hakugorai atau “” putih Korea, istilah yang sering ditemukan di kalangan upacara minum teh. British Museum di London memiliki sejumlah besar potongan blanc de Chine, setelah diterima sebagai hadiah pada tahun 1980 seluruh koleksi PJ. Donnelly.

Di Situs Kota Cina terdapat tiga periode Dinasti berdasarkan jenis keramik. Yang pertama adalah dinasti Song Selatan (abad X-XI M). Kedua adalah Dinasti Yuan (abad XIII-XIV) sedangkan yang terakhir adalah Dinasti Ming (XV-XVII).

Dikompilasi oleh:
Erond Damanik
Pussis-Unimed
Juni 2010.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

KEDINASTIAN TIONGKOK DENGAN ARTIFAK DI PANTAI TIMUR SUMATRA

(dikumpulkan dari berbagai artikel lepas di internet dan literatur)

A. Kedinastian dan Tinggalan Artifak di Pantai Timur Sumatra

  1. Dinasti Song (960 – 1268)

a.   Sistem Pemerintah

Dinasti Song adalah salah satu dinasti yang memerintah di Cina antara tahun 960 sampai dengan tahun 1279 sebelum Cina diinvasi oleh bangsa Mongol. Dinasti ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara dan setelah kejatuhannya digantikan oleh Dinasti Yuan. Dinasti ini merupakan pemerintahan pertama di dunia yang mencetak uang kertas dan merupakan dinasti Cina pertama yang mendirikan angkatan laut. Dalam periode pemerintahan dinasti ini pula, untuk pertama kalinya bubuk mesiu digunakan dalam peperangan dan kompas digunakan untuk menentukan arah utara.

Dinasti Song dibagi ke dalam dua periode berbeda, Song Utara dan Song Selatan.  Song Utara ibukota Song terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol kebanyakan daerah Cina dalam (daerah suku Han) yang di pimpin oleh Kaisar Song Taizu. Song Selatan (1127–1279) merujuk pada periode setelah dinasti Song kehilangan kontrol atas Cina Utara yang direbut oleh Dinasti Jin. Pada masa periode ini, pemerintahan Song mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota di Lin’an (sekarang Hangzhou). Walaupun Dinasti Song telah kehilangan kontrol atas daerah asal kelahiran kebudayaan Cina yang berpusat di sekitar Sungai Kuning, ekonomi Dinasti Song tidaklah jatuh karena 60 persen populasi Cina berada di daerah kekuasaan Song Selatan dan mayoritas daerah kekuasaannya merupakan tanah pertanian yang produktif. Dinasti Song Selatan meningkatkan kekuatan angkatan lautnya untuk mempertahankan daerah maritim dinasti Song. Untuk mendesak Jin dan bangsa Mongol, dinasti Song mengembangkan teknologi militer yang menggunakan bubuk mesiu.

Pada tahun 1234, Dinasti Jin ditaklukkan oleh bangsa Mongol. Möngke Khan, Khan ke-empat kekaisaran Mongol, meninggal pada tahun 1259 dalam penyerangan ke sebuah kota di Chongqing. Saudara lelakinya, Kublai Khan kemudian dinyatakan sebagai Khan yang baru, walaupun klaim ini hanya diakui oleh sebagian bangsa Mongol di bagian Barat. Pada tahun 1271, Kubilai Khan dinyatakan sebagai Kaisar Cina. Setelah peperangan sporadis selama dua dasawarsa, tentara Kubilai Khan berhasil menaklukkan dinasti Song pada tahun 1279. Cina kemudian disatukan kembali di bawah Dinasti Yuan (1271–1368).

Populasi Cina meningkat dua kali lipat semasa abad ke-10 dan ke-11. Pertumbuhan ini didukung oleh perluasan kultivasi padi di Cina tengah dan selatan, penggunaan bibit beras cepat panen dari Asia selatan dan tenggara, dan surplus produksi bahan pangan. Sensus Dinasti Song Utara mencatat populasi sekitar 50 juta. Angka ini menyamai populasi Cina pada saat Dinasti Han dan Dinasti Tang. Data ini diperoleh dari sumber catatan Dua Puluh Empat Sejarah (Namun, diperkirakan bahwa Dinasti Song Utara berpopulasi sekitar 100 juta jiwa. Pertumbuhan populasi yang dramatis ini memacu revolusi ekonomi Cina pramodern. Populasi yang meningkat ini merupakan salah satu penyebab lepasnya secara perlahan peranan pemerintah pusat dalam mengatur ekonomi pasar. Populasi yang besar ini juga meningkatkan pentingnya peranan para bangsawan rendah dalam menjalankan administrasi pemerintahan tingkat bawah.

Ilmu navigasi dan pembuatan kapal segera mencapai puncaknya dan kapal Tiongkok menjadi yang paling maju pada saat itu. Kapasitasnya berkisar antara 200-600 ton. Salah satu kapal Dinasti Song yang ditemukan kembali, panjangnya mencapai 40m dan lebarnya mencapai 10m. Benar-benar suatu prestasi yang luar biasa.  Sementara itu di utara Bangsa Mongol telah menjadi semakin kuat. Pada mulanya Bangsa Mongol adalah taklukan dari Kerajaan Jin, namun pada akhirnya mereka berhasil mengalahkan Jin dan mendirikan kerajaan sendiri, di bawah Genghis Khan. Bangsa Mongol segera menjadi ancaman baru bagi Dinasti Song Selatan.

Pada tahun 1279, serangan pasukan Mongol memaksa keluarga kerajaan untuk melarikan diri ke laut, namun akhirnya Mongol berhasil mengepung mereka kembali. Ketika melihat tidak ada harapan lagi, salah seorang menteri yang setia pada Dinasti Song bernama Lo Shiufa, memeluk Bingdi dan bersama-sama menceburkan diri ke laut. Peristiwa ini menandai berakhirnya Dinasti Song.

b. Keramik dari Dinasti Song

Selama pemerintahan Sung pembuatan porselin semakin menguat. Barang porselin dikirim keluar negeri untuk dijual. Barang-barang porselin dibuat dari tanah liat yang putih dan halus seklai dengan dicampuri serbuk padas dan pasir. Bahan-bahan itu ditumbuk halus dan dijadikan semacam adonan. Dengan bahan itu dapat dibentuk sesuka hati seperti mangkuk, jambang dan lain sebagainya. Sesduah itu diberi glasir lalu dibakar.

Barang porselin dapat menahan panas api yang lebih besar dari pada barang yang dibuat dari tanah liat biasa. Barang porselin harus dibakar bebrapa hari lamanya dalam api yang cukup besar, lai didinginkan selama dua tiga hari sebelumnya diambil dari tempat pemabakaran. Panas api harus diamati dan harus sama pada waktu siang maupun malam, sebab jika tidak dan panas menjadi jelek. Jika sudah selesai warna porselin seluruhnya putih bersih, sedangkan barang tanah liat selalu sedikit merah atau kemerah-merahan. Cahaya dapat menembus porselin dan jika porselin dipukul perlahan-lahan dengan benda keras porselin berbunyi nyaring. Porselin dapat dibuat lebih tipis dari pada barang tanah liat biasa, dan dapat diberi warna yang lebih indah dan glasir yang lebih bagus. Pembuatan porselin dari glasir mereka kembangakan dari pembuatan batu giok yang pembuatan batu bahan giok adalah galasir. Mereka selanjutnya membuat porselin dari warna giok: hijau tua, hijau muda, atau hijau yang berkilauan bagaikan rumput terkena sinar matahari. Ada glasir yang berwarna kuning, merah dan ungu. Sebelumnya barang-barang tadi dibakar, dibuatlah terlebih dahulu gambar-gambar diatasnya. Gambra-gambar bubga, lukisan naga atau ikan dan sebaganya. Lalu diberi gelasir dan gambar-gambar itu dapat menembus gelazur itu.

Mula-mula warna itu tak dipakai bercampur, tetapi sebuah barang porselin hanya diberi gelasir dengan sebuah warna saja. Hasil pekerjaan itu sederhana, tetapi indah. Warna yang sangat digemari adalah warna hijau, mulai dengan hijau muda kebiru-biruan, sebagai warna kulit telur itik, sampai hijau tua serupa hijau daun bayam muda. Porselin itu disebut celedon dan kini sangat mahal. Kadang-kadang terjadi hal-hal yang aneh ditempat pemabakaran itu. Kerab terjadi barang yang keluardari tempat pembakaran itu berlainan sekali dari pada yang diaharapkan, sehingga tukang-tukang mengira pai sendirihlah yang membuat perubahan tadi. Gambar-gambar yang dibuat nampak gelasir, seakan-akan apilah yang membuat. Aa juga seseorang yang membeli sebuah mangkuk besar untuk mencuci tangannya. Pada suatu hari diwaktu musim dingin, sesudah mencuci tanganya, air dalam mangkuk tersebut beku. Tetapi lihatlah! Air membeku dan nampak padanya sebuah gambar bunga buah persik. Ia ,elihat peristiwa ini dengan kagum dan amat girang. Lain waktu lagi tetapi sekarang air menjadi beku dengan ruopa setangkai bunga mawar yang mekar sekali. Sejak waktu itu, jika hendak memperlihatkan pada teman-temanya hal-hal yang indah, diambillah olehnya mangkuk ajaib itu dan dibiarkan air disitu membeku. Lalu dilihatlah gambar-gambar yang timbul diatas es tipis itu: sepert rumpun pohon bambu, atau sebuah dusun, gunung dan tiap kali pemanadangan berlainan.

Banyak sair ditulis tentang porselin. Mereka menganggap porselin adalah bagaikan bulan terang diukir dengan keahlian dan diputihkan dengan air mata. Ia bagaikan cawan indah-bagus dare s yang setipis-tipisnya dan penuh dengan awan hijau. Porselin bagaikan daun bunga teratai yang halus dan penuh tetes embun yang dibawa oleh arus air sungai. Seorang kaisar memesan bebrpa buah barang porselin untuk istananya. Katanya” warnanya harus sebagai warna biru langit sesudah air hujan turun, dan awan tebal sudah tercerai berai.”

Pedagang arab dan Persia yang datang ke Tiongkok sangat gembira melihatnya. Di Tiongkok orang mempunyai tanah liat yang bagus sekali ”kata mereka”, jika pulang dinegerinya, dengan tanah liat itu dibuatnya jambang yang tipis dan jernih seperti gelas. Kami dapat melihat air didalamnya. Mereka mebelinya dan memperdagangkannya sampai di negeri-negeri selatan dan bangsa Tionghoa sendiri membawanya juga ke India, Arab, dan kepulauan Jawa, Sumatra dan Borneo. Mereka membawa barang-barang porselin ke pelabuhan-pelabuhan di sebelah Barat dan Selatan. Dan banyak sekali kapal luar negeri berlabuh dipelabuhan Tiongkok untuk membeli pirng porselin untuk rajanya dan semua orang yang dapat membayar dengan harga yang tinggi. Jalur pelayaranpun semakin ramai. Perdagangan pun semakin diminati berbagai negara. Terutama negeri Tiongkok. Dengan berkembangnaya aktivitas perdagangan perkembanagan agamapun melejit. Para pedagang dengan membawa para bhiksu (pendeta Budha dengan misi ekonomi dan dibarengi dengan agama) melakukan perjalanan mencari dunia baru.

