TOKOH SASTRA INDONESIA ASAL SUMATERA UTARA MENUJU PAHLAWAN NASIONAL

Siapakah tokoh sastra Indonesia asal Sumaterea Utara? Mengapa mereka menjadi tokoh sastra Indonesia? Bagaimanakah gambaran ketokohan mereka? Bidang-bidang apa saja yang mereka geluti dalam membangun ketokohan mereka? Bagaimanakah peranan dan pengaruh karya mereka dalam bidang yang mereka hidupi untuk bangsa Indonesia ini? Dapatkah dan maukah  ketokohan mereka diajukan sebagai pahlawan nasional?

Pertanyaan diatas masih dapat diperpanjang lagi. Hanya dalam makalah ini hal itu yang akan dibahas.

Siapa dan mengapa, serta bagaimana mereka?

Beberapa orang anak bangsa kelahiran Sumatera Utara telah menjadi tokoh sastra Indonesia. Mereka adalah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armin Pane, Sanusi, Merari Siregar,  Chairil Anwar, Muhammad Zain Saidi (Mozasa), Iwan Simatupang, dan Sabaruddin Ahmad.

Dalam makalah ini Amir Hamzah tidak dibahas sebab telah menjadi pahlawan nasional dan telah dinobatkan namanya menjadi nama jalan di Medan. Demikian juga Muhammad Zain Saidi karena telah ditabalkan namanya sebagai jalan di kota Medan.(Jl. Sutomo Ujung) namun sekarang tidak ada lagi, entah apa sebabnya.

Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjabana (Takdir) dilahirkan di Natal 11 Febuari 1908. Wafat pada Mingggu 17 Juli 1994 dalam usia 86 tahun, dimakamkan di Kecamatan Cisarua, Bogor. Ayahnya Raden Alisjahbana yang bergelar Sutan Arbi berasal dari Tengah Padang, Bengkulu. Ibunya Puti Samiah orang natal keturunan Minangkabau.

Takdir,tokoh atau pelopor berbagai bidang. Tokoh Pujangga Baru, tokoh Pembina dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia. Tokoh filsafat Indonesia. Dua ketokohannya dibahas dalam makalah ini yaitu ketokohan Pujangga Baru dan ketokohan kebahasan dan kesusasteraan Indonesia.

Takdir tokoh Pujangga sebuah majalah sastra dan budaya Indonesia pada 2933. Takdir salaj seorang pendiri dan pemimpin majalah itu bersama Armin Pane dan Amir Hamzah. Takdir menjadi redaktur sejak 1933-1935. Takdir juga menjadi wartawan Free Lence membantu Koran-koran Pewarta Deli di Medan, Suara Umum di Surabaya.

Takdir tokoh pembina dan pengembangan bahasa Indonesia. Takdir pertama kali menggunakan istilah pembinaan dan pengembangan dengan Language Engineringg. Takdir mengungkapkan bagaimana memanfaatkan penemuan-penemuan dalam bidang linguistic (ilmu bahasa) untuk mempengaruhi pembentukan bahasa Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lahir dari kehidupan modern.Tata bahasa Indonesia yang disusunnya bukanlah semata-mata tatabahasa deskriptif, melainkan tatabahsa normatif yang sanggup memberikan norma-norma suatu yang modren (Kliden, 1988 : XVII-XIX)

Takdir juga mengungkapkan bahwa dinamakan modren kalau dalam dirinya tercermin apa yang dinamakan prinsip aktivitas. Prinsip ini menyebabakan seseorang atau sekelompok orang sanggup mengubah keadaan diri dan lingkungannya. Dengan adanya prinsip ini seseorang praktis  menerima dan meletakan ditangan siapa-saipa melainkan di tangannya sendiri. Dalam bahasa Indonesia hal ini terlihat dalam kemungkinan  pemakaian kalimat aktif berkat prefiks ber- dan me- (berkeris = mempunyai keris, mengeris (memakai keris). Bertambah banyaknya pemakaian kalimat aktif dalam bahasa Indonesia memajukann adanya kecenderungan proses individualisasi. Takdir dalam sastra dinyatakan oleh H.B Jassin sebagai pemberi arah perkembangan kesusastraan Indonesia. Takdir adalah pemikir sastra selain sastrawan.

