KONTROVERSI GERAKAN 30 SEPTEMBER

Seminar mengenai peristiwa 1965 ini menampilkan beberapa penelis yang sebetulnya bisa dikategorikan sebagai pengammat sejarah dan pelaku sejarah.Dr Sulastomo meskipun telah menulis buku Di Balik Tragedy 1965 sebetulnya adalah pelaku yang terlibat dalam peristiwa 1965.Ia memimpin organisasi mahasiswa Islam HMI, sedangkan Harry Tjan Silalahi adalah sekjen KAP(komite Aksi Pengganyangan) Gestapu.

Antonie Dake yang tidak bisa hadir hari ini kerena sesuatu dan lain hal, telah menulis desertasi pada tahun 1970-an. Buku Sukarno File yang d iterbitkan tahun lalu tak lain dari pengulangan tesis dan buku yang telah dikemukakan dalam desertasinya 30 tahun sebelumnya (In the sipirit of the Red Banteng dan buku The Devious Dalang . lambert Giebels yang pada tahun 1970-1980 menjadi kondultan Direktorat Jenderal Cipta karya, Departemen pekerjaan Umum, telah memiliki opini sendiri mengenai Bung karno.Giebels beranggapan bahwa orang Indonesia termasuk Sukarno masih menjadi warganegara Belanda (Nederlandsch Onderdaan) sampai tahun 1950,1. sementara itu, Prof Taufik Abdullah mengemukakan bahwa ia tidak berada di Tanah Air ketika itu, karena tahun 1964-1970 sedang menempuh program doctor di AS.Jadi masing-masing pembicara telah memiliki posisi dan presepsi yang telah berurat berakar mengenai permasalahan ini.Apakah masih bisa diharapkan adanya titik temu dalam seminar ini?

Dua-tiga tahun yang lalu,beberapa hari memjelang 30 September, saya danpak Harry Tjan Silalahi diUndang redaksi PikiranRakyat Bandung kekantor mereka karena surat kabar itu akan menerbitkan laporan khusus mengenai peristiwa 1965. sejak jam 7 pagi di lapangan udara Halim Perdankusuma, diatas pesawat kecil Deraya sampai ke Kantor redaksi PR dan sampai Pulang ke Halim, satu hari penuh, saya  berdebat dengan Pak Harry Tajan,Menurut dia, PKI sebagai partai dibalik Gerakan 30 September, kata Saya, “Pimpinan PKI yang Keblinger”, mengutip pidato Nawaksara.

Lambert Giebels adalah Doktor sejarah, ia menulis riwayat hidup Dr L.J.M Beel, gubernur jenderal Hindia Belanda yang terakhir. Namun buku biografi Bung Karno yang diterbitkan tahun 1999 olehg grasindo mengun dang banyak kritik antara lain dari Ananda B.Kusuma. tahun 1942, pada lima halaman buku itu menceritakan tentang piagam Jakarta terdapat 10 kesalahan.Agus Salim yang mewakili golongan Islam disebut sebagai wakil nasionalis sedangkan Wahid Hasyim, tokoh NU itu dikatakan berasal dari Muhammadiyah.

Yang aneh juga adalah narasi tentang perjuangan rakyat Surabaya 10 November 1945.Sukarno diminta Belanda untuk menghentikan pertempuran.Rombongan dari Jakarta meminta pertanggung jawaban dokter gigi Mustopo jadi jenderal dan memberhentikannya malam itu juga.Tidak jelas kisah ini diperoleh Giebels dari mana atau karangan siapa.

Lebih para lagi adalah kutipan Giebels dari Bob Koke, konon perwira Intelijen OAS, Cikal bakal CIA.Menurut info ini Sukarno bersedia memulihkan kedudukan Gubenur jenderal Hindia Belanda asal dia diangkat sebagai Perdana Menteri.Percakapan ini terjadi konon setelah November 1945 setelah “Sukarno mungkin sekali kehilangan tempat berpijak”.Itu bisa menjadi sumber sejarah yang baru seandainya bukan khayalan biasa.

