ORANG INDIA DI SUMATERA UTARA

Hubungan Masyarakat India dengan Sumatera Utara  Sejak Abad ke-III Masehi

Kedatangan berbagai etnis India ke pantai timur Sumatera dan pantai Barat Sumatera Utara sudah jauh sekali sebelum Masehi, yaitu membawa agama Hindu dan terakhir kemudian juga agama Budha terutama masa arus angin dari India ke Barus pada bulan Nopember dan Desember. Prof. Coomalaswamy* menulis bahwa Sumatera yang mula-mula sekali dari sejak sebelum Masehi menerima pendatang Hindu-India. Mereka membawa aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Abad ke-V Masehi gelombang dari India Selatan membawa agama Budha ke Sumatera dan memperkenalkan aksara Nagari yang menjadi cikal bakal aksara Melayu Kuno, Batak dan lain-lain.

Sejak abad ke-3 M, transportasi perdagangan di kepulauan Nusantara berada di tangan orang Cola. Pusat di Tamilakam, diambil alih oleh orang Pallava yang kemudian pula ditaklukkan oleh Cola kembali diabad ke-9 M. Orang Pallava dulu beragama Budha, tetapi menjadi Hindu kembali. Mereka berasal dari India utara dan simbol mereka “makara” dan “lembu Shiwa” dan menganggap mereka bukan dari Matahari atau Bulan tetapi dari “Aswattaman” (pahlawan dari cerita Mahabharata). Merekalah yang merebut ibukota Cola tahun 280 M dan lambang raja-raja Cola adalah Harimau yang dicap pada benderanya. Juga pada tahun 717 M pendeta Tamil Wajabodhi membawa aliran Tantrisme Mahayana Budha ke MALAYU seperti terdapat di candi di Padang Lawas dan patung Adytiawarman di Pagarruyung. *Kesemuanya bersamaan dengan membawa juga pengaruh atas perdagangan dan adat-budaya kepada masyarakat di pantai Barat Sumatera Utara dan mereka membawa aksara PALLAWA. Peranan etnis India dari Malabar (Malabari) dapat ditelusuri dari hikayat tentang masuknya Islam ke Sumatera. Islam di Malabar ialah bermazhab Syafei.

Menurut Tome Pires (1515 M) Raja Pasai dan sebagian penduduknya berasal dari India Islam dari Bengal. Banyak Pedagang Gujarat, Kling dan Bengal di sini.

Di Lobu Tua (Barus) pantai barat Propinsi Sumatera Utara telah ditemukan Batu Bersurat, tetapi atas perintah pembesar Belanda kepada Raja Barus Sutan Mara Pangkat sebahagian telah dihancurkan. Adapun sisa-sisa dari pecahan batu prasasti itu ada disimpan di seksi arkeologi Museum Pusat Jakarta, dan inskripsinya sudah diterjemahkan oleh PROF. DR. K. A. NILAKANTA SASTRI dari Univ. Madras ditahun 1931, yang menurut beliau prasasti itu dibuat ditahun Saka 1010 (=1088 M.). Itu masa pemerintahan RAJA COLA Kerajaan yang diperintah oleh KULOTUNGGADEWA-I yang menguasai wilayah Tamil di India Selatan.

Kalau kita baca “HIKAYAT MELAYU” karangan Bendahara Melaka TUN SRI LANANG (abad ke-16 M), itu memang cocok dengan apa yang tertulis di prasasti TANJORE (1030 Saka), ketika Raja RAJENDRA COLA DEWA-I pada tahun 1025 M menyerang Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara dan (Pannai, Lamuri Aceh) Malaya. Dari Prasasti Lobu Tua itu kita ketahui bagaimana eratnya hubungan perdagangan dan budaya “benua” India dengan Sumatera. Prasasti Lobu Tua itu berisi tentang aktivitas perdagangan kumpulan konglomerat Tamil yang dikenal dengan nama “MUPAKAT DEWAN 1500”. Anggotanya terdiri dari berbagai sekte Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain. Keberbagai negara mereka pergi membawa barang dengan kapal mereka sendiri dan disitu mendirikan Loji (gudang yang berbenteng yang dijaga oleh perajurit mereka). Mereka tidak tunduk kepada sesuatu kerajaanpun tetapi disambut hangat oleh setiap negeri/yang dikunjungi mereka (1).

Tentulah bersama para pedagang itu turut serta pula seniman pengukir/candi dan pendeta Hindu dan tentu banyak terjadi perkawinan dengan wanita-wanita Batak. Menurut hikayat di Sianjur Mula-Mula diciptakan aksara Batak yang nampak sekali berasal pengaruh aksara Sansekerta, oleh DATU TALA DIBABANA marga Borbor. Mari kita lihat beberapa pengaruh Hindu itu pada orang Batak antara lain :

  1. Nama-nama hari “ Aditya = Ariria (Toba) = Aditia (Karo)
  2. Soma = Suma (Toba) = Suma (Karo); Anggara = anggara (Toba) = anggara (Karo); Budha = Muda (Toba) = Budalia (Karo); Brhaspati = Boraspati (Toba) = Beraspati (Karo); Syukra = Singkora (Toba) = Cukera (Karo); Syabaisycara = Samisara (Toba) = Sanusara  (Karo);  Yoga  =  Ayuga (Toba) =  Iyoga (Karo);  Kala  =  hala ‘ Wisnu-Bisnu ; Brahma = Borma.
  3. Brahma dalam kitab Upanisad = Mulajadi Nabolon; Gunung Cicira yang dingin = Pusuk Buhit; Dewa Manu dalam Purana = Batara Asi-asi; Saraswati cakti dari Brahma = Boru Deak Parujar. Pani didalam kitab Pustaha Panai Bolon = dalam buku orang Weda tentang pencegah langit mendung; Kuda Debata = Kuda Dewata; Sisingamangaraja = Dewa Manusia didalam buku Hindu Manu; Sri = Sori.
  4. Pada etnis Karo terdapat merga-merga : Brahmana, Pandia, Meliala (=Malayali), Depari, Pelawi (=Phlawa), Colia (=Cola), Tekang (=tekanam) dan lain-lain semua masuk grup SEMBIRING (Orang Hitam) dan dalam upacara adat misalnya “Pekualuh” (menghanyutkan abu jenazah di sungai) ternyata masih ada terdapat sisa-sisa kepercayaan orang Tamil itu pada mereka. Mereka juga boleh kawin sesama merga.