Takdir berpandangan bahwa bersastra adalah mengungkap ide, pikiran, gagasan, harapan dan tanggungjawab. Sastra adalah sarana pendidikan bangsa. Atau sastra dilibatkan sebagai bagian seluruh perjuangan kebudayaan. Berikut ini sejumlah karya Takdir, antara lain:

  1. Tak Putus Dirundung Malag (novel), diterbitkan di Jakarta oleh Balai Pustaka tahun 1929, dan edisi ke-10 dicetak oleh Dian Rakyat tahun 1989.
  2. Dian yang Tak Koendjoeng Padam (novel), diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1932, dan edisi ke-10 dicetak oleh Dian Rakyat tahun 1989.
  3. Lajar Terkembang (novel), diterbitkan oleh Balai Pustaka, 19372, dan edisi ke-20 dicetak oleh Dian Rakyat tahun 1990.
  4. Anak Perawan di Sarang Penjamoen (novel), diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1940, dan edisi ke-10 dicetak oleh Dian Rakyat tahun 1989.
  5. Tebaran Mega (kumpulan puisi), diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1935, dan dicetak ulang tahun 1963.
  6. Poeisi Lama (kumpulan dan komentar tentang puisi Indonesia Klasik), diterbitkan oleh Dian Rakyat tahun 1946 dan edisi ke-6 dicetak oleh Dian Rakyat tahun 1975.
  7. Poeisi Baru (kumpulan dan komentar tentang puisi Indonesia Modren), diterbitkan oleh Dian Rakyat, Jakarta tahun 1946 dan edisi ke-7 dicetak oleh Dian Rakyat tahun 1975.
  8. Grotta Azzura, Kisah Tjinta dan Tjita(novel), diterbitkan oleh Dian Rakyat tahun 1970  dan edisi ke-3 dicetak oleh Dian Rakyat tahun 1990.
  9. Kalah dan Menang (novel) tahun 1978.
  10. Lagu Pemacu Ombak (kumpulan puisi) tahun 1978.

Takdir juga mendapatkan anugerah dari Kaisar Jepang The Order of Sacred Treasure, Gold and Scheer untuk karyanya Kalah dan Menang.

Merari Siregar

Merari Siregar terkenal sebagai sastrawan yang mula-mula menulis secara baru dengan novelnya yang berjudul Azab dan Sengsara. Merari Siregar lahir di Sipirok, Tapanuli, Sumatera Utara, tanggal 13 Juli 1986 dan meninggal di Madura 23 April 1940.

Merari Siregar bersekolah di Kweek-School ‘sekolah guru’. Dia juga bersekolah di sekolah Gunung Sahari, Jakarta. Tahun 1923 dia mendapat ijazah dari Handelscorrespondent Bond A di Jakarta.

Mula-mula dia bekerja sebagai guru bantu di Medan. Di Jakarta dia bekerja di Rumah Sakit CBZ( Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Dia kemudian pindah ke Kalianget, Madura. Dia bekerja di Kantor Opium end Zouregie, sampai meninggal dunia.

Merari Siregar mempunyai anak tiga orang, yaitu Florentinus Hasajangu M.S lahir 19 Desember 1928, Suzabna Tiurna Siregar 13 Desember 1930, dan Thedorus Mulia Siregar lahir 25 Juli 1932.

Merari Siregar sejak kecil berada dalam dunia keketatann adapt dan kawin paksa. Setelah dewasa, dia melihat pola hidup masyarakat Sipirok yang tidak sesuai lagi dengan tuntunan zaman. Hati kecilnya ingin mengubah sikap dan pandangan yang kurang baik itu.

Novel Azab dan Sengsara berbicara tentang kesengsaraan seorang gadis akibat kawin paksa. Merari sendiri mengatakan seperti itu. Saya mengarang cerita ini, dengna maksud menunjukan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah-tangah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. Harap saya diperhatikan oleh pembaca.

Hal-hal dan kejadian yang tersebut dalam buku ini, meskipun seakan-akan tiada mungkin dalam pikiran pembaca adalah benar celaka, cuma waktunya kuatur-artinya dibuat berturut-turut-supaya cerita itu lebih nyata dan terang.

Selain sebagai pengarang novel, Merari Siregar juga seorang penyadur yang baik. Cerita saudaranya sangat hidup sehingga pembaca tidak merasakan  cerita itu sebagai saduran dari luar negeri. Pembaca seolah-olah membaca cerita Indonesia asli, seperti dalam cerita si Jamin dan Si Johan.

