PRAMOEDYA ANANTA TOER (PRAM)

A. Keluarga Pramoedya Ananta Toer

Pram lahir di Blora, 6 Februari 1925, sebagai anak sulung Bapak Mastoer dan Oemi Saidah. Pram yang oleh semua adiknya dipanggil Mas Moek, dan oleh bapak dan ibunya dipanggil Moek atau Mamoek, adalah nama kepengarangan yang kini menjadi standar bagi dia ( Koesalah. S.Toer, 2006:VIII). Ayahnya dilahirkan pada 5 Januari 1896 berasal dari kalangan agama Islam, seperti misalnya jelas dari nama orangtuanya, Imam Badjoeri dan Sabariyah (A.Teeuw,1997:4). Mastoer masuk sekolah desa, kemudian sekolah ‘angka loro’ (tweede klasse school, sekolah lanjutan bagi lulusan sekolah desa). Mastoer juga belajar mengaji, sesuai dengan tradisi keluarganya. Nampaknya berdasarkan prestasi studi yang baik Mastoer langsung dapat masuk sekolah guru (kweekshool voor inlandsche onderwijzers) di Yogyakarta pada tahun1911;  ia lulus sebagai guru pada tahun 1917.

Setelah lulus sekolah guru, Mastoer ditempatkan di HIS (Hollandsch-Inlandsch School) Kediri. Pada tahun 1921, ia pindah ke Rembang dan menjadi guru disana. Tidak dapat diketahui dengan jelas alasan kepindahannya. Di Rembang Mastoer dikawinkan dengan Oemi Saidah yang juga dikenal dengan nama Siti Kadarijah.

Oemi Saidah lahir pada tahun1907 sebagai anak penghulu Rembang Haji Ibrahim dengan klangenan (selir) Satimah.Sang Penghulu mengambil selir itu karena ia sudah dua kali ditimpa kemalangan kematian istri, dan menurut ‘orang yang mengerti’, perkawinannya akan bisa selamat kalau kawin keempat kalinya. Jadi, sebagai ‘selingan’ ia mengambil klangenan. Setelah melahirkan anak,selir itu diceraikan dan diusir dari kediaman penghulu. Kemudian penghulu itu menikahi wanita bernama Hazizah. Anak selir itu, Oemi Saidah, diasuh dalam keluarga Haji Ibrahim dan Hazizah. Saidah lulus HIS pada tahun1922,namun tidak mendapat izin melanjutkan studi ke Van Deventerschool (sekolah kerajinan untuk gadis) di Semarang seperti yang diharapkannya, sebab sudah bertunangan dengan Mastoer yang tidak bersedia menunda perkawinan lebih dari satu tahun.

Pada tahun 1922, Mastoer mengambil langkah lain yang sangat menentukan masa depannya, dan karena itu juga menentukan hidup Pram. Atas Prakarsa Bupati Blora, tokoh terkenal R.M. Said Tirtonegoro, diadakan pertemuan untuk mencari guru  sekolah partikelir Instituut Boedi Oetomo (IBO), yang pada tahun 1917 didirikan oleh Dr.Soetomo. Tokoh pendiri Boedi Oetomo itu dalam dasawarsa kedua abad ke 20  bekerja sebagai ‘dokter jawa’ di Blora dan melaksanakan berbagai aktivitas sosio-budaya didaerah itu. Setelah keberangkatan Soetomo ke Surabaya IBO yang telah didirikannya ambruk, bupati tersebut ingin menghidupkan kembali sekolah itu. Mastoer niscaya tertarik oleh gaji yang cukup tinggi yang ditanggung bupati secara pribadi, dan terpesona oleh kemungkinan membaktikan diri pada pendidikan anak negeri dalam semangat kebangsaan, lepas dari campur tangan langsung penjajah. Jadi, Mastoer pada 22 November1922 diangkat sebagai kepala sekolah IBO di Blora. Kedua pengantin muda pindah ke Blora.

