MENULIS SEJARAH: UNTUK SIAPA DAN APA?

Rupanya, bagi Orde Baru, keharusan keseragaman dalam hampir semua hal lebih penting daripada keutuhan dan keamanan yang bisa dijanjikan oleh keragaman. (Taufik Abdullah, 2008)

A. Pengantar

Penguasaan sejarah adalah salah satu corak wacana yang dipelihara oleh Orde Baru. Oleh karena itu, ingatan tidak lagi berdialog dengan sejarah sebagai catatan  peristiwa yang terjadi di masa lalu tetapi juga dengan sejarah sebagai wacana ideologi yang dikisahkan. Ketika dialog itu terjadi, maka berbagai corak wacanapun akan terhampar begitu saja. Dalam suasana negara yang semakin mendominasi masyarakat, maka usaha penguasaan pengetahuan tentang masa lalu dilakukan dan sekaligus mengalami proses ideologisasi.

Secara bertahap, bangsa dibawa untuk berkenalan dan merasa akrab dengan apa yang disebut dengan Katharine E. McGregor, (2008) sebagai “History of Uniform”, ‘Sejarah Berseragam” yang mengupas secara mendalam tentang bagaimana nalar pikir dikontruksikan oleh persepsi-persepsi kesejarahan dari beberapa kelompok inti yang mempunyai wilayah kerja untuk memproduksi ingatan sejarah versi penguasa yang didalamnya berkelit antara kepentingan ideologis patriotik dan pelanggengan mitos-mitos kekuasaan militer. Upaya-upaya dilakukan secara terorganisir melalui aneka corak sistem wacana mulai dari kata dan kalimat yang tercetak, buku, diorama, film, tugu (monumen), sampai museum. Walaupun pada awalnya, sejarah berseragam ini ditujukan kepada militer yang mendominasi penulisan sejarah, namun kemudian merembet ke wilayah masyarakat luas. Kisah dan wacana sejarah yang dikuasai ini dengan sadar dijadikan sebagai wahana untuk melakukan glorifikasi peristiwa dan aktor yang secara ideologis harus dihormati, walaupun belum mendapat kepastian sejarah (historical certainty), tetapi ini pulalah kisah sejarah yang ‘melupakan’ atau ‘meminggirkan’ kekuatan sosial yang secara ideologis ditolak dan secara politik dianggam mengancam.

Taufik Abdullah (2008) mengemukakan bahwa ketika negara ingin menguasai kesemuanya, mulai dari politik, ekonomi sampai pada kesadaran masyarakat dan ingatan kolektif bangsa, penulisan sejarah yang dipelihara rezim yang berkuasa hanya berkisah tentang hal-hal yang bisa memperkuat legitimasi dari kehadirannya. Dalam sejarah yang dipelihara ini, banyak peristiwa dan aktor sejarah yang ditinggalkan begitu saja diluar ‘sejarah’, yang seakan-akan tak pernah terjadi dan tak pernah ada. Mencermati beragam fenomena historiografi di Indonesia itu, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam menulis Trilogi bukunya yang berjudul: Seabad Kontroversi Sejarah (2007), Membongkar Manipulasi Sejarah Indonesia (2008) dan Penulisan Sejarah Indonesia (2009).  Sejarawan itu, ingin menunjukkan berbagai aktor dan peristiwa sejarah yang keliru, untuk menjelaskannya dan menuliskannya kembali secara objektif berdasarkan sumber-sumber yang ada dan relevan.

Pada dasarnya, penguasaan sejarah bukanlah berarti pemalsuan sejarah yakni mengatakan sesuatu yang berbeda dari realitas sejarah yang sesungguhnya, tetapi  justru pelupaan yang disengaja atau pengerdilan arti kehadiran suatu peristiwa dan aktor sejarah tertentu dalam pengisahan sejarah. Singkatnya, pada saat hal-hal negatif bagi keutuhan bangsa yang dilakukan oleh golongan tertentu diperbesar dari keadaan yang sesungguhnya, demikian pula hal-hal yang kecil, kemudian diperbesar untuk menunjukkan arti penting dari aktor atau peristiwa sejarah tersebut. Memang, kisah sejarah bukanlah hasil usaha untuk merekam peristiwa dimasa lalu, tetapi juga adalah sebuah bentuk wacana-berita pikiran yang ingin disampaikan.