A.Teeuw melihat Merari Siregar seperti pengarang Indonesia yang  lain juga, sebagai orang muda yang terdidik di sekolah Barat dan disekolah itulah, baik dalam buku maupun dalam kehidupan  sehari-hari, mereka berhadapan dengan masyarakat modern dengan para individu yang mempunyai lebih banyak kebebasan dari pada dalam masyarakat tradisional, terutama dalam hal pemilihan jodoh. Mereka hanya dapat bertindak secara kritis terhadap paksaaan setelah merasakan bertapa perihnya gigitan akibat buruknya, baik dalam kehidupan mereka sendiri maupun melalui kehidupan orang yang disaksikan di sekeliling mereka.

Umar Junus menyamakan Merari dengan Marah Rusli. Dalam pandangan Umar Junus, Marah Rusli dan Merari Siregar yang dianggap pemula tradisi penulisan novel dalam sastra Indonesia, sebenarnya tidak mempunyai niatan untuk suatau pembaharuan. Mereka hanya mencoba pengungkapan pikiran mereka yang telah menyerap pendidikan Barat dan membaca sastra Barat. Pengaruh pendidikan dan sastra Barat ini mewarnai  sikap dan pandangan mereka terhadap adapt dan kebiasaan kawin paksa. Mereka tidak menyadari adanya struktur novel.

Karya Merari Siregar hanya berbentuk novel baik karya asli maupun saduran, sebagaimana tercatat berikut ini.

  1. Si Jamin dan Si Johan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1918, saduran dari Jan Smess karya Justus  van Maurik (Merari Siregar pernah mendapatkan hadiah dalam sayembara mengarang atas cerita Si Jamin dan Si Johan).
  2. Azab dan Sengsara diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1920 di Jakarta.
  3. Tjerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1924.
  4. Binasa karena Gadis Priangan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1931.
  5. Tjinta dan Hawa Nafsu diterbitkan oleh Balai Pustaka (tanpa tahun).

Armijn Pane

Sastrawan Indonesia angkatan pujangga Baru. Ia juga aktif dalam bidang pers dengan mendirikan majalah. Salah satu majalah yang didirikannya adalah majalah Pujangga Baru. Dalam bidang kesusateraan ia menulis esai sastra, puisi, cerpen, drama, novel/roman. Ia juga pernah menjadi redaktur Balai Pustaka di tahun 1926. Ia lahir di Maura Sipongi, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908, meninggal di Jakarta pada tanggal 16 Febuari 1970. Armijn Pane adalah adik dari Sanusi Pane. Pendidikan yang pernah ditempuhnya adalah HIS dan ELS (Tanjung Balai, Sibolga dan Bukit Tinggi), STOVIA Jakarta(1923), NIAS Surabaya (1927) dan AMS-A Solo (tamat 1931). Ia juga pernah menjadi wartawan di Surabaya, guru Taman Siswa di Kendiri, Malang dan Jakarta, seketaris dan redektur Pujangga Baru (1933-1938), redaktur Balai Pustaka (1936), Ketua Bagian Kusasteraan Pusat Kebudayaan (1942-1945), seketaris BKMN (1950-1955), dan redaktur majalah Indonesia (1948-1955).

Novelnya, Belenggu (1940) banyak mengandung perdebatan di kalangan pengamat dan penelaah sastra Indonesia. Karyanya yang lain : Jiwa Berjiw (kumpulan sajak, 1939), Kort overzicht va de Moderne Indonesische Literatuur (1949), Mencari Sendi di Baru Tata Bahasa Indonesia (1950), Jalan Sejarah Dunia (1952), Kisah Antara Manusia (kumpulan cerpen, 1953), Sanjak-sanjak Muda Mr. Muhammad Yamin (1954), dan Gamelan Jiwa (kumpulan cerpen,1960). Terjemahannya : Tiongkok Zaman Bar, Sejarahnya : Abad ke-19-Sekarang (1953), Membangun Hari Kedua (novel, Illya Ehrenburg,1956), dan Habis Gelap Tebitlah Terang (karya R.A. Kartini, 1968), Sadurannya : Ratna (drama, Hendrik Ibsen, Nora;1943).

