Citra Kartini dalam Sejarah Indonesia

Pengantar

Dalam buku-buku tentang Kartini ataupun surat-suratnya yang diterbitkan diceritakan tentang bagaimana ia berjuang melawan ketertindasan perempuan pribumi. Ia menjadi ikon tertindas yang resisten terhadap feodalisme dan kolonialisme. Kartini adalah perempuan terhebat di negeri ini. Kehadirannya ditorehkan dalam kalimat “Habis Gelap terbitlah terang” (Anoegrajekti, 2006:4)  Citra ini semakin lengkap ketika pada tanggal 2 Mei 1964 Soekarno menetapkannya sebagai pahlawan nasional.

Citra Kartini  secara terus menerus dikumandangkan dan digulirkan dalam buku-buku sejarah Indonesia, media, dan ritual-ritual pada saat hari peringatan ulang tahun Kartini tanggal 21 April.  Citra yang berlebihan terhadap diri dan kehidupan Kartini  memberikan ruang bagi sebagian masyarakat untuk curiga terhadap proses pencitraan Kartini sebagai sosok pahlawan emansipasi wanita. Sering muncul pertanyaan mengapa hanya Kartini yang dianggap sebagai perempuan yang paling berjasa membebaskan perempuan pribumi dari tembok-tembok rumah yang memenjarakan mereka. Padahal masih banyak perempuan lain yang mempunyai kesaksian dan pengalaman yang mirip dengan Kartini,, seperti Dewi Sartika yang bisa menghabiskan gelap dan menerbitkan terang, yang bukan hanya sekedar  angan-angan saja.  Hal  ini memberi kesan bahwa citra Kartini sepertinya merupakan konstruksi dan pencitraan dari pihak yang dominan. Ia dihadirkan dalam ruang dan setting tertentu untuk mengusung kepentingan kelompok dominan. Biasanya citra yang diusung dan dikukuhkan oleh penguasa sebagai kelompok dominan tidak boleh digugat. Meskipun demikian bukan berarti tidak ada pencitraan kartini lainnya  yang hadir sebagai citra tandingan. Hanya saja citra itu seringkali harus terpinggirkan dalam sejarah Indonesia. Atas dasar pemikiran ini secara singkat akan diuraikan bagaimana citra kartini dalam sejarah Indonesia dan aspek-aspek apa saja yang mendukung proses pencitraan tersebut.

Sosok Perempuan Terhebat di Indonesia

Saat Kartini melampiaskan kesedihan dan kekecewaannya terhadap feodalisme yang telah memenjarakannya dalam sebuah ruang takdir (pingitan), tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Kartini bahwa suatu saat dia akan dinobatkan sebagai perempuan terhebat di Indonesia. Dia juga tidak pernah membayangkan bahwa namanya selalu disebut, dikenang dan dinyanyikan oleh penduduk Indonesia di seluruh pelosok negeri  pada saat hari ulang tahunnya tanggal 21 April.  Semuanya tidak pernah terpikir dan direncanakan oleh Kartini, yang diinginkannya ketika itu hanyalah membebaskan  diri dari “kotak”  yang mengurungnya, seperti yang diceritakannya kepada Stella :

Kau tanyakan kepadaku, bagaimana keadaanku di antara empat dinding tebal itu. Kau tentu pikir tentang sebuah sel atau semacamnya. Tidak, Stella, penjaraku adalah sebuah rumah besar, dengan pekarangan luas, tapi sebuah pagar tembok tinggi mengelilinginya, dan pagar tembok itulah yang mengurung aku. Betapa luasnya pekarangan itu, kalau orang harus terus tinggal di situ, menjadi sesak juga rasanya. Aku masih ingat, bagaimana  dalam putusasa yang gelap-gulita  itu badanku selalu kelemparkan pada pintu-pintu yang terkunci dan pada tembok dingin. Arah manapun yang kutempuh, akhir dari perjalanan  itu selalu tembok batu atau pintu terkunci (Surat kepada Estella Zeehandelaar, 25 Mei 1899 dalam Toer,  2006:67).

Kartini ingin bebas dan menjadi gadis modern seperti gadis-gadis Belanda lainnya yang pernah dikenalnya di sekolah. Tapi apa daya sebagai perempuan Jawa yang hidup dalam ruang feodalisme, langkah Kartini untuk menikmati dunia modern  di luar tembok rumahnya harus terhenti di usia 12 tahun. Namun modernitas yang hadir di awal abad ke-20 ternyata mampu menembus tembok rumah kartini, walaupun Ayah Kartini, R.M. Ario Sosroningrat telah membangun tinggi tembok rumah mereka. Kemajuan jaman itu secara berlahan-lahan menyusup dalam kehidupan Kartini yang sangat mendambakan modernitas.Di dalam kotaknya, Kartini mengembangkan pengetahuan dan kemampuan bahasanya dengan membaca buku-buku dan majalah terbitan Belanda, diantaranya  Minnebrieven karya Multatuli, Hilda van Suylenburg yang ditulis C. Goohoop de Jong, Moderne Vrouwen yang diterjemahkan oleh Jeannette van Riensdijk, Moderne Maagden oleh Marcal Prevost, De Vrouwen en Sosialisme karya August Bebel (Tashadi,1981:51) dan sebuah majalah Kebudayaan yang berjudul Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Ned-Indie (Toer, 2006:2002). Melalui bacaannya, Kartini berkenalan dengan berbagai modernitas yang tidak  bisa dilihatnya secara langsung dan dengan pengetahuan barat yang dimilikinya,  Kartini kemudian mencitrakan dirinya sebagai seorang “gadis modern” (Vickers, 2005: 41). Hal ini tersirat dari pikiran-pikiran kartini yang dituangkan dalam surat-suratnya.