Namun, tidak semua harapan kepala sekolah itu terpenuhi. Tidak jelas apakah gaji yang dijanjikan kepadanya benar-benar dibayar dengan teratur.  Yang jelas, dengan meninggalnya Bupati R. M. Said Tirtonegoro pada 12 Oktber 1926, IBO kehilangan pendukung utamanya dan sumber dana Mastoer berhenti mengalir. Namun  Mastoer tetap sebagai kepala sekolah, bangunan baru didirikan agar sesuai dengan sekolah yang tujuh kelas. Jumlah murid naik terus dan uang sekolah yang dibayar oleh murid cukup untuk membiayai semua kegiatan, termasuk gaji guru. Sebaliknya hubungan dengan organisasi Boedi Oetomo semakin longgar, akhirnya sama sekali berhenti. Sekolah langsung dalam pimpinan Mastoer(tidak ada organisasi pendukung atau yayasan).

Kegiatan Mastoer bukan tidak berkaitan dengan perkembangan politik  Ia menjadi anggota PNI dan pernah bertemu dengan Soekarno ketika berkunjung ke Blora. Ia menyelenggarakan berbagai kursus,misalnya pemberantasan buta huruf, bahasa Belanda dan Inggris. IBO juga membuka cabang di berbagai kecamatan.

Namun, masa Jaya IBO di Blora tidak berlangsung lama. Kegiatan Mastoer juga tidak luput dari perhatian penjajah, ketetapan pemerintah Hindia-Belanda tentang sekolah liar yang memberi kekuasaan penuh kepada penguasa untuk mengurus dan mengontrol sekolah swasta, termasuk melarang dan menutupnya. Penindasan terhadap sekolah liar tidak dapat dihentikan. Sekolah yang dipimpin oleh Mastoer juga kena. Dengan dalih berbahaya untuk ketentraman umum, kursus-kursus macam apapun yang diselenggarakan oleh IBO ditutup. Bahkan rumah Mastoer digeledah juga (khususnya dicari buku dengan sindiran tersebut dan kartu keanggotaan Partindo), kemudian ia ditahan selama lima hari. Secara pribadi situasi ekonomi Mastoer makin sulit, karena keluarganya makin bertambah. Sesudah kelahiran Pram sebagai anak sulung pada 1925. Pada masa 1927-1939 masih dilahirkan 7 anak lagi yaitu Prawito Toer (kemudian menjadi Walujadi Toer), Koenmarjatoen Toer (kemudian Ny. Djajoesman), Oemisafaatoen Toer (kemudian Ny. Mashoedi), Koesaisah Toer (kemudian Ny. Hermanoe Maulana), Koesalah Soebagyo Toer, Soesilo Toer, dan Soesetyo Toer (Koesalah. S .Toer, 2006:X). Pada tahun1936 terjadi konflik dengan suatu ‘Komite Baroe Boedi Oetomo’ yang menuntut agar IBO diserahkan kembali kepada IBO. Mastoer menolak tuntutan itu selama segala uang yang telah ia tanam untuk sekolahnya,termasuk gaji yang pernah ia terima, tidak dilunasi lebih dahulu.

Keadaan ekonomi keluarga yang semakin merosot membuat  Mastoer untuk memutuskan kembali mengabdi pada pemerintahan dengan bekerja sebagai guru pengganti sementara pada HIS Blora. Suasana hidup keluarga Mastoer serta kegiatan dan pengalamannya dalam pergerakan nasional sangat berpengaruh pada Pram. Tak dapat tidak bibit rasa kebangsaan sejak awal mula tertanam dalam jiwanya yang sangat peka.