Memasuki abad ke-16 dari catatan Portugis misalnya orang “Benggali” (dari Prop.Bengal), “Kling” (dari kerajaan Kalingga=Tamil) dan Gujarat ramai sekali berdagang ke Sumatera dan kawin mengawin dengan penduduk Sumatera. Didalam prasasti TANJORE ada ditulis negeri-negeri yang ditaklukkan Indra Coladewa-I tercatat Kerajaan PANAI (Pannai) di Padang Lawas. Negeri itu dicatat sebagai “water in its bathing gats” (Bah. Tamil “pannai” artinya lapangan yang diairi sungai-sungai). Didalam exkavasi yang dilakukan DR. Schnitger ditahun 1930-han, terdapat disana banyak biara sekte Budha Tantrik Bhairawa (abad ke-11 s/d 14 M) dan bahasa dari inskripsi disana bahasa Melayu Tua bercampur Sangsekerta, sebagai contoh inskripsi Gunung Tua (1024 M) ada kalimat : “Juru pandai Surya barbwat Bhatara Lokanantha”.(x)

Pedagang asal turunan Tamil-Batak itu banyak mendatangkan kuda-kuda dari pantai Barat untuk diexport ke pantai timur Sumatera. Merga “Kudadiri” mungkin sekali berasal dari nenek moyang mereka pedagang kuda. Kuda Batak sangat digemari karena kokoh badannya. Baik di Kota Cina ditemukan patung Budha (Sahasamala) dan manik asal India Selatan abad ke-13 dan 15.[*] Ini menunjukkan maraknya perdagangan India Selatan dengan Sumatera terus menerus.

MASYARAKAT TAMIL ISLAM

Dari berbagai riwayat kerajaan Melayu di pantai timur Sumatera dan Malaya banyak sekali menceritakan mengenai hubungan dengan India Selatan (Malabar) seperti dalam “Hikayat Raja-Raja Pasai”, “Sejarah Melayu” dan lain-lain. Rakyat Pasai sebagian besar keturunan dari Bengal. Raja Islam pertama mereka adalah keturunan dari Bengal. Pedagang di Pasai banyak dari Gujarat, Kling dan Bengali.¨

Asal dari Raja Deli (Tuanku Sri Paduka Gocah Pahlawan), juga panglima Sultan Iskandar Muda Aceh asal dari India (1630).*** Didalam bahasa Melayu dan budaya Melayu umumnya, banyak sekali terdapat kata-kata asal Tamil dan makanan asal Tamil.

Bahasa Tamil adalah bahagian yang terpenting dari bahasa-bahasa Dravidia. Bahasa Tamil ini diucapkan dibeberapa kilometer di utara Madras; di dataran Ghats; dari Pulicat sampai ke Tanjung  Comorin;  di  Teluk  Benggala  dan  juga  dipakai di Selatan Travancore dan didekat Trivandrum  dan juga di Utara Srilangka. Sebahagian besar apa yang dulu sering  disebut “ORANG KLING” (The Klings, Klingalezen) baik sebagai buruh di Pegu, di Malaysia, Singapura di Suriname dan di Sumatera Timur dan di Kepulauan Mauritius adalah mereka ini.

Bahasa Tamil memberikan banyak pengaruh kepada Bahasa sesetempat. Hubungan orang Tamil dengan masyarakat Melayu sudah lama sekali, lebih 1000 tahun. Bahkan banyak orang Tamil yang keturunannya sudah Islam, menjadi Raja Melayu atau menjadi Orang Besar Melayu seperti MANIPURINDAM yang menjadi Bendahara Kerajaan Melaka (turunannya antara lain ialah Bendahara TUN SRI LANANG, editor “Sejarah Melayu”). Juga nenek moyang SULTAN DELI dan SULTAN SERDANG dan beberapa dinasti Raja Pasai. Asal India(xx). Orang Tamil yang Islam di Malaysia disebut “Orang Mamak”. Nenek dari mantan Perdana Menteri Malaysia, TUN DR. MAHATHIR, juga keturunan Tamil ini.

Sebagai contoh bahasa Tamil yang sudah menjadi bahagian Bahasa Melayu adalah sebagai berikut antara lain :