Setelah memperoleh kritik yang demikian tajam dari pengamat sejarah, ironisnya penerbit yang sama di Indonesia tidak jera menerbitkan Kembali buku lambert Giebels yang lain.Buku Pembantaiaan yang Ditutup-tutupi ini ditulis tidak secara akurat. Menurut Giebels pada era reformasi dibentuk Mahkamah Hukum Administrasi, pada hal yang dimaksud  adalah Mahkamah Konsitusi.Pada tanggal 1 Oktober 1965 malam, disebutkan bahwa Aidit terbang ke Semarang, sebetulnya ke Yogyakarta. Giebels men gatakan bahwa ia mewawancarai Jahana Nasution. Menurut istri Jenderal A.H.Nasution, ia dituduh Bung Karno mengumpulkandana untuk pembiayaan Kup yang dilakukan para Jenderal.Apakah benar Presiden Sukarno mengeluarkan tudingan semacam ini, biasanya yang dikritik Sukarno adalah nekolim bukan istri seorang Jenderal.Selain itu, apakah Istri Nasution mamang mengeluarkan keterangan seperti itu?

Kalau Dibaca “Iklan” menganai buku yang dimuat kompas-sebelum buku ini terbit— sepanjang satu halaman dan ditulis oleh wartawan senior Julius Pour (“mengkaji Peran Bung  Karno pada 30 September 1965”,kompas,3 Oktober 1965) memang ada ada kesan bahawa Giebels telah melakukan wawancara berimbang dengan  memilih respondennya dari berbagai kalangan seperti Subandrio, Omar Dani, Latief, AH Nasution, Megawati Sukarno putrid, Muctar lubis dan Hugeng.Namun aspek berimbang itu ditentukan sesungguhnya dari subtansi dan presfektif wawancaranya, selam keterangan yang diberikan nar sumber tidak “dipelintir” untuk kepentingan penulisnya.

Ada lagi yang baru dikemukakan oleh Giebels bila itu benar.Yaitu peristiwa pemukulan terhadap Jenderal Nasution yang terjadi tanggal 1 Oktober 1965 di Kostrad,”setiba disana, saya menjadi begitu marah oleh  permainan sesame jenderal  saya, sehingga saya baku hantam dengan mereka, luka-luka habis perkelahiaan itu dan kaki yang terkilir sewaktu melompat tembok, setelah itu dirawat oleh seoarang dokter Kostrad”.Sangat dramatis bila “Perkelahian” antara jenderal difilimkan.

Menurut Giebels, in dikasi keterlibatan Sukarno dalam Gerakan 30 September 1965 terlihat dari pembatalan kunjungan sang presiden ke Meksiko pada bulan September 1965. tentu Giebels paham bahwa batalnya suatu kunjungan kenegaraan itu bisa ditentukan oleh banyak sebab dan oleh kedua belah Pihak.Jadi alasan sebetulnya tidak relevan.Ketidakakuratan lain, dikatakan bahwa Masyumi beraliran Islam Liberal (xxii), Angkatan kelima disebutnya Hansip (Hal 70).Kepala staf Angkatan Darat, wakil Marsakel udara Omar dani (hal 79). Rasanya tidak mungkin di Indonesia, Seorang Marsakel Udara men jadi  kepala staf Angkatan Darat.Pada halaman 81 ditulis penculikan tujuh Jenderal yang diculik hany 6 orang. Secara panjang lebar sebanyak tiga halaman (Hal 74-76) dicertakan tentang kisah Mahabrata yang menjadi bahagian Akhir pidato Bung Karno tanggal 30 september 1865.Selama ini fragmen ini  dijadikan alasan bahwa Soekarno telah tahu akan terjadinya perang saudara atau pertumpahan darah keesokan harinya. Pada hal seperti diungkapkan oleh Eddi Elison, Reporter TVRI yang didaulat oleh Maulwi Saelan menjadi pembaca acara pada malam itu, hal ini disebabkan oleh kesalahan dalam spanduk yang di belakang Podium.Spanduk yang berisi ajaran Kresna dipermasalahkan ejaannya oleh Eddy Elison sehingga Bung Karno menyempatkan diri mengulasnya pada akhir Pidato.