B. Riwayat Pendidikan

Tingkat pendidikan pertama yang diikuti oleh Pram adalah sekolah dasar IBO di Blora (sekolah yang dipimpin ayahnya). Mengenai riwayat pendidikannya ,Pram kecil bukanlah seorang siswa yang menonjol secara prestasi. Hal ini tentunya sangat mengejutkan mengingat perhatiannya yang besar terhadap riset disuatu waktu kelak, khususnya terhadap penelitian sastra dan sejarah Indonesia.  Bahkan kebiasaannya melakukan riset inilah yang kemudian menghasilkan antara lain roman-roman sejarah, essai-essai mengenai sejarah sastra Indonesia. Tiga kali ia tidak naik kelas serta harus belajar langsung dibawah pengawasan sang ayah. Dan ketika lulus dari kelas tujuh ( setelah mengenyam sekolah dasar sepuluh tahun lamanya, ia justru diharuskan kembali mengulang belajar di kelas tersebut oleh sang ayah, yang masih menganggap Pramoedya sebagai anak yang kurang cerdas).

Pram kemudian meneruskan pendidikannya di sebuah sekolah kejuruan radio (radio Vakschool) di Surabaya atas biaya ibunya, karena sang ayah menolak menyekolahkan Pram di MULO (sekolah setingkat SLTP). Namun pecahnya Perang Dunia II membuat ijazah sekolah itu tidak pernah sampai di tangan Pram. Hal ini erat kaitannya dengan wajib militer yang dikenakan kepada para pelajar oleh pemerintah pendudukan Jepang yang tidak disukai oleh Pram, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan kursus tersebut sebelum memperoleh ijazah, selain karena ijazah itu juga tertahan akibat penjajahan baru tersebut.

Tentera Jepang mulai mendarat di pantai utara Jawa, dan sampai di daerah Blora pada 2 Maret 1942. Di awal masa penjajahan Jepang itulah Pram mengalami kenyataan yang sangat pahit. Ibu yang sangat dicintainya meninggal pada 3 Juni 1942 akibat penyakit TBC yang telah lama ia derita (ibu Pram), Ibu Mastoer, Mbah Sabariyah didatangkan dari Ngadiluwih untuk mengurus keluarga, namun tidak lama tinggal di Blora. Sementara di waktu yang bersamaan Pram sendiri masih hidup dalam ketidakpastian. Ibunya yang saleh serta penuh pengorbanan terhadap suami dan anak-anaknya, ibu yang lembut dan pengasih tapi tahu disiplin, akhirnya pergi meninggalkan keluarga Pram untuk selama-lamanya. Kepergian sang ibu sangat mengguncang hati Pram muda.

Setelah ibunya  meninggal, Pram berusaha membantu mengurus  kebutuhan keluarga, mengingat posisinya sebagai anak laki-laki sulung. Ia mencoba untuk mulai menjadi pencari penghidupan bagi seluruh anggota keluarga yang terdiri dari ayah beserta tujuh orang adiknya, sampai ia merasa tidak betah lagi tinggal di kota tersebut. Beberapa waktu kemudian saat berumur tujuh belas tahun meninggalkan rumah dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta, lalu tinggal di rumah salah seorang pamannya.

Kepergiaannya ini bisa dianggap merupakan babak baru dalam perjalanan hidup Pram selanjutnya. Ia tinggalkan Blora. Dengan kata lain ia juga meninggalkan masa kecilnya. Apapun yang kelak ia peroleh, masa kecil itu pula yamg selalu membayangi dan menjadi inspirasi. Masa kecil sebagai sumber sejarah kehidupan dan sumber pengetahuannya. Peristiwa-peristiwa yang dialaminya langsung ataupun tak langsung telah mewarnai kehidupan serta proses kreatifnya. Bahkan landasan pemikiran serta gagasan-gagasannya ternyata sangat banyak dipengaruhi oleh tempaan-tempaan di masa itu.  Sifat keadilan, kemanusiaan dan keberpihakan terhadap yang lemah, serta semangat nasionalisme yang menggebu-gebu merupakan modal yang dibawanya sejak masa kecil, yang kemudian mewarnai hampir seluruh karya yang ia ciptakan dimasa-masa sesudahnya.