  1. -   APAM, semacam kueh dari tepung      –   BESI (Tamil “wesi”)
  2. -   ONDE (bah. Tamil “undi”)                     –   TALAM (Tamil “talam”)
  3. -   UPAM (Tamil “oppam”)                         –   TAMBI, sdr. Bungsu (Tamil “tambi”)
  4. -   BATIL (Tamil “pattiram”)                       –   TEMBAGA (Tamil “tambigaram”)
  5. -   BADAI (Tamil “badai” = angin)             –   TANDIL, opsir kapal (Tamil “tandal”)
  6. -   BAGAI (Tamil “bagai”)                            –   TOLAN  (handai tolan), (Tamil “tauran”)
  7. -   BELENGGU (Tamil “wilanggu”)           –   TIRAI (Tamil “tirai”)
  8. -   BERNIAGA (Tamil “veniaga”)               –   JODOH (Tamil “shodu”)
  9. -   BIRAM, nama Gajah (Tamil veram”)     –   CANAI (Tamil “canai”)
  10. -   DAHAGA (Tamil “dagam”)                    –   CETI, kasta penjual (Tamil “setti”)
  11. -   RAGAM (Tamil “iragam”)                      –   CERPELAI (Tamil “kirippilai”)
  12. -   SATAI (Tamil “tacali”)                             –   CEMETI (Tamil “samatti”)
  13. -   CERUTU (Tamil “suruttu”)                    –   SEGALA (Tamil “sagala”)
  14. -   SANTRI (Tamil “santiri”)                        –   SUASA (Tamil “sugusa”)
  15. -   PETI (Tamil “peti”)                                  –   PERISAI (Tamil “parise”)
  16. -   PINGGAN (Tamil “pinggan”)                –   PANCALOGAM (Tamil “pancalogam”)
  17. -   PUALAM (Tamil “pavalam”)                 –   KATIL (Tamil “kattil”)
  18. -   KARI (Tamil “kari”)                                 –   KAPAL (Tamil “kappal”)
  19. -   KAWAL (Tamil “kaawal”)                                  –   KETUMBAR (Tamil “kottamali”)
  20. -   KEDAI (Tamil “kadai”)                                       –   KANJI (Tamil “kancil”)
  21. -   KENDI (Tamil “kundi”)                                      –   KUNDAI (Tamil “kondai”)
  22. -   KODI (Tamil “kodi”)                                           –   KULI (Tamil “kuli”)
  23. -   KUIL (Tamil “koil”)                                             –   KOLAM (Tamil “kolam”)
  24. -   GURINDAM (Tamil “kirandam”)                      –   GEMBALA (Tamil “gobhalan”)
  25. -   LOGAM (Tamil “ulogam”)                                 –   GUDANG (Tamil “kidanggu”)
  26. -   MACAM (Tamil “maccam”)                               –   MAHLIGAI (Tamil “maligai”)
  27. -   MANIK (Tamil “mani”)                                       –   MANIKAM (Tamil “manikkam”)
  28. -   MATERAI (Tamil “muttirai”)                             –   MUTU/MUTIARA (Tamil “muttu”)
  29. -   MARAPULAI/MEMPELAI (Tamil “marapilai”)-   MODAL (Tamil “mudal”)
  30. -   NILAM (Tamil “nilam”)                                      –   NELAYAN (Tamil “nulaiyan”)
  31. Dan banyak yang tidak disebutkan lagi (5)

Masyarakat Tamil Islam di Sumatera Timur banyak berkawin dengan wanita Indonesia Islam sesetempat sehingga di Absorps (mencernakan diri) menjadi masyarakat Melayu atau etnis Indonesia Islam lainnya di Sumatera. Banyak berasal dari Utar Pradesh, dan dari Madras. Mesjid tua yang ada di Medan ialah Mesjid Jl. Zainul Arifin Kampung Keling dan di Jl. Gajah di Medan.

KEDATANGAN IMIGRAN DAN BURUH TAMIL KE RESIDENSI SUMATERA TIMUR ABAD KE-19.

Pada tanggal 7-7-1863, mendaratlah para pedagang tembakau dari Jawa yaitu antara lain Kuypers dan Nienhuys. Mereka mendapat hak konsesi tanah di Martubung dari Sultan Mahmud Deli untuk menanam tembakau Deli yang kualitasnya baik dan berbau harum sebagai pembalut cerutu. Kemudian Nienhuys berhasil memperoleh kontrak tanah di Tg. Sepassai dari Sultan Deli untuk jangka waktu 99 tahun. Dengan kuli yang dimulai berjumlah 88 orang Cina dari Penang dan penduduk Melayu, sudah didapat keuntungan besar sehingga berduyun-duyunlah investor asing berbagai bangsa datang kesini. Oleh P.W. Janssen – Clemen – Nienhuys dan Cremer dibentuklah maskapai besar tembakau disebut “N.V. DELI MAATSCHAPPIJ” (=Deli Maskapai) yang menguasai hampir seluruh tanah perkebunan tembakau di wilayah kerajaan Deli. Bal-bal tembakau dibawa dengan perahu yang dikerjakan oleh kuli orang Tamil melalui sungai Deli dan sungai Babura dan dipertemuan kedua sungai itu di kampung MEDAN PUTERI, lalu melapor ke Kantor besar DELI MIJ tersebut dan dari sana baru dibawa menghilir sungai Deli ke Labuhan untuk diexport dengan tongkang Cina ke Penang dan dari Penang dimasukkan ke kapal untuk  dibawa  ke Eropah. Untuk urusan transportasi darat ini (sampan pengangkut, kereta lembu pengangkut tembakau dan urusan ternak serta pembukaan jalan darat) dipakai orang Tamil. Karena banyaknya perkebunan yang dibuka di daerah kerajaan Serdang, Langkat dan ke selatan Sumatera Timur, banyak sekalilah diperlukan buruh perkebunan. Buruh Cina yang didatangkan dari Malaya dan Tiongkok terhambat karena berbagai peraturan yang memberatkan yang diterapkan pembesar-pembesar disana. Disamping itu kuli Cina tidak mau menandatangani perpanjangan kontrak, tetapi minta kepada Deli Mij agar bisa meminjam tanah konsesi mereka yang tidak ditanami supaya mereka bisa membuka Kebon Sayur dan memelihara babi. Kemudian melalui Kongsi (Perkumpulan suku) mereka masing-masing di Singapura dan Hongkong mereka memperoleh kredit untuk membuka kedai-kedai didekat perkebunan untuk mensuplai barang kebutuhan kuli perkebunan(+). Sejak 1875 maskapai perkebunan Belanda mendatangkan kuli dari Jawa (mulanya dari Bagelen) yang biayanya murah karena diperlakukan sebagai setengah budak, dillindungi peraturan yang kejam disebut “Poenale Sanktie”. Karena perkebunan besar juga dibuka orang Inggeris di Malaya terdapat hambatan dari Inggeris yang dirasa memberatkan perkebunan Belanda antara lain secara berkala akan ada petugas Inggeris yang memeriksa tentang kondisi kuli Tamil seperti pengobatan, gaji dan lain-lain. (Special Coolie Ordinance for Klings).

Statistik di Srilangka mencatat pada tahun 1887 sekitar FL.350 juta sudah dibayarkan sebagai gaji kepada kuli dari India Selatan. Mereka senang bekerja di Sumatera Timur yang pantainya panas sesuai dengan cuaca di dataran Tanjore, Madura, Tinenelly. Kalau di Srilangka kuli Tamil harus menyesuaikan diri dengan udara pergunungan untuk menanam kopi tetapi di Sumatera Timur mereka cocok dengan tanaman coklat, padi, kelapa dan tembakau.