Mengenai Antonie Dake, saya telah menulis panjang lebar dalam pengantar buku Bung Karno Difitnah, April 2006.Tinggal  dua buku lagi ingin saya komentari.Saya pernah diundang oleh mahasiswa UIN Jakarta untuk mendiskusikan buku Dibalik Tragedi 1965 di Ciputat.Sayang Pak Sulastomo terpaksa meninggalkan tempat setelah menyempaikan uraiannya karena ada acara lain, sehingga say tyidak sempat melontarkan kritik sya terhadap buku tersebut. Didalam pengantarnya Sulastomo telah mengatakan bahwa “Keyakinan bahwa G30S itu adalah kudeta PKI, sudah tidak diragukan lagi”. Lebih yakin lagi, H Amidhan selaku penerbit mengkelim bahwa “Di kalangan umat Islam memeang tidak ada kekurangan bahwa “pemrontakan” yang dilakukan oleh yang m,enamakan dirinya Gerakan 30 September itu didukung oleh PKI (Partai Komunis Indonesia).

Pengambaran suasana sebelum meletusnya Gerakan 30 September saya kira perlu dilakukan. Kita ketahui bahwa tahun itu kekuasaan mengerucut pada tiga kekuatan yaitu Presiden Soekarno, Angkatan darat dan PKI. Didalambuku ini hanya diuraikan dua factor yaitu Soekarno dan Pki. Sedangkan mengenai Angkatan Darat dirumuskan secara sepihak. Bagi PKI kedekatan dengan BK karena tidak ingin merebut kekuasaan. Sedangkan kedekatan dengan AD dengan Soekarno karena selain karena Hierarki komando (BK sebagai panglima tinggi Angkatan Bersenjata) juga untuk mencegah PKI kejalan Kekuasaan. Tidak dijelaskan perkemabangan politik AD sejak tahun 1952 yang mengarah kepada kekuasaan (Peristiwa 17 Oktober 1952, jalan tengah tentara,IPKI dalam pemilu 1955, nasionalisasi perusahaan Asing, Dekrit Presiden kembali lagi ke UUD 1945 yang memberi peluang kepada MILITER untuk berkiprah kembali dalam bidang politik melalui jalur golongan Fungsional.

Pada halaman 132 sulastomo menulis “Orde Baru dan TNI/Angkatan Darat dituduh balik sebagai peluku pelanggaran HAM berat”. Saya kira pernyataan semacam ini perlu diklarifikasikan. Memang terjadi peanggarang  HAM semasa Orde Baru. Ini kenyataan yang tidak usha dibantah. Tetapi pelakunya bukanlah TNI/Angkatan Darat sebagai Institusi. Menurut hemat saya, kalim diatas seperti halnya kalim “seluruh umat islam yakin bahwa………..” perlu dipertanyakan. Pendapat orang per orang atau kesalahan orang per oprang tidak otomatis menjadi pendapat atau kesalahan semua anggota kelompok.

Yang terkakhir say komentari adalah laporan Penulisan Buku Krisis Nasional 1965. penulisan buku ini memang ditugaskan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri kepada mentrai pendidikan waktu itu Malik Fajar. Malik fajar menunjuk Prof taufik Abdullah menulis dengan dibantu oleh sebuah Tim yang terdiri dari 25 orang. Seya tidak termasuk anggota tim tersebut, dan ketika daiadakan lokakarya rancangan buku tersebut di Jakarta , 12-13 April 2005 saya sedang berada di Negari Belanda.

