GREGET TUANKU RAO

Bercengkrama dengan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) adalah pengalaman yang mengesankan. Saya pernah bertemu dengan MOP pada awal tahun 1970-an dalam  perbualan di rumah abang saya Amir Husin Siregar di bilangan Tulodong Bawah, Jakarta Selatan. Hadir dalam perbualan itu Amir Husin Siregar, MOP dan Ir. Amiru Bagwie.

Ir. Amru Bagwie lahir dan besar dalam kalangan intelektual Sipirok. Ayahnya Dr. Abdul Rasyid dan pamannya Abdul Firman Gelar Mangaraja Soangkupon, adalah anggota Voksraad (Dewan Rakyat) Batavia. Suangkupon, seorang yang terkenal di zaman pergerakan anggota Dewan Rakyat mewakili Sumatera Timur, (Noer, 1996:180-181). Suangkupon, adalah anggota Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda (Poeze: 1986:75,78,80,88,281,303), dan teman seperjuangan anak Betawi, Muhammad Husni Thamrin, yang sangat gigih membela nasip para nasip kuli kontrak di tanah Deli.

Saya pernah membawa Lance Castles ke alamat ini untuk bertemu dengan Ir. Amrun Bagwie, 1970, salah seorang nara sumber Lance Castles ketika menyiapkan disertasinya The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940. Kelak Dr. lance Castles meminta saya menulis kata pengantar Edisi Indonesia disertasi yang dipertahankannya di Yale University pada tahun 1972 tersbut. Kepustakaan populer Gramedia, menerbitkan edisi Indonesia 2001 di bawah judul: ”Kehidupan Politik suatu Keresidenan di Sumatera : Tapanuli 1915-1940”.

HAMKA menggambarkan sosok MOP sebagai seorang yang suka berkopiah sampir (rasam) buatan Gorontalo, berpipa Cangklon, bersarung dan bertongkat kecil (Hamka, 1974:18-19). Penampilan itu sering saya saksikan ketika beberapa kali bertemu dengan MOP.

MOP pernah dengan wajah agak gusar, mengarahkan tongkatnaya yang berkepala gading ke arah dahi saya, saya kaget, mengelak dan malu bukan kepalang. Pasalnya saya ingin mengetahui perihal polemiknya dengan Hamka dan Haluan tentang buku ”Pongkinangolngolah Sinambela gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833”.

Mungkin MOP menilai saya tidak pantas ikut berbicara pada perbualan itu. Itulah kenangan saya terhadap MOP, pada awal tahun 1970-an. Sejak itu saya semakin tertarik kepada MOP, tertarik dalam arti tidak mengenalnya lebih dekat. Antara tahun 1974-1976 saya beberapa kali bertemu dengan Hamka di kediamannya. Dalam kesempatan, Hamka Memperlihatkan Surat MOP. Isinya tentang pernyataan MOP menarik diri dari polemik dengan Hamka. Alasannya, karena kurang sehat, lagi pula harusa bekerja keras untuk mencari uang untuk membiayai anak-anaknya. Sehingga MOP tidak punya waktu untuk melayani polemik dengan Hamka. Ketika itu buku Antara Fakta dan Khayal “Tuanku Rao”:Bantahan terhadap tulisan-tulisan Ir.Mangaradja Onggang Parlindungan dalam Bukunya “Tuanku Rao” baru saja terbit.

Pada tahun 1976, 12 tahun setelah buku Tuanku Rao terbit, saya bertanya kepada Muhammad Radjab Lubis gelar sutan Ranggasoli, salah seorang anggota Petisi 50, yang saya kenal gemar membaca bahan-bahan sejarah dan politik, apakah ia sudah membaca Tuanku Rao, “itu kan Cuma turi-turian. Buat apa saya membuang waktu membaca buku sepert itu” katanya singkat.

Pada tahun 1965-1967 saya sering bertemu dengan Prof.Dr. Slamet Mulyana dalam kapasitas saya sebagai ketua jurusan Ilmu Perpustakaan  FSUI dan beliau sebagai dosen FS UI. Pada awal tahun 1980-an kami sering tukar kunjung sebagai tetangga di Rawamangun. Prof. Slamet Mulyana  mengaku sebagai murid Mangaraja  Onggang Parlindungan.

Saya berpendapat, kendati buku Tuanku Rao hanyalah turi-turian perlu juga dibaca, siapa tahu ada butir-butir berharga dari kisah MOP itu.

Komunitas Bambu meminta saya mengulas buku tersebut, sehingga mengharuskan saya membacanya  lebih serius. Kesan saya terhadap buku Tuanku Rao, adalah bahwa buku ini bagaikan umbul, mata air, yang dapat dipakai sesuai keperluan. Umbul dapat dipakai sebagai air minum, air wuduk, mandi, mencuci pakaian, mencuci beras, mencuci sayur mayur, mencuci buah, menyiram tanaman, dan lain-lain . Pokoknya terserah kepada yang ingin memanfaatkannya. Begitu juga, buku Tuanku Rao, yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk menulis buku dari berbagai sudut pandang.