Demikianlah masa kecil Pram, yang sebagian besar ia ceritakan dalam karya-karyanya, khususnya dalam kumpulan cerita pendek Tjerita Dari Blora .Sebuah pencitraan yang ditampilkan melalui ‘potret-potret’ bagaimana seorang bocah tumbuh di kota kecil Blora, serta bagaimana ‘potret-potret’ yang bahkan diciptakan sendiri dalam melihat masyarakat dikotanya yang di cabik-cabik oleh kolonialisasi.

C. Menulis Sebagai Tugas Hidup

Setibanya di Jakarta, Pram sempat mendaftarkan diri di sebuah sekolah Taman Siswa ( tepatnya Taman Dewasa-setingkat SLTP ). Kemudian ia pun sempat menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Islam untuk beberapa waktu, namun tidak selesai. Setiap kesempatan yang memungkinkan, ia gunakan untuk belajar sastra, filsafat dan sejarah. Akan tetapi, yang terpenting pada masa itu adalah usaha kerasnya untuk meninggalkan tradisi bahasa Jawa, menuju bahasa Indonesia dengan logat Melayu.

Pilihan ini bukan semata-mata karena bahasa Indonesia telah menjadi bahasa nasional, atau karena dengan bahasa Indonesia berarti memungkinkan karya-karyanya dibaca oleh lebih banyak orang. Penyebabnya terletak pada sifat dari bahasa itu sendiri. Bahasa Jawa sangat sarat dengan  tradisi feodalisme. Jenjang-jenjang bahasa sangat identik dengan kelas-kelas dalam masyarakat (atau kasta-kasta, dalam tradisi Hindu) yang sangat tidak disukainya.  Sedangkan bahasa Indonesia (berasal dari bahasa Melayu Pasar sebagai lingua franca ketika itu) dikenal sebagai bahasa tanpa kelas. Hal inilah yang terutama menjadi alasan  mengapa Pram kemudian merubah caranya berbahasa.  Dengan kata lain, Pram secara perlahan meninggalkan bahasa Jawa yang dianggapnya sebagai bahasa masa lampau, menuju bahasa Indonesia sebagai bahasa masa depan, bahasa kemerdekaan,  perjuangan dan persatuan nasional (A.Teeuw, 1997:334).

Melalui bahasa Indonesia, Pram nampaknya memang sungguh-sungguh menjadi seorang penulis. Hampir seluruh hidupnya tidak pernah lepas  dengan menulis. Pram adalah satu dari sedikit pengarang Indonesia yang sangat produktif dengan sebagian besar karyanya berupa roman-roman yang sangat panjang. Dalam hal ini, ia bahkan tidak hanya hidup untuk menulis tapi juga menulis untuk hidup. Beberapa pekerjaan lain yang dilakukannya juga tidak jauh dari aktivitas kepenulisan. Pertama kali datang ke Jakarta, Pram sebagai juru ketik di kantor berita Jepang, Domei. Di kantor inilah ia mulai berusaha menambah pandangan dan wawasannya dengan membaca berbagai macam informasi yang masuk ke meja redaksi. Di masa ini Pram mulai mencoba menulis dan mengirimkannya ke surat kabar Pemandangan, namun tidak satu karya pun dimuat. Selain itu, ia pernah mendapat kursus stenografi, ilmu ekonomi (dengan guru antara lain Mohammad Hatta) serta sosiologi, sebelum akhirnya keluar dari pekerjaannya, lalu melarikan diri dan bersembunyi disebuah desa sampai masa kemerdekaan Indonesia.   Pram termasuk pengarang yang sangat peduli dan rajin melakukan dokumentasi. Ia antara lain mencoba mendokumentasikan sastra serta sejarah pergerakan nasional Indonesia, yang diketahui, semua dokumentasi itu dihancurkan oleh penguasa Orde Baru dikemudian hari.