Namun saya menerima dari seorang peserta lokakarya naskah Lengkap. Karena laporang itu belum diterbitkan, tentu kurang tepat untuk membahas secara keseluruhan disini. Namun ada dua bahaguan dari tulisan Prof AB lapian yang menurut hemat saya sangat penting dari sega metodologi. Tulisan lapian mengenai Patnik telah dimuat pada jurnal Sejarah no 4 tahun 1993.

AB lapian menulis tentang apa yang terjadi pada malam tanggal 30 September 1965. ia mengutip AR Soehoep yang mengikuti musyawarah nasional teknik tanggal 30 September 1965 di Senayan.”sebagaimana lazim bila Presiden akan hadir, para undangan diminta deatang sejam sebelum acara dimulai yang waktu direncanakan pada pukul 19.00.Menurut seorang peserta “acara mulai hingga berjam-jam, Bung Karno datang memberi Sambutan pendek saja, tidak seperti biasanya. Setelah itu beliau pergi meninggalkan acara yang baru berlangsung. Mungkin menggangu pekiranya”.

Ini ditulis oleh AR soehoed tahun 20012, jadi 36 tahun setelah peristiwa itu berlalu. Kalau dibandingkan pengalaman berbagai tokh yang lain, tampaknya ingatan AR soehoed tentang peristiwa itu kurang pas. BK berpidato cukup lama bahkan sampai larut malam. Contoh yang kedua di dalam tulisan Prof AB lapian mengenai Shri Biju patnaik. Patnaik diwawancarai oleh lapian pada tahun 1993, jadi 28 tahun setelah kejadian, Patnik adalah kawan Lama Bung Karno sejak masa perang kemerdekaan. Patnik adalah pilot India  yang menerbangkan tokoh-tokoh Indonesia seperti Sjahrir dan lain-lain keluar negeri serta dengan membawa pesawa komuditi yantg akan ditukarkan dengan valuta Asing. Patnik diutus oleh PM India sashri karena saat itu hubungan India-RRC memburuk. India tidak ingin Indonesia berada satu kubu atau membantu RRC dalam menghapadapi India.

Patnik berhasil menjumpai Soekarno pada malam tanggal 30 September 1965 atau tepat pada pukul 01 dinihari, jadi sudah masuk tanggal 1 Oktober 1965, masuk  kewat pintu belakang istana. Bung karno menjamin tidak akan ikut campur dalam konflik India dengan RRC. Soekarno juga mengatakan “tetapi anda harus meninggalkan Jakarta sebelum Subuh. Sesudah itu saya akan menutup bandara udaranya”. Patnik bergegas kembali ke Hotel, menyuruh istrinya berkemas dan langsung berangkat meninggalkan Jakarta.

Ini merupakan Puzzle sejarah. Betulkah Patnik sempat bertemu dengan Soekarno pada tanggal 30 September 1965. apakah orang mungkin Soekarno masih berada di Istanah jam 01 dinihari. Bukankah pada saat itu ia sudah bergerak dari Senayan ke Hotel Indonesia untuk menjemput Dewi Soekarno.

Setelah itu betulkah demikiaan percakapan antara patnik dengan Bung Karno. Kalau Soekarno menyuruh Patnik cepat plang, mungkin saja karena ia Kesal sampai tengah malam masih dikejar oleh pilot In dia itu. Mungkin pula ucapan “saya akan tutup Bandar udaranya” sekedar bercanda menyuruh sang pilot hengkang dari Jakarta. Kenapa harus ditafsirkan bahwa Soekarno telah tahu aoa yang terjadi esok hari.