Karena aktivitasnya dalam bidang sastra dan seni tahun 1969, Armijn Pane menerima hadiah tahunan dari Pemerintah Indonesia.

Sanusi Pane

Sastrawan Indonesia yang berkarya melalui puisi dan drama. Sanusi Pane juga penulis buku-buku sejarah Indonesia. Sebagai penulis ia melahirkan esai dalam bahasa Indonesia dan Belanda. Ia dilahirkan di Muara Sipongi (Sumatera Utara), tanggal 14 November 1905 dan meninggal di Jakarta 2 Januari 1968. Sanusi Pene adalah kakak dari Armijn Pane. Berpendidikan di HIS (Padangsidempuan dan Tanjung Balai), ELS  Sibolga, MULO (Padang dan Jakarta, tamat 1925), Sekolah Hakim Tinggi Jakarta (hanya satu tahun), dan terakhir memperdalam pengetahuan mengenai kebudayaan Hindu di India (1929-1930). Ia pernah menjadi guru di Kweekschool “ Gunung Sahari” Jakarta. HIK Lembang, HIKGubernemen Bandung dan Sekolah Menegah Perguruan Rakyat , Jakarta. Sebagai guru, ia pernah dipecat karena aktif dalam Partai Nasional Indonesia.  Ia juga pernah aktif dalam  Jong Sumatera  dan Gerindo. Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur majalah Timbul (1931-1933), harian Tionghoa-Melayu Kebangunan (1936), dan Balai Pustaka (1941). Karya-karya cenderung berorientasi kepada budaya Timur, yaitu Indonesia dan India. Perhatiannya kepad budaya Timut itu dituangkannya dalam sajak dan drama yang ditulisnya. Kumpulan sajak yang telah diterbitkannya adalah Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Madah Kelana (1931). Karya sastra drama antara lain Airlangga (bahasa Belanda,1928) Eenzame Garoedavlucht (bahasa Belanda,1929), Kertajaya (drama,1932), Sandyakalaning  Majapahit (drama,1933), Manusia Baru (drama,1940). Sebagai penulis sejarah ia menulis Sejarah Indonesia (1942), Indonesia Sepanjang Masa (1952), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946). Karya terjemahannya dalam bahasa Kawi : Arjuna Wiwaha (karya Empu Kanwa,1940). Studi mengenai karya Sanusi Pane dilakukan oleh J.U Nasution dengan judul Pujangga Sanusi Pane (1963).

Iwan Simatupang

Novelis dan sastrawanyang terkenal.  Nama lengkapnya Iwan Maratua Donga Simatupang. Iwan dianggap sebagai tokoh “Angkatan 70” di bidang prosa. Karya-karya prosa dan drama Iwan Simatupang dianggap membawa corak filsafat Barat, khususnya eksistensialisme. Sampai sekarang, karya-karyanya itu masih menjadi bahan kajian yang menarik untuk dikaji oleh peminat sastra.

Beberapa kritikus menyebut karya-karya Iwan Simatupang sebagai karya-karya Iwan Simatupang sebagai karya avant garde. Namun, Iwan Simatupang menyebut dirinya manusia marginal, manusia perbatasan. Tokoh-tokoh cerita Iwan memang cenderung cenderung menampilkan manusia yang terpisah, kesepian, terasing, dan murung. Tokoh-tokoh dalam karya-karya Iwan Simatupang menurutnya adalah manusia perbatasan atau manusia eksistensialis.

Iwan Simatupang lahir lahir di Sibolga, Sumatera Utara, tanggal 18 Januari 1928, meninggal di Jakarta pada tanggal 4 Agustus 1970. Berpendidikan HBS Medan, Fakultas Kedokteran di Surabaya (1953; tidak tamat). Iwan kemudian memperdalam antropologi di Fakulteit der Letteren, Rijkounversteit, Leiden atas beasiswa dari Sticusa (Stichting vor Culture Samenwerking). Selain itu ia belajar di Full Course Internasional Institue for Social di Den Haag dan Encole de 1’Europe tahun 1957. Ia juga mempelajari drama di Amsterdam, dan filsafat di Universitas Sorbone, Paris antara tahun 1954-1958.

Iwan Simatupang pernah menjadi tentara, guru, dan wartawan. Ia menjadi Komandan Pasukan TRIP di Sumatera Utara (1949), guru SMA Jalan Wijayakusumah di Surabaya (1954-) dan terakhir menjadi redaktur Wartawan Harian (1966-1970).

