DELI SPOORWEG MAATSCHAPPIJ: Kontribusi Perkebunan Deli Dalam Pengembangan Transportasi Di Sumatra Utara

1. Pengantar

Pada kurun waktu 1863-1870-an, wilayah Pantai Timur Sumatra (Sumatra East Coast) menjadi kawasan yang sangat penting di Hindia Belanda. Disamping posisi geografisnya, kondisi topografisnya juga memberikan arti tersendiri terhadap pengembangan perkebunan di Sumatra Timur. Pertumbuhan ekonomi perkebunan kolonial itu telah mendorong pertumbuhan ekonomi disektor lain yang pada akhirnya membuat Deli (Medan) menjadi daerah yang maju dan berkembang pesat.

Secara historis, patut dicatat kepeloporan  Jacobus Nienhuys yang dikenal sebagai peletak dasar budaya perkebunan di Sumatra Timur. Menginjak tanah Deli pada tahun 1862 dan mendapat konsesi tanah dari penguasa lokal selama 20 tahun. Mengembangkan komoditas Tembakau (tabaks) hingga menjadi komoditas unggulan di Amsterdam dan Bremen mengalahkan tembakau dari Cuba dan Brazil. Pada tahun 1869, Nienhuys mendirikan Deli Matschapaij, suatu badan usaha milik pengusaha swasta Belanda yang membawahi sekitar 75 daerah perkebunan di Sumatra Timur yang berasal dari usahawan mancanegara seperti Jerman, Inggris, Swiss, Belgia dan Amerika.

Memasuki tahun 1870-an, komoditas perkebunan tidak lagi terfokus pada Tembakau tetapi telah merambah ke komoditas lain seperti Karet, Coklat, Teh, dan Kelapa Sawit. Demikian pula daerah perkebunan tidak lagi terkonsentrasi di Deli, tetapi sudah memasuki daerah lain seperti Binjai, Langkat, Serdang, Padang (Tebing Tinggi), Siantar dan Simalungun. Prospek yang menjanjikan dari sektor perkebunan Sumatera Timur ini telah mendorong penataan disejumlah bidang untuk mendukung pengembangan kota Medan dan Sumatera Utara menjadi kawasan yang maju dan modern. Penataan itu adalah seperti pembangunan berbagai perkantoran yang mengurusi layanan publik, perhotelan, sarana jalan dan jembatan, tempat rekreasi, perbankan, rumah sakit, pendidikan, rumah ibadah, termasuk didalamnya perumahan dan pertokoan. Tidak salah apabila, Medan dan Sumatera Utara menjadi kawasan yang maju dan sekaligus sebagai pusat perkebunan di Indonesia. Dampak akhir adalah pemindahan ibukota Sumatra dari Bengkalis ke Medan (1907) dan ditetapkannya Medan sebagai gemeente pada tahun 1909.

Salah satu kontribusi perkebunan Deli yang hingga kini masih beroperasi adalah dibangunnya sarana transportasi yakni Deli Spoorweg (Kereta Api Deli), yang dirintis sejak tahun 1883 yakni sarana pengangkutan komoditas perkebunan dari pedalaman menuju pusat Kota Medan di sekitar Esplanade (lapangan Merdeka).  Deli Spoorweg Matschappij (DSM) adalah perusahaan swasta Belanda yang memiliki izin konsesi untuk membangun jaringan kereta api. Pada masa kini, kereta api yang awalnya dibangun oleh DSM itu dikenal sebagai PT. Kereta Api Indonesia divisi regional-I Sumut-NAD.