B. Penghindaran diri

Berangkat dari penguasaan sejarah seperti itu, bisalah dipahami apabila banyak sejarawan yang memisahkan diri secara intelektual dan ideologis dari usaha mendominasi sejarah yang dilakukan negara. Diantara mereka ada yang memusatkan diri  diluar wilayah kesejarahan yang ingin dikuasai. Ada yang ingin meninggalkan sejarah politik kontemporer dan berpaling pada penelahaan aspek-aspek lain dari masa lalu, atau  tak kurang pentingnya menekuni sejarah sosial yang berupaya merekontruksi proses perubahan struktur  dan kehidupan masyarakat  baik secara keseluruhan maupun kelompok-kelompok sosial tertentu.

Begitu pula,  barangkali tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa penghindaran diri dari wilayah kesejarahan yang ingin dikuasai negara malah bisa memperluas wawasan tentang berbagai aspek kesejarahan bangsa, atau juga sejarah sosial yang serba menyeluruh itu.  Namun, terlepas dari segala sumbangan bagi perluasan dan pendalaman pengetahuan empiris dan bahkan terlepas pula keunggulan teori yang biasa diperlihatkannya dalam menerangkan dinamika sejarah dan bahkan juga tentang letupan-letupan peristiwa yang terjadi, sejarah sosial tidak dengan begitu saja dapat menimbulkan rangsangan perasaan.  Sejarah sosial yang bersifat analitis dan struktural ini bisa terasa seakan-akan hanya pengetahuan tentang sesuatu yang ‘ada di sana’, something out there, yang secara emosional terputus dari keprihatinan kekinian yang subjektif. Meskipun sejarah sosial dapat memberikan bentukan teoritis tentang dinamika bahkan gejolak masyarakat, namun semua bisa terasa sebagai uraian tentang orang lain ‘the others’ yang berada di sana, disuatu tempat disuatu zaman.

Betapapun mungkin terjadi perbenturan sejarah antara versi yang dikuasai oleh sistem kekuasaan dengan yang direkontruksi oleh hasrat kebebasan intelektual, memang tidak mudah untuk dihindarkan. Bagaimanapun juga sejarah kontemporer yang berkisah tentang kejadian-kejadian yang langsung untuk menggugah kesadaran diperlukan juga. Sebab, ketika berhadapan dengan berbagai kisah dari sejarah kontemporer inilah dialog antara pemahaman tentang makna hari kini dan visi masa depan yang telah dibayangkan, dengan pengetahuan dan pengalaman masa lalu, lebih mungkin terjadi. Jika sejarah sosial dapat mempertebal pengetahuan tentang kehidupan dan dinamika masyarakat bangsa, maka sejarah politik kontemporer dapat dengan mudah memancing pengandaian. Jika dibandingkan dengan  situasi Indonesia masa kini, bukankah berbagai pengandaian sejarah dengan  begitu saja bisa terasakan.  Karena kebenaran jawab yang mungkin diberikan terhadap pertanyaan pengandaian, tidak dapat dibuktikan, tentu saja secara teoritis jawab itu tidaklah  sah. Meskipun demikian, pertanyaan itu akan sangat berguna dalam kerangka mempertajam kesadaran tentang problem hari kini dan perkiraan akan tantangan di hari esok.

C. Pertempuran Ingatan

Rekontruksi peristiwa yang telah menjadi bagian dari sejarah kontemporer berfungsi sebagai kaca pembanding bagi ingatan pribadi dalam memahami berbagai corak gejolak yang telah dialami. Dalam berhadapan dengan hasil rekontruksi dari berbagai peristiwa yang terjadi dimasa lalu itu,  semacam dialogpun dapat berlangsung antara ‘sejarah’ sebagai hasil rekontruksi masa lalu yang menjadi milik publik dengan ‘ingatan’, sebagai milik yang sangat pribadi.  Ada saatnya, bahkan sangat mungkin  bisa juga ketika sejarah terasa  memperkuat dan memperjelas segala hal yang telah berada dalam reservoir ingatan yang biasanya bersifat fragmentaris.