Bernyala-nyala hati saya, gembira akan zaman baru, ya, malahan bolehlah  saya katakan, menilik pikiran dan rasa, saya tiada serasa dengan zaman di Hindia ini, melainkan saya telah hidup  di zaman saudara saya  perempuan bangsa kulit putih yang giat hendak kemajuan di barat yang jauh itu.  (Surat kepada Estella Zeehandelaar 25 Mei 1899  dalam Pane, 2004: 31)

Sebuah citra dapat dilihat sebagai representasi jiwa dari sesuatu ataupun seseorang dan juga sebuah kesan yang kadang  sengaja diciptakan (Nas, 1993: 3). Seperti halnya Kartini  dengan sengaja mencitrakan diri sebagai perempuan modern kepada teman-temannya di Belanda. Tanpa disadarinya ternyata pencitraan diri yang dilakukan Kartini ternyata mampu merekonstruksi citra yang lain terhadapnya. Kartini memberikan kesan yang begitu mendalam kepada orang-orang yang merasa kagum dengan pemikiran-pemikirannya.   Ia dianggap sebagai simbol modernitas yang mewakili zaman dan jenis kelaminnya (perempuan). Kekaguman terhadapnya melintasi ruang dan waktu. Pada masa kolonial, ia adalah kekasih orang-orang Belanda orientalis dan ia begitu menawan  hati banyak pejabat kolonial. Hal ini dikarenakan kepandaian dan posisinya terhadap feodalisme, kolonialisme dan nasionalisme telah menjadi inspirasi bagi orang-orang Belanda terhadap gagasan-gagasan mereka  yang bersifat sosial maupun politik bagi perempuan elit di Indonesia. Gagasan dan tuntutannya, terutama di bidang pendidikan, banyak  yang diperhitungkan oleh pihak  haluan etis yang mengajukan agenda reformasi kolonial ( Yulianto, 2006:45). Tidak mengherankan apabila pihak kolonial yang diwakili oleh Mr. J.H. Abendanon  mengabadikan kebesaran Kartini  dengan menerbitkan kumpulan suratnya dengan judul “ Door Duisternis tot Licht” ( Habis gelap terbitlah terang) pada tahun 1911 (Toer, 2006:231).

Pesona Kartini sepertinya tidak hilang ditelan waktu, pada masa Soekarno Kartini  dianggap sebagai  orang pertama  dalam sejarah bangsa Indonesia yang menutup zaman tengah, zaman feodalisme   yang “sakit” (Toer, 2006:12). Selain itu, Soekarno melihat Kartini sebagai perempuan revolusioner dan agenda perjuangan Kartini  hampir sama dengan agenda perjuangannya, yaitu kebebasan. Luar biasa citra yang ditampilkan Kartini, ia mampu menaklukkan hati  seorang pengagum wanita seperti Soekarno. Predikat sebagai pahlawan nasional dapat dianggap sebagai tanda cinta Soekarno kepada Kartini.

Berbeda dengan  citra Kartini yang ditampilkan Soekarno, Soeharto berusaha mencitrakan Kartini dengan pemaknaan yang bertolak belakang dengan Soekarno. Jika pada masa Soekarno, Kartini diperlihatkan sebagai perempuan revolusioner. Perempuan yang ingin bebas dari kolonialisme dan feodalisme yang telah memenjarakannya dalam ruang domestik. Soeharto malah merekonstruksinya dengan menampilkannya sebagai sosok yang patuh  pada adat.  Oleh karena itu Rezim Soeharto membangun  sebuah paham yang disebut  dengan ideologi Ibuisme (Yulianto, 2006: 57). Bagaimana paham Ibuisme berusaha ditanamkan di berbagai lapisan masyarakat di seluruh Indonesia bisa dilihat pada saat perayaan hari Kartini. Semua perempuan pada hari Kartini berlomba-lomba memakai sanggul Kartini, kebaya dan kain panjang, yang sebenarnya lebih merepresentasikan sosok Ibu rumah tangga daripada perempuan modern. Di samping itu, pada masa Soeharto juga berkembang  organisasi perempuan yang selalu berada dibelakang suaminya.