2. Kereta Api Trans Sumatra

Pembangunan jaringan Kereta Api di tanah Deli merupakan inisiatif J. T. Cremer yakni manajer perusahaan Deli (Deli Matschappij) yang menganjurkan agar jaringan Kereta Api di Deli sesegera mungkin dapat dibangun dan direalisasikan mengingat pesatnya perkembangan perusahaan perkebunan Deli. Beliau juga telah menganjurkan pembukaan jalan yang menghubungkan antara Medan-Berastagi dengan fasilitas hotel seperti hotel grand Berastagi dan Bukit Kubu sekarang sebagai tempat peristirahatan pengusaha perkebunan. Pembangunan jaringan Kereta Api ini dimungkinkan oleh pemberlakuan UU Agraria Tahun 1870 dimana penguasa kolonial Belanda dimungkinkan untuk menyewa tanah dalam waktu relatif lama yang tidak saja diprioritaskan bagi sektor perkebunan. Disamping itu, berkembangnya Belawan sebagai bandar kapal ekspor hasil perkebunan ke Eropa telah pula mendorong laju percepatan pembangunan jaringan Kereta Api yang menghubungkan daerah-daerah perkebunan di Sumatra Timur. Kecuali itu, jalur transportasi sungai dinilai cukup lambat dalam proses angkutan hasil produksi perkebunan menuju Belawan.

Berdasarkan surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda maka pada tanggal 23 Januari 1883, permohonan konsesi dari pemerintah Belanda untuk pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan Belawan-Medan-Delitua-Timbang Langkat (Binjai) direalisasikan.  Pada bulan Juni 1883, izin konsesi tersebut dipindahtangankan pengerjaannya dari Deli Matschappij kepada Deli Spoorweg Matschappij (DSM). Pada tahun itu pula, presiden komisaris DSM, Peter Wilhem Janssen merealisaikan pembangunan rel kereta api pertama sekali di Sumatra Timur yang menghubungkan Medan-Labuhan yang diresmikan penggunaanya pada tanggal 25 Juli 1886.

Perkembangan jaringan kereta api cukup signifikan sejalan dengan ekspansi pengusaha perkebunan ke beberapa kawasan di Sumatra Timur. Pada tahun 1888  kawasan-kawasan seperti Belawan, Deli dan Binjai telah dapat dilalui oleh kereta api.  Pembangunan jaringan kereta Api Labuhan-Belawan tercatat pula Tjong A Fie-milyalder Kota Medan-sebagai donatur. Demikian pula sejak tahun 1902, pembangunan kereta api dilanjutkan dengan menghubungkan antara Lubuk Pakam-Bangun Purba yang dapat digunakan pada tahun 1904.  Selanjutnya, pada tahun 1916 dibangun jaringan Kereta Api yang menghubungkan Medan-Siantar yang menjadi pusat perkebunan Teh. Pada tahun 1929-1937 turut pula dibangun jaringan Kereta Api yang menghubungkan Kisaran-Rantau Prapat.

Rencana pemerintah kolonial ialah menjadikan Sumatera Timur sebagai pusat perkebunan di Sumatera dan Belawan adalah pelabuhan Internasional ekspor dan import hasil perkebunan. Sejalan dengan rencana itu, pengusaha Kerata Api Deli (DSM) berencana untuk menghubungkan jaringan kereta api Deli di Sumatra Timur dengan Kereta Api milik negara di Aceh (Atjeh Staatspoor) dengan jaringan Kereta Api Sumatra Barat. Dalam studi kelayakan yang dilakukan oleh DSM, direncanakan akan membangun jaringan kereta api Lubuk Linggau-Kota Pinang sesuai usulan Ligveot dan van Zuylen menjadi lintas kereta api lintas Sumatra. Rencana tersebut diusulkan pada tahun 1909 sehingga Belawan dapat dihubungkan dengan Palembang sejauh 1400 Km. Oleh karena itu, pembangunan jaringan kereta api di Sumatera Barat dilakukan dengan terlebih dahulu membangun rel yang menghubungkan lintas Taluk-Teluk Bayur (273 Km), lintas Taluk-Tembilahan (212 Km) dan lintas Taluk-Pekan Baru (155 Km).  Bila dicermati, pengusaha dan penguasa kolonial telah merencanakan jaringan kereta api Trans Sumatra yang menhubungkan kota-kota di Sumatra, mulai dari Aceh hingga Palembang. Sumatra Timur (Medan) direncanakan sebagai Pusat perkebunan dan Belawan menjadi Pelabuhan Internasional eksport dan import.