Di Situs Kota Cina pun tedapat porselin atau pecahan keramik yang berasal dari dinasti Song. Aktivitas arkeologi menunjukkan bahwa pecahan keramik yang telah diidentifikasi menunjukkan peninggalan dinasti Song yakni porselin putih dan glasir bening. Keramik yang di temukan di situs Kota Cina kebanyakan berasal dari keramik Song Selatan pada abad ke-10-12 m.

2. Dinasti Yuan

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Yuan (1271 – 1368) adalah satu dari dua dinasti asing di Cina. Dinasti ini didirikan oleh Kublai Khan, cucu dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Walaupun Kublai Khan secara de-facto adalah pendiri Dinasti Yuan, namun ia menempatkan kakeknya, Jenghiz Khan sebagai kaisar pertama Dinasti Yuan. Ibu kota Dadu (sekarang Beijing), Shangdu. Bahasa Mongol mandarin. Agama Buddhisme (Cina dan Tibet), Taoisme, Konfusianisme, Kepercayaan tradisional Cina. Pemerintahan adalah Monarki dengan hak pilih terbatas. Kaisar : i)  1260–1294 Kublai Khan, ii) 1333–1370 dan iii) Ukhaatu Khan

Era bersejarah adalah Abad pertengahan, pendirian    18 Desember 1271, penaklukan Dinasti Song Selatan tangaal 19 Maret 1276,  Jatuhnya Dadu tanggal 14 September 1368. Luas yakni Sekitar tahun 1310= 14.000.000 km² (5.405.430 sq mi) .Populasi perkiraan 1293 sekitar 62.818.128.  Mata uang Mayoritas uang kertas, dengan uang koin dalam jumlah kecil.

Pada Dinasti Yuan ( 1206-1368 ), utusan pedagang yang timbal balik antara Timur dan Barat lebih banyak dari pada masa sebelumnya. Dinasti Yuan kerap berhubungan dengan Jepang dan berbagai negara Asia Tenggara. Pada tahun 1275, anak pedagang Venezia, Marco Polo mengikuti ayahnya berkunjung ke Tiongkok dan menetap selama 17 tahun. Marco Polo meninggalkan karyanya “ Perjalanan ”, salah satu dokumen penting bagi orang Barat untuk mengenal Tiongkok dan Asia.

Pada tahun 1333, pemberontakan kaum tani dengan agama dan persekutuan rahasia sebagai ikatan menyebar luas ke seluruh negeri. Pada tahun 1351, kaum tani buruh yang membenahi Sungai Kuning memicu pemberontakan dengan “ kain merah ” sebagai tandanya. Pada tahun 1341, Kepala Tentara “ Kain Merah ” Zhu Yuanzhang berhasil menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan Dinasti Ming.

b. Keramik dari Dinasti Yuan

Dengan permintaan pasar baru yang dihasilkan dari penyatuan kembali utara dan selatan, serta baru Mongol selera dan permintaan untuk ekspor ke Timur Dekat, Jepang, dan Korea, Yuan masa inovasi dalam produksi keramik. Sumber untuk motif dekoratif baru dan bentuk kapal berasal dari logam Timur Dekat, fitur dinasti Tang bertahan pada keramik Dinasti Jin, dan perunggu Cina kuno dan jades.

Pada periode ini, pusat produksi keramik bergeser ke selatan, di mana rute perdagangan luar negeri menyebabkan pasar jauh seperti Jepang, India, dan Afrika. Pada kompleks Jingdezhen dari kiln di provinsi Jiangxi, yingqing atau porselen qingbai menunjukkan nada-kebiruan glasir terus diproduksi bersama dengan tipe baru dicat dengan desain porselen tembaga-merah dan biru colbalt glasir. Celadons dengan warna hijau zaitun lebih daripada rekan Song mereka terus diproduksi di tanur Longquan di provinsi Zhejiang. Beberapa teknik yang paling inovatif dikembangkan untuk batuan yang diproduksi di daerah Cizhou, provinsi Shanxi. Memiliki tubuh tanah liat gelap, barang-barang tersebut dihiasi dengan berbagai cara. Beberapa memiliki tanah slip putih dicat dengan pigmen hitam-besi glasir dan kadang-kadang gores desain, sementara yang lain menggunakan proses yang rinci sgraffito, overglazes, warni, dan berbagai teknik lainnya.

Periode Yuan juga menghasilkan barang keramik atau porselin. Hasil produksi dari dinasti Song Selatan diteruskan oleh Dinasti Yuan. Keramik yang terkenal pada saat itu adalah celadon yang di produksi Longquan. Tembikar ini diciptakan dan ditingkatkan seladon glazur teknik. Workshop Longquan secara khusus terkenal secara internasional. jumlah besar seladon Longquan diekspor seluruh Asia Timur, Asia Tenggara dan Timur Tengah pada abad ke-13-15. piring besar seladon disambut di negara-negara Islam.

Ciri-ciri keramik yang berasal dari Dinasti Yuan adalah terutama dari pertengahan seterusnya dicirikan oleh pembuluh yang lebih tebal pot dan cahaya kebiruan Glaze menjadi lebih buram. Nada warna kemudian menjadi lebih putih susu atau putih telur dalam nada dan umumnya disebut sebagai shufu dagangannya. Melengkung / menorehkan motif yang lebih samar dan luka dalam. Sebagai perbandingan, mereka masih terkesan motif rumit dan padat dihiasi di kapal.

Pada awal 2000-an, sejumlah besar barang celadon diselamatkan dari setidaknya dua bangkai kapal di perairan Indonesia oleh nelayan dan salvagers teridentifikasi. Banyak kebingungan dan informasi kontradiktif beredar, sebagian mengklaim bahwa mereka memang benar-benar kapal karam barang sementara yang lain menduga bahwa mereka adalah salinan modern tenggelam di laut untuk mengelabui calon pembeli. Penyebab utama dari masalah adalah bahwa hanya sedikit yang mampu mengidentifikasi celadon pembakaran barang-barang yang berasal dari. Bagi beberapa orang yang akrab dengan ekspor barang-barang kuno, mereka berspekulasi bahwa barang-barang tersebut berasal dari wilayah Fujian atau Guangdong.

Kemudian Dinasti Yuan (1271-1368) adalah periode kunci bagi pengembangan teknik penembakan Blue dan White Porcelain di Cina. karakteristik yang unik didasarkan pada teknik dinasti mantan. Blue dan White Porcelain telah menjadi produk utama porselen Cina oleh Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1368-1911). Blue dan White Porcelain dari Dinasti Yuan besar dalam ukuran, dengan membuat secara kasar tebal. Umumnya terdapat botol besar, panci besar, mangkuk besar dan piring besar, dengan bumbu tradisional Tang (618-907) dan Song (960-1279) dinasti. Karena teknik terbelakang, ada dua antarmuka pada tubuh dan beberapa urat dalam tubuh. yg dibuat secara kasar ini tidak semulus yang dari Dinasti Ming dan Qing, sedangkan lapisan es dari Biru dan Putih Porcelain dari Dinasti Yuan lebih tebal daripada Dinasti Ming dan Qing, karena besi lebih dalam bahan baku glasir .

Ada baris seperti bambu di kaki porselen tersebut. Tubuh terhubung dengan kaki ketika glasir belum dilapisi. Tubuh yang dihiasi dengan baris teratai, awan dan banyak bunga. Dekorasi padat tidak hanya diterapkan pada porselin biru dan putih tetapi juga untuk gambar tenun dan ukiran batu, mencerminkan karakteristik unik waktu itu. Produsen utama Blue dan White Porcelain dalam wasJingdezhen Dinasti Yuan. Selain itu, ada tungku untuk produksi porselen biru dan putih di Zhejiang timur Provinsi Yunnan Cina, barat daya Cina.

3. Dinasti Ming

a. Sistem Pemerintahan

Dinasti Ming (1368 – 1644) adalah dinasti satu dari dua dinasti yang didirikan oleh pemberontakan petani sepanjang sejarah Cina. Dinasti ini adalah dinasti bangsa Han yang terakhir memerintah setelah Dinasti Song. Pada tahun 1368 Zhu Yuanzhang berhasil mengusir bangsa Mongol kembali ke utara dan menghancurkan Dinasti Yuan yang mereka dirikan. Ia mendirikan dinasti Ming, dengan ibukotanya di Yingtian (sekarang Nanjing) sebelum putranya, Zhu Di, yang menjadi kaisar ke-3 memindahkan ibukota ke Shuntian (sekarang Beijing). Yingtian kemudian berganti nama menjadi Nanjing (ibukota selatan). Luas kekuasaan 1450 6.500.000 km² (2.509.664 sq mi).

Awal Dinasti Ming ditandai dengan masa-masa ketenangan dan kemakmuran di bawah Kaisar Hongwu, Zhu Yuanzhang. Kaisar Hongwu melakukan reformasi pada sistem pemerintahan dan birokrasi dengan membentuk organ birokrasi baru yang saling mengimbangi untuk mencegah munculnya lembaga pemerintah yang mempunyai wewenang terlalu besar. Ia juga melalukan pembangunan ekonomi, menghentikan segala ekspedisi militer untuk memberi rakyat waktu dan ketenangan untuk melakukan tanggung jawab mereka di bidang masing-masing. Kebijakan ini berhasil ditandai dengan peningkatan jumlah populasi sampai dengan 10.650.000 kepala keluarga atau 65.000.000 jiwa pada tahun 1393.

Di penghujung Dinasti Ming, pemberontakan marak di seluruh negara dan pada puncaknya, Beijing jatuh ke tangan pemberontak yang dipimpin oleh Li Zicheng. Kekalahan ini menyebabkan Chongzhen menggantung diri di bukit di belakang Kota Terlarang. Li yang bersengketa dengan Wu Sangui menangkapi keluarganya di Beijing menyebabkan Wu memutuskan untuk menyerah kepada suku Manchu yang kemudian menaklukkan Li Zicheng dan menguasai Beijing pada tahun 1644.

