KARTINI: PELETAK DASAR EMANSIPASI?

“Aku…anak kedua dari Bupati Jepara, dan aku mempunyai lima orang saudara lelaki dan perempuan…Almarhum kakekku adalah bupati di Jawa Tengah…Kami, anak-anak perempuan yang masih terbelenggu oleh adat istiadat lama,  hanya boleh memanfaatkan  sedikit saja  dari kemajuan dibidang pendidikan itu. Sebagai anak perempuan, setiap hari pergi meninggalkan rumah untuk belajar disekolah sudah merupakan pelanggaran besar terhadap adat negeri kami. Ketahuilah bahwa  adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumahnya…Ketika berusia 12 tahun  aku harus tinggal dirumah, aku harus masuk sangkar.  Aku dikurung didalam rumah dan sangat terasing dari luar, dan aku tidak boleh kembali kedunia itu lagi selama belum berada di sisi seorang suami, seorang lelaki yang asing sama sekali, yang dipilihkan orangtua bagi kami untuk mengawini kami, yang sesungguhnya tanpa sepengetahuan kami”. (Surat Kartini kepada Stella Zeenhandelaar yang ditulis pada tanggal 25 Mei 1899).

Pengantar

Adalah Kartini, sosok perempuan yang lahir dari salah satu istri Bupati Jepara yang bukan bergelar ‘Raden Ayu’ (gelar bagi istri utama Bupati di Jawa) yang dalam Sejarah Indonesia  dianggap sebagai tokoh emansipasi wanita. Demikian pula bahwa nama Kartini telah dicatatkan dan diabadikan dalam sederetan sosok yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Ketokohan Kartini tersebut diketahui dari surat-suratnya yang ditulis serta dikirim kepada sahabat penannya dinegeri Belanda pada tahun 1899-1904. Surat pertama yang ditulis Kartini tertanggal 25 Mei 1899 yang ditujukan kepada Stella Zeenhandelaar, yakni sahabat pena yang belum pernah dijumpainya hingga akhir hayatnya yang menceritakan kecemasan seorang Kartini terhadap tradisi yang mengurung cita-cita perempuan bumiputra. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan serta diterbitkan oleh J.H. Abendanon, (kepala Departemen Pendidikan dan Pengajaran kolonial) tujuh tahun setelah kematian Kartini yang sangat tragis. Buku tersebut diberi judul yang sangat populer yakni: Door duisternis tot licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Disatu sisi, apabila surat-surat tersebut dibaca sekilas maka yang tampak adalah pemikiran dan cita-cita seorang Kartini yang emansipatif dan futuristik. Keberaniannya menuntut diberikannya pendidikan dan pengajaran kepada kaum perempuan bumiputra, perlawanannya terhadap adat istiadat, kritiknya terhadap poligami dan  kawin paksa, kebiasaan kaum ningrat Jawa serta kekhawatirannya terhadap masa depan perempuan, cita-citanya menjadi guru serta mendirikan sekolah kecil bagi perempuan adalah secuil yang dapat dibaca dari surat-suratnya, yang mana semua gagasan tersebut tidak pernah tercapai sepenuhnya. Disisi lain,  apabila surat itu diperiksa dengan teliti, maka akan diketahui bahwa sosok Kartini tidak pernah mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap pendudukan kolonial di wilayah Indonesia, ataupula melakukan perlawanan terhadap tindakan pemerintah kolonial yang tidak berlaku adil kepada perempuan bumiputra. Kartini ternyata  bukan sosok yang  antikolonialisme, ia justru sama dengan ayahnya-Bupati Jepara-yang adalah tunjukan pemerintah kolonial sehingga harus mengabdi kepada penunjuk tersebut.

Seandainya Abendanon tidak berniat untuk membukukan serta menerbitkan surat-surat Kartini tersebut, mungkin Bangsa Indonesia tidak pernah menemukan sosok dan pemikiran Kartini dalam Sejarah Indonesia. Layaknya sebuah surat, ia ditulis dan dimasukkan kedalam amplop dan lalu dikirim kepada alamat tujuan (sahabat pena), sehingga orang lain tidak pernah mengetahui apa isi surat dimaksud. Hal ini justru berbeda dengan gagasan dan pemikiran sebagaimana yang dituliskan kedalam media cetak seperti koran, dimana sipenulis menuangkan buah pikirannya kedalam bentuk tulisan, dimuat dimedia cetak sehingga dapat diakses dan dibaca oleh publik. Bagi kaum perempuan di Sumatra Utara, mungkin akan lebih berbangga pada saat mereka mengetahui bahwa kaum perempuan di wilayah ini telah memiliki gagasan nyata berupa terbitnya media berhaluan perempuan seperti Perempuan Begerak, Boeroe Tapanoeli, Soeara Iboe, ataupun Dunia Wanita. Katakan saja, apabila satu media ini dibaca oleh 500 orang, maka ada sejumlah tersebut yang mengetahui arti penting dan makna utama gagasan yang tertuang dalam media itu. Ini justru berbeda dengan sebuah surat yang dimasukkan kedalam amplop dan lalu dikirim kepada alamat tujuan.