Karena bahaya kelaparan yang selalu menghantui wilayah India Selatan, maka banyaklah migrasi kuli ke Sumatera Timur melalui Madras dan Nagapatam.

Sejak 1877 J. T. Cremer dari “Deli Mij” sudah menulis dengan judul “EMIGRATIE KOLONISATIE OP SUMATRA’S OOSTKUST” (6) :

“Meskipun pengambilan kuli dari India dilarang, para pemilik perkebunan di Sumatera Timur menerima dalam jumlah besar orang Kling dengan wanita dan anak-anak mereka dari sebelah selatan pantai Coromandel”.

Selanjutnya Cremer menulis pula didalam sebuah brosur (7) antara lain :

“Bila Pemerintah Inggeris membenarkan pengambilan pekerja langsung dari India, maka itu merupakan sumber kita memperoleh kuli yang baik. Apa yang disebut “orang Kling”, yang sudah banyak datang kemari, ketika larangan di Malaya agak kendor, mereka bekerja sebagai sais kereta lembu dan kuli harian dan bekerja dengan baik sekali. Hanya dikalangan kaum Paria kadangkala terjadi kericuhan karena mabuk. Orang Kling ini sangat irit dan tidak terpengaruh candu dan judi. Mereka membawa juga keluarga mereka kesini tanpa dibayar”.

Untuk menarik kedatangan orang Kling ke Sumatera Timur, maka pihak perkebunan Belanda memberikan brosur dalam Pameran Internasional di Calcutta tahun 1883/1884 yang antara lain berisi :

“A good many Tamil (Kling) and Javanese workmen are also employed, not as a rule, for the cultivation of Tobacco, but for different auxiliary purposes, such as cart and cattle driving, road-and ditchmaking, working on coffee and other trial cultures & ca. Their monthly wages amount generally, from 6 to 7 dollars. The Klings are very much valued in Sumatra, and a much greater number, than those now working there could find employment, if arrangements were made between the British India and the Netherland Indian Governments for the emigration of these men”.

Peraturan yang diciptakan oleh Pemerintah Inggeris di India mengenai emigrasi kuli keluar India ialah “ACT NO.VII 1871” passed by the Governor General of India in council 10 March 1871, “The Indian Emigration”. Kemudian karena tidak lengkap maka dikeluarkan lagi ACT NO.XXI 18 DESEMBER 1883. dimana antara lain emigrasi bisa dilakukan di pelabuhan CALCUTTA, BOMBAY dan MADRAS. (8)

Wiselius & Cremer in T. Voor Ned. Indie Deli Courant 8-7-1885 :

Lebih diterima yang datang dengan usaha sendiri bukan emigrasi kontrak kuli dari India yang banyak benar peraturan-peraturannya. Di Malaya atas permintaan Pem. India, semua penduduk asli India, yang meninggalkan Malaya, harus punya sertifikat bahwa mereka orang yang mampu atau ke negara-negara dimana tidak dibuat Traktat. Penguasa di Tanjore dan pelabuhan Nagapatam, Karikal, Madras mencatat semua penumpang yang mau berangkat ke Malaya. Emigran bebas (tidak ada kontrak kerja dan tanpa panjar juga di catat bahwa ia bukan kuli tetapi misalnya bakal petani).

Di Malaya kapal dilarang membawa orang India ke Sum. Timur untuk menjadi petani tanpa sertifikat. Cremer mengusulkan pelayaran langsung ke India dengan biaya rendah oleh perkebunan asing di Sum. Timur. Di Malaya dibuat peraturan bahwa semua orang India yang meninggalkan Malaya harus punya sertifikat, bahwa ia adalah orang-orang “yang berada” atau ia termasuk golongan Kuli yang dilarang meninggalkan Malaya, karena takut mereka akan buat kontrak kerja di negeri yang tak ada Traktat dengan Inggeris dan dimana tidak ada Protektor orang Inggeris seperti di Sum.Timur. Jadi emigrasi bebas calon petani dari Malaya tidak mungkin. Semua calon petani yang pergi dengan/tanpa kontrak atau tanpa persekot harus di registrasi. Ini menghalangi emigran India meninggalkan Malaya.

Pada tahun 1886 sudah ada 2000 orang kuli Tamil. Sejak 1875 dengan datangnya ribuan kuli kontrak dari Jawa, maka tidak dipakai lagi kuli asing. Orang India yang datang ke Sumatera Timur kemudian datang secara bebas. Datanglah pedagang dan “Chetty” (moneylenders = meminjamkan uang secara riba).+ Ada lagi suku yang disebut “Orang Bombay” yang membuka toko pakaian dan toko sport. Kalau pada mulanya di tahun 1873 baru ada 25 orang kuli orang Kling (Tamil=Chulia) yang baraknya dipisahkan dengan kaum Paria tanpa kasta (Adi-Dravida). Berdasarkan Pasal 35 Ordonansi 1873 maka orang India dan Cina dimasukkan sebagai rakyat/ kaula Gubernermen Belanda sehingga pemerintah Belanda untuk mengawasi mereka membentuk kepala-kepala dari kalangan mereka yang berpengaruh disebut “Letnan” dan diatasnya ada “Kapitan” India atau Cina.

Berdasarkan hasil Sensus 1930 jumlah masyarakat asal India di Indonesia adalah sebagai barikut :

TABLE 2: DISTRIBUTION OF INDIANS IN THE INDONESIA ISLANDS, 1930

  1. AREA                                             TOTAL               % BORN IN INDONESIA
  2. Jawa & Madura                                 5,5                               58,2
  3. Sumatera                                           20,1                              48,5
  4. Kalimantan                                        2,9                               36
  5. Sulawesi                                             0,8                               44
  6. Lain-lain kepulauan Indonesia         0,7                               58
  7. 30                               49   (9)

Didalam tahun 1930 kebanyakan mereka tinggal di perkebunan diluar Medan (di Medan hanya 3.067 orang). Tetapi menurut “Statistik Indonesia” 1977-1978 (10) di Aceh ada 179 orang pria dan 46 orang wanita sedangkan di Sum. Utara 1.633 orang pria dan 1.166 orang wanita. Terutama pada masyarakat Melayu dan masyarakat Indonesia semua non-Kling, imigran dari India Utara, disebut “Orang Benggali” meskipun kebanyakannya adalah orang Sikh dari Punjab.