Tidak selamanya, dialog antara ingatan pribadi dengan sejarah itu berlangsung diwilayah publik. Ada kalanya, bahkan sering sekali, dialog itu hanyalah merupakan reaksi pribadi untuk kemudian dilupakan saja atau mungkin juga hanya disampaikan sebagai kritik akademis demi perbaikan atau kelengkapan rekontruksi sejarah.  Namun demikian, ketika ketetapan baru dalam tatanan politik sedang dicari dan disaat hal-hal yang langsung berkaitan dengan perimbangan kekuasaan telah dimasalahkan, berlangsungnya semacam the battle of memories, pertempuran ingatan,  tidak terlekkan.  Berbagai corak dan versi ingatan pribadi menampilkan dirinya sebagai pasangan dialog dengan sejarah. Ingatan pribadi tentang peristiwa atau peristiwa khusus yang diperdebatkan bukan saja melibatkan diri dalam dialog dengan sejarah, tetapi juga dan mungkin lebih penting dengan pemahaman pada struktur realitas yang merupakan stage dari peristiwa yang diperdebatkan. Ingatan pribadi ini dapat mengambil bentuk seperti banyaknya buku-buku yang ditulis baik, sebagai memoar politik ataupun biografi yang ditulis oleh pelaku-pelaku sejarah itu.

Ketika Bung Karno berkata, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah’, secara tekstual ia sesungguhnya berada dalam wilayah permasalahan filosofis meskipun mungkin ia mengatakannya untuk mempertahankan kekuasaan dan kelangsungan hidup rezim Demokrasi Terpimpin yang serba revolusioner. Sedangkan kajian yang menjadikan masyarakat, yaitu kesatuan hidup individu-individu yang terikat dalam suatu jaringan sistem nilai dan makna yang integratif, sebagai sasaran perhatian memungkinkan didapatnya bentukan pemahaman teoritis tentang dinamika sosial. Oleh karena itu, biarlah para pengikut berbagai teori sejarah melanjutkan perdebatan abadi mereka tentang bagaimana memahami gejolak dan dinamika sejarah. Tetapi, sejarah kontemporer yang menjadikan pergolakan kekuasaan dalam situasi perubahan sosial sebagai sasaran kajian dapat secara berlangsung menggugah dialog antara kesadaran tentang hari kini dengan pengetahuan tentang perjalanan sejarah yang telah dilalui. Disengaja atau tidak, semacam rasa akan kearifan sejarah tentang baik dan buruk bisa menyelinap begitu saja dalam kesadaran.  Demikian pula bahwa, cita-cita  yang baik dan luhur dengan begitu saja akan mengalami krisis ketika dilema antara pilihan ideologis dan etis dengan hasrat kekuasaan dibiarkan berjalan begitu saja.

D. Penutup.

Terlepas dari kemungkinan ingatan siapa atau aliansi ingatan mana yang seutuhnya memancarkan kebenaran faktual atau yang mendapat kemenangan dalam usaha menjadikan  versi-nya sebagai pembentuk sejarah yang diakui dan diterima. Namun yang pasti adalah suasana perbenturan ingatan dan dialog dalam sejarah selalu bisa memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang berbagai peristiwa yang berlalu dan tentang para aktor yang bermain diatas panggung sejarah. Atas dasar itu, sering sekali dinyatakan bahwa penulisan sejarah tidak satupun yang objektif, dan hanya berupaya untuk objektif. Sejarah adalah pertentangan antara dominasi penguasa dan yang ingin berkuasa kontra denominasi dan pemarjinalan bagi pihak lain.

Kita patut bertanya: menulis sejarah itu untuk siapa dan apa, yang berarti bahwa sejarah cenderung dimanipulasi, dikonfrontir dan dijadikan sebagai legitimasi kekuasaan atau menjadi jalan lurus menuju kekuasaan. Walaupun demikian,  ternyata bahwa dialog ingatan dengan sejarah bukan saja menggugah kesadaran tetapi juga menjadi penyuluh dalam mengayunkan langkah ke depan, ke masa depan yang belum berpeta.

Oleh:

Erond L. Damanik, M.Si
Peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s