Hingga pada tahun 1940, pengusaha Kereta Api Deli (DSM) telah membangun jaringan kereta api di Sumatera Timur sepanjang 553.223 Km.  Berikut ini adalah keseluruhan jaringan kereta api yang dibangun oleh pengusaha DSM di Sumatra Timur (dikutip dari Statiesken Zeven en Veertigste Jaarverslag der NV. Deli Spoorweg Matschappij, 1929), yaitu:

Lintasan dan Panjang Rel Kereta Api Deli tahun 1883-1940

Lintas rel Panjang (Km) SK Peresmian
Medan-Labuhan 16.743 No.17,  tgl 23 Jan 1883 25 Juli 1886
Medan-Binjai 20.888 No.17,  tgl 23 Jan 1883 01 Mei 1887
Medan-Delitua 11.249 No.17,  tgl 23 Jan 1883 04 Sep 1887
Labuhan-Belawan 6.162 No.17,  tgl  23 Jan 1883 16 Feb 1888
Medan-Serdang 20.122 No. 09, tgl 28 Apr 1988 01 Jul  1889
Serdang-Parbaungan 17.668 No. 09, tgl 28 Apr 1988 07 Feb 1890
Binjai-Selesai 10.576 No. 01, tgl 20 Jun 1889 19 Des 1890
Kp Baru-Arnhemia 14.872 No. 62, tgl 26 Jul 1906 01 Okt 1907
Pakam-Bangun Purba 27.936 No. 25, tgl 13 Jul 1901 10 Apr 1904
Selesai-Kuala 9.943 No. 33, tgl 11 Aug 1901 5 Nov 1902
Bamban-Perbaungan 30.350 No. 02, tgl 12 Feb 1900 11 Apr 1902
Bamban-Rantau Laban 10.680 No. 24, tgl 20 Sep 1901 02 Mar 1903
Stabat-Rantau Laban 22.428 No. 01, tgl 13 Jul 1900 20 Juni 1903
Stabat-Binjai 24.036 No. 01,  tgl 13 Jul 1900 01 Aug 1904
Tanjung Pura-Brandan 19.505 No. 01, tgl 13 Jul 1900 15 Des 1904
Delitua-P. Batu 3.035 No. 28, tgl 10 Jun 1915 01 Des 1915
Brandan-Besitang 14.990 No. 56, tgl 26 Okt 1917 29 Des 1919
Besitang-P. Susu 9.510 No. 56, tgl 26 Okt 1917 01 Des 1921
Tebing-Siantar 48.464 No.02, tgl 25 Aug 1914 05 Mei 1916
Rt. Laban-Tj. Balai 95.602 No. 14, tgl 19 Sep 1912 06 Aug 1915
Tj. Balai-Tlk. Nibung 4.592 No. 14, tgl 19 Sep 1912 01 Feb 1918
Kisaran-Membang Muda 57.111 No. 06, tgl 13 Des 1926 19 Aug 1937
Membang Muda-Milano 44.199 No. 07, tgl 24 Okt 1928 19 Aug 1937
Milano-Rt. Prapat 12.562 No. 07, tgl 24 Okt 1928 19 Aug 1937
Total Panjang Rel 553.223

Karyawan yang dipekerjakan pada perusahaan DSM adalah orang Eropa, Asia dan Inlanders. Pada tahun 1915, tercatat bahwa jumlah karyawan Eropa adalah sebanyak 198 orang sedang dari Inlanders berjumlah 2.285 orang.  Umumnya, orang Inlanders ditempatkan pada posisi pekerjaan yang kurang membutuhkan keterampilan. Selanjutnya, pada tahun 1920, jumlah karyawan orang Eropa menjadi 250 orang sedangkan inlanders sebanyak 3.704 orang. Jumlah tersebut belum dihitung pemegang saham yang berkedudukan di Amsterdam. Hingga pada tahun 1939, perusahaan DSM telah memiliki struktur organisasi yang jelas yang berkedudukan di Medan dan Amsterdam. Struktur organisasi dimaksud terdiri dari i) dewan komisaris, 2) direktur, 3) sekretaris, 4) komisi wilayah Medan dan 5) administratur Medan.  Tercatat pula, salah seorang Dewan Komisi Wilayah Medan pernah dipegang oleh orang Indonesia yakni Djaidin Purba yang juga pernah menjabat sebagai Walikota Medan.