MASA PENDUDUKAN TENTERA JEPANG 1942-1945

Berhubung karena blockade kapal selam Sekutu, export hasil perkebunan di Sumatera Timur terhenti. Sumatera Timur yang selama ini sebagai wilayah agro-industri untuk export masa itu sampai pada titik kelaparan. Tanah perkebunan ditebas untuk menanam padi dan jagung serta ubi untuk makanan rakyat. Tetapi itu tidak pernah mencukupi karena sebagian besar dirampas untuk keperluan bala tentera Jepang. Hanya Simalungun dan wilayah Kerajaan Serdang yang selfsupporting beras. Pemerintah Jepang ketika itu membentuk Pemerintah boneka India Merdeka dikepalai oleh SUBHAS CHANDRA BOSE. Dia lalu membentuk tentera INDIAN NATIONAL ARMY direkrut dari kalangan orang India bekas tentera Inggeris yang ditawan Jepang. Dari Medan/Sumatera Timur beberapa orang Tamil juga masuk INA itu dan dikirim ke front Burma-Assam dan tidak pernah pulang kembali.

Pada masa ini mulai banyak orang-orang India yang agak terpelajar membuka kursus-kursus bahasa Inggeris di kota-kota.

MASA KEDATANGAN TENTERA SEKUTU DAN MASA AWAL KEMERDEKAAN R.I.

Pada tanggal 17-8-1945 Bung Karno dan Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Di Medan dan Residensi Sumatera Timur terjadi banyak kesimpangsiuran karena terputusnya hubungan Jawa-Sumatera sejak zaman Jepang.

Delegasi Sumatera Timur, MR. TEUKU HASAN dan DR. M. AMIR, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan, pulang dari Jakarta tidak bertindak apa-apa. Sebaliknya timbul issue bahwa Tengku Dr. Mansyur memimpin pihak raja-raja untuk mempersiapkan “Komitee van Ontvangst” (Panitia Penyambutan) kedatangan Belanda kembali terutama ketika KAPTEN TURKED WESTERLING cs.mendarat di Polonia Medan tgl. 12 September 1945 dan membentuk secara tergesa-gesa pasukan NICA Belanda dari bekas tawanan Jepang di Medan. Pada tanggal 30 September 1945 para pemuda Indonesia terutama bekas GYUGUN dan HEIHO pimpinan AHMAD TAHIR mulai membentuk Badan Pemuda Indonesia dan lahirlah berbagai kesatuan bersenjata dari kalangan bangsa Indonesia. Pada tanggal 10 Oktober – 5 Nopember 1945 berbagai unit tentera Inggeris/Sekutu dari Divisi ke-26 yang didatangkan dari front Burma mendarat di Belawan. Divisi itu sepenuhnya terdiri dari bangsa India dan kekuatan ini ditambah lagi mendarat pada tgl. 5 Januari 1946 dengan beberapa resimen dari India langsung. Terjadilah bentrokan setiap hari antara Tentera Sekutu/India Inggeris ini melawan laskar-laskar rakyat Indonesia di front Medan Area. Tentara Sekutu yang diwakili oleh Devisi ke 26 India – Inggeris yang masuk ke Belawan tanggal 10 Oktober 1945 sebanyak 5000 orang yang dikepalai oleh Brig. Jendral T.D.E. Kelly terdiri atas :

Antara tanggal 10 Oktober dan 5 Nopember 1945 telah didaratkan di Belawan berbagai unit dari Tentara India-Inggeris dari Divisi ke 26 yaitu :

  1. -         Headquarters Royal Artillery
  2. -         6 SWB (ditempatkan di Berastagi)
  3. -         Administrative units
  4. -         8/8 Punjab Regiment
  5. -         2 Frontier Force Rifles (ditempatkan di Binjai) (11)

Kekuatan ini kemudian ditambah lagi pada tanggal 5 Januari 1946, berhubungan meningkatnya perlawanan rakyat di Medan Area. Pasukan yang langsung didatangkan dari India itu ialah :

  1. -         7 Indian Field Regiment
  2. -         1 Indian Anti-tank Regiment
  3. -         6 Raiputana Rifles
  4. -         Machine Gun Batalion Frontier Force Rifles
  5. -         “A” Squadron 146 Royal Armoured Corps (pasukan kereta kebal)
  6. -         2 Patiala Infantry

Banyaklah anggota tentera Inggeris bangsa India (terutama yang Islam) yang menyeberang ke pihak Indonesia dengan membawa senjata mereka. Mereka digabung didalam laskar unit bangsa India yang dipimpin oleh seorang bekas petinju, YOUNG SATTAR. Tetapi sayangnya di India sendiri terjadi pertempuran hebat antara yang beragama Islam yang mengingini pemisahan dengan membentuk Negara PAKISTAN dengan bangsa India beragama Hindu. Effeknya banyaklah orang orang India di perkebunan di Binjei/Siantar/Serdang/Medan minta perlindungan kepada Tentera India-Inggeris itu, (lihat foto). Sebagian kuli-kuli Tamil pengungsi dari luar kota itu ditempatkan didalam berbagai tenda besar didekat lapangan terbang Polonia Medan (“Pondok Terpal”).

Ketika tahun 1946 itu Kota Medan diduduki Tentera India-Inggeris Divisi ke-26, maka banyaklah pasukan yang beragama Islam menyatakan diri mereka golongan “Pakistan” bergabung dengan pasukan bersenjata bangsa Indonesia. Sering terjadi insiden antara mereka dengan orang Tamil Hindu diluar Kota Medan, sehingga banyaklah orang asal India non-Muslim itu berlindung kepada Tentera Sekutu di Medan. Sekitar bulan Agustus 1946 ada sekitar 4000 orang Tamil Hindu yang pulang dengan kapal langsung ke India atau ke Malaya.