Lebih jauh, berdasarkan dokumentasi yang dikumpulkannya, Pram secara mandiri melakukan penelitian sastra sebagai dasar baru bagi penulisan sastra Indonesia, terutama yang disebutnya sebagai sastra asimilatif, yaitu sastra yang sering disebut sebagai Melayu rendah. Sastra ini oleh Pram dinilai sebagai sastra tulen yang mempelopori satra Balai Pustaka dan ditulis dalam ‘bahasa pra Indonesia’ (A. Teeuw, 1997: 41). Melalui penelitian ini, landasan baru bagi sejarah sastra Indonesia yang menurutnya memang perlu mendapatkan koreksi dan telah ia coba melakukannya.Hal ini harus menghadapi reaksi keras dari pandangan lama yang terlanjur mengakar dalam masyarakat sastra Indonesia..

Selain pendokumentasian, Pram pernah mencoba menerjemahkan karya-karya pengarang dunia, terutama dari bahasa Belanda. Walaupun di masa kecilnya Pram tidak begitu serius mempelajari bahasa tersebut, namun kemampuan pasifnya memang cukup baik (Eka Kurniawan, 1999:35).Selain Max Havelaar, Ia pun menerjemahkan sebuah buku berbahasa Belanda lainnya berjudul Moeder, Waarom Leven Wij ? (Ibu,mengapa kita hidup?) karangan Lode Zielens, seorang Vlaandenen, yang bahasanya bagi orang Belanda sekarang pun tidak mudah dipahami. Padahal itu dilakukan Pram di masa mudanya(A.Teeuw,1997:334).

Beberapa rangkaian karya terjemahannya yang lain adalah Tikus dan Manusia (diterjemahkan dari Of Mice and Men karya John Steinbeck) ; Kembali Kepada Tjinta Kasihmu ( diterjemahkan dari edisi Belanda karya Leo Tolstoy berjudul Huwelijksgeluk);dan Ibunda ( karya Maxim Gorki, diterjemahkan dari bahasa Belanda dan bahasa Inggris dengan judul asli Matj ). Semuanya semakin memantapkan sosok Pramoedya bukan hanya sebagai sastrawan, tetapi juga sebagai intelektual peneliti dan penerjemah.

Setelah merasa sanggup membina kehidupan keluarga baik secara materi maupun secara mental akhirnya pada tanggal 13 Januari 1950 Pram melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis yang telah dilamarnya sejak ia masih berada dalam penjara Belanda. Kebutuhan untuk menafkahi keluarga yang ia bangun nampaknya mendorong Pram untuk lebih produktif menulis. Banyak karyanya yang ditulis di masa-masa ini (sekitar tahun 50-an) karya-karya itu antara lain Pertjikan Revolusi (1950), Ditepi Kali Bekasi (1950), Keluarga Gerilya (1950), Perburuan (1950), Subuh (1950), Bukan Pasar Malam (1951), Mereka Jang Dilumpuhkan (1951), Tjerita Dari Blora (1952), Gulat di Djakarta (1953) dan lain sebagainya. Integritasnya pada kesusastraan kemudian membuatnya mendapatkan beasiswa dari Sticusa ( Sticting Culturele Samunwerking, sebuah lembaga kebudayaan Indonesia-Belanda) untuk belajar di Nederland. Beasiswa ini hanya dijalaninya selama enam bulan dari rencana satu tahun.

Tetapi, ternyata semua itu tidak sepenuhnya bisa menjamin kelangsungan hidup keluarganya. Kondisi keluarga yang dibangunnya mulai memburuk di tahun kelima perkawinan mereka. Konflik keluarga terutama disebabkan karena tanggung jawab Pram sebagai anak tertua terhadap adik-adiknya, selain masalah ekonomi yang dipengaruhi memburuknya situasi ekonomi secara umum. Penghasilannya dari honorarium mengarang (yang kadang belum tentu diterimanya) semakin turun nilainya, hingga menambah kesulitan hidup bagi mereka.