Fitnah Dake terhadap Bung Karno

Tanggal 29 September 2006 rencananya CSIS menggelar Seminar,”Re-axamining 30 September 1965 as an Historical Event” di Jakarta.tema seminar ini memang cocok menjelang peringatan tragedy nasional tersebut. Namun yang menjadi persoalan adalahdi antara pembicara terdapat pula Anatonie C.A. Dake yang  menulis buku Sukarno file, kehadiran Dake ini mengundang protes dari berbagai kalangan karena Yayasan Bung Karno sudah melaporkan yang bersangkutan dengan penerbitnya kepada Kapolri dan Kejaksaan Agung. Berkas pengaduaan itu sedang ditelaah oleh Kejaksaan Agung. Walaupun sudah dituntut secara huku tampaknya Antonie Dake tidak merasa gentar apalagi malu untuk datang berseminar di Jakarta.

Dake dan penerbitnya diadukan kerena penghinaan yang terdapat dalam buku Sukarno File. Bukan sekedar menyatakan bahwa Bung Karno “Biang yang sebenarnya” dari apa yang terjadi pada Paro Akhir 1965. Dake juga menuding  bahwa sang proklamator “secara langsung harus memikul tanggung jawab  atas pembunuhan enam Jenderal dan secara tidak langsung untuk pembantaiaan antara komunis dan bukan kmunis yang berlangsung kemudian”. Tuduhan Dake itu didasrkan kepada hasil pemeriksaan ajudan Presiden Sukarno,Bambang Widjanarko oleh Terpedu (Team Pemeriksa Pusat) Kopkamtib ang mkengungkapkan bahwa pada tanggal 4 Agustus 1965 Bung karno memanggil Brijen Sabur dan Letkol Untung ke kamar tidurnya dan menyatakan apakah mereka bersedia “meneriama perintah yang mencakup tindakan terhadap para Jenderal yang tidak loyal. Untug menyatakan kesediaannya”. Keterangan Bambang Widjanarko itu dijadikan alasan Dake untuk menyimpulkan bahwa Sukarno bertanggungjawab sacara langsung atas embunuhan enam jenderal.

Pengakuaan Widjanarko itu diterbitkan – dalam dua bahasa, Indonesia dengan Inggris – dengan kata pengantar dari Antonie Dake tahun 1974 di belanda dengan Judul The Devious Dalang. Yang menarik. Dake mengaku menerima laporan pemeriksaan itu di Hotelnya di Jakarta melalui pos dengan tampa alamat pengirim. Naska misterius itu diterbitkan pada tahun 1974 di Leiden, Belanda, dengan pengantar dari Antonie Dake berjudul, The Devious Dalang:Sukarno and the so-called Untung-pusch, Eye-witness report by Bambang S.Widjanarko.

Tahun 1990 pemerintah Indonesia melanggar peredara buku The Devious Dalang itu dengan SK jaksa Agung no: Kep-059/J.A/8/1990 dan instruksi Jaksa Agung no: Ins-014/J.A.8/1990 kedua tanggal 14 Agustus 1990. Tahun 2005, penerbit Aksara karunia menerbitkan Sukarno File yang terdiri atas 549 halaman, bagian lampiran (sekitar 300 Halaman) lebih banyak dari pada isi buku. Pada bagian apendiks itu dicamtumkan secara lengkap teks Ind onesia kesaksiaan Bambang widjanarko yang sebelumnya dimuat pada The Devious Dalang. Dengan demikiaan, sebetulnya penerbit Aksara Karunia telah menerbitka (ulang) buku yang pernah dilarang di Indonesia.

Dokumen Widjanarko itu sangat lemah dari sudut metodologi sejarah. Sebab, beberapa tahun setelah itu, ketika mendiskusikan buku Sewindu Bersama Bung Karno, Widjanarko mengakui bahwa pengakuaan tersebut diberikan secara paksa pada tanggal 27 Maret 2006 saya menyurati keluarga Widjanarko yang mengirimkam kliping harian Merdeka anggal 5 dan 7 Oktober 1974. pada Koran tersebut pada tanggal 5 Oktober 1974 diberitakan tentang dibukukannya kesaksiaan widjanarko. Namun pada tanggal 7 Oktober 1974, Bambang widjanarko menyatakan ia tidak tahu menahu, ia tidak kenal denagan Antonie Dake dan penerbit tersebut selain melanggar etika juga telah membocorkan atau menyebarluaskan rahasia Negara Indonesia kepada Pihak Iternasional?