Apabila memperhatikan pembangunan jaringan Kereta Api di Sumatra itu, sebenarnya Medan telah direncanakan menjadi kota berstandar internasional dan Sumatra Utara dibentuk sebagai kawasan (pusat) perkebunan di Indonesia. Hal ini tentu saja didukung oleh pelabunan Belawan yang sudah ramai dikunjungi sebelum kedatangan pengusaha kolonial seperti pada waktu kejayaan Kota Cina, dimana Belawan telah dikenal sebagai Bandar niaga yang super sibuk pada abad 12-13M. Disamping itu, jalur sungai (riverine) yang terdapat di Medan-Sumatra Utara telah menjadi pintu masuk (entrance) menuju Belawan. Tampaknya, pengusaha dan penguasa kolonial di Medan telah mengetahui benar terhadap situasi dan kondisi ini sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mengembangkannya.

Namun demikian, upaya untuk menuntaskan jalur Kereta Api Trans Sumatra itu tidak tercapai seiring dengan meningkatnya ketegangan Indonesia dan Belanda pasca tahun 1940. Ironisnya, tidak saja pembangunan jaringan Kereta Api yang terbengkalai, tetapi juga nasib perkebunan mengalami goncangan khususnya setelah takluknya Belanda kepada Jepang yang ditandai oleh turunya sekitar 60.000 pasukan Jepang di Batavia pada tanggal 1 Maret 1942.  Sayangnya pula, pemerintah kolonial yang baru itu tidak melanjutkan rencana yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial terdahulu. Akibatnya, rencana pembangunan jaringan Kereta Api Trans Sumatra itu hingga kini tidak pernah tercapai.

Pasca Indonesia meredeka dan memasuki awal tahun 1950-an, kabinet pemerintahan Indonesia dibawah kendali Bung Karno melakukan nasionalisasi aset pemerintah kolonial Belanda menjadi milik pemerintah Indonesia.  Oleh sebab itu, jaringan Kereta Api Deli (DSM) dirubah menjadi Perjan Kereta Api sebelum akhirnya menjadi PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) Divisi Regional-I Sumut-NAD.

3). Penutup

Dapat dipahami bahwa, pada awalnya  tujuan utama pembangunan jaringan kereta api di Sumatra Timur adalah untuk mengangkut hasil produksi perkebunan dari daerah-daerah perkebunan di pedalaman ke pelabuhan Belawan untuk selanjutnya di ekspor ke luar negeri. Oleh sebab itu, tidak salah apabila jaringan kereta api yang dibangun tersebut umumnya hanya melintasi daerah-daerah perkebunan di sepanjang pesisir timur Sumatra. Namun demikian, pasca kolonialisme jaringan kereta api tersebut menjadi  prototipe pembangunan jaringan transportasi di Sumatra. Meskipun pada awalnya sarana transportasi tersebut hanya bertujuan untuk kepentingan ekonomi kolonial, tetapi upaya tersebut harus diakui telah menjadikan daerah-daerah terisolir di Sumatra Utara menjadi daerah yang  terbuka. Dengan demikian akses masyarakat dengan dunia luar yang mana masyarakat telah dapat berinteraksi dengan orang lain. Dalam teori-teori pembangunan, model ini diakui sebagai salah satu cara untuk mendorong modernisasi masyarakat dan wilayah.