Sejarah Kartini justru lebih menunjukkan suatu diskontinu antara cita-cita terbesar seorang Kartini dengan kenyataan hidup yang harus dialaminya, yakni suatu gambaran ketidakberdayaan untuk menolak dominasi adat istiadat, kawin paksa, poligami maupun hancurnya  cita-cita akibat pengaruh prestise seorang ayah. Keadaan ini justru membenarkan kondisi masyarakat Jawa pada saat itu dan Kartini ternyata belum juga mampu untuk meretas kebuntuan tersebut. Walaupun Kartini memiliki pemikiran dan cita-cita yang cemerlang terhadap masa depan kaumnya, tetapi masa depan tersebutpun menjadi sirna pada saat dirinya terjebak dengan kondisi yang mengelilinginya. Tragisnya, Ia bahkan meninggal dalam usia muda (lahir pada 21 April 1879 dan meninggal pada 1904), sebelum pemikiran dan cita-cita tersebut sempat ia lihat pengaruhnya pada perempuan bumiputra sebagaimana yang ia pikirkan. Kartini meninggal sewaktu melahirkan anaknya yang kedua dari perkawinanya dengan Bupati Rembang. Perkawinan tersebut terjadi akibat ketidakmampuan ayahnya (termasuk penolakan Kartini terhadap ayahnya) untuk menolak pinangan Bupati Rembang yang mana ia harus ‘rela’ menjadi istri ketiganya serta mengasuh tujuh anak tirinya. Perkawinan tersebut menjadi akhir dari cita-cita dan pemikiran Kartini terhadap masa depan serta kemajuan kaum perempuan bangsanya.

Lain daripada itu, beberapa hal terkait dengan pemikirannya yang cemerlang itu, seakan menjadi semu dan sirna pada saat dirinya menunjukkan tindakan dan prilaku yang bertolak belakang dengan gagasannya itu. Beberapa hal yang dianggapnya sebagai bentuk pengingkaran terhadap harkat dan martabat perempuan, justru ia langgar sendiri sehingga melahirkan persepsi yang ambigu manakala mengetahui Kartini yang sebenarnya. Misalnya, dalam surat-suratnya ia menentang kawin paksa dan poligami, tetapi akhirnya Kartini menjadi istri ketiga dan ‘terpaksa’ mengasuh tujuh anak tirinya. Demikian pula dalam satu suratnya yang menyatakan niatnya untuk tidak menikah dengan lelaki pribumi, tetapi dirinya toch menikah dengan lelaki tua dari Rembang itu. Justru yang paling menyakitkan bagi seorang Kartini adalah keinginannya menjadi guru dan studi ke negeri Belanda menjadi gagal-padahal beasiswa sudah ia dapatkan-karena ayahnya terlanjur menerima pinangan Bupati Rembang. Bahkan, rencana terbesarnya yakni mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputra tidak pernah tercapai sepenuhnya karena kematiannya yang terlalu dini.

Pemikir Emansipasi

Membaca dan mempelajari surat-surat Kartini adalah hal yang menarik. Dari sana justru diketahui bahwa kepadanya pantas diberikan sebutan sebagai pemikir  emansipasi dan kemajuan perempuan di Indonesia. Pada salah satu suratnya yang ditulis pada bulan Agustus 1901 yang ditujukan kepada Nyonya N. Van Kol, Kartini menekankan pentingnya pendidikan dan pengajaran kepada kaum perempuan. Ia menulis: “Suatu rahmat yang sangat besar bagi masyarakat bumiputra jika kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk perempuan itu sendiri sangat kami inginkan mereka mendapat pengajaran dan pendidikan…Bangkitkan perempuan Jawa. Ajarkan dia suatu kepandaian agar tak lagi menjadi korban tak berdaya…kami melihat banyak sekali keadaan yang menyedihkan…Dan satu-satunya jalan keluar menghindari hidup yang demikian, gadis itu harus merebut kehidupan bebas bagi dirinya”.