Pram akhirnya menceraikan istri pertamanya, setelah ia berulang kali diusir istrinya dari rumah, menyusul ketidak harmonisan hubungan perkawinan mereka. Sebelum itu ia sempat berkenalan dengan seorang gadis bernama Maimunah, anak H.A.Thamrin, saudara kandung nasionalis terkemuka Mohammad Husni Thamrin. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1954 dalam kesempatan acara pekan buku yang diselenggarakan oleh perusahaan Gunung Agung. Tidak berapa lama kemudian Pram menikahi gadis bernama Maimunnah itu.

Pernikahan ini berlangsung pada saat Pram hidup dalam keadaan krisis mendalam, baik secara sosial (rasa percaya diri yang menurun akibat akumulasi berbagai peristiwa, termasuk perceraiannya) maupun ekonomi. Bahkan ia menikah dalam situasi ekonomi yang sangat tidak baik. Meskipun begitu, dukungan teman-teman seprofesinya cukup berarti untuk membuatnya kuat menghadapi semua itu. Rivai Apin, A. S. Dharta, dan Ajip Rosidi adalah beberapa dari teman-temannya yang menghadiri acara pernikahan itu. Bahkan A.S.Dharta kemudian memberinya proyek penerjemahan novel-novel Maxim Gorki berjudul Ibunda, untuk membantu menyelesaikan persoalan ekonomi keluarga yang berlarut-larut menimpanya. Sebelum itu,Pramoedya sempat menerbitkan novel Korupsi (1954) dan Midah Bergigi Emas (1954).

Sementara itu, kualitas intelektualnya pun semakin diterima dan diakui oleh masyarakat umum. Ia di undang Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia untuk memberi ceramah pada peringatan simposium memperingati HUT ke-5 fakultas tersebut pada tanggal 5 Desember 1954. Sebelumnya ia sempat pula diminta oleh Jawatan Penerangan Blora untuk memberi ceramah pada suatu kesempatan pulang ke Blora.Ini adalah kali pertama bagi Pram berhadapan dengan publik (audience).

Kontaknya dengan pengarang seangkatan pun cukup intensif, antara lain terlibat dalam penyusunan Surat Kepercayaan Gelanggang yang umumnya dianggap sebagai kredo Angkatan 45 ( A. Teeuw, 1997: 28 ). Di kemudian hari kedekatannya dengan A.S.Dharta membawanya pada diskusi-diskusi baru dalam bidang seni dan sastra, serta kemudian politik. Pram antara lain, ikut menandatangani protes Himpunan Pengarang Islam terhadap penahanan Mochtar Lubis oleh pemerintah, sebagai awal mula keterlibatannya dalam perpolitikan nasional.

Pengalaman lain adalah menghadiri undangan pemerintah Cina untuk memperingati wafatnya Lu Hsiin, seorang pengarang revolusioner Cina. Lawatan ini merupakan kunjungan resmi yang disponsori  oleh menteri PPK Dr. Priono. Kunjungannya ke negeri Cina ini ternyata berhasil membuka kesadaran baru bagi dirinya. Atau, setidaknya, ia mulai berubah sejak kepergiannya ke negeri Cina. Ia sangat tertarik terutama kedekatan seniman Cina dengan rakyat jelata, sebagai elemen revolusi. Orang mulai menuduh Pram memihak pada komunis (atau bahkan telah menjadi seorang komunis sepenuhnya) sejak kembali dari Cina. Penerbit, surat kabar dan majalah mulai menolak mengumumkan karya-karyanya, dan ini berlangsung sampai sekitar tahun 1959 ( Eka Kurniawan, 1999:39 ).