Iwan Simatupang novel,drama, dan esai. Beberapa karya novelnya antara lain Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975). Karya dramanya antara lain Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar (1957), RT00/RW00 (1957), Petang di Taman (drama, 1966) dan Kaktus dam Kemerdekaan (1969). Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media masa.Dami N. Toda menerbitkan lima belas cerpen-cerpennya itu yang berjudul Tegak Lurus dengan Langit (1982). Iwan juga menulis puisi yang dimuat antara lain di Siasat, Konfrontansi, Zanith, Kompas, dan Sinar Harapan.

Esainya, “Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air”, memperoleh Hadiah Kedua majalah Sastra tahun 1963. Novelnya, Koong (1975), mendapatkan hadiah dari Yayasan Buku Utama Departemen P&K tahun 1975. Merahnya Merah meraih hadiah Nasional (1970) dan Ziarah mendapat hadiah harapan sayembara UNESCO yang diselenggarakan IKAPI. Pada tahun 1977, Ziarah meraih Hadiah Sastra ASEAN sebagai novel terbaik Indonesia dalam periode 10 tahun masa itu.

Karyanya Ziarah diterjemahkan ke dalam bahasa  Inggris oleh Harry Aveling dengan judul ThePilgrim, 1975), Kering (novel, 1972; diInggriskan oleh Harry Aveling dengan judul Drought, 1978), Surat-Surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966 (1986; diedit oleh Frans M.Parera). Ziarah Malam (kumpulan sajak, 1994). Selain itu, tiga buah esainya dimuat dalam Saryagraha Hoerip (ed), Sejumlah Masalah Sastra (1982).

Studi mengenai karya Iwan Simatupang dilakukan oleh Dami N. Toda, Novel Baru Iwan Simatupang (1980), Korrie Layun Rampan (ed), Iwan Simatupang Pembaharu Sastra Indonesia (kumpulan esai,1985), dan Kurnia JR, Inspirasi Nonsen!. Novel-novel Iwan Simatupang (kumpulan esari, 1988).

Charil Anwar

Penyair ini dilahirkan di Medan, 26 Juli 1992, meninggal 28 April 1949 di Jakarta. Berpendidikan HIS dan MULO (tidak tamat). Charil Anwar bersama Asrul Sani, Rivai Aipin dan seniman lain ikut mendirikan Gelanggang Seniman Merdeka (1946), kemudian ia menjadi redaktur Gelanggang (ruang budaya Siasat, 1948-1949) dan redaktur Gema Suasana (1949).

Kumpulan sajaknya : Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak, bersama Arul Sani dan Rivai Apin, 1950), Aku ini Binatang Jalang (1986), dan Derai-Derai Cemara (1999). Sajak-sajaknya yang lain serta sejumlah tulisannya yang lain serta sejumlah tulisannya yang lain dihimpun oleh H.B.Jassin dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). Selain menulis sajak, Charil Anwar juga banyak menerjemakan karya-karya asing. Di antara terjemahannya : Pulanglah Dia Si Anak Hilang (karya Andre Gide,1948), dan Kena Gempur (novel Khon Steinbeck, 1951).

Karya Charil Anwar diterjemahkan, ke dalam bahasa  Inggris oleh Burton Raffel, yaitu Chairul Anwar : Selected Poems (New York,1963), dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (New York, 1970), serta Liaw Yock Fang (dengan bantuan H.B Jassin), The Complete Poems of Chairil Anwar (Singapura,1974). Karya Charil Anwar yang diterjemahkan ke dalam bahwa Jerman dilakukan oleh Walter Karwath, Feuer und Asche (Wina, 1978).

Studi mengenai Charil Anwar S.U.S Nababan, A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Charil Anwar (Ithaca, NY,1966), Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar: thePoet and His Language (Den Haag,1972), S.Takdir Alisjahbana, Penilaian Chairil AnwarKembali (Budaya Jaya, Maret 1976), Subagio Sastrowardoyo, Sosok Pribadi dalam Sajak (1980).