Kebanyakan dari mereka yang masih tinggal di Medan menjadi warga negara Indonesia berpencar mencari nafkah ke berbagai tempat Sumatera dan di Jawa. Banyak wanita Tamil tinggal dirumah sebagai ibu rumah tangga, tetapi bagaimanapun mereka masih menjadi sumber adat dan agama dan penyelenggaraan adat perkawinan diantara orang Tamil banyak terserah kepada kaum Ibu.(12)

Mengenai anggota bangsa India dari 26th Beritish-Indian Division in Medan dapat kita telusuri dari laporan intelijen “26th Indian Division Weekly Intelligence Summary” antara lain mulai bulan Maret 1946 – 10 April 1946 sebagai berikut :

Maret 1946 :

Surat kabar “Soeloeh Merdeka” di Siantar menulis bahwa NEW DELHI minta keputusan dari Indian Congress Party bahwa pasukan India di Indonesia dipergunakan Inggeris untuk menindas perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan. Diminta agar mulai 1 Maret 1946 pasukan India ditarik dari Indonesia.

Tgl. 7 Maret 1946 :

Dicatat 2 orang tentera India dari 7 Ind.Fd.Regt.hilang tgl. 23 dan 24 Febr. dan 1 orang tgl. 25 Febr. dari 126 Ind.Ord.Sub Part dan 2 orang hilang tgl. 26 Febr. dari 2 Rajp. Regt. di Tg. Morawa dan 1 orang dari 6th Rajputana Rifles pada tangal 1 Maret. Sampai hari ini pasukan 26 British-Indian Division di Medan Area telah tewas 194 orang dan desersi ke pihak Indonesia 303 orang serdadu India.

Laporan tgl. 16 Maret 1946 :

15  orang  tentera  India  selama  minggu  yang  lalu  hilang  yaitu  3  orang  tgl. 3 Maret, 6 orang tgl. 5 dan 1 orang tgl. 7 Maret. Dari  Tg.  Morawa  1 orang  tgl. 6  Maret dan 5 orang tgl. 8 maret.

Dilakukan tindakan keras mencegah desersi serdadu India ini. Pada tgl. 9 Maret suatu patroli tentera Inggeris-India ke Tg. Morawa ketika pulang ke Medan dijebak dalam sebuah barikade Jalanan dalam pertempuran ini 1 orang opsir Inggeris dan 2 orang tentera India tewas dan 1 orang tentera India desersi.

Selama akhir minggu ini tentera India yang desersi makin bertambah sampai 15 orang. Pada mulanya oleh Panglima pasukan Inggeris hal ini disebabkan oleh bujukan dari laskar rakyat atau rayuan wanita tetapi kemudian ternyata karena aspek agama dan politik dan sudah ada rencana suatu organisasi untuk membujuk tentera India berpihak kepada Indonesia. Kejadian yang serius terjadi tgl. 5 Maret dimana 5 orang tentera India dari MG Bn FFR dan 1 orang L/Nk dan sebuah jeep hilang pada jam 21.00. Desersi itu sudah direncanakan karena setiap tentera India itu membawa serta pakaian extra dan senjata dengan amunisinya. Sebuah Jeep yang dibawa itu terlihat di Arnhemia. Desersi yang serius juga terjadi tengah malam tgl. 8/9 Maret ketika 5 orang tentera India dari 2nd FF Rifles meninggalkan posnya di Tg. Morawa.

FAKTOR YANG MENYEBABKAN DESERSI TENTERA INDIA :

Dari pihak Indonesia mempergunakan cara :

  1. Membujuk langsung individu tentera supaya desersi;
  2. Melancarkan issu;
  3. Oleh surat kabar berpropaganda “serangan kamu terhadap kemerdekaan kami”;
  4. Bujuk rayu wanita;
  5. Bujuk supaya mereka tinggal dan dapat tanah di Sumatera;
  6. Berpegang kepada serdadu yang sedang sakit hati;
  7. Kepada serdadu yang Muslim, diajak berjuang sesame saudara Islam
  8. Untuk menangkis ini, harus diawasi juga penduduk India yang ada di sekitar Medan Area.

Laporan tgl. 1 April 1946 :

5 orang serdadu India hilang. Dua orang dari HQ 26 Ind. Div. karena kawin dengan wanita Indonesia. Dua orang dari serdadu India yaitu 875 Ind. Pol. Pl. dan 2 lagi dari 2nd Patiala. Diperoleh laporan bahwa Laskar Rakyat mengadakan razia dikalangan kuli Tamil yang bersimpati dan membantu Tentera Sekutu.

Laporan tgl. 8 April 1946 :

Satu orang lagi tentera India, seorang Naik dari HQ 26th Div. seorang Sikh hilang sejak 27 Maret. Sepoy Rizara Marim hilang sejak 20 Maret dan Sepoy Chandra Singh hilang sejak 11 Maret yang berusaha lari ke India dapat tertangkap.(13)

Isi Surat selebaran tertuju kepada Tentera India :

Apakah tugas seorang Pahlawan ?

Berjuang melawan senjata, melindungi mereka yang tertindas, menjaga kehormatannya dan juga bangsa lain dan melindungi ibu semua bangsa dari tirani. Bangsa Indonesia kini ditindas sudah lama sekali dibawah pemerintahan Belanda dan Fasis Jepang. Perang sudah selesai, kaum fasisi sudah kalah tetapi tetap saja ada meriam berdentuman, dan berdentuman di tanah saudaramu terhadap bangsa yang cinta kemerdekaan. Ini harus dihentikan. Adalah tugasmu menyetopnya. Kamu harus meneriakkan suaramu untuk perdamaian abadi, seperti falsafah India mengatakan : Damai adalah tujuan dari kemanusiaan!