Pastilah sulit untuk membahas buku Tuanku Rao dari segala  segi di dalam satu buku. Pasalnya, sangat melelahkan, juga  memerlukan kerja keras  untuk mencari segala rujukan paparan MOP. Sulitnya lagi, MOP telah membakar semua bahan-bahan yang dijadikannya sebagai sumber penulisan buku Tuanku Rao.

Oleh karena itu, buku  ini bolehlah dikatakan sebagai  turi-turian seperti yang dikatakan Muhammad Rajab Lubis Sutan Ranggasoli itu. Turi-turian dalam khasanah  sastra lisan Mandailing dan Angkola, Sipirok, Padang Lawas (ASPAL) bisa bersumber pada peristiwa yang benar-benar terjadi  pada kurun dan tempat tertentu. Tetapi juga  hanya fantasi, ialah kisah  yang hanya terjadi di negeri antah berantah pada kurun tingki dina itom na robi, pada zaman kegelapan. Sehingga tidak dapat dipakai sebagai rujukan peristiwa sejarah.

Tuanku Rao adalah turi-turian yang dikisahkan oleh seorang Bayo Parturi, juru Kisah atau Story teller yang mahir, yang akan memukai pembacanya dari segala lapisan masyarakat tanpa pandang jenjang pendidikan. Pokoknya siapa saja yang membaca buku ini, mulai dari berpendidikan Sekolah Dasar, S1,S2 dan S3 maha guru, ulama besar, atau hakim, niscaya akan terbius dengan penuturan MOP.

Saya menulis buku Gregat Tuanku Rao ini Dari sudut pandang seperti dibawah ini:

1. Mengkoreksi yang salah

2. Menulis tentang hal-hal yang luput dari perhatian

3. Menulis tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh    MOP Hal itu semua perlu diketahui oleh khalayak ramai.

Oleh karena itu, tidak semua bab didalam buku Greget Tuanku Rao ini membicarakan buku Tuanku Rao. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia ada tiga bentuk kata gereget,gregat dan greget yang artinya mengandung makna nafsu, semangat,kemauan untuk berbuat sesuatu, geram, kesal dan jengkel.   Saya memilih Greget karena greget terasa terlalu lembut dan greget tidak biasa dilafalkan dalam bahasa percakapan sehari-hari. Kata greget lebih memiliki ruh yang apabila diucapkan akan berpengarauh pada gerak bibir orang yang mengucapkannya bahkan membuat gigi beradu. Hal itu terjadi spontan sebagai tampilan makna dan emosi yang dikandung kata greget itu.  Sebagai penulis ada debar-debum jantung saya kita menulis bab Datu Bange didalam buku ini. Bukan hanya itu karena bab ini bercerita tentang kebiadapan, genocide, dan dendam yang membara. Tetapi karena ia juga bercerita tentang leluhur saya yang terus menerus melakukan perlawanan sekalipun mereka sudah dalam posisi yang tidak mengutungkan. Sementara itu pasukan berbaju Putih yang mendengung-dengungkan agama, sambil menebas kepala manusia, membakari kampung, memperkosa dan melakukan segala macam kebiadapan, terus mengejar musuhnya. Inilah yang membuat pihak Belanda jadi meleleh, dan terusik rasa kemanusiaanya. Datu Bange dan rombonganya terus melakukan perlawanan. Secara spontan pasukan Belanda kemudian melindungi rombongan Datu bange. Karena jika tidak demikian, sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih kejam pasti terjadi, yang bagaimana pun tidak akan bisa diterima manusia beradap !!!.

Datu Bange dan pengikutnya yang tidak lain adalah leluhur saya, pada akhirnya berhasil memasuki daerah baru setelah menempuh medan yang berat, berliku-liku naik gunung dan turun lembah serta hutan belantara. Kemudian satu rombongan menetap didaerah Angkola kurang lebih 55 kilometer dari Simanabun dan satu di sihepeng, Mandailing Godang kurang lebih 100 kilometer dari Simanabun. Datu Bange harus menembus semua itu dengan nyawanya sendiri.

Melalui tulisan ini saya mencoba memperkaya informasi tentang hal-hal yang kiranya luput dari perhatian MOP, misalnya tentang Willem Iskander yang saya sebut sebagai terowongan waktu. Duet Godon dengan Yang Dipertuan yang telah melakukan terobosan peradapan spektakuler antara lain menghapuskan perbudakan di wilayah Asisten Residensi Mandailing Angkola justru pada saat yang bersamaan dengan terbitnya buku Uncle Toms Cabin, Emansipasi kaum perempuan, pembangunan jalan ekonomi dar Penyabungan ke Natal sepanjang 90 km yang dikerjakan rakyat secara suka rela tanpa sedikitpun menelan korban. Juga tentang peranan Sutan Casayangan Soripada sebagai peletak dasar kesadaran kebangsaan Indonesia dan penentu Orientasi kesatuan Indonesia, serta peranan para ulama-ulama Sufi Mandailing yang menyebarkan agama Islam di  daerah itu berabad sebelum Paderi datang.