Apapun pendapat orang, Pram seolah mendapatkan semangat baru. Hal inilah yang kemudian membuatnya semakin aktif berpolitik sekembalinya ke Indonesia. Ia antara lain diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Golongan Fungsional Kementeran Petera (Pengerahan Tenaga Rakyat). Selain itu, kapasitas intelektualnya semakin diasah dengan mengetuai Discusi Club Simpat Sembilan, sebuah kelompok diskusi yang antara lain mencetuskan kembali ke UUD 1945 untuk mengatasi perpecahan Kontituante. Kemudian pada tanggal 22-28 Januari 1959, Pram terpilih sebagai anggota pimpinan pleno dalam Kongres Nasional Lekra yang diadakan di Solo. Saat itulah secara resmi Pram mulai dilibatkan dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Semuanya memberi modal bagi Pram untuk terjun di bidang ilmiah akademik. Hal ini dibuktikan beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1962, dengan mengabulkan permintaan pimpinan Fakultas Sastra Universitas Res Publika (sekarang Universitas Tri Sakti) untuk mengajar sebagai dosen di Universitas tersebut.

Periode ini merupakan masa ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin berpengaruh dalam peta perpolitikan Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi menguatnya peran Lekra, yang memang memiliki kedekatan dengan partai tersebut. Dalam masa-masa inilah, Pram kemudian terlibat dalam arus polemik ideologis yang cukup dikenal dalam sejarah kebudayaan Indonesia masa itu. Namun, polemik yang coba dibangun Pram terhadap kubu Manifes Kebudayaan berakhir antiklimaks. Pergantian kekuasaan dari Orde Lama menuju Orde Baru harus dibayar mahal dengan penangkapan besar-besaran para aktivis, simpatisan, atau siapapun yang diduga terlibat dalam PKI. Banyak orang terbunuh,dan sebagian lainnya, termasuk Pram, dipenjarakan sebelum kemudian dibawa ke Pulau Buru.

Selama pengasingannya di Pulau Buru di kemudian hari integritas kepenulisannya tidak menjadi luntur. Bahkan dari Pulau Buru inilah kemudian lahir karya masterpiece Pram. Empat buah buku yang disusun sebagai tetralogi Karya Buru ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca ) berhasil ditulisnya setelah sebelumnya diceritakan secara lisan kepada teman-temannya sepengasingan.

D. Masa Penahanan

Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dalam penjara, sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat. Delapan belas tahun hidupnya di   dalam dunia paling kelam  produk lalim kekuasaan, penjara!. Secara bergiliran dirasakannya nyinyir terali besi tiga rezim kekuasaan; tiga tahun dalam tawanan kolonial Belanda (Penjara Bukit Duri 1947-1949),  satu tahun (1960) dalam penjara Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969,  Juli 1969-16 Agustus 1969 di Pulau Nusa Kambangan, Agustus 1969-12 November 1979 di Pulau Buru, November-Desember 1979 di Magelang/Banyumangi) tanpa proses pengadilan. Pada  tanggal 21 Desember 1979  Pram mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G 30 S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga tahun 1992, tahanan kota dan tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun.

Seperti yang telah disebut diatas, bahwa draf roman tetralogi pulau buru telah ditulisnya. Draf tersebut dibawa keluar (negeri) dan dicetak dalam bahasa Inggris, sewaktu kunjungan rohaniawan Kristen ke Pulau Buru.  Pengunjung tersebut, memberi Pram worksheet dan mesin ketik yang kelak banyak menghasilkan mahakarya yang agung dalam roman sejarah di tanah air.  Oleh karena itulah, roman tetralogi Pulau Buru menjadi sangat terkenal diseluruh negara dibawah kolong langit ini, karena disamping dihasilkan disebuah tempat yang kelam, penjara, juga dicetak pertama sekali dalam bahasa Inngris.