Demikian pula upaya membuka jalur Kereta Api Trans Sumatra yang menghubungkan Palembang-Bengkulu-Sumatra Barat-Riau-Aceh-Medan sepanjang 1.400 Km yang bermuara ke Belawan sebagai bandar Internasional eksport-import. Rencana tersebut sejalan dengan peta pengembangan perkebunan pengusaha kolonial yang dirintis oleh Nienhuys. Disamping  terbersit upaya eksploitasi kekayaan sumber daya alam di Sumatra, tetapi secara tidak langsung upaya tersebut telah memperkenalkan daerah-daerah di kawasan Sumatra Timur dengan pihak luar atau telah pula membuka keterisoliran kawasan-kawasan yang belum pernah disentuh sama sekali. Dengan begitu, bila pada masa kini jalur Trans Sumatra tersebut kembali di pugar dan diaktifkan, bukan tidak mungkin akselerasi pembangunan di Sumatra semakin terbuka.

Oleh karena itu, prototipe jaringan transportasi yang dirintis oleh pengusaha kolonial itu seyogianya dapat dijadikan sebagai acuan kembali untuk membangun sarana transportasi yang menghubungkan antara Sumatra dan Jawa disamping adanya jaringan transportasi darat dan laut. Akan tetapi, harapan itu tampaknya kurang mendapat tempat yang dapat dilihat dari lambanya perkembangan per-kereta api-an di Sumatra. Lagi pula,  dibeberapa tempat seperti di Aceh, Riau, Sumatra Barat, Bengkulu dan Palembang kereta api sudah tidak digunakan lagi, akibatnya banyak pendukung kereta api seperti rel dan lainnya diambil masyarakat, dijual atau disewakan kepada pihak swasta.

Khusus di Sumatera Utara dan Medan, juga ada baiknya berfikir kembali untuk  mengaktifkan jaringan kereta api yang dikembangkan pada jaman kolonial itu seperti jaringan kereta api yang menghubungkan antara daerah-daerah di Langkat, Binjai, Deli, Serdang, Karo, Simalungun, Siantar, Asahan dan Labuhan Batu dan bila dibutuhkan perlu pula menambah jaringan kereta api menuju kota wisata Parapat. Dengan pengaktifan itu, tidak saja kemacetan yang dapat direduksi, tetapi pihak investor juga melihat tersedianya opsi angkutan barang-barang produksinya. Sehingga hal ini juga turut memacu pertumbuhan ekonomi regional, demikian pula masyarakat luas dapat memilih perjalanannya antara Bus dan  Kereta Api. Pembangunan sarana Transportasi Kereta Api ini adalah salah satu kontribusi perkebunan Tembakau Deli yang termasyur itu!.

Oleh: Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

Iklan

12 Komentar

  1. Wah, cerita sejarahnya tentang perkebunan dan jaringan kereta api di tanah Deli cukup mendetail .. terkesan sekali saya … hanya saja kok baru yang di era jaman belanda ya .. mohon dapat dilengkapi perkembangan sejarahnya sampai jaman jepang dan era setelah kemerdekaan, hingga kini ..

    • Oke Bapak.

      Memang, data-data yang kita peroleh hingga sekarang masih dari era kolonial blanda. Dari jaman jepang masih sangat minim dan agaknya hanya memanfaatkan apa yang sudah ada diera kolonial belanda. Tapi itupun, penyelidikan mesti dilakukan seterusnya.

      Regrds

      Erond/Admin

  2. Bagus dan rinci tulisan anda. Apakah anda tahu juga meneliti jalur kereta api di Sumatera Barat seperti di Sumattera Utara Ini. Atau apakah anda ada keinginan menulis jalur kreta api zaman dulu untuk sumber se rinci ini

    • Yach Memang demikian. Harusnya warisan sejarah itu ditulis dengan baik hingga dapat diingat dan dijadikan pelajaran untuk kedepan. Jika ada kesempatan, pasti akan dilakukan penelitian itu. Setidaknya untuk membangkitkan alternatif lain jalur perjalanan di Suatra yang pernah dirintis oleh Belanda yang disebut dengan ‘ Kereta Api Trans Sumatra”