Kamu datang kemari untuk melucuti serdadu Jepang, bukan untuk menentang bangsa Indonesia yang cinta damai. Kamu datang dari berbagai pelosok India dari berbagai elemen agama, tetapi kamu tetap saudara dari Pandit Jawaharal Nehru, dan putera dari Ibu pertiwi India, dimana kita melihat Ram, Vishma, Sivaji, Ranapratap. Kamu tidak boleh melupakan masa silammu, kamu adalah turunan dari nabi-nabi yang besar. Saudara kami orang Sikh harus ingat Guru Govinda yang agung yang berjuang untuk kemerdekaan, perang Suci, dan bangsa Indonesia membandingkan Indian National Congres, Hindu Mahasava, Moslim League dan Akali Sikdal. Kamu melihat semuanya itu dalam diri bangsa Indonesia jika kamu mencintai dirimu, Ingatlah Kalkutta sekarang ingatlah saudaramu INA, apakah kamu sadar mereka? Apakah kami tidak simpati kepada saudaramu? Jangan jatuhkan nama suci bapak Nasionalmu; Jawaharal melarang kamu menaikkan tanganmu melawan perjuangan kemerdekaan. Kamu tidak perlu berkhianat, laksanakan kerjamu sebaiknya, yaitu kerja seorang pahlawan. Berkhianat kepada Ratu, jangan keluar dari disiplin tentera, pertahankan kehormatan Ratu dan pangeran singa Tanah Airmu. Bangsa Indonesia bukan musuhmu, kamu tidak perlu takut padanya, mereka adalah saudaramu selama kamu mempunyai rasa persaudaraan kepada mereka. Kamu tidak ditindas tetapi kawan bangsa Indonesia-kawan dengan tertindas yang sama. Dia India semua mereka menginginkan aktivitas kamu, karena kehormatan negerimu tergantung padamu.

Jadi berpikirlah – coba  mengerti tugasmu – lalu majulah.

Bandemataram, jay hind.-

Sahabat lamamu.

BEBERAPA KUIL DI SUMATERA TIMUR BUAT MASYARAKAT TAMIL

  1. -         Sri Mariamman di Medan                                                        –   Bekiong
  2. -         Sri Mariamman di Bekala                                                         –   Tj. Beringin
  3. -         Sri Mariamman di Binjei                                                           –   Tj. Jati
  4. -         Sri Mariamman di Padang Cermin (Langkat)                       –   Pungei
  5. -         Sri Kaliamman di Medan                                                         –   Sampali
  6. -         Thandayuthapani di Medan                                                    –   Sunggal
  7. -         Subramaniyar di Lubuk Pakam                                              –   Namu Ukur
  8. -         Kaliamman di Kampung Darat Medan                                 –   Mariendal
  9. -         Kebun Sayur Medan                                                                 –   Tembung
  10. -         Labuhan Deli                                                                              –   Batu Mandi
  11. -         Tebingtinggi                                                                               –   Mabar
  12. -         Pematang Siantar                                                                       –   Marelan
  13. -         3 buah kuil di Pulau Berayan                                                  –   Batang Kuwis
  14. -         3 buah kuil di Bandar Aceh                                                     –   Kelambir Lima
  15. -         Kota Cina (untuk upacara memijak bara api sejak 1901)    –   Sungai Semayam
  16. -         Paya Bakung                                                                               –   Tanah Seribu
  17. -         Belarang (Binjai)

BEBERAPA KEGIATAN PENTING MASYARAKAT TAMIL DI MEDAN.

-     Tahun 1913

Dibentuk Organisasi masyarakat Tamil di Medan untuk seluruh Sumatera yang bernama “DELI HINDU SABHA” yang disahkan oleh Gubernur Sumatera Timur. Organisasi ini dipimpin untuk pertama kali  oleh : Tuan RAMASAMY SANMA, SENEMUTHU, PONASAMI PILAY, DALIPH SINGH, HINDER SINGH, dan WALLYSAMY. Sebagai Ketua Ramasamy Sanma dan Sekr. Ponasamy Pilay. Dalam tahun ini juga dibuka kantor di Jalan Darat Medan.

-         Tahun 1914

Pada tahun ini ada kegiatan sandiwara mementaskan “Samanasen”

-         Tahun 1915

Dibuka sekolah Bahasa Tamil dan Inggeris di Jl. Muara Takus – Jl. Darat Medan.

-     Tahun 1916

Deli Medan Sumatra Hindu Dharma Sargam

-         Tahun 1929

Kumaraswamy menjabat Ketua “D.H.S” dan sekretaris tetap tidak berubah

-         Tahun 1931

Diterbitkan buku huruf latin oleh Kumarasamy untuk bahasa Inggeris dan Indonesia pada tahun ini juga dibuka kantor di Jl. Zainul Arifin Medan (Kampung Kling) sumbangan dari Tuan Daliph Singkh.

-         Tahun 1933

Dibentuk kesebelasan sepak bola di Medan. Pada tahun ini juga dibentuk grup kesenian yang beranggotakan 40 orang

-         Tahun 1937

Yang menjadi anggota “D.H.S.” sudah 870 orang.

-         Tahun 1938

Upacara peringatan 25 tahun “D.H.S.” dimana diadakan berbagai kegiatan seperti upacara adat /agama tanggal 14, 15 dan 16 April. Juga diadakn pertunjukkan sandiwara berjudul “Sanggetamen” yang dipertunjukkan oleh Nasingatane Pilay dan kawan-kawan. Pada tahun ini juga sudah terbentuk Seksi Wanita “D.H.S.”

Tokoh D. Kumaraswany

Salah seorang tokoh Tamil yang terkenal ialah D. KUMARASWANY lahir 1906 asal dari Pondicherry (India Selatan) dimana keluarganya bermigrasi ke Medan. Dia juga yang membangkitkan kembali kegiatan “D.H.S.” pada tahun 1923, yang sudah melemah sejak 1918, dan menjadi Ketua sampai tahun 1941. Dia juga menjadi President dari “All India Representative Association” (1946) yang kemudian berubah menjadi “SUMATRA INDIAN UNION”. Pada tahun 1949 sudah dibuka Konsulat India di Medan sehingga kegiatan organisasi itu terhenti. Sejak itu banyak masyarakat India umumnya dan Tamil khususnya yang menjadi Warga Negara Indonesia. Pada tahun 1954 sekolah dibelakang Kuil Sri Mariamman Medan dibuka dan ide sekaligus menjadi Ketua disamping Ketua dari Kuil itu.