E. Wafatnya Pramoedya Ananta Toer

Setelah beberapa bulan mengalami gangguan kesehatan dan dirawat di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta selama 3 hari sejak Kamis tanggal 27 April 2006, Pram akhirnya meninggal pada hari Minggu 30 April 2006 sekitar pukul 09.15 Wib di kediamannya JL.Multi Karya II 26 Jakarta Timur. Pram meninggalkan keluarga besarnya yang terdiri dari 8 orang anak, 16 orang cucu, 2 orang cicit dan istrinya Maimunnah Thamrin. Pada upacara pemakamannya di makam Karet Bivak, Jakarta Pusat hadir beberapa tokoh antara lain Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna Sarumpaet, Budiman Sudjatmiko, Mentri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, puluhan aktivis, sastrawan dan cendikiawan (Kompas,  1 Mei 2006).

Sungguh disayangkan, sebagai penulis besar roman sejarah Indonesia dan juga kandidat peraih Nobel sastra begitu cepatnya ia berlalu menghadap penciptannya.  Bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya yang telah menulis lebih 40-an buku yang telah diterjemahkan kedalam 20 lebih bahasa dunia. Meski selama hidupnya, melepaskan separuh hidupnya di penjara sebagai dakwaan subversive oleh pemerintah terhadap Pram, tetapi tidak mengurungkan niatnya untuk menulis berbagai roman sejarah.

Meski acapkali dipenjara dalam tiga  rezim berkuasa (Belanda,  Soekarno dengan Orde lama dan Soeharto dengan orde Barunya)  yang membuat separuh hidupnya didalam bui meski itu tanpa pengadilan, karena tuduhan subversi “tulisan mengkhatirkan’, berhaluan komunis-sosialis, dan atheis. Dalam pada itu, Pram dengan kegigihan dan keuletan  serta kepiwaiannya menulis, telah mengangkatnya sebagai pengarang roman sejarah paling produktif ditanah air.  Berbeda dengan  penyair Danau Toba seperti Sitor Situmorang yang hampir mengalami nasib sama seperti Pram, dikejar-kejar aparat, dipenjarakan dan akhirnya melarikan diri keluar negeri. Situmorang lebih mengambil perspektif kerinduan alam dengan ungkapan romantika hati. Laksana  pencitraan yang abadi, antara mahlkuk manusia dengan Tuhannya, antara benua ke benua yang lain ataupun antara negera ke negara lain. Sitor, lebih mengedepankan sebuah ungkapan kegelisihan hati, kedamaian dan kesengsaraan yang sangat paradoks. Ibarat syurga dengan neraka, ibarat  Sugriwa dengan Ramaya,  ataupun ibarat api dengan salju. Masa hidupnya diEropa, telah  mewarnai pemikirannya yang eropa sentries terpengaruh dengan keadaan Rusia pada masa itu. Sehingga iapun dicap berhaluan komunis dan atheis. Dalam masa tuanya, ia pulang kampong ke pulau Samosir (Harianboho), diupa-upa (tepung tawar) paulak tondi (menyucikan hati).

Mereka adalah dua pengarang Indonesia caliber dunia.  Mereka adalah sastrawan yang tidak pernah dikenal oleh anak-anak disekolah karena buku-buku kepengarangannya tidak diperkenankan diajarkan disekolah. Kecuali bagi mereka yang gemar mengunjungi taman buku, mungkin sebahagian kecil buku karangan mereka itu dapat diperoleh.  Amat disayangkan, setahun setelah pencalonananya sebagai kandidat peraih Nobel sastra dunia, ia telah berpulang menghadap penciptanya.  Penting pula dicatat disini bahwa Nobel (Penghargaan tertinggi Ilmuwan dunia tidak akan pernah diberikan kepada orang yang telah meninggal).  Meski demikian,  kehebatan kepengarangannya dan penulisannya telah terpatri dibanyak  warga Indonesia.  Paling tidak, pemerintah Indonesia mau jujur mengakui bahwa apa yang ditulisnya dalam berbagai roman sejarah itu adalah suatu fakta di Tanah Air.

Disarikan dari Skripsi Mahasiswa (hanya untuk keperluan blog pussis-Unimed)
atas nama Arby Syafri Tanjung, S.Pd Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Unimed


Oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.