Setelah Beijing dikuasai oleh suku Manchu, mereke kemudian mendirikan Dinasti Qing yang menandai runtuhnya Dinasti Ming. Sisa-sisa kekuatan yang setia kepada Dinasti Ming kemudian mengungsi ke selatan Cina dan meneruskan perlawanan secara terpisah. Dalam sejarah, kekuatan ini dikenal sebagai Ming Selatan. Ming Selatan kemudian berhasil dihancurkan oleh Kaisar Kangxi pada tahun 1683.Dinasti Ming (1368 – 1644).  Setelah berhasil mengusir Bangsa Mongol, Zhu Yuanzhang menobatkan dirinya sebagai kaisar dengan gelar Ming Daizhu (1368 – 1398). Tahun pemerintahannya disebut dengan Hongwu, sehingga Beliau juga dikenal dengan sebutan Kaisar Hongwu. Dinasti barunya tersebut diberi nama Ming.

Pelayaran samudera merupakan salah satu hal yang patut dibanggakan pada masa Dinasti Ming. Kaisar Yongle (1403 – 1424) telah memerintahkan Admiral Zheng He untuk mengadakan pelayaran ke selatan menuju negeri-negeri yang jauh. Ia berhasil berlayar sejauh Afrika (Mogadishu dan Malindi), jauh sebelum Bangsa Barat berhasil mencapai tempat tersebut serta mencapai Kalkuta dan Kolombo beberapa ratus tahun sebelum Vasco Da Gama. Zheng He berangkat pada tahun 1405, membawa 63 kapal yang memuat 27.870 orang (jauh lebih banyak dibandingkan dengan pelayaran Kolombus). Hal terpuji yang patut kita teladani di sini adalah: meskipun membawa kekuatan besar tetapi Zheng He tidaklah berusaha menaklukkan atau menjajah negeri-negeri yang dikunjunginya. Hal ini beda dengan bangsa Barat, dimana penjelajahan selalu diakhiri dengan penjajahan. Pelayaran samudera ini beberapa ratus tahun lebih tua dibandingkan dengan Kolombus, sehingga dapat dikatakan bahwa pelopor penjelajahan samudera yang sebenarnya adalah Zheng He.

Yongle digantikan oleh putera tertuanya Hongxi (1425), yang hanya memerintah setahun, namun ia memiliki rasa ketertarikan pada astronomi. Ia telah berhasil mengenali bintik matahari, jauh sebelum bangsa Barat mengenalnya. Kaisar Dinasti Ming yang terkenal berikutnya adalah Wanli (1573 – 1620). Pada masa kekuasaannya transformasi Tiongkok menuju negara modernpun diawali. Hasil pertanian dari Amerika, seperti misalnya jagung, kentang manis, dan kacang meningkatkan produksi pangan dan jumlah penduduk meningkat hingga menjadi lebih dari 100 juta jiwa atau bertambah dua kali lipat dibandingkan awal Dinasti Ming. Dinasti Ming terkenal pula dengan keramiknya yang diekspor ke seantero penjuru dunia. Pada beberapa bagian belahan bumi ini, kita dapat menjumpai sisa-sisa keramik dari jaman dinasti ini. Sementara itu menjelang akhir Dinasti Ming, Bangsa Manchu di utara menjadi bertambah kuat. Pemimpin mereka Nurhachi beserta puteranya Aberhai pada awal abad ketujuh belas berhasil merebut Liaoning dari tangan Dinasti Ming. Setelah merasa kuat mereka mendirikan dinasti sendiri yang diberi nama Qing (1626).

Kaisar Dinasti Ming terakhir adalah Chongzhen (1628 – 1644), pada jamannya terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Li Zicheng. Ia berhasil merebut Beijing, ibukota Dinasti Ming pada Bulan April 1644, menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dinasti Xun. Kaisar Chongzhen bunuh diri dengan cara menggantung diri dan pada saat yang sama dengan kematiannya, berakhir pulalah Dinasti Ming. Jenderal Wu Sangui yang ditugaskan menjaga perbatasan masih setia pada Dinasti Ming, maka ia meminta tolong Bangsa Manchu yang saat itu dipimpin Shunzhi (1644 – 1661) untuk mengusir Li Zicheng. Tetapi ternyata setelah Li berhasil diusir, Bangsa Manchu tidak bersedia meninggalkan Tiongkok, sehingga dengan demikian berawalah kekuasaan Dinasti Qing di Tiongkok.

b. Keramik Ming

Porselin Ming merupakan keramik yang kualitas tinggi. Fungsi porselen Cina termasuk di antara hadiah dipertukarkan dalam hubungan luar negeri selama Dinasti Ming. Di antara jumlah besar dan berbagai keramik Cina yang ditemukan di Thailand dan lebih besar Asia Tenggara adalah berbagai yang mirip Ming ware resmi dalam penggunaannya naga dan phoenix motif dan bahan berkualitas tinggi dengan pengerjaan. Sarjana Liu Liangyou dalam sebuah artikel berjudul “Cina Keramik tergali di Thailand” pada edisi 49 dari National Palace Museum Seni Bulanan Cina, menyatakan bahwa keramik halus dieksekusi tersebut hanya bisa menjadi produk dari sebuah bengkel resmi dan bagian dari sistem hadiah tempat untuk hubungan Ming Dinasti asing. Liang mengutip Sejarah Dinasti Ming (Mingshi) 339 bab untuk Champa dan Kamboja (Zhancheng Zhenla zhuan) untuk tahun 1383. Pengadilan Ming disajikan Siam (Thailand) 19.000 item barang keramik. Tiga tahun kemudian juga mencatat bahwa pengadilan Kamboja disajikan dengan jumlah yang tidak ditentukan barang keramik. Kita dapat mengasumsikan bahwa jumlah item yang signifikan juga dan jangka waktu tersebut ditukar terus setidaknya selama periode awal dinasti Ming. Phoenix piring biru-putih direproduksi di sini, dan menemukan di Asia Tenggara, identik dengan contoh di Boston Museum of Fine Arts, tanggal pertengahan abad ke-15.

Selama Dinasti Ming (1368-1644), yuqichang atau kiln resmi didirikan dan ware biru-putih menjadi lebih halus. Tanah liat untuk porselin putih terpilih pada hati-hati, warna biru kobalt cemerlang dan motif yang halus, memproduksi barang dari keanggunan abadi. Dari periode seterusnya Xuande (1426), tanda pemerintahan mulai muncul di kekaisaran wares. Pada periode Chenghua (1466-1487), biru-putih mencapai titik puncaknya, dan sejumlah karya yang rumit sama berharganya seperti perhiasan yang diproduksi. bekerja Overglaze email doucai disebut juga dikembangkan selama periode ini. Pada periode Jiajing (1522-1566), biru-putih mulai menunjukkan penurunan negaranya dan digantikan oleh karya overglaze polikrom enamel. Boros potongan termasuk wucai dan kinrande diproduksi pada kedua kekaisaran dan swasta kiln. Pada periode Wanli (1573-1620), seorang ware Wanli-gaya khas dengan lukisan polikrom overglaze enamel diproduksi, meskipun tungku kekaisaran dinasti Ming tertarik untuk mengakhiri selama periode ini.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina juga terdapat keramik dinasti Ming tahun 14-17 M. Ciri dari keramik Ming yakni Longquan barang-barang terus diproduksi selama melalui Late Ming Dinasti Qing. Selama periode Ming awal, ada banyak juga membuat piring besar diproduksi dengan padat diisi melengkung / dibentuk motif bunga di pedalaman. Beberapa potongan yang lebih baik memiliki Glaze glossy tebal yang merupakan hasil dari Glaze multi layer aplikasi. Dibandingkan dengan sebelumnya khas dinding plat dangkal. Potongan Ming memiliki glassier dan lebih transparan glasir yang cenderung untuk mengembangkan krasing. Volume produksi menurun tajam dan kualitas relatif lebih miskin. Kebanyakan kiln menghentikan produksinya dengan hanya beberapa yang terus berproduksi dalam periode Qing.

B. Artifak China di Pantai Timur Sumatra

1. Latar belakang historis

Berdasarkan hasil penelitian terhadap situs Kota Cina setidaknya ditemukan lokasi yang mengandung tinggalan arkeologi, diantaranya ditemukan berbagai sisa bangunan keagamaan yang berisi arca Budhis, dan arca yang bersifat Hindu, sisa pertukangan logam, sisa tempat tinggal di sekitar sampah kerang dan berbagai artefak lain berupa manik-manik, pecahan gelas, mata uang logam, sisa papan perahu, tembikar dan keramik (baik yang masih utuh maupun pecahan). Berdasarkan banyaknya temuan arkeologis tersebut membuktikan bahwa pada masa lalu Kota Cina berperan sebagai ”Pelabuhan” jalur perdangangan atau sisa aktifitas kemaritiman pada masa lau di pesisir timur Sumatera (Koestoro dkk, 2004:31).

Salah satu penyebab kenapa dinasti Cina datang ke Situs Kota Cina adalah terbukanya jalur pelayaran melalui selat malaka. Selat ini semakin ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing-kapal asing yang berasal dari belahan bumi barat. Kedatangan kapal-kapal ini selain berlayar sebagaian ada yang singgah dan berdagang di sekitar Selat Malaka. Pada masa itu daerah Kota Cina merupakan salah satu pelabuhan penting di daerah Selat Malaka sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang sangat terkenal di dunia perdagangaan internasonal.

Beberapa asumsi diajukan oleh peneliti bahwa penghunian dan kegiatan/aktifitas di Kota Cina berlangsung pada sekkitar abad ke 12-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai. Asumsi ini berlangsung oleh penggalan carbondatting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Cina yang diketahui pembuatannya dari abad ke 12-13 (Wibisono, 1982). Asumsi juga dikuatkan dengan analisa terhadap temuan arca Budha, dilihat dari segi ikonografi menunjukkan kesamaan dengan gaya India Selatan (Tanjore) yang berasal abad ke 12-13 M (Suleiman, 1981). Analisa terhadap temuan keramik menunjukkan bahwa sebagian bersar keramik yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari abad ke 12-14 M. Jenis keramik yang paling banyak ditemukan di situs Kota Cina adalah jenis Celadon (green-glazed) yakni jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware.

Puncak masa keemasan celadon adalah pada masa dinasti Sung abad ke 11-12 M, diproduksi masal untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan eksport. (Ambary, 1984:66). Jenis keramik lainya keramik Chingpai ,(white glaze wares) yang merupakan jenis keramik yang bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silica yang kadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar abad 12 hingga akhir abad ke 14. Di situs Kota Cina juga terdapat keramik Te Hua wares yakni jenis keramik yang mirip dengan keramik Chingpai, perbedaannya pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik ini banyak diproduksi pada dinasti Yuan sekitar abad 14. (Ambary, 1984: 69). Jenis lainnya adalah Coarse stone wares, adalah jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberi kesan kasar bada bagian badan wadah.

Aktivitas Arkeologis berupa penelitian arkeologis dan geomorfologis  dimulai sejak tahun 1972 hingga tahun 1989 yang dilakukan oleh arkeolog seperti Mc. Kinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989).