Sebagai penutup, saya ingin meminta perhatiaan kita terhadap kehadiran para peneliti asing yang datang melakukan penelitian terhadap berbagai aspek kehidupan suku-suku bangsa Indonesia. bangsa kita sering kali terpengangahdan terkagum-kagum melihat kehadiran peneliti asing. Ada benarnya sikap seperti itu. Tetapi harus ada pengenalan lebih dalam terhadap tokoh-tokoh peneliti suku-suku bangsa indonesia itu.        Pasalnya barangkali tidak sedikit peneliti asing yang tidak fasih berbahasa daerah suku bangsa yang ditelitinya. Sehingga dapat diduga, hasil penelitiaanya mungkin hanya sebatas kulitnya saja. Tiddak jarang responden menyembunyikan, hanya menyatakan dengan isyarat-isyarat saja hal-hal yang penting. Sehingga peneliti hanya mendapat imformasi yang dangkal.

Selain itu, ada hal-hal yang bersifat tabu walaupun tidak kuat,tetapi jika diucapkan dimuka orang-orang yang diikat oleh nilai-nilai kepatutan, maka mereka akan merasa malu atau tidak nyaman. Missalnya, jika seorang peneliti bertanya kepada anak gadis yang memakai jilbab di muka ayah ddan ibunya, atau seorang ibu muda didepan suaminya dan mertuanya  pertanyaan seperti ini “Kenapa anda mamakai Jilbab? Mengapa anda menyembunyikan kecantikan Anda? Pada hal jika anda membuka jilbab, anda pasti tampak lebih cantik lagi. Sehingga banyak pemuda yang akan cinta kepada anda.

Kata-kata peneliti seperti ini membuat responden merasa malu dan tidak nyaman. Mungkin responden hanya tampak tersipu-sipu, tetapi dia sebenarnya marah dan tidak simpati kepada peneliti itu.

Saya kagum kepada beberapa peneliti yang fasih berbahasa suku bangsa yang mereka teliti, sekaligus mengenal dengan baik nilai-nilai kesopansantunan suku bangsa yang mereka teliti. Sekedar menyebut beberapa nama :

  1. Lance Castles berbahasa Batak ketika mewawancarai respondennya di Pematang Siantar dan Tapanuli.
  2. Sutan Rodgers fasih berbahasa Batak dialek Angkola Sipirok, memiliki pengetahuan  yang luar biasa tengtang segala kehidupan orang Sipirok, sehingga masyarakat adat Sipirok menabalkan marga Siregar kepadanya sebagai penghargaan yang tinggi. Sutan Rodgers menghargai tinggi pemberiaan marga itu. Tidak sedikit karya ilmiahnya memakai nama Sunan Rodgers Siregar.
  3. Rita Smith Kipp seorang Antropolog yang fasif berbahasa Karo.
  4. Suami isteri Herman Slaats dan M.K. Portier yang fasih berbahasa Karo dan ahli dalam seluk beluk tradisi dan Hukum Adat Karo.
  5. Sandra Niessen yang fasif berbahasa Batak Toba dan menguasai seluk beluk filosofi hidup orang batak Toba.
  6. J.J. Ras dan Willem van der Molen dari universitas Leiden yang ahli bahasa dan sastra Jawa yang sangat menguasai alam pikiran, tradisi dan perilaku orang jawa.

Itulah beberapa peneliti asing yang saya kenal. Tentu saja masih banyak sekali nama-nama peneliti yang fasih berbahasa dan menguasai segala segi kehidupan lahir batin suku-suku bangsa yang mereka teliti. Catatan ini hanya sekedar mengingatkan para peneliti, apakah ia orang asiang atau orang Indonesia, agar ia seharusnya menguasai bahasa dan nilai-nilai luhur masyarakat yang ditelitinya.

Mungkin beberapa orang tidak enak membaca satu dua alinea di dalam buku ini, tetapi ini saya lakukan adalah dalam upaya merentang benang kebenaran, minimal menurut yang saya ketahui. Saya berharap, orang lain akan merentangkan benang kebenaran sesuai sudit pandang, sehingga demikian akan mempermudah kita mengaproksimasi, menetapkan kebenaran yang sesungguhnya.

Biarlah ini semuanya menjadi sumbangan saya kepada MOP dan kepada pencari kebenaran. Semoga langkah ini diridhoi oleh Allah SWT. Amin.

Rawamangun, 18 Agustus 2007.
Ulasan ini adalah pengantar Basyral H. Harahap pada bukunya yang berjudul: Greget Tuanku Rao” LKIS, 2007.

Diupload oleh:
Erond L. Damanik, M.Si.
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s