Kiranya, sebutan sebagai pemikir emansipasi lebih cocok mengingat peran Kartini sebenarnya masih ‘sebatas’ memikirkan cetak biru (blueprint) yang akan dicapai. Tindakan lebih jauh Kartini untuk mengimplikasikan gagasan dan cita-cita tersebut kedalam bentuk nyata belum terlaksana sama sekali. Justru,inilah yang sangat disayangkan dari seorang Kartini. Seandainya dirinya mampu menyelaraskan pemikiran dan cita-citanya dalam bentuk nyata (bukan sekedar gagasan), maka Kartini adalah peletak dasar emansipasi, atau sosok perempuan terbaik negeri ini yang disamping berhasil meretas kungkungan adat-istiadat, menentang kawin paksa dan perjodohan serta yang terpenting adalah kemampuan mengaplikasikan gagasan kedalam tindakan nyata. Tetapi, agaknya Kartini tidak sempat memikirkan hal tersebut karena perjodohan itu dan kesibukannya untuk mengurus ketujuh anak tirinya.

Memang, pasca wafatnya Kartini bermunculan tokoh-tokoh pejuang perempuan dan salah satu yang layak disebut adalah Dewi Sartika yakni perempuan Sunda yang lahir pada 1 Desember 1884 dan wafat pada 11 September 1947. Pada tahun 1904, Dewi Sartika telah mendirikan sekolah pertamanya  yang kemudian dikenal dengan ‘Keutamaan Istri’. Kegiatannya terus berjalan meskipun ia telah menikah dengan BA. Suriawinata pada tahun 1906. Bahkan, beberapa tahun sebelum kematiannya, Suriawinata mau membantu kegiatan istrinya itu.  Sehingga pada tahun 1912, Dewi telah mendirikan sembilan sekolah yang artinya, ia berhasil membangun 50% dari seluruh sekolah yang ada di tanah Sunda. Tidak mengherankan apabila pada tahun 1912, tulisan Dewi masuk ke laporan komisi tentang perbaikan derajat perempuan, sebuah essay dari perempuan muda yang ketika itu berusia sekitar 30 tahun.  Gaya tulisan Dewi sangat berbeda dengan Kartini yang cenderung sentimentil saat usianya pada awal duapuluhan. Jauh sebelum gerakan feminis mengemuka dan terorganisir, Dewi telah berbicara tentang ketidakadilan pembagian upah kerja antara laki-laki dan perempuan dimana perempuan dibayar lebih rendah daripada lelaki dalam pekerjaan yang sama beratnya mereka jalankan.

Penutup

Gagasan dan cita-cita Kartini untuk mendirikan sekolah kecil dirumahnya itu disambut dengan baik dan didorong oleh Abendanon, dan dengan penuh semangat, Kartini menceritakan usaha awalnya kepada Nyonya Abendanon melalui suratnya yang ditulis pada tanggal 4 Juli 1903, yaitu: “Sekolah kecil kami sudah tujuh orang muridnya dan setiap hari ada saja yang mendaftar disini…Kemarin seorang ibu muda datang menemuiku. Dengan sangat menyesal ia mengatakan bahwa ia tinggal jauh sekali dari kami; ia sendiri ingin sekali belajar ditempat kami…karena ia tidak dapat mencapainya maka ia ingin memberikan apa yang tidak dapat diperolehnya itu kepada anaknya…Anak-anak itu datang kesini empat kali sepekan…mereka belajar menulis dan membaca, kerajinan tangan dan memasak…beruntung kami masih mempunyai sedikit peralatan menjahit; selama persediaan masih cukup, mereka mendapatkan semuanya secara gratis”. Dapat dipahami bahwa, cita-cita Kartini tersebut didasarkan pada pemahaman yang cukup Kartini akan arti pentingnya perempuan mendapat pendidikan dan pengajaran.

Namun, harapan dan cita-cita besarnya terhadap sekolah serta kariernya menjadi guru sepenuhnya tidak pernah terwujud karena beberapa pekan setelah surat itu, Kartini dinikahkan dengan Bupati Rembang-sebuah perjodohan, tetapi pernikahan yang bahagia karena dalam surat-surat terakhirnya, Kartini mengatakan bahwa suaminya itu mendukung cita-citanya.  Akan tetapi, pernikahannya itu dengan bupati Rembang telah menjadi akhir gagasan dan cita-cita terbesarnya  bagi perempuan dinegeri ini karena pada tahun 1904. Kartini wafat pada usia 25 tahun saat akan melahirkan anak keduanya. Mungkin, apabila ia mampu menolak perjodohan itu, maka masa depan cita-cita Kartini pastilah tercapai dengan sepenuhnya. Hal ini dapat diketahui dari pidato Abendanon pada tahun 1913, yang mengemukakan bahwa sembilan tahun setelah Kartini meninggal, “belum ada sekolah umum untuk perempuan rakyat biasa”.

Oleh:
Erond L. Damanik, M.Si

Peneliti pada Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan (Pussis-Unimed)

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s