Nama penyair Chairil Anwar adalah nama yang identik dengan kesusastraan Indonesia. Setiap orang Indonesia yang mengecap pendidikan formal di negeri ini pasti mengenal namanya. Papara ini menunjukan bahwa Chairil Anwar sangat dikenal oleh sastrawan, khususnya sebagai penyair. Walaupun Chairil Anwar meninggal dunia pada usia relatif muda, 27 tahun, tetapi melalui karya-karyanya ia membuktikan kata-kata dalam sajaknya, Sekali berarti setelah itu mati dan Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Chairil menjadi sangat terkenal karena dua hal. Pertama, ia menulis sajak-sajak bermutu tinggi dengan jenis sastra yang menyandang suatu idiologi atau pemikiran besar tertentu seperti perang, revolusi, dan sebagainya. Ahli sastra menyebut sastra jenis ini dengan istilah Sastra Mimbar, yaitu jenis sastra yang secara tematis samgat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Hal ini dapat berupa tanggapan dari persoalan-persoalan besar di zaman itu. Beberapa karya Charil Anwar termasuk sastra mimbar adalah Aku, Catatan Tahun 1946, Perjanjian dengan Bung Karno, dan Kerawang Bekasi.

Chairil hadir pada situasi peralihan yang penuh gejola. Sebuah masa transisi dari situasi terjajah menuju kemerdekaan. Penolakan terhadap kolonialisme, dan pemikiran dunia yang juga muncul pada masa Perang Dunia II  ikut membentuk Chairil. Surat Kepercayaan Gelanggang merupakan wujud sikap penolakan  Chairil dan teman-temannya terhadap pengertian kebudayaan nasional sebgai kegiaran melap-lap kebudayan lama yang lapuk (lihat Surat Kepercayaan Gelangggang). Menurut salah seorang pencetusnya, Asrul Sani, kebudayaan nasional bukanlah puncak-puncak dari kebudayaan daerah. Kebudayaan nasional menurut mereka adalah cara suatu bangsa mengatasi masalah yang lahir dari situasi zaman dan tepat. Kedua, ia juga menulis sajak-sajak yang menjadi lebih kepada persoalan-persoalan keseharian. Ahli sastra menyebutkannya sebgai Kamar. Karya Chairil yang digolongkan kepada sastra kamar antara lain Senja di Pelabuhan Kecil, Derai-derai Cemara, dan Penghidupan. Pengolahan bahasa sajak-sajak Chairil sangat khas dan spesifik. Misalnya ketika ia mengungkapkan tentang kecantikan yang luar biasa.

Bersandar pada tali warna pelangi

Kau depanku betundung sutra senja

Di hitam matamu berkembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

(Sajak Putih)

Chairil telah membuka kemungkinan yang sangat tak terduga. Ia membawa suasana, gaya, ritme, tempo, nafas, kepekatan, dan kelincahan yang mengungkapkan kepada sastra Indonesia. Sampai saat ini masih terasa pengaruh sajak Chairil Anwar ikut memberi warna perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Chairil mampu melepaskan bahasa dari kungukungan kaidah bahasa dan baku bahasa., yang mungkin secara tata bahasa menyalahi aturan , tetapi sebagai sarana ekspresi sangat fungsional dan indah. Begitu kuatnya pengaruh Chairil di dalam mengolah pengucapan bahasa sajak, menyebabkan penyair-penyair sesudahnya meneladani cara pengelolahan bahasa sajaknya.

Chairil tidak setengah-setengah dalam mengeluti dan menjalani prinsip hidupnya. Ia dapat mengungkap sesuatu persoalan dengan luas karena pengalaman dan perjalanan hidupnya yang luas pula. Ia juga seoran yang sangat gemar membaca. Apalagi kegemarannya berbahasa asing. Charil menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman dengan baik. Melalui penguasaan bahasa itulah ia memperoleh informasi dari pihak pertama.

Dunia kesusastraan sebagai pilijan hidup dijalanninya dengan sangat bersungguh-sungguh. Ia pun bekerja habis-habisan untuk mengolah pilihan hidupnya itu dan ia berhasil., meskipunm ia tidak sempat menyaksikan bahwa ia benar-benar berhasil menggeluti pilihan hidupnya itu karena ajal lebih dulu menjemputnya.