Temuan arkeologis situs Kota Cina membuktikan bahwa masa lalu sudah berlangsung lama. Dahulu daerah ini difungsikan sebagai salah satu pusat niaga di pesisir timur Pulau Sumatera. Kontak pelayaran dan perdagangan mempertemukan masyarakat pedalaman–yang menghasilkan berbagai komoditas yang diperlukan pendatang dari berbagai penjuru dunia–dengan kelompok masyarakat pedagang dari luar Sumatera. Berbagai kebutuhan masyarakat setempat juga dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang datang membawa berbagai barang. Sisa dari sebagian aktivitas itulah yang ditemukan dalam kegiatan arkeologis yang dilakukan di sana dan kelak menjadi sarana penggalian informasi.

Aktifitas hubungan dagang melalui jalur laut secara khusus serta aktivitas maritim secara umum di pesisir timur Pulau Sumatera, tidak dapat dipisahkan dari letak strategis lokasi situs yang menghadap ke selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dalam rentang waktu yang panjang (mulai abad permulaan masehi hingga abad ke-19). Perdagangan melalui laut memanfaatkan kemajuan teknologi pelauaran melalui penggunaan perahu-perahu  dagang beretonase besar dengan memanfaatkan navigasi angin muson. Selat Malaka merupakan jalur sutera laut yang pada awalnya merupakan jalur perdagangan alternatif setelah jalur sutera darat yang menghubungkan Cina dengan daerah India. Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan teknologi pelayaran, Selat Malaka menjadi jalur perdagangan utama menuju daerah penghasil rempah-rempah, kapur barus, emas, kayu cendana, maupun barang niaga lainnya di wilayah Nusantara.

Kebanyakan temuan di Situs Kota cina adalah keramik kuno. Keramik kuno merupakan salah satu jenis benda yang diproduksi oleh manusia masa lalu untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka di dalam hidupnya. Pada prinsipnya pengertian keramik adalah setiap benda yang dibuat dari tanah liat, dan yang kemudian dibakar untuk memenuhi fungsinya. Pengertian dari istilah tersebut mancakup tiga macam benda yang dalam kepustakaan arkeologi dikenal sebagai: (1) “porselin” (porcelain), (2) “bahan-batuan” (stoneware), dan (3) “tembikar” (earthenware) (Ayat rohaedi et al. 1978:83; McKinnon et al. 1991). Porselin dan bahan-batuan dapat dibedakan secara tegas dengan tembikar karena kedua jenis benda keramik yang disebut terdahulu pada umumnya mempunyai beberapa ciri utama yaitu: benda tersebut dibuat dari bahan dasar tanah liat berwarna relatif putih yang dicampur dengan bahan-batuan tertentu (petuntze); permukaannya dilapisi dengan lapisan glasir; dan dibakar dengan suhu tinggi antara 1150 hingga 1350 C. Sementara tembikar memiliki beberapa ciri utama yang berbeda yaitu: benda dibuat dari bahan dasar tanah liat (biasa) yang dicampur dengan pasir, atau pecahan kerang, atau sekam pada permukaannya tidak dilapisi dengan lapisan glasir, dan dibakar dengan suhu rendah sekitar 900 C.

Oleh sebagian orang di Indonesia keramik berglasir sering disebut sebagai “keramik asing” (Ridho 1977, 1980, 1984; Hadimuljono 1980, 1985), sebaliknya tembikar disebut sebagai “keramik lokal”. Kedua istilah tersebut untuk pertama kalinya muncul dalam penelitian yang dipimpin oleh Teguh Asmar dan B. Bronson di Rembang (Asmar et al. 1975). Dalam rangka kegiatan penelitian situs-kota oleh Indonesian Field School of Archaeology (IFSA) di Trowulan yang dipimpin oleh Mundardjito dan J. Miksic diputuskan bahwa istilah keramik mencakup pengertian dari ketiga macam benda seperti tersebut di atas (Mundardjito et al. 1992). Bagi para peneliti masa prasejarah Indonesia, istilah keramik lokal sering disebut sebagai “gerabah” (Soegondho 1993, 1995) atau juga sering disebut “kereweng” jika ditemukan dalam bentuk pecahan seperti dalam penelitian di Ratubaka (Asmar dan Bronson 1973). Namun beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa tidak semua benda tembikar atau gerabah adalah keramik lokal yang dibuat di Indonesia. Ada di antara himpunan benda tembikar itu merupakan barang impor atau yang dibuat di luar Indonesia (Miksic dan Tack 1988, 1992). Pengertian keramik dalam tesis ini mencakupi “keramik berglasir” dan “keramik tidak berglasir” yang keduanya dapat dipastikan berasal dari luar Indonesia dan merupakan barang impor.

Berdasarkan ciri-ciri fisik yang tampak pada keramik-keramik tersebut dapat diindentifikasi asal daerah pembuatannnya dan pertarikhannya. Keramik-keramik impor yang ditemukan di Indonesia berasal dari berbagai negara seperti: Cina, Asia Tenggara (antara lain Thailand, Vietnam, dan Khmer), Timur Tengah, Jepang, dan Eropa (seperti Belanda, dan Jarman). Di antara negara-negara penghasil keramik tersebut, keramik dari Cina merupakan temuan yang paling banyak (de Flines 1969; Ridho 1993/94:20). Sementara itu cara memberi pertarikhan (dating) atas benda keramik ditemukan oleh masa pemerintahan dinasti-dinasti Cina, yang tahun awal dan akhir kekuasaannya dapat diketahui. Tarikh tertua dari keramik yang pernah ditemukan di Indonesia diketahui dari masa dinasti Han yang berkuasa di Cina tahun 202 SM hingga 202 M (Ridho 1977). Namun yang banyak ditemukan di Indonesia terutama keramik-keramik yang dibuat dari masa sesudahnya, yaitu dari masa dinasti Tang (abad VII-X), Lima dinasti (abad X), dinasti Song (abad X-XIII), dinasti Yuan (abad XIII-XIV), dinasti Ming (abad XIV-XVII), dan terakhir dinasti Ching.

Peninggalan keramik di situs Kota Cina sangat banyak. Berdasarkan data arkeologi pecahan keramik ini dulunya merupakann bahan perdagangan yang akan ditukarkan dengan rempah-rempah di situs Kota Cina. Tetapi sayang keramik yang didapat umumnya pecahan keramik.

2. Sejarah keramik cina

Keramik Cina (Chinese ware) adalah  bahan yang telah berkembang sejak masa dinasti. Cina kaya akan bahan baku yang dibutuhkan untuk pembuatan keramik. Jenis keramik pertama dibuat sekitar 11.000 tahun yang lalu, selama era Palaeolithic. Keramik Cina mulai dari bahan bangunan seperti batu bata dan genteng, untuk kapal tembikar tangan-dibangun dibakar dalam api unggun atau pembakaran, dengan barang-barang porselen canggih dibuat untuk istana.

Porcelain adalah istilah kolektif yang terdiri dari seluruh piranti keramik yang putih dan transparan, tidak peduli apa bahan yang digunakan untuk membuat atau untuk apa menggunakannya diletakkan. Keramik Cina juga dapat diklasifikasikan yang berasal dari utara atau selatan. Cina terdiri dari dua daratan yang terpisah dan berbeda secara geologis, dibawa bersama-sama dengan aksi pergeseran benua dan membentuk sebuah persimpangan yang terletak di antara sungai Kuning dan sungai Yangtze. Geologi kontras dari utara dan selatan menyebabkan perbedaan dalam bahan baku yang tersedia untuk pembuatan keramik.Porselen Cina sebagian besar dibuat oleh kombinasi bahan-bahan berikut:

· Kaolin – sebagian besar terdiri dari mineral lempung kaolinit.

· Tembikar batu – batu yang terurai dr mika atau feldspar, historis juga dikenal sebagai petunse.

· Feldspar

Dalam konteks keramik porselen Cina tidak memiliki istilah yang diterima secara universal. Hal ini pada gilirannya telah menyebabkan kebingungan tentang kapan porselen Cina yang pertama dilakukan. Meneurut pendapat keramik yang pertama dibuat berasal dari periode akhir Han Timur (100 sampai 200 M.), periode Tiga Kerajaan Wei , Shu, and Wu (220-280 AD), periode Enam Dinasti (220-589 M), dan Dinasti Tang (618-906 M).

Dinasti Han, 202 SM-220 AD : Beberapa ahli percaya bahwa porselin yang pertama dibuat di provinsi Zhejiang selama periode Han Timur. ahli Cina menekankan adanya proporsi yan g signifikan dari mineral porselen-bangunan (tanah liat cina, batu porselin atau kombinasi dari keduanya) sebagai faktor penting dalam mendefinisikan porselen. Pecahan dari situs arkeologi Han Timur (kiln) diperkirakan suhu pembakaran berkisar antara 1260-1300 ° C . Sejauh 1000 SM, yang disebut “barang Porcelaneous” atau “proto-barang porselin” dibuat dengan menggunakan paling tidak beberapa kaolin dibakar pada suhu tinggi.

Sui dan dinasti Tang, 581-907 : Selama periode Sui dan Tang (581-907) berbagai keramik, rendah dan tinggi, di produksi. Tang terkenal dengan bahan  kaca (tiga warna) barang-barang, penembakan-tinggi, barang seladon kapur-kaca Yue dan produk rendah dibakar dari Changsha. Di Cina utara, pembakarannya tinggi, porselen tembus dibuat di tanur di propinsi Henan dan Hebei. Sebuah bentuk hidangan berglasir dari akhir 7 atau abad ke-8 awal, Dinasti Tang (618-907). Salah satu yang pertama menyebutkan dari porselen oleh asing dibuat oleh seorang musafir Arab masa Dinasti Tang yang mencatat bahwa: “” Mereka telah di Cina tanah lempung yang sangat baik dengan yang mereka membuat vas yang setransparan kaca; air terlihat melalui mereka. Para vas terbuat dari tanah liat . “Orang-orang Arab sadar bahan yang diperlukan untuk menciptakan kerami kaca, bukanlah bahan kaca biasa.

Song dan dinasti Yuan, 960-1368 : keramik ini diterukkan oleh dinasti Song Pada tahun 1004 dikawasan Jingde. Jingde dijadikan sebagai kota pusat produksi utama untuk porselen Imperial. Selama dinasti Song dan Yuan, porselen yang dibuat di kota dan lainnya selatan Cina kiln . Dinasti Ming, 1368-1644 : Dinasti Ming melihat suatu periode yang luar biasa inovasi dalam pembuatan keramik. Pembakaran diselidiki teknik baru dalam desain dan bentuk, menunjukkan kecenderungan untuk warna dan desain dicat, dan keterbukaan terhadap bentuk-bentuk asing. Kaisar Yongle (1402-1424) terutama ingin tahu tentang negara lain (yang dibuktikan dengan dukungan dari kasim Zheng He eksplorasi yang diperpanjang Samudra Hindia), dan menikmati bentuk yang tidak biasa, banyak terinspirasi oleh logam Islam. Selama pemerintahan Xuande (1425-1435), penyempitan teknis diperkenalkan dalam penyusunan kobalt yang digunakan untuk dekorasi glasir biru. Sebelumnya kobalt telah cemerlang dalam warna, namun dengan kecenderungan untuk  menambaw warna darah dan mangan warna kusam, tapi rak baris. Xuande porselin sekarang dianggap salah satu yang terbaik dari semua output Ming.  Dekorasi berenamel keramik disempurnakan di bawah Kaisar Chenghua (1464-1487), dan sangat dihargai oleh para kolektor kemudian. Bahkan menurut akhir abad keenam belas, Chenghua dan era Xuande bekerja (terutama anggur cangkir telah tumbuh begitu banyak dalam popularitas, bahwa harga mereka hampir cocok barang antik asli Song atau bahkan lebih tua. Ini harga untuk keramik yang relatif baru.  Banyak sarjana sasrawan senang  (seperti Wen Zhenheng, Tu Long, dan Lian Gao).]

Selain inovasi ini, periode akhir Ming mengalami pergeseran yang dramatis terhadap ekonomi pasar, porselen diekspor ke seluruh dunia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi selain dari porselin dipasok untuk keperluan rumah tangga, tempat pembakaran di Jingdezhen menjadi pusat produksi utama untuk ekspor porselen skala besar ke Eropa dimulai dengan masa pemerintahan Kaisar Wanli (1572-1620). Dengan ini kaolin waktu dan batu keramik yang dicampur dalam proporsi yang hampir sama. Kaolin menghasilkan barang dari kekuatan besar ketika ditambahkan ke paste, tetapi juga meningkatkan warna putih – suatu warna yang banyak dicari properti, khususnya ketika bentuk barang biru-putih tumbuh dan menjadi popularitas. Tembikar batu bisa dibakar pada suhu yang lebih rendah (1250 ° C) dari pasta dicampur dengan kaolin, yang dibutuhkan 1350 ° C. Variasi semacam ini sangat penting untuk diingat karena kiln(tempat pembakaran) berbentuk telur besar selatan sangat bervariasi suhu. Dekat perapian itu terpanas; dekat cerobong asap, di ujung tungku pembakaran, itu lebih dingin.

Yang terakhir adalah Dinasti Qing, 1644-1911 : sumber bahan primer porselen Dinasti Qing tersedia dari kedua warga asing dan penulis dalam negeri. Dua surat yang ditulis oleh Xavier Francois Père d’Entrecolles, mata-mata Yesuit misionaris dan industri yang tinggal dan bekerja di Jingdezhen pada awal abad kedelapan belas, dijelaskan dalam manufaktur detail porselen di kota itu. Dalam surat pertama kencan 1712, d ‘Entrecolles menggambarkan cara di mana batu tembikar hancur, halus dan dibentuk menjadi batu bata putih kecil, dikenal di Cina sebagai petuntse. Dia kemudian melanjutkan untuk menggambarkan pemurnian kaolin tanah liat cina bersama dengan tahap-tahap perkembangan dari kaca dan menembak. Dia menjelaskan motif-motifnya: “Tidak ada tapi rasa ingin tahuku yang bisa mendorong saya untuk penelitian tersebut, tetapi tampaknya saya bahwa deskripsi menit dari semua yang menyangkut pekerjaan semacam ini mungkin, akan berguna di Eropa. Pada 1743, selama pemerintahan Kaisar Qianlong, Tang Ying, pengawas kekaisaran di kota ini menghasilkan sebuah memoar berjudul “Dua puluh ilustrasi pembuatan porselen. Jenis barang porselen Cina

1. Tang Sancai penguburan barang-barang : Sancai berarti tiga warna. Namun, warna glasir digunakan untuk menghias barang-barang dari dinasti Tang tidak terbatas pada tiga nomor. Di Barat, barang-barang Tang sancai kadang-kadang disebut sebagai telur b ayam dan-oleh dealer untuk penggunaan hijau, kuning dan putih. Meskipun terakhir dari dua warna mungkin lebih tepat digambarkan sebagai off-kuning dan putih / krim. Barang-barang dagangannya utara Sancai itu dibuat dengan menggunakan putih dan buff-menembak kaolins sekunder dan tanah liat api . Di situs kiln terletak di Tongchuan, county Neiqui di Hebei dan Gongxian di Henan , yang tanah liat yang digunakan untuk barang-barang penguburan itu sama dengan yang digunakan oleh Tang tembikar. Penguburan barang dagangan dibakar pada suhu yang lebih rendah dari whiteware kontemporer. barang Burial, seperti representasi terkenal berbentuk unta dan kuda, yang dilemparkan di bagian, dalam cetakan dengan bagian luted bersama menggunakan slip tanah liat. Dalam beberapa kasus, tingkat individualitas yang diberikan kepada patung-patung dirakit oleh tangan-ukiran.

2. Teh Jianblackwares Jian, terutama terdiri dari barang-barang teh, dibuat di tanur terletak di propinsi Fujian Jianyang. Mereka mencapai puncak popularitas mereka pada masa Dinasti Song. Barang dagangan dibuat menggunakan lokal-won, tanah liat yang kaya besi dan menembak dalam suasana pengoksidasi pada temperatur di wilayah 1300 ° C. Glasir dibuat dengan menggunakan tanah liat yang sama dengan yang digunakan untuk membentuk tubuh, kecuali fluxed dengan kayu-abu. Pada temperatur tinggi cair glasir terpisah untuk menghasilkan pola yang disebut bulu kelinci itu. Ketika barang Jian dipasang miring untuk menembak, menetes berlari menuruni samping, menciptakan bukti glasir cair pooling.

Bulu kelinci’s Jian nama keramik ini diilustrasikan dalam mangkuk teh Metropolitan Museum of Art di New York dibuat pada masa Dinasti Song (960-1279 M). keramik itu berpola dalam glasir mangkuk ini berasal dari pengaruh acak fase pemisahan selama pendinginan awal di kiln dan unik ke dalam mangkuk ini. Pemisahan fase ini dalam glasir besi-kaya blackwares Cina juga digunakan untuk menghasilkan minyak yang terkenal-spot, teadust dan bulu ayam hutan-efek glasir. Tidak ada dua mangkuk memiliki pola yang sama. mangkuk juga memiliki besi kaki coklat gelap yang khas gaya ini. Pasti dibakar, mungkin dengan beberapa ribu keping lainnya, masing-masing saggar stackable sendiri, dalam sebuah tembak-tunggal dalam tungku naga besar. Satu kiln tersebut, dibangun pada sisi bukit yang curam, hampir 150 meter panjang, meskipun pembakaran naga yang paling Jian lebih sedikit dari 100 meter panjangnya.

Keramik ini digunakan pada aba Abad ke-11 pleh penduduk Fujian :”Teh adalah warna cahaya dan terlihat terbaik dalam cangkir hitam. Cangkir dibuat di Jianyang yang kebiruan dengan warna hitam, ditandai seperti bulu kelinci. Menjadi kain agak tebal mereka menahan panas, sehingga ketika begitu hangat melalui mereka dingin sangat lambat, dan mereka tambahan dinilai pada account ini. Tak satu pun dari cangkir dihasilkan di tempat lain bisa menyaingi ini. Cangkir putih biru dan tidak digunakan oleh orang-orang yang memberikan teh-pihak mencicipi. Pada saat itu, teh disiapkan oleh whisking daun bubuk yang telah ditekan menjadi kue kering bersama dengan air panas, (agak mirip dengan matcha dalam Upacara teh Jepang). Air ditambahkan ke bubuk ini menghasilkan buih putih yang akan menonjol lebih baik terhadap mangkuk gelap. Selera dalam persiapan berubah selama dinasti Ming, Kaisar Hongwu daun sendiri lebih suka kue bubuk, dan teh hanya akan diterima upeti dari daun sebagai daerah penghasil teh. Daun teh, berbeda dengan teh bubuk, disiapkan oleh seluruh daun seduhan dalam air mendidih – teko berikutnya Yixing barang atas mangkuk teh gelap sangat populer. Barang teh Jian dari dinasti Song juga sangat dihargai dan disalin di Jepang, di mana mereka dikenal sebagai barang dagangan tenmoku.

3. ware Ding : Ding (Wade-Giles: Ting) barang ini telah diproduksi di Ding Xian (modern Chu-yang), Propinsi Hebei, sedikit barat daya Beijing. Sudah di produksi ketika para kaisar Song berkuasa di 940, Ding ware adalah porselin terbaik diproduksi di Cina utara pada waktu itu, dan adalah yang pertama untuk masuk istana kekaisaran untuk penggunaan resmi. pasta adalah putih, umumnya ditutupi dengan hampir transparan glasir yang menetes dan dikumpulkan dalam “air mata,” (meskipun beberapa ware Ding berlapis hitam atau coklat monokrom, putih adalah jenis jauh lebih umum). Secara keseluruhan, estetika Ding lebih mengandalkan pada bentuk yang elegan dari dekorasi mewah, desain yang understated, baik gores atau dicap dalam tanah liat sebelum glazur. Karena cara piring ditumpuk dalam tungku pembakaran, yang rata tanpa glasir tetap, dan harus berbingkai dalam logam seperti emas atau perak bila digunakan sebagai perangkat makan. Beberapa ratus tahun kemudian, seorang Song Selatan era penulis berkomentar bahwa ini cacat yang menyebabkan kematian sebagai kekaisaran ware disukai.  Karena pengadilan Song kehilangan akses ke tanur utara saat mereka melarikan diri ke selatan, telah berpendapat bahwa Qingbai ware dipandang sebagai pengganti Ding.

4. Ru ware : Seperti ware Ding, Ru (Wade-Giles: ju) diproduksi di Cina Utara untuk digunakan kekaisaran. Tempat pembakaran Ru itu dekat ibukota Song Utara di Kaifeng. Dalam cara yang sama dengan celadons Longquan, potongan Ru memiliki sejumlah kecil besi dalam mereka glasir yang mengoksidasi dan mengubah kehijauan ket ika menembak dalam suasana mengurangi. Ru wares rentang dalam warna-dari hampir putih ke dalam robin’s telur-dan seringkali ditutupi dengan crackles cokelat kemerahan. The crackles, atau “krasing,” disebabkan ketika glasir mendingin dan kontrak lebih cepat dari tubuh, sehingga harus meregangkan dan akhirnya untuk membagi, (seperti yang terlihat di detail di sebelah kanan, lihat juga [8]). Sejarawan seni James Watt komentar bahwa dinasti Song adalah periode pertama yang dilihat krasing sebagai prestasi bukan cacat. Selain itu, sebagai waktu, tubuh mendapat lebih tipis dan lebih tipis, sementara glasir harus lebih tebal, sampai dengan akhir Song Selatan yang ‘hijau-glasir’ lebih tebal daripada tubuh, sehingga sangat gemuk dan bukan kurus, ‘untuk menggunakan analogi tradisional. Terlalu, glasir cenderung menitik dan kolam sedikit, meninggalkannya lebih tipis di bagian atas, di mana tanah liat mengintip melalui.

5. Ware Juni : Juni (Wade-Giles: Chun) ware adalah gaya sepertiga dari porselen digunakan di pengadilan Song Utara. Dicirikan oleh tubuh lebih tebal dari Ding atau ware Ru, Juni ditutupi de ngan pirus dan ungu glasir, begitu tebal dan kental melihat bahwa hampir tampaknya mencair dari tubuh besar yang coklat keemasan. Tidak hanya kapal lebih tebal Juni pot, bentuknya jauh lebih kuat daripada potongan Juni baik-baik saja, namun kedua jenis itu dihargai di istana Kaisar Huizong. Juni produksi berpusat pada Juni-tai di county Yüxian, Provinsi Hunan.

6. Guan ware : Guan (Wade-Giles: kuan) ware, secara harfiah berarti “resmi” ware; Ru begitu yakin, Jun, dan bahkan dapat dianggap Ding Guan dalam arti luas yang diproduksi untuk pengadilan. Sebenarnya, Namun, istilah tersebut, hanya berlaku untuk yang dihasilkan oleh seorang pejabat, kiln imperially-lari, yang tidak mulai sampai Song Selatan melarikan diri dari Jin maju dan menetap di Lin’an. Ia selama periode ini dinding menjadi begitu tipis dan lapisan es begitu tebal bahwa yang terakhir menggantikan yang pertama di lebarnya. Seperti tanah liat di kaki bukit sekitar Lin’an, adalah warna kecoklatan, dan glasir sehingga viskus,””Guan ware menjadi terkenal karena “mulut cokelat” (kadang diterjemahkan sebagai “ungu”), menunjukkan tepi atas atau sebuah kapal di mana lapisan es yang tipis dan tubuh menunjukkan melalui. Guan keramik telah banyak dikagumi selama bertahun-tahun, dan sangat tunduk untuk menyalin. Sesungguhnya Gao Lain menghabiskan bagian terbesar komentarnya tentang menggambarkan Guan dan mitranya ware Ge (Lihat di bawah ini: meskipun mirip dengan Ge ware, Guan cenderung memiliki menyelesaikan biru dan [lebih transparan glasir), seakan yang paling sulit, paling mudah diidentifikasi jenis gerabah.

7. ware Ge : Ge (Wade-Giles: ko), secara harfiah berarti ‘besar-saudara’ ware, karena legenda mengatakan bahwa dari dua bersaudara bekerja di Longquan, yang membuat keramik seladon gaya khas, tetapi tua dibuat ware ge, diproduksi di kiln pribadinya . Komentator Ming, Lian Gao mengklaim bahwa kiln ge mengambil tanah liat dari situs yang sama seperti ware Guan, yang adalah apa yang menyebabkan kesulitan dalam membedakan satu dari yang lain (meskipun Gao berpikir “Ge yang khas yang lebih rendah” Guan). Secara keseluruhan, Ge masih agak sulit dipahami, tetapi pada dasarnya terdiri dari dua jenis-satu dengan ‘hangat-nasi kuning glasir dan dua set crackles, satu set yang lebih menonjol warna gelap diselingi dengan seperangkat garis-garis halus kemerahan (disebut dagu-SSU t ‘ieh-Hsien atau’ benang emas dan benang besi ‘, yang hanya bisa samar-samar terdeteksi pada mangkuk ini: The Ge ware lainnya seperti Guan ware, dengan lapisan es keabuan dan satu set crackles. Pernah dianggap hanya diproduksi bersama seladon Longquan, per pendiri legendaris, Ge sekarang diyakini juga telah diproduksi di Jingdezhen.

Sementara mirip dengan ware Guan, Ge biasanya memiliki glasir biru keabu-abuan yang buram penuh dengan selesai hampir matte. Itu pola berlebihan, sering berdiri di hitam tebal. Meskipun masih terselubung misteri, spesialis banyak yang percaya bahwa Ge ware tidak mengembangkan akhir Song Selatan atau bahkan Yuan. Dalam kasus apapun, antusiasme untuk itu tetap seluruh Ming; Wen Zhenheng lebih suka untuk semua jenis porselin, khususnya untuk pencuci droppers sikat dan air (meskipun ia lebih suka cuci sikat giok untuk porselen, Guan dan Ge adalah keramik yang terbaik, terutama jika mereka memiliki rims bergigi). Perbedaan antara imitasi kemudian Ming Song / Yuan Ge meliputi: versi Ming pengganti badan porselen putih, mereka cenderung akan diproduksi dalam berbagai bentuk baru, misalnya orang-orang untuk studio ulama; glasir cenderung lebih tipis dan lebih berkilau, dan slip diterapkan pada tepi dan dasar untuk mensimulasikan mulut “cokelat dan kaki besi” dari ware Guan.

8. Barang Qingbai : Barang Qingbai (juga disebut ‘yingqing’) dilakukan dengan tingkat Jingdezhen dan banyak pembakaran selatan lainnya dari zaman Dinasti Song Utara sampai mereka hilang cahayanya di abad ke-14 oleh barang glasir biru dan putih berhias. Qingbai dalam bahasa Cina berarti “” biru-putih jelas. The qingbai glasir adalah glasir porselen, disebut demikian karena itu dibuat dengan menggunakan batu tembikar. The qingbai glasir jelas, namun mengandung besi dalam jumlah kecil. Ketika diaplikasikan di atas tubuh glasir porselen putih menghasilkan warna biru kehijauan yang memberikan glasir namanya. Beberapa gores atau dibentuk dekorasi.

Dinasti Song qingbai mangkuk diilustrasikan itu kemungkinan besar dibuat di desa Jingdezhen dari Hutian, yang juga merupakan situs Kekaisaran tanur didirikan pada tahun 1004. mangkuk telah bertakuk dekorasi, mungkin mewakili awan atau bayangan awan di dalam air. Tubuh putih, transparan dan memiliki tekstur yang sangat-gula halus, menunjukkan bahwa itu dibuat menggunakan batu hancur dan halus tembikar bukan batu keramik dan kaolin. Glasir dan tubuh mangkuk akan dipecat bersama-sama, dalam sebuah saggar, mungkin di tungku pembakaran kayu besar-naga atau mendaki-kiln, khas kiln selatan pada periode. Meskipun banyak Song dan Yuan qingbai dibakar mangkuk terbalik dalam saggars tersegmentasi khusus, teknik yang pertama kali dikembangkan di tanur Ding di provinsi Hebei. The rims dari barang seperti itu dibiarkan tanpa glasir tetapi sering diikat dengan pita perak, tembaga atau timah. Salah satu contoh yang luar biasa dari porselen qingbai adalah apa yang disebut Fonthill Vas, dijelaskan dalam panduan untuk Fonthill Abbey diterbitkan pada tahun 1823″” … Sebuah botol cina oriental, luar biasa terpasang, dikatakan spesimen diketahui paling porselin diperkenalkan ke Eropa “”

Vas ini dibuat di Jingdezhen, mungkin sekitar tahun 1300 dan dikirim sebagai hadiah kepada Paus Benediktus XII oleh salah satu kaisar Yuan terakhir dari Cina, tahun 1338. Itu gunung dimaksud dalam deskripsi 1823 adalah dari dienamel-emas perak dan ditambahkan ke dalam vas di Eropa pada tahun 1381. Sebuah warna air abad ke-18 dari vas lengkap dengan gunung yang ada, tapi gunung itu sendiri telah dihapus dan hilang pada abad ke-19. vas ini sekarang di Museum Nasional Irlandia. Hal ini sering menyatakan bahwa barang-barang qingbai tidak tunduk pada standar yang lebih tinggi dan peraturan barang porselen lain, karena mereka dibuat untuk penggunaan sehari-hari. Mereka diproduksi secara massal, dan mendapat sedikit perhatian dari para sarjana dan antiquarians. The Vas Fonthill, diberikan oleh seorang kaisar Cina untuk paus, mungkin muncul untuk membuang setidaknya beberapa keraguan pada pandangan ini.

9. Biru dan putih barang : Kangxi periode (1662-1722) biru dan putih porselen caddy the. Mengikuti tradisi sebelumnya qingbai porselen, barang biru dan putih berglasir menggunakan glasir porselen transparan. Hiasan dicat biru ke tubuh porselen sebelum glazur, menggunakan sangat halus kobalt oksida dicampur dengan air. Setelah dekorasi telah diterapkan potongan-potongan yang berkaca-kaca dan dipecat.

Hal ini diyakini bahwa glasir porselen biru dan putih pertama kali dibuat pada Dinasti Tang. Hanya tiga potong lengkap Tang porselin biru dan putih diketahui ada (di Singapura dari kapal karam Belitung Indonesia), tetapi berasal Shards abad ke-8 atau 9 telah digali di Yangz hou di Provinsi Jiangsu. Ia telah mengemukakan bahwa pecahan berasal dari sebuah tungku di provinsi Henan. Pada tahun 1957 penggalian di lokasi sebuah pagoda di provinsi Zhejiang mengungkapkan Song Utara mangkuk fragmen dihiasi dengan glasir biru dan lebih lanjut sejak ditemukan di situs yang sama. Pada tahun 1970 sebuah fragmen kecil dari sebuah mangkuk biru dan putih, lagi tanggal pada abad ke-11, juga digali di provinsi Zhejiang.

Pada tahun 1975 pecahan dihiasi dengan glasir biru yang digali di situs kiln di Jiangxi dan, pada tahun yang sama, glasir sebuah guci putih biru dan digali dari kuburnya tanggal pada tahun 1319, di provinsi Jiangsu. Menarik untuk dicatat bahwa sebuah guci penguburan Yuan dihiasi dengan glasir biru dan merah dan glasir 1338 tanggal masih dalam rasa Cina, meskipun pada saat ini produksi besar-besaran dari porselin biru dan putih di Yuan, Mongol rasa memiliki mulai pengaruhnya di Jingdezhen. Mulai awal abad ke-14, porselin biru dan putih dengan cepat menjadi produk utama dari Jingdezhen, mencapai ketinggian keunggulan teknis selama tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Kaisar Kangxi dan berkelanjutan di masa sekarang menjadi produk penting kota.

Teh kadi banyak digambarkan menunjukkan karakteristik porselin biru dan putih yang dihasilkan selama periode Kangxi. Tubuh tembus menunjukkan melalui glasir yang jelas adalah putih yang besar dan hiasan cobalt, diterapkan dalam banyak lapisan, memiliki warna biru halus. Dekorasi, seorang bijak dalam pemandangan danau dan pegunungan dengan batu bersinar adalah khas periode. potongan itu akan dipecat di saggar (sebuah kotak keramik mengantuk dimaksudkan untuk melindungi bagian dari puing-puing kiln, asap dan abu selama pembakaran) dalam suasana mengurangi dalam telur berbentuk kiln pembakaran kayu, pada suhu 1350 ° C mendekati . Porselen biru-putih Ciri-ciri diekspor ke Jepang di mana ia dikenal sebagai ware Tenkei biru-putih atau ko sometsukei. ware ini diduga terutama diperintahkan oleh master teh untuk upacara Jepang.

10. Blanc de Chine: Blanc de Chine adalah jenis porselen putih dibuat di Dehua di provinsi Fujian. Telah dihasilkan dari Dinasti Ming (1368-1644) sampai sekarang. jumlah besar tiba di Eropa sebagai Porcelain Ekspor Cina di awal abad 18 dan disalin di Meissen dan di tempat lain. Daerah sepanjang pantai Fujian secara tradisional salah satu pusat utama ekspor keramik. Lebih dari seratus delapan puluh kiln dan situs telah diidentifikasi membentang dalam rentang sejarah dari periode Song sekarang. Dari objek periode Ming porselen yang diproduksi yang mencapai perpaduan dari glasir dan tubuh secara tradisional disebut sebagai “gading putih” dan “susu putih.” Ciri khusus dari porselen Dehua adalah jumlah yang sangat kecil oksida besi di dalamnya, memungkinkan untuk ditembakkan dalam suasana mengoksidasi menjadi warna putih atau gading hangat pucat. (Wood, 2007)

Tubuh porselen ini tidak terlalu plastik tetapi bentuk-bentuk kapal telah dibuat dari itu. Donnelly, (1969, pp.xi-xii) daftar jenis berikut produk: angka, kotak, vas dan guci, cangkir dan mangkuk, ikan, lampu, cangkir-berdiri, perbaraan dan pot bunga, hewan, pemegang kuas, anggur dan teko , Buddha dan Tao tokoh, tokoh sekuler dan wayang. Ada output besar tokoh, terutama tokoh agama, misalnya Guanyin, Maitreya, Lohan dan tokoh Ta-mo. The Dehua banyak pabrik porselen hari ini membuat angka dan perangkat makan dalam gaya modern. Selama Revolusi Kebudayaan “Dehua pengrajin diterapkan sangat mereka keterampilan terbaik untuk menghasilkan rapi patung dari Pemimpin Besar dan para pahlawan revolusi. Potret bintang opera proletar baru dalam peran mereka yang paling terkenal diproduksi dalam skala benar-benar besar.  Mao angka kemudian disukai tetapi telah dihidupkan kembali untuk kolektor asing. Seniman terkenal di blanc de Chine, seperti periode Ming akhir Dia Chaozong, menandatangani kreasi mereka dengan stempel mereka. Barang termasuk tokoh kerupuk dimodelkan, cangkir, mangkuk dan Joss-pemegang tongkat. Banyak contoh terbaik dari blanc de Chine ditemukan di Jepang di mana berbagai putih itu disebut hakugorai atau “” putih Korea, istilah yang sering ditemukan di kalangan upacara minum teh. British Museum di London memiliki sejumlah besar potongan blanc de Chine, setelah diterima sebagai hadiah pada tahun 1980 seluruh koleksi PJ. Donnelly.

Di Situs Kota Cina terdapat tiga periode Dinasti berdasarkan jenis keramik. Yang pertama adalah dinasti Song Selatan (abad X-XI M). Kedua adalah Dinasti Yuan (abad XIII-XIV) sedangkan yang terakhir adalah Dinasti Ming (XV-XVII).

Dikompilasi oleh:

Erond Damanik

Pussis-Unimed

Juni 2010.

Kota Rentang dan Hubungannya Dengan Kerajaan Aru

Kota Rentang dan Hubungannya Dengan Kerajaan Aru


Oleh: Suprayitno
Dosen Sejarah Fakultas Sastra USU Medan

PADA April 2008, Tim Peneliti Gabungan dari Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat menemukan situs Kota Rantang yang terletak di Kec. Hamparan Perak, Deli Serdang. Temuan itu berupa keramik, potongan kayu bekas kapal, batu bata dan nisan. Koordinator kegiatan penggalian situs, Nani H Wibisono dalam salah satu media Jakarta terbitan 24 April 2008 mengatakan, aneka keramik yang ditemukan paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Selain itu ada keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke-12- 14. Adapun batu nisan yang ditemukan di lokasi bergaya Islam bertuliskan syahadat tanpa ada angka tahun.

Temuan situs Kota Rantang kembali mengingatkan kita kepada temuan situs Kota China di Labuhan Deli yang ditemukan pada tahun 1970-an. Yang menarik dari komentar para ahli sejarah dan arkeologi tentang temuan itu adalah, temuan di kedua situs itu selalu dihubungkaitkan dengan keberadaan Kerajaan Aru. Pertanyaannya: benarkah demikian? Bagaimanakah temuan-temuan di lokasi tersebut berkaitan dengan Kerajaan Aru, dan bisa dipahami oleh publik secara logik? Tulisan singkat ini berupaya menjawab soalan itu berdasarkan batu nisan Aceh yang berada di situs Kota Rantang.

Kerajaan Aru

Dimanakah lokasi Kerajaan Aru dan benarkah Kerajaan Aru itu wujud dalam sejarah Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Jika benar, siapakah nama rajanya, bagaimanakah kehidupan sosial-ekonomi penduduk dan hasil bumi negeri itu. Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan lebih awal sebagai entri point untuk menjelaskan isu tersebut diatas. Sebagaimana diketahui, catatan atau rekord tentang Kerajaan Aru sangat terbatas sekali. Menurut Ma Huan dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal dengan “fresh water estuary”. A.H. Gilles sebagaimana dikutip J.V.G. Mills menyatakan “fresh water estuary” adalah muara Sungai Deli. Oleh karena itu Gilles menegaskan bahwa lokasi Aru berada di sekitar Belawan (3o 47` U 98o 41` T) wilayah Deli Pantai Timur Sumatera. Di sebelah selatan, Aru berbatasan dengan Bukit Barisan, di sebelah utara dengan Laut, di sebelah barat bertetangga dengan Sumentala (Samudera Pasai) dan di sebelah timur berbatasan dengan tanah datar.  Untuk sampai ke Kerajaan Aru, dibutuhkan pelayaran dari Melaka selama 4 hari 4 malam dengan kondisi angin yang baik.

Dalam Hsingcha Shenglan (1426) disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan dengan Pulau Sembilan (wilayah pantai Negeri Perak, Malaysia), dan dapat ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin yang baik. Sementara menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325 disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari. Semua sumber China itu mengarahkan bahwa lokasi Kerajaan Aru itu berada di daerah Sumatera Utara, karena sebelah barat Aru disebutkan adalah Samudera Pasai. Samudera Pasai sudah jelas terbukti berdasarkan bukti arekologi berupa makam Sultan Malik Al-Saleh posisinya berada di daerah antara Sungai Jambu Air (Krueng Jambu Aye) dengan Sungai Pasai (Krueng Pase) di Aceh Utara.

Namun, lokasi pusat Kerajaan Aru yang disebutkan dalam sumber China itu memang belum dapat dikenali pasti karena, bukti-bukti pendukung lainnya, khususnya bekas istana, makam-makam diraja Aru dsb. belum ditemukan. Dua lokasi tempat ditemukannya sisa-sisa keramik China, nisan, dan lain-lainnya sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini belum dapat dijadikan bukti yang kuat. Hasil-hasil penggalian di kota China (Labuhan Deli) dan Kota Rantang sementara hanya membuktikan bahwa wilayah itu merupakan wilayah ekonomi yang penting sebagai tempat aktifitas perdagangan dengan para pedagang asing dari China, Siam dan lain-lain.

Ada beberapa pendapat tentang lokasi Kerajaan Aru. Groeneveldt (1960:95) menegaskan lokasi Kerajaan Aru berada kira-kira di muara Sungai Barumun (Padang Lawas) dan Gilles menyatakan di dekat Belawan. Sementara ada juga yang menyatakan lokasi Kerajaan Aru berada di muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat). Pendapat terakhir ini tampaknya sesuai dengan keterangan geografi dari salah satu sumber China di atas, yakni berhadapan dengan Pulau Sembilan di Pantai Perak Malaysia. Memang apabila ditarik garis lurus dari Pulau Sembilan menyeberangi Selat Melaka akan bertemu dengan Teluk Haru yang terletak di Muara Sungai Wampu. Tetapi hingga hari ini didaerah itu belum ada ditemukan bukti-bukti arkeologis yang dapat mendukung pernyataan tersebut.

Sesuai dengan sistem transportasi zaman dahulu yang masih bertumpu kepada jalur sungai, dapat kita pastikan bahwa bandar-bandar perdagangan yang sering berfungsi sebagai pusat sebuah kekuasaan politik (kerajaan) pastilah berada di sekitar muara sungai. Dalam konteks ini, maka di sepanjang pantai Sumatera Timur, ada beberapa sungai besar yang bermuara ke Selat Melaka. Misalnya Sungai Barumun, Sungai Wampu, Sungai Deli, dan Sungai Bedera. Dua sungai yang disebut terakhir ini bermuara ke Belawan dan sekitarnya (Hamparan Perak). Jika demikian tampaknya pendapat Gilles lebih masuk akal, apalagi dihubungkaitkan dengan beberapa temuan-temuan arkeologis di Kota Rantang dan Labuhan Deli.

Tiga buah sungai yang disebutkan terakhir itu juga merupakan jalur lalulintas penting sepanjang sejarah, setidaknya sebelum penjajah Belanda membangun jalan raya pada awal abad ke-20, bagi orang-orang Karo untuk berniaga, sekaligus bermigrasi ke pesisir pantai Sumatera Timur/Selat Melaka. Dalam sejarah Melayu, ada disebutkan tentang nama-nama pembesar Aru yang erat kaitannya dengan nama-nama/marga orang Karo, seperti Serbanyaman Raja Purba dan Raja Kembat dan nama Aru atau Haru juga dapat dikaitkan dengan Karo. Jika informasi ini dikaitkan, maka pusat Kerajaan Aru memang berada di muara-muara sungai tersebut. Namun, secara pasti belum dapat ditetapkan, apakah di sekitar Muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat) atau di sekitar Belawan.

Dalam Atlas Sejarah karya Muhammad Yamin, pada sekitar abad ke-15 M wilayah Kerajaan Aru meliputi seluruh Pesisir Timur Sumatera dari Tamiang sampai ke Rokan dan bahkan sampai ke Mandailing dan Barus. Jika begitu yang boleh kita pastikan adalah wilayah Kerajaan Aru berada di sebagian Pantai Timur Sumatera yang sekarang menjadi wilayah Provinsi Sumatera Utara. Penguasa. Siapakah penguasa Kerajaan Aru? Dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang (1612) disebutkan bahwa Kerajaan Aru pada periode 1477-1488 dipimpin oleh Maharaja Diraja, putra Sultan Sujak “…yang turun daripada Batu Hilir di kota Hulu, Batu Hulu di kota Hilir”. Aru menyerang Pasai karena Raja Pasai menghina utusan Raja Aru yang ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pasai.

T.Luckman Sinar (2007) menjelaskan bahwa Batu Hilir maksudnya adalah Batak Hilir dan Batu Hulu adalah Batak Hulu. Menurut beliau ada kesalahan tulis antara wau pada akhir “batu” dengan kaf, sehingga yang tepat adalah “…yang turun daripada Batak Hilir di kota Hulu, Batak Hulu, di kota Hilir. Dari nama-nama pembesar-pembesar Haru yang disebut dalam Sejarah Melayu, seperti nama Serbayaman Raja Purba, Raja Kembat, merupakan nama yang mirip dengan nama-nama Karo. Sebagaimana kita ketahui di Deli Hulu ada daerah bernama Urung Serbayaman, yang merupakan nama salah satu Raja Urung Melayu di Deli yang berasal dari Suku Karo. Tetapi nama tokoh Maharaja Diraja anak Sultan Sujak masih perlu diperbandingkan dengan sumber lain untuk membuktikan kebenarannya. Sebutan Maharaja Diraja adalah sebuah gelar bagi seorang raja, bukan nama sebenarnya dan apakah Maharaja Diraja adalah Raja Aru yang pertama atau apakah itu gelar dari Sultan Sujak? Kedua pertanyaan ini sukar untuk memastikannya.

Dalam catatan Dinasti Ming, disebutkan, pada 1419 anak Raja Aru bernama Tuan A-lasa mengirim utusan ke negeri China untuk membawa upeti.Nama tokoh inipun sukar mencari pembenarannya karena tidak ada sumber bandingannya dan apakah padanannya dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Namun demikian, nama Sulutang Hutsin yang disebutkan dalam catatan Dinasti Ming dapat dianggap benar karena dapat diperbandingkan dengan Sejarah Melayu. Sulutang Hutsin adalah sebutan orang China untuk mengucapkan nama Sultan Husin. Nama Sultan Husin juga telah disebut-sebut dalam Sejarah Melayu, yaitu sebagai penguasa Aru sekaligus menantu Sultan Mahmud Shah (Raja Melaka) yang terakhir 1488-1528.

Disebutkan, Sultan Husin pernah datang ke Kampar bersama-sama dengan Raja-raja Melayu lainnya seperti Siak, Inderagiri, Rokan dan Jambi atas undangan Sultan Mahmud Shah yang ketika itu sudah membangun basis pertahanan di Kampar karena Melaka sudah dikuasai Portugis untuk membangun aliansi Melayu melawan Portugis. Berdasarkan keterangan itu dapat dikatakan bahwa nama Sultan Husin sebagaimana disebut dalam catatan China dan Sejarah Melayu secara historis dapat dibenarkan. Dengan demikian hanya itulah nama-nama yang tercatat sebagai penguasa Aru. Namun nama itu secara arkeologis hingga hari ini belum dapat dibuktikan, maksudnya belum ada temuan berupa batu nisan atau mata uang yang memuat nama tersebut.

Sosial Ekonomi

Bagaimanakah keadaan sosial-ekonomi penduduk Aru? Raja Aru dan penduduknya telah memeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan dalam Yingyai Shenglan (1416). Dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan dalam Sejarah Melayu, kerajaan tersebut diislamkan oleh Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad. Keduanya merupakan pendakwah dari Madinah dan Malabar, yang juga mengislamkan Merah Silu, Raja Samudera Pasai pada pertengahan abad ke-13. Oleh karena itu, dapat dipastikan agama Islam telah sampai ke Aru paling tidak sejak abad ke-13. Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan data arkeologis berupa batu nisan Sultan Malikus Saleh di Geudong, Lhok Seumawe yang bertarikh 1270-1297, dan kunjungan Marcopolo ke Samudera Pasai tahun 1293. Kedua sumber itu sudah valid dan kredibel.

Sumber-sumber China menyebutkan bahwa adat istiadat seperti perkawinan, adat penguburan mayat, bahasa, pertukangan, dan hasil bumi Kerajaan Aru sama dengan Kerajaan Melaka, Samudera dan Jawa. Mata pencaharian penduduknya adalah menangkap ikan di pantai dan bercocok tanam. Tetapi karena tanah negeri itu tidak begitu sesuai untuk penanaman padi, maka sebagian besar penduduknya berkebun menanam kelapa, pisang dan mencari hasil hutan seperti kemenyan. Mereka juga berternak unggas, bebek, kambing. Sebagian penduduknya juga sudah mengkonsumsi susu (maksudnya mungkin susu kambing). Apabila pergi ke hutan mereka membawa panah beracun untuk perlindungan diri. Wanita dan laki-laki menutupi sebagian tubuh mereka dengan kain, sementara bagian atas terbuka. Hasil-hasil bumi negeri itu mereka barter dengan barang-barang dari pedagang asing seperti keramik, kain sutera, manik-manik dan lain-lain. (Groeneveldt, 1960: 94-96).

Kerajaan Aru telah terwujud pada abad ke-13, sebagaimana beberapa utusannya telah sampai ke Tiongkok, yaitu pertama di tahun 1282 dan 1290 pada zaman pemerintahan Kubilai Khan (T.L. Sinar, 1976 dan McKinnon dalam Kompas, 24 April 2008). Ketika itu telah muncul Kerajaan Singosari di Jawa yang berusaha mendominasi wilayah perdagangan di sekitar Selat Malaka (Asia Tenggara). Singosari berusaha menghempang kuasa Kaisar Kubilai Khan dengan melakukan ekspedisi Pamalayu tahun 1292 untuk membangun aliansi melawan Kaisar China. Negeri-negeri Melayu dipaksa tunduk dibawah kuasa Singosari, seperti Melayu (Jambi) dan  Aru/Haru. Sementara dengan Champa, Singosari berhasil membangun aliansi melalui perkawinan politik. Pada abad ke-14, sebagaimana disebutkan dalam Negara Kertagama karangan Prapanca bahwa Harw (Aru) kemudian menjadi daerah vasal (bawahan) Kerajaan Majapahit, termasuk juga Rokan, Kampar, Siak, Tamiang, Perlak, Pasai, Kandis dan Madahaling.

Memasuki abad ke-15 Haru tampaknya mulai muncul menjadi kerajaan terbesar di Sumatera dan ingin menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Melaka. Munculnya utusan-utusan dari Kerajaan Aru pada 1419, 1421, 1423, dan 1431 di istana Kaisar China dan kunjungan Laksamana Cheng Ho yang muslim itu membuktikan pernyataan itu. Aru menjadi bandar perdagangan yang penting di mata kaisar China. Kaisar China membalas pemberian raja Aru dengan memberikan hadiah berupa kain sutera, mata uang (siling) dan juga uang kertas. Mengikut pendapat Selamat Mulyana, (1981:18) bahwa negeri-negeri di Asia Tenggara yang mengirim utusan ke China dipandang sebagai negeri merdeka. Hanya negeri yang merdeka saja yang berhak mengirim utusan ke negeri China untuk menyampaikan upeti atau persembahan/surat kepada Kaisar China.

Oleh karena itu dapat dipastikan Kerajaan Aru pada abad ke-15 adalah negeri yang merdeka dan berusaha pula untuk mendominasi perdagangan di sekitar Selat Melaka. Oleh karena itu, Haru berusaha menguasai Pasai dan menyerang Melaka berkali-kali, sebagaimana telah disebut dalam Sejarah Melayu. Menurut Sejarah Melayu (cerita ke-13), kebesaran Kerajaan Haru sebanding dengan Melaka dan Pasai, sehingga masing-masing menyebut dirinya “adinda”. Semua utusan dari Aru yang datang ke Melaka harus disambut dengan upacara kebesaran kerajaan. Utusan Aru yang datang ke Istana China terakhir tahun 1431. Setelah itu tidak ada lagi utusan Raja Aru yang dikirim untuk membawa persembahan kepada Kaisar China. Hal ini dapat dipahami karena Aru pada pertengahan abad ke-15 sudah ditundukkan Melaka dibawah Sultan Mansyur Shah melaui perkawinan politik.

Kekuatan Aru juga dilirik oleh Portugis untuk dijadikan sekutu melawan Melaka.  Akan tetapi hubungan Aru dengan Melaka tetap harmonis. Pada saat Sultan Melaka (Sultan Mahmud Shah) diserang oleh Portugis dan mengungsi di Bintan, Sultan Haru datang membantu Melaka. Sultan Haru (Sultan Husin) dinikahkan dengan putri sultan Mahmud Shah pada tahun 1520 M. Banyak orang dari Johor dan Bintan mengiringi putri Sultan Melaka itu ke Aru. Memasuki abad ke16 M, Kerajaan Aru menjadi medan pertempuran antara Portugis (penguasa Melaka) dan Aceh. Pasukan Aceh yang pada tahun 1524 berhasil mengusir Portugis dari Pidi dan Pasai kemudian menguber sisa-sisa pasukan Portugis yang lari ke Aru. Kerajaan Aru diserang Aceh sebanyak dua kali yakni pada bulan Januari dan November 1539.

Aru berhasil dikuasai Aceh dan Sultan Abdullah ditempatkan sebagai Wakil Kerajaan Aceh di Aru. Ratu Aru melarikan diri ke Melaka untuk meminta perlindungan kepada Gubernur Portugis, Pero de Faria. (M.Said, 2007: 164). Dengan bukti-bukti itu secara tertulis, jelas Kerajaan Aru memang pernah wujud di Pantai Timur Sumatera paling tidak sejak abad ke 13 hingga awal abad ke-16. Namun benarkah istananya terdapat disekitar Belawan (Muara Sungai Deli) atau di Muara Sungai Barumun di Padang Lawas, masih perlu dikaji lebih teliti dengan memerlukan banyak bukti.
(wns)

sumber: WASPADA ONLINE, Minggu, 18 Mei 2008 00:59 WIB

Catatan:
Terdapat kesalahan yang menurut EE. McKinnon, nama tersebut bukan ‘Kota Rantang’ tetapi ‘Kota Rentang’. Hal ini didasarkan kepada sumber-sumber Melayu klasik.

Diupload kembali oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed
Juni 2010