Kegiatannya dalam bidang pers juga muncul dengan menerbitkan majalah bulanan bahasa Tamil “Thinaharan” (1940) dan kemudian “Indian” (1948-1949). Dia juga mengarang nyanyian penguburan dan menyederhanakan upacara perkawinan tanpa dipimpin oleh Pendeta Brahmin. Tetapi pada tahun 1954 ia menganut agama Budha dan kemudian mendapat gelar “Maha Ubasaha Maha Panditha” dan kemudian gelar “Maha Ubasaha, Meha Pandita, Asoka Dharma Surya”. Ia meninggal tanggal 10-10-1979.

Kalaulah orang Cina bekas kuli perkebunan kini beralih ke bidang bisnis dan maju, sebaliknya dari kalangan bangsa keturunan India di Sumatera Utara kehidupannya statis. Orang Sikh dan India Islam yang agak sedikit maju Pada awal 1950 orang Tamil agak berusaha didalam bidang usaha pengaspalan jalan (sering disebut “ASPAL KELING”) dan sebagai Guru bahasa Inggeris. Dalam tahun 1976 sudah ada 3 insinyur, 2 orang dokter, dan 50 orang lulusan universitas dari kalangan masyarakat Tamil ini. Sejak lancarnya hubungan dengan Penang, banyak orang Tamil merayakan upacara agama Hindu mereka naik ferry dari Belawan ke Penang. Tetapi pada zaman “Orde Reformasi” ini sudah ada kebebasan bagi mereka untuk merayakan “Taypusam” dan Dipavali” secara umum. Untuk mengelakkan perbedaan kasta yang mencolok, maka banyak orang Tamil dari kalangan Adi-Dravida (untouchables) yang masuk agama Budha dan Kristen dan kebanyakan berdiam di Kampung Anggrong dan Kampung Kristen di Medan. Etnis Telugu sudah mencernakan diri ke dalam masyarakat Tamil. Perkawinan didalam masyarakat Tamil tetap dipertahankan antara sesama mereka.  Keputusan Pengadilan Tinggi Malaysia 29-12-2006, bahwa nama “KELING” akan tetap ada dalam kamus Melayu yang dikeluarkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia. (lihat Waspada Medan, 15-5-2009).


* “History of Indian and Indonesia Art”, 1927.-   Radhakumud Mookerji “A History of Indian Shipping”

-   DR. J. Przyluski “Indian Colonisation in Sumatra before 7th Century”

-   Prof. DR. R.C. Majundar “The Sailendra Empire Cup to the end of  10th century A.D.”. The journal of the

Greater Indian Society, I p.II.

-   J. Tideman, “Hindoe-invloed in Noordelijk Batakland”. Amsterdam 1936.

(1) Menurut Prof. DR. Nilakanta Sastri dalam karangannya “A Tamil Merchaut-guild in Sumatra”, TBG. 1932 p.314.

(x) Prof. DR. Van Stein Callenvels dalam “Oudheidkundig Verslag” (1930).

[*] McKinnon dan Tuanku Luckman Sinar Basarsyah-II,SH.: “Kota China : Notes on further Developments at Kota China”, Sumatra Research Bulletin Univ. of Hull, Vol.IV No.1, 1974.

¨ Armando Cortesao : “The Suma Oriental of Tome’Pires and the Book of  Francisco Rodrigues”, 1515 Lisboa.

*** Ketika Belanda masuk ke Deli 1863 di Labuhan sudah ada 20 orang pedagang Cina dan 100 orang India Islam (E.Netscher) : “Togtjes in het gebied v. Riouw en Onderhorigheden”, TBG 1864  p.344.

(xx) Tuanku Luckman Sinar Basarsyah-II, SH. “Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu Di Sumatera Timur”.

(Medan 2006).

(5) Lihat DR. Ph.S. van Ronkel “Het Tamil-element in het Maleisch”, TBG 1902.

(+) .    – W.H.M. Schadee, “Geschiedenis van Sumatr’s Oostkust”, I dan II, Medan 1918.

See also T. Luckman Sinar, SH.

-  “The Growth of the Chinese Cooles in East Sumatra. From middlemen to Economic Magnates”,

“Seminar Dutch-Indonesian History”. 23-6-1980.. Ernst Silmhoeve – Holland.

(6) Tanggal 1-8-1877, “Algemeen Handelsbald”.

(7) “De Toekomst van Deli, in 1888”, Leiden, p. 41-43.

Lihat juga J.T. Cremer, “Emigratie van Hindu’s naar Sumatra’s Oostkust”, TNI 1885/I.

(8) Lihat juga J.A. Wisselius, “De Emigatie van Brits-Indische Koelies naar Overzeesche Gewesten, in verband met

eene eventueele emigatie van Hindu’s naar Oost-Sumatra”, TNI 1884, II.

+ L.C. Westenenk, “De chetti”, Kol. Studien VI, Deel II, 1922.

(9) Sumber : “Area Handbook on Indonesia”, S.E.A. Studies, Yale Univ. 1956 : 523.

(10) Keluaran Biro Statistik Jakarta.

(11) Rajendra Singh, “Post-war Occupation Force” (Medan Area), p. 240-241.

(12) C. Kondapi, “Indians Overseas 1839-1949”, Madras : Oxford Univ.Press 1951 Appendix I.

(13) Rajendra Singh, “ 26 Indian Division Weekly Intelligence Summary”.

Makalah Diseminarkan oleh T. Lukman Sinar SH.

pada:

Seminar Nasional “Kebudayaan dan Sejarah Etnis India Tamil di Sumatera Utara”,  tanggal   28 Mei 2009, di VIP Room Gedung Serbaguna – Universitas Negeri Medan.

Di upload  oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.