Banyak orang mengira bahwa Chairil adalah petualang kumuh. Tetapi, salah seorang sahabat karibnya. Asrul Sani, membantahnya. Chairil selalu berpakaian rapi meskipun ia seorang bohemian. Kerah kemejanya selalu kaku karena dikanji, bajunya senantiasa disetrika licin,. Ia bahkan boleh dikatakan dandy. Chairil memang telah menjadi legenda sastra Indonesia. Ia telah menjadi legenda sastra Indonesia. Ia memang besar karena kesungguhannya bekerja dan memperjuangkan pilihan hidupnya. Semangat Chairil inilah yang dapat menjadi teladan bagi generasi muda.

Untuk mengenang Chairil Anwar, Dewan Kesenian Jakarta memberikan anugerah sastra kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugrah Sastra Chairil Anwar. Hadiah itu telah diberikan kepada Mochtar Lubis (1992) dan Sutardji Calzoum Bachri (1998). Chairil Anwar dianggap sebagai penyair pendobrak zaman dan pelopor Angkatan 45 dalam kesun Indonesia.

Sabaruddin Ahmad

Sabaruddin lahir di Kampung Perak Sumatera Barat, 7 Maret 1921. Ayahnya Ahmad Karib bin Ma’rifatullah. Ibunya Siti Kiram binti Muhammad Jamin.

Sabar adalah tokoh pendidik, tokoh pembina, dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia di Sumatera Utara dan Nasional. Buku sabar dalam bidanga bahasa dan sastra Indonesia telah diajukan buku paduan dan buku pelajaran di sekolah-sekolah dan di masyarakat Sumatera  Utara, Nasional, dan Negara Tetangga Malaysia. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Departemen pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, 1988 tiga bukunya menjadi refrensi atau kepustajaan. Ketiga buku itu Seluk Beluk Bahasa Indonesia (1952) ; Sari Parama Sastra Bahasa Indonesia (1959) ; Sendi Paramusastra Bahasa Indonesia (1974). Anton M. Moeliono mengemukakan “bahwa dalam penyusuan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka, buku karangan Sabaruddin Ahmad dipakai sebagai buku rajukan (Umri, 2005:2)

Pandangan Sabar tentang bahasa sebagai berikut ini : Sesungguhnya bahasa itu bukanlah sekadar suatu alat komunikasi antarmanusia melainkan dia juga alat menggali dan menampung kekayaan batin manusia. Bahasa adalah jendela batin manusia yang terbuka lebar sehingga para budiman dan cerdik pandai dapat meninjau jauh ke dalamnya.

Baik bahasa dalam ilmu pengetahuan maupun bahasa dunia sastra bukanlah sekadar alat untuk menyampaikan informasi. Dalam hubungan ini bahasa harus benar-benar berasio dan bersistem. Dalam dunia sastra harus mengandung nilai-nilai estetika, hasil sastra yang bukan digubah dengan bahasa yang berasio dan bersistem dan memiliki nilai-nilai estetika tidak akan berhasil menyentuh tali kecapi batin manusia yang ingin menghayatinya hasil sastra yang demikian akan terasa sangat gersang. Jadi pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan bahasa dalam kesusastraan tak perlu terikat dalam aturan-aturan tata bahasa agaknya adalah pernyataan yang tak dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Justru dalam penciptaan kesusastraaan yang memamtulkan kekayaan batin seseorang sastrawan itulah kita harus mengindahkan dan mematuhi aturan-aturan tata baha agar manupestasi gerak jiwa yang pelik-pelik serta bernilai itu mampu meresapi jiwa para peminatnya.

Sastra Indonesia yang bermutu yang tahan akan hempasan zaman tak akan dipisahkan dari bahasa  Indonesia yang baik dan betul. Kehidupan sastra berhubungan erat dengan kehidupan bahasa dan budaya. Hal ini berarti bahwa setiap sastrawan Indonesai mempunyai tanggungjawab yang tidak kecil terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa nasional Indonesia.

Karya-karya Sabaruddin Ahmad antara lain:

  1. Seluk Beluk Bahasa Indonesia, 1948. Penerbit Saiful. Medan.
  2. Pengantar Sastra Indonesia, 1974. Penerbit Saiful. Medan.
  3. Sari Parama Sastra Indonesia, 1952. Penerbt Saiful. Medan.
  4. Kiliran Budi, 1954. Penerbit Saiful. Medan.
  5. Latihan Kemahiran Bahasa Indonesia.1974. Penerbit Saiful. Medan.
  6. Pembina Bahasa Indonesia untuk SLTP. 1978. Sinar Agung. Medan.
  7. Metode Baru Tata Bahasa Indonesia. 1965. Ampera. Medan.