      Regards

      Erond/Admin

  3. Selamat menulis untuk sumatera barat

  4. Tapi tahukah anda pada tahun 1 maret 1912 telah dipinjamkan oleh Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah (Sultan Deli IX) tanah kepunyaan Sultan kpd N.V.Deli Spoorweg Maatshappij (D.S.M) di medan untuk memperluas tanah emplasemen dari D.S.M. di Pulau Brayan dan telah dikembalikan oleh D.S.M. diwakili oleh T. Hoogerhuys Plv.Administrateur DSM kepada Sultam Osman Alsani Perkasa Alam (Sultan Deli XI) pada thn 1951, akan tetapi sampai sekarang tanah yg sudah dikuasai tsb masih dipakai bahkan diperjualbelikan oleh PT.K.A.I…Masya Allah…Kenapa sejarah selalu tidak pernah mencatat peranan Sultan Deli dalam pembangunan Kota medan ini ???

    • Terimakasih Pak Tengku Haris, Kami sangat senang mendapat komentar dari bapak. Sebagaimana kita ketahui bahwa, banyak hal yang masih gelap tentang sejarah di Sumatra Utara, baik itu menyoal perkebunan yang berdampak pada sejumlah pembangunan Sumatra Utara modern. Oleh karena itu, bahwa Pak HARIS pada suatu saat akan menulis hal tersebut dari dalam. Kami sangat menghargai itu dan mengharapkan penulis-penulis sumut bermunculan. Kami sebagai lembga kajian, mencoba untuk menfasilitasi semua itu dan membawanya ke ranah ilmiah perguruan tinggi.

      salam

      Admin

  5. Terima kasih Bung telah berjewrih patyah mendokumentasikan sejarah keretam api di Sumatra. Saya mencari artikel yang memuat map kereta api sejak awal di bangun di Sumtra sejak dari Aceh hingga ke padang

    salam

    • Terima kasih atas apresiasi anda. Kami senang jika apa yang kami perbuat memberi manfaat bagi pemirsa dan pengguna ilmu pengetahuan itu.

      Regards

      Administrator

    • Terimakasih juga untuk anda.
      Inilah pentingnya blog ini yakni unuk bebagi pengetahuan.

      Terimakasih bila anda sudah menimmati layanan kami

      Salam
      admin

  6. terimakasih pak erond, artikel anda sangat detil dan luarbiasa yang dapat menambah pengetahuan saya tentang sejarah lahirnya perkeretaapian di sumatera utara. saya sendiri merupakan seorang penggemar kereta api terutama dari sisi sejarahnya pak. saya dan beberapa teman sesama penggemar KA di medan bahkan sudah membentuk sebuah komunitas kecil bernama DIVRE 1 Railfans. Hingga saat ini kami sudah mencoba menelusuri dan mendokumentasikan beberapa jalur-jalur mati eks DSM yang ada di Sumatera utara seperti jalur Medan – pancurbatu, medan – kampung baru – delitua – batu, dan lubuk pakam – bangun purba. disana kami masih melihat sisa-sisa rel, jembatan dan infrastruktur bangunan stasiun dan gudang-gudang yang saat ini kebanyakan sudah digunakan sebagai rumah tinggal. sekiranya berkenan pak, bila bapak ada waktu apakah kita kapan-kapan bisa bertemu untuk cerita-cerita dan sharing mengenai sejarah KA di sumut pak? syukur-syukur bila diperkenankan untuk melihat buku-buku maupun tulisan yang bapak jadikan sumber dari tulisan bapak ini. hehehe.. oh ya, cerita mengenai perjalanan kami menelusuri jalur mati tersebut bisa bapak lihat di website saya. juga untuk menjawab pertanyaan dari bapak siswanto yang menanyakan tentang peta jalur KA di aceh, sumatera utara, sumatera barat dan sumatera selatan, juga dapat bapak lihat di web saya tersebut. terimakasih.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s