Yang sangat mengherankan,Bambang Widjanarko meninggal tahun 1996 sedangkan buku The Devious Dalang terbit pada tahun 1974. dake sendiri dalam beberapa kesempatan berkunjung  ke Indonesia. Dalam rentang waktu 22 tahun itu (antara 1974 sampai dengan 1996) kenapa dake tidak mewawancarai BAmbang Widjanarko. Selain sangat lemah dalam hal sumber, secara logika, kesimpulan Dake kurang kuat, kalu Sukarno ingin memecat Jenderal Jani atau jenderal lainnya, dia bisa melakukan setiap saat. Mengapa harus dengan cara berliku-liku? Mengapa Sukarno yang sedang berkuasa membuat persekongkolan agar terjadi kedeta yang bisa menggulingkan dirinya sendiri? Dengan kata lain, Sukarno mengkudeta dirinya Sendiri.

Sekarang kita di Tanah Air dalam suasana menuju Demokrasi. Perbedaan pendapat merupakan hak setiap warga, termasuk orang asing. Ada berbagai versi dalam penjelasan suatu kejadia sejarah, G30S/1965 termasuk dalam proses demokratisasi sejarah. Kalau menyatakan Sukarno terlibat G30S, saya kira boleh saja seperti halnya mengungkap Suharto melakan kudeta merangkak pada 1965-1967.Tetapi, menuding sang Proklamator dan bapak bangsa tersebut terlibat langsung dalam pembunuhan enam jenderal dan secara tidak langsung dalam pemantaiaan yang terjadi sesudahnya (yang memakan Korban paling sedikit 500.000 orang), itu sudah Fitnah.

Gaya Dake

Cara bertutur dan menulis Antonie Dake mirip komunikasi era klonial a ntara seorang “tuan” dengan penduduk tanah jajahan. Selain banyak pernyataan yang tidak akurat, ia sembarangan melontarkan tuduhan terhadap peja bat Indonesia waktu seperti marsekal, Omar Dani yang dijuluki “Playboy” dan jenderal Mursyid yang disdebut sebagai”Yudas”. Bung Karno dikamtakan memiliki sifat “megalomania” dan keangkaraan. Presiden sema kin “keras kepala dan Nagkuh”. Sukarno suga pernah “murka tak terkendali”. Pada saat yang sangat kritis, Sikarno malah “tidur-tiduran” di Halim.

Presiden Sukarno juga orang yang “menghianati janji dan mencabik kesempatannya” dengan komplotan G30S.Rencana pertemaan antara presiden Sukarno dengan jenderal Yani tanggal 1 Oktober 1965, Sukarno “sandiwara sinis” Sukarno melakukan permainan politik yang “cerdik dan licik”. Tanggal 1 Oktober 1965, Sukarno “menghilang”.

Presiden Sukarno “melarikan Diri” tanggal 11 Maret 1966 dari istana. “Sukarno muak dengan Yani”. Lebih dari itu,”presiden sebenarnya menghasut kedua perwira itu untuk bersekongkol dengan atasan-atasannya”. Yang dimaksud adalah Brigjen Sabur dan Letnan Kolonel Untung yang didalam Sukarno File dikatakan menemui Bung Karno di Kamar Tidurnya tanggal 4 Agustus 1965. Fitnah Dake terhadap Proklamator kemerdekaan Indonesia harus diselesaikan secara hukum.

OLEH :
A
svi Warman Adam, Ahli peneliti utama LIPI, Jakarta.
Diseminarkan di Unimed pada tanggal 22 September 2007

diupload oleh:
Erond L. Damanik, M
.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s