Menuju Pahlawan Nasional

Tokoh sastra Indonesia asal Sumatera Utara adalah tokoh kebudayaan dan kemanusiaan. Mereka layak dinyatakan hamba-hamba kebudayaan. Istilah H. B. Jassin, mereka adalah pahlawan kebudayaan (Purba, 2003: 10).

Hamba-hamba kebudayaan atau pahlawan kebudayaan bertugas menegakkan keadilan, kebenaran, dan kejujuran. Ketiga aspek ini merupakan aspek yang selalu diwujudkan di dalam karya cipta mereka. Mereka melawan kebatilan, memperbaiki kebodohan dan kebobrokan yang ada di permukaan bumi, khususnya di Indonesia.

Tokoh sastra Indonesia asal Sumatera Utara pantas dan seharusnya menjadi pahlawan “Kebudayaan dan Kemanusiaan” nasional. Sebagai tanda penghargaan generasi bangsa mereka dapat dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Kepahlawanan mereka tampak dalam pemikiran dan karya cipta mereka yang menjadi contoh nyata kehidupan dan perjuangan hidup.

Upaya menobatkan mereka menjadi pahlawan nasional adalah aspirasi ikhlas dari masyarakat Indonesia. Tokoh sastra , Amir Hamzah, telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Chairil Anwar, telah dinobatkan namanya menjadi nama jalan di Kabupaten Asahan, tepatnya di Kisaran. Madung Lubis, namanya juga telah dinobatkan sebagai nama jalan di kota Medan.

Namun dalam penamaan gedung-gedung bersejarah belum ada nama tokoh sastra Indonesia dinobatkan di Sumatera Utara. Gedung-gedung pertemuan di kampus Fakultas Sastra, Fakultas Bahasa dan Seni, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Sumatera Utara juga demikian. Usulan dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan pakar sejarah, pakar sastra, pakar budaya, dan pakar bahasa dengan pemerintahan propinsi, kabupaten, dan kota di wilayah Sumatera Utara.

Medan, 6 November 2007

Daftar Pustaka

Ahmad, S. 2005. “Bahasa dalam Kesusastraan” dalam Syafwan Hadi Umri, Kiliran Jasa sang Guru Bahasa Sebuah Biografi Drs. H. Sabaruddin Ahmad. Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Depdikbud, Jakarta.

Hasanuddin. 2004. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Titian Ilmu, Bandung.

Kleiden, I. 1988. Kebudayaan Sebagai Perjuangan, Perkenalan dengan Pemikiran St. Takdir Alisjahbana. Dian Rakyat, Jakarta.

Purba, A. 2007. Otonomi Budaya, Ketika Seni Budaya Dipinggirkan. USU Press, Medan.

Sugono, D. 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern. Depdikbud, Jakarta.

Syukri, A. 2007. Dialog Islam dan Barat, Aktualisasi Pemikiran Etika Sutan Takdir Alisjahbana. Gaung Persada Press, Jakarta.

Oleh:
Drs. Antilan Purba, M.Pd.
Pengajar di Fakultas Sastra dan Seni Unimed.
Diseminarkan pada tanggal 10 November 2008


Diupload oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan


Iklan

1 Komentar

  1. Salam. Untuk menentukan Bahasa Nasional , secara pikiran wajar dan waras, pilih saja Bahasa Melayu Pasar. atau Jawa Bagongan. Yang POKOK ialah bahwa bahasa NASIONAL itu sarana berkomunikasi dari bangsa NUSANTARA atau Indonesia. Sedang bahasa Indonesia sendiri tak pernah ada, karena yang sudah ada ialah bahasa-bahasa DAERAH, bahasa melayu Minang, Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Batak, Balu, Bugis… dan bahasa MELAYU sudah digunakan dalam komunikasi di pasar. Sepertihalnya bahasa Inggris didunia perdagangan internasional. Oleh karena itu tidak ada bahasa AMERIKA atau bahasa Australia, melainkan bahasa Inggris saja. Pengakuan berbahasa SATU bahasa INDONESIA, terdengar terlalu SOMBONG. Lebih wajar bilang saja bahasa MELAYU PASAR. begitu. Hanya masalah ISTILAH.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s