Kehebatan Kartini bukan hanya mempesonakan kelompok dominan di Indonesia (penguasa) akan tetapi Kartini juga telah mempesonakan  seorang sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Kekaguman Pramoedya kepada Kartini didedikasikannya pada sebuah buku yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja.  Menurut Pramoedya , Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. Dialah yang menggodok aspirasi-aspirasi kemajuan  yang di Indonesia untuk pertama kali timbul di Demak-Kudus–Jepara sejak pertengahan kedua abad yang lalu. Di tangannya kemajuan dirumuskan, diperincinya dan diperjuangkannya untuk kemudian menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. Dikatakan Indonesia, karena sekalipun  ia lebih sering bicara tentang Jawa, ia pun tak jarang mengemukakan keinginan buat seluruh Hindia (Indonesia) saat ini. Tanpa Kartini, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin (Toer: 2006:14).

Kekaguman Pramoedya kepada Kartini bukan hanya dari pemikirannya tetapi dari fisik Kartini, menurutnya Kartini tidak mewarisi satu ciri fisik bangsawan Jawa. Hidung Kartini yang tidak mancung diangggap merupakan sesuatu yang tidak biasa ada dalam golongan bangsawan Jawa, tapi lebih umumnya pada rakyat Jelata. Hal ini menurut Pramoedya  adalah simbol adanya perubahan dalam konstelasi kejiwaannya, suatu penyimpangan dari leluhurnya. Pandangan  dunianya yang lebih kaya dengan satu unsur-unsur demokrasi.  (Toer 49)

Perempuan Pemimpi : Citra Tandingan Kartini

Citra Kartini sebagai seorang perempuan hebat dan menjadi inspirasi kemajuan bagi seluruh perempuan di negeri ini ternyata diringi dengan munculnya keragu-raguan orang terhadap cita-citanya. Kartini sering dianggap sebagai seorang “perempuan pemimpi”. Surur  (2006:29) menganggap cita-cita Kartini untuk memajukan penduduk pribumi dan kaumnya ternyata tidak kesampaian. Ia hanyalah putri bangsawan yang hanya bisa termenung di dalam rumah yang besar dan berdinding tembok tinggi daripada bergumul dengan kehidupan perempuan yang saat itu sedang mendalami penindasan kolonial. Ide-ide Kartini hanya patut menjadi  menjadi pemikiran pribadi dan tidak pernah menyentuh kehidupan perempuan. Kartini telah gagal, karena tidak mampu mewujudkan alur-pikirnya menjadi garapan publik yang bisa dinikmati  oleh semua perempuan.

Pengagungan Kartini terhadap pengetahuan Eropa (kolonial) juga dipandang sinis kelompok yang menganut paham feminis dan poskolonial. Gadis Arivia (2003: 70) memandang pemikiran Kartini sangat dipengaruhi oleh pandangan feminis kolonial yang diperkenalkan oleh teman-teman Belandanya. Ketika Kartini mulai bersentuhan dengan pengetahuan Eropa, dikepalanya terkonstruksi sebuah pemikiran bahwa dirinya adalah bagian dari perempuan-perempuan eropa yang modern, sementara perempuan pribumi dianggapnya terbelakang, lemah dan bodoh ( Pane, 2004:32-38). Sebuah pandangan yang  bersifat kolonial, karena Kartini berpikir secara dikotomik yang cenderung mendiskriminasikan perempuan pribumi sebagai kelompok subaltern (lemah). Padahal di sisi lain Kartini juga adalah bagian dari subaltern itu. Hal ini dibuktikan dengan kegagalannya merealisasikan ide-ide kemajuan dalam kehidupan pribadinya. Kesetaraan pendidikan yang ia cita-citakan  sebatas cita-cita pencerahan yang ia cuplik dari kesetaraan ide-ide barat. Tidak pernah ia memperjuangkannya  dalam ruang lingkupnya, mengenal dan bergumul dengan kaum perempuan Jawa yang tertindas. Kritiknya terhadap poligami  tidak terwujud secara nyata, akhirnya ia kalah oleh kekuatan feodalisme dan mau dinikahkan dengan pria yang telah beristri dan harus mati setelah melahirkan di usia yang masih muda (Arivia, 2006:70).

Kartini dalam realitas

Seiring dengan semakin derasnya suara-suara yang meragukan kehadiran Kartini sebagai sosok perempuan paling tangguh di Indonesia, tidak pula surut suara-suara  yang mendukungnya. Pramoedya Anantra Toer (2006:13) bahkan dengan sengaja mengatakan bahwa buku yang berjudul “Panggil Aku Kartini saja” sengaja disusunnya untuk membuat konfrontasi terhadap pihak yang meragukan Kartini. Namun terlepas dari perdebatan apakah pantas atau tidaknya Kartini dinobatkan sebagai pelopor emansipasi wanita, sebagaimanapun setiap orang bebas mencitrakan Kartini sesuai dengan pemaknaannya dan kepentingannya masing-masing.  ataupun benar. Hanya saja yang menjadi persoalannya  adalah pandangan yang muncul dari kelompok yang lemah (subaltern) seringkali terpinggirkan dan berusaha ditenggelamkan oleh kelompok dominan yang ingin pendapatnya menjadi mainstream (pusat).

Oleh:
Ida Liana Tanjung, M.Hum
Dosen Sejarah Unimed


Diupload oleh:
Erond L. Damanik,M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s