PARIWISATA BUDAYA SUMATRA UTARA BELUM MENDAPAT PRIORITAS.

PARIWISATA BUDAYA SUMATRA UTARA BELUM MENDAPAT PRIORITAS.

(Dari Focus Group Discussion Pussis-Unimed)

Sumatra Utara mempunyai warisan sejarah dan budaya (cultural and historical heritage) yang tidak kalah menarik dengan kawasan lain di Indonesia, tetapi tidak dimanfaatkan  secara efektif. Beberapa situs sejarah seperti Barus, Portibi, Benteng Putri Hijau, Kota Cina, Kota Rentang, pulau Kampai, maupun makam raja Sidabutar, batu persidangan Siallagan, bukit kerang ataupun tradisi megalitik Nias masih saja terlantar dan lama kelamaan menjadi hilang dari wujud nyatanya dan lama kelamaan hanya ada dalam ingatan kolektif masyarakat (folks memory). Lain daripada itu, beberapa bangunan bersejarah (historical building) seperti yang ada di Kota Medan dan beberapa kota di Sumatra Utara juga luput dari perhatian penyelamatan sehingga lambat laun juga menjadi hilang. Akibatnya situs maupun bangunan bersejarah sebagai warisan kebanggan masyarakat Sumatra Utara itu tidak pernah  menjadi objek atau destinasi wisata yang menarik yang mampu menyerap wisatawan secara bermanfaat secara ekonomis. Demikian diungkapkan oleh Ichwan Azhari, Kepala Pussis Unimed dalam sambutannya pada diskusi terfokus (focus group discussion) yang diselenggarakan oleh Pussis-Unimed pada hari Sabtu tanggal 20 Maret 2010 di lantai-III dekanat FIS Unimed.

Ichwan menambahkan, Medan sebagai kota terbesar kedua di Indonesia yang memiliki peninggalan sejarah yang cukup banyak itu, ternyata tidak mampu menyerap wisatawan. Jikapun ada wisatawan yang datang, maka mereka itu hanya menjadikan Medan sebagai kota transit atau menginap semalam sebelum melanjutkan kunjungan seperti ke Nias, Samosir, Berastagi, Aceh maupun Sumatra Barat. Hal ini, menurut Ichwan terjadi karena situs sejarah tidak dilestarikan, dimanfaatkan semaksil mungkin sebagai destinasi wisata. Padahal menurutnya, memasuki abad ke-20 ini telah terjadi perubahan perspektif wisata dari keindahan alam kepada wisata sejarah dan budaya (historical and cultural tourism).

Dr. Edward McKinnon, arkeolog berkebangsaan Inggris sekaligus Research Associate di Nalanda Sriwijaya CenterInstitute of South East Asian Studies (ISEAS) Singapura yang hadir sebagai pembanding utama mengemukakan bahwa cukup berbeda dengan yang terjadi di Inggris. Jika di Indonesia, terjadi penghancuran bangunan maupun situs bersejarah secara berkelanjutan maka di Inggris justru sebaliknya. Sekecil apapun situs atau bangunan bersejarah di Inggris, akan tetap dilestarikan dan dari waktu ke waktu direstorasi. Sehingga tidak mengherankan apabila di Inggris terdapat kawasan-kawasan ataupun bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini. Lain dari pada itu, peneliti yang tidak asing lagi di Sumatra Utara itu mengemukakan bahwa untuk mengelola warisan bersejarah di Inggris, dibentuk dewan konservasi heritage yang bertanggungjawab mengurus warisan sejarah dan pemerintah mengeluarkan regulasi yang tegas dengan sangksi yang sangat tegas pula seperti pidana dan denda. Disetiap bangunan bersejarah selalu terpampang semacam pamplet yang menyatakan bangunan atau situs yang dilindungi, terdapat petunjuk atau acuan wisata sejarah dan budaya dalam bentuk brosur, leafleat, maupun peta. Demikian pula, arkeolog yang akrap disapa Pak Ed itu mengemukakan bahwa pemerintah menyadari akan pentingnya warisan sejarah dimaksud dengan membangun sarana dan prasarana penunjang sehingga akses setiap pengunjung dapat berjalan dengan baik. Ia mengemukakan bahwa dalam keberhasilan wisata sangat ditentukan oleh Insentif pengelolaan, infrastructur pendukung,  information yang signifikan dan kepuaasan kunjungan.

Pembanding utama lainnya adalah Lim Chen Sian, MA dari Institute of South East Asian Studies (ISEAS) Singapore yang mengemukakan langkah-langkah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah Singapura dalam mempertahankan warisan budaya.  Lim mengemukakan bahwa  Singapura pernah kehilangan 70 pesen warisan sejarah dan budayanya, namun sekarang warisan yang hilang itu sudah hampir pulih kembali hingga 100 persen dan kini juga daerah itu sudah masuk dalam daftar negara yang dikunjungi di Asia. Ia mengemukakan bahwa hal tersebut dapat wujud karena adanya keseriusan pemerintah dalam mempertahankan warisan sejarah dan budaya. Preservasi tersebut pada dasarnya dilakukan oleh pemerintah bekerjasama dengan Singapore Heritage yang bersifat top down. Dewan cagar Budaya Singapura mengawasi sebagian besar heritage dan sebagian lagi dikelola oleh swasta. Strategi yang dilakukan berupa sosialisasi melalui booklet, leafleat, komik ataupun peta yang dilakukan oleh swasta, sponsor, maupun adanya  bantuan hibah dari pemerintah. Lain daripada itu, pendidikan terhadap arti pentingnya warisan sejarah dan budaya telah diajarkan sejak kelas III sekolah dasar hingga perguruan tinggi.  Lain daripada itu law enforcement harus ditegakkan terutama yang terkait dengan pelestarian warisan sejarah dan budaya.

Berkesempatan hadir dalam diskusi tersebut adalah Parlindungan Purba, Anggota DPD RI utusan Sumut yang menyoroti peletakan sektor kebudayaan kedalam kepariwisataan. Ia mengungkapkan bahwa kebudayaan seharusnya dilekatkan kedalam pendidikan sehingga menciptakan perubahan pola pikir atau mindset. Kemudian, pada saat terjadi perubahan mindset itu, barulah sektor kebudayaan tersebut diefektifkan melalui kepariwisataan. Menurutnya lagi, bahwa peminggiran sektor kebudayaan masa kini justru diakibatkan oleh belum tercapainya kesadaran masyarkat terhadap arti pentingya warisan sejarah dan budaya yang hanya bisa dicapai lewat dunia pendidikan. Senada dengan hal tersebut, Brilian Moktar, ketua Komisi E DPRD Sumut menyoroti adanya kesalahan dalam penunjukan orang yang mengatur sektor kebudayaan dan pariwisata. Menurutnya pariwisata dan budaya adalah satu hal yang melekat, orang ke Bali bukan karena indah tetapi karena penataan Budayanya. Oleh karena itu, dibutuhkan dinas karir yang mesti diduduki oleh orang yang profesional. Perlunya jalinan yang baik dan kordinasi yang signifikan. Pariwisata bagus karena budayanya baik. Perlunya rekomendasi untuk melihat suatu situs sebagai destinasi wisata.

Partisipan diskusi lainnya seperti Aripay Tambunan, ketua komisi C DPRD Kota Medan mengemukakan bahwa persoalan kebudayaan dan pariwisata belum menjadi prioritas. Ia mencontohkan bahwa dalam Musrenbang 2010 yang lewat di Pemko Medan, pengembangan sektor kebudayaan dan pariwisata justru tidak dibahas. Oleh karena itu, ia mengharapkan adanya jalinan kordinasi yang melibatkan lintas instansi untuk melakukan hal-hal seperti listing situs dan bangunan bersejarah, mendorong perda warisan bersejarah, maupun mendobrak stagnasi komunikasi dan hukum antara akademisi, LSM maupun pemerintah. Anggota DPRD Kota Medan yang juga hadir adalah Ikrimah Hamidy dari fraksi PKS yang mengakui ketidaktahuannya terhadap persoalan kebudayaan dan pariwisata sebelum dirinya diikutkan sebagai narasumber pada seminar Internasional yang dilaksanakan Pussis-Unimed pada 18 Mei 2008 tentang bangunan bersejarah di kota Medan.

Ikrimah mengemukakan bahwa, permasalahan warisan sejarah dan budaya ini mesti mendapatkan prioritas yang signifikan. Ia juga mengakui bahwa pendidikan adalah salah satu sarana yang tepat untuk menumbuhkan generasi yang sadar sejarah dan budaya. Karena itulah, Ia mengupayakan komunikasi diantara anggota DPRD kota Medan untuk meratifikasi Perda No. 6 Tahun 1988 tentang bangunan bersejarah yang telah usang, pembebasan lahan di Situs Kota Cina sebagai situs perkotaan di Medan dan Sumatra pra kebudayaan Islam serta mendukung upaya penulisan dan penerbitan buku ajar muatan lokal di Kota Medan.

Peserta lainnya seperti Dirk A Buiskool menyatakan kekecewaanya terhadap pemerintah kota Medan yang justru menghancurkan bangunan bersejarah di Kota Medan. Ia menuturkan bahwa satu persatu bangunan bersejarah di Medan hilang dan sebagian dalam proses pembiaran akibat tidak adanya political will untuk menyelamatkan bangunan bersejarah dimaksud. Ia menambahkan bahwa wisatawan datang ke Medan bukan untuk melihat keindahan alamnya tetapi karena adanya keunikan kota tertentu. Jadi, ia mengharapkan agar bangunan bersejarah yang telah ada itu untuk tetap dipertahankan. Senada dengan Dirk, Tuanku Lukman Sinar juga menyatakan keprihatinan serta kekhawatirannya akan upaya Pemerintah Kota Medan yang dengan seenaknya memusnahkan bangunan bersejarah. Pada kesempatan itu, pewaris kesultanan Serdang itu menyatakan bahwa salah satu situs Jepang yang ada di Medan juga akan dibongkar dan akan dijadikan sebagai hotel. Ia mengharapkan agar langkah penghancuran itu seyogianya juga dapat dihentikan. Menurut Amir Husin Ritonga dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sumatra Utara mengemukakan bahwa sektor kebudayaan menjadi semakin terlantar akibat adanya otonomi daerah, dimana daerah otonom ternyata kurang serius dalam menyelamatkan dan melestarikan bangunan bersejarah itu. Jika dibandingkan dengan sebelum era otonomi, warisan sejarah justru semakin membaik. Tetapi kini, persoalan itu semakin pelik akibat terbatasnya tugas-tugas dari disbudpar propinsi.

Diskusi yang bertajuk “Pengembangan Pariwisata Budaya di Sumatra Utara” ini diikuti oleh 35 peserta ini dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor-IV Unimed yakni Dr.Berlin Sibarani, M.Pd. Dalam sambutannya, Dr. Berlin mengemukakan bahwa pariwisata adalah upaya untuk menarik orang lain untuk mengunjungi sebuah negara, selain menarik perhatian juga mengupayakan agar bisa tinggal lebih lama. Dengan keberhasilan menarik wisatawan sudah barang tentu akan menghasilkan devisa bagi negara. Devisa tersebut akan menghasilkan uang bagi pembangunan. Oleh karena itu, diskusi yang digelar Pussis-Unimed dapat menjadi ajang pencarian kebijakan dalam kerangka pengembangan wisata budaya dimaksud.

Erond Damanik, peneliti Pussis-Unimed mengemukakan bahwa tujuan penyelenggaran diskusi ini adalah untuk menemukan langkah-langkah kebijakan dalam menggalakkan pariwisata budaya di Sumatra Utara. Kebijakan tersebut bermanfaat bagi pengambil kebijakan khususnya di Sumatra Utara dalam upaya melestarikan warisan sejarah dan budaya serta memanfaatkannya sebagai destinasi wisata. Erond menambahkan bahwa hal terkecil yang mesti dilakukan adalah bahwa masing-masing instansi, daerah kabupaten ataupun kota harus sesegera mungkin melakukan terobosan dalam pemamfaatan warisan sejarah di daerahnya sehingga dapat beramanfaat bagi pengetahuan dan mendatangkan devisa. Dari diskusi yang berjalan selama 3 jam tersebut diperolah simpulan akan pentingnya pelestarian dan pememfaatan warisan sejarah yang menyangkut: inventarisasi, penceritaan dan penyadaran. Hal pertama yang mesti dilakukan adalah inventarisasi warisan sejarah dan budaya, pengikutsertaan masyarakat setempat  yang dekat dengan situs untuk mempelajari peninggalan, memberikan penjelasan arti penting warisan, menjadikan sebagai muatan lokal, sosialisasi melalui booklet, leafleat, mata ajar, diskusi komprehensif dan penegakan hukum yang tegas. Demikian Erond menutup pembicarannya.

Turut hadir sebagai peserta dalam diskusi ini adalah Budpar Propinsi, Budpar Deli Serdang, Anggota DPRD Kota Medan, DPRD Propinsi Sumut, DPD RI Utusan Sumut, Badan Warisan Sumatra, Balai Arkeologi Medan, Inside Sumatra, Penikmat warisan sejarah dan Budaya, akademisi, profesional, mahasiswa, LSM dan Pers. Diskusi dipandu oleh Ben Pasaribu, MA dan diakhir acara dilakukan penyerahan cenderamata kepada Edward McKinnon dan Lim Chen Sian yang diserahkan oleh Drs. Restu, MS, dekan Fakultas Ilmu Sosial Unimed.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik
Pussis-Unimed

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s