PUSSIS-UNIMED KEMBANGKAN KOTA CINA MELALUI PROGRAM WISATA SEJARAH

PUSSIS-UNIMED KEMBANGKAN KOTA CINA
MELALUI PROGRAM WISATA SEJARAH

Oleh: Erond L. Damanik
Pussis-Unimed

Sesuai dengan Undang-undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) bahwa benda atau kawasan yang memiliki kharakteristik unik serta berusia lebih dari lima puluh tahun dan bermanfaat untuk ilmu pengetahuan wajib dilestarikan. Disamping karena dianggap sebagai khasanah kekayaan bangsa masa kini juga sekaligus mencerminkan tingkat peradaban dimasa silam. Kebermamfaatan dan penyelamatan tersebut dapat dilakukan dengan pengembangan situs sejarah sebagai kawasan wisata yang disebut sebagai tujuan wisata sejarah dan budaya (historical and cultural tours).

Situs Kota Cina yang  terletak di kelurahan Paya Pasir kecamatan Medan Marelan Kota Medan merupakan salah satu situs yang sangat penting untuk menjelaskan cikal bakal berdirinya kota Medan. Situs Kota Cina merupakan urban sites (situs perkotaan) yang ditemukan di pulau Sumatra sebelum berkembangnya kebudayaan Islam. Program penelitian untuk menguak keberadaan Situs Kota Cina dimulai pada tahun 1972 yang dilakukan oleh arkeolog berkebangsaan Inggris yakni Edwards McKinnon. Penelitian tersebut telah menghasilkan sebuah tulisan dalam bentuk disertasi yang menggambarkan artifak peninggalan Kota Cina berupa keramik, tembikar dan lain-lain.

Penelitian yang dilakukan sejak tahun 1972 tersebut dilakukan secara intensif hingga tahun 1978 dengan melibatkan sejumlah peneliti yang silih berganti. Adapun mereka itu ialah seperti Edwards McKinnon, Hasan Muarif Ambari, T.Lukman Sinar, Balai Arkeologi Medan. Selanjutnya, pada awal tahun 1980-an, penelitian dilakukan oleh arkeolog berkebangsaan Australia, Prancis, dan lain-lain.

Hasil-hasil penelitian penting tersebut adalah berupa, ditemukkannya ragam fragmen keramik yang berasal dari dinasti Sung dan Yuan di China, maupun fragmen tembikar, mata uang China (Koin China), Archa (Budha, Siwa dan Lakhsmi), bongkahan perahu tua, batu bata berstruktur candi, tulang-tulang hewan, pecahan kaca dan lain-lain. Dari test penentuan usia artifak (carbon dating) yang dilakukan, hampir keseluruhan temuan tersebut berasal dari satu masa yakni pada era kedinastian Sung dan Yuan di China yakni abad 12-13 masehi.

Menurut Ichwan Azhari, Kepala Pussis-Unimed mengemukakan bahwa situs Kota Cina dikembangkan oleh Pussis-Unimed sebagai lahan praktek arkeologi pada jurusan Sejarah dan Antropologi Unimed. Upaya ini ditempuh oleh Pussis-Unimed yakni dalam rangka aktualisasi pembelajaran arkeologi sekaligus meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap situs Kota Cina. Di Situs itu, terdapat Museum situs (Site museum) yang dikembangkan oleh Pussis-Unimed, berupa bangunan sederhana yang terbuat dari kayu kelapa, dingding tepas dan atap rumbia berukuran 12 x 10 meter. Adapun artifak yang dijadikan koleksi museum ini adalah temuan-temuan praktek ekskavasi  mahasiswa di kota Cina maupun pengupayaan replika archa Siwa, Laksmi dan Budha yang dipesan khusus dari Trowulan. Kini, ketiga arca tersebut telah ada di museum situs Kota Cina.

Lain daripada itu, kepala Pussis-Unimed alumni Universitas Hamburg Jerman tersebut mengemukakan bahwa, selain menjadi lahan praktek arkeologi mahasiswa, Pussis-Unimed juga mengembangkan program Wisata Sejarah dan Budaya (historical and cultural tours) yang bermanfaat untuk memberikan pengenalan Situs Kota Cina terhadap masyarakat, pelajar maupun mahasiswa serta pelajar yang ada di Kota Medan. Salah satu tujuan program wisata ini, disamping memperkenalkan situs Kota Cina kepada masyarakat umum adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap arti penting situs pada masyarakat masa kini. Dengan demikian, semakin intensnya program wisata ini sekaligus menciptakan generasi yang sadar terhadap situs sejarah sehingga dalam periode-periode kedepan akan lahir generasi-generasi ataupun pemimpin yang tidak akan menghancurkan peninggalan-peninggalan sejarah. Kecuali itu, Pussis-Unimed hingga kini masih terus mengkaji pelaksanaan Wisata Sejarah ini sebagai sebuah model pembelajaran sejarah maupun strategi untuk memperkenalkan situs terhadap masyarakat.  Pengembangan itu mencakup penatalayanan maupun menambah koleksi seperti pengupayaan  replika keramik, tembikar dan lain-lain. Hal ini dilakukan sehingga kekayaan museum Situs Kota Cina dapat ditingkatkan sekaligus menambah daya tarik masyarakat ke Situs Kota Cina. Demikian Ichwan menuturkan.

Menurut Erond Damanik (peneliti Pussis-Unimed) mengemukakan bahwa hingga kini tercatat sejumlah sekolah di Medan telah melakukan wisata sejarah bersama dengan Pussis-Unimed yakni SMA Negeri 5 Medan, pelajar Medan International School, SMA Negeri-1 Medan, SMA Negeri-14 Medan, SMA Amir Hamzah, Madrasah Aliyah Institut Agama Islam Negeri (MAL-IAIN) Medan yang hingga sudah berjumlah 533 orang siswa. Demikian pula kedepan, Pussis-Unimed akan tetap mengembangkan program wisata ini dengan menjalin kerjasama dengan pihak sekolah di Medan dan Sumatra Utara.

Selanjutnya Erond Damanik menuturkan bahwa, wisata sejarah dilakukan setelah pengenalan program wisata yang dilakukan oleh Pussis-Unimed kepada pihak sekolah, terkait dengan tujuan dan mekanisme pelaksanaan. Jumlah siswa yang diperkenankan dalam satu program wisata maksimal 120 orang yang bertujuan untuk pencapaian hasil yang maksimal. Dalam program ini, kepada siswa diberikan informasi seputar Situs Kota Cina seperti, catatan awal tentang Situs Kota Cina, masa perkebunan pengusaha Belanda, ekskavasi dan penelitian Situs Kota Cina, artifak tinggalan Situs Kota Cina, kondisi masa kini serta arti pentingnya dalam pembelajaran Sejarah. Selama pelaksanaan program wisata, peserta diberikan brosur yang berisi uraian singkat Kota Cina maupun sertifikat bukti kesertaan. Penjelasan tentang Kota Cina diuraikan oleh pembimbing lapangan  (guide) yakni dari Balai Arkeologi Medan dan Pussis-Unimed. Setelah mendapatkan penjelasan wisata di museum situs Kota Cina dilanjutkan dengan peninjauan kotak-kotak gali di Kota Cina, toapekong China, batu berfragmen candi maupun meninju Danau Siombak. Pelaksanaan wisata diakhiri dengan wisata air di Danau Siombak. Bagi peserta yang berminat dapat menghubungi Pussis-Unimed  yang beralamat di Gedung Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan pada setiap hari kerja.

Pussis-Unimed mengakui bahwa program seperti ini termasuk langka untuk Sumatra Utara sehingga membutuhkan kerjasama yang intens antara pihak sekolah, guru-guru sejarah, perguruan tinggi maupun pihak pemerintah, khususnya dinas Kebudayaan dan Pariwisata maupun Dinas Pendidikan. Dengan upaya ini, salah satu yang diharapkan adalah timbulnya kesadaran masyarakat terhadap situs sejarah, khususnya terhadap situs Kota Cina Medan Marelan.

Disarikan pada tanggal 06 Maret 2010:
oleh: Erond Damanik
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

1 Komentar

  1. tanggal 15 feb 2011 saya kesana
    lokasi sejarah yang sangat bagus

    saya mendapat banyak pengetahuan disana
    thanks